Ini adalah memoar hidup aku. Segala hal yang aku ceritakan di sini adalah kejadian nyata yang pernah aku alami. Nama tokoh aku samarkan untuk melindungi privasi orang-orang yang bersangkutan. Aku menulis ini karena aku pelupa, jadi aku cuma enggak mau suatu saat apa yang aku ceritakan di sini aku lupakan begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Fanatik
Sejak awal sampai akhir, hubungan aku dan Nita sama sekali enggak melibatkan romansa. Dia lebih mirip teman diskusi yang baik. Kami punya banyak sekali kesamaan dalam berbagai topik pembahasan, mulai dari sosial, ekonomi, politik, sampai filsafat. Tapi ada jurang yang cukup dalam ketika kami mulai membicarakan soal teologi atau agama.
Semua itu dimulai dari sebuah pertanyaan simpel yang dia lontarkan kepadaku.
“Kenapa kamu masih jadi Katolik? Apa karena kamu ikut orang tua kamu doang? Padahal Tuhan menciptakan manusia sejak dalam kandungan sebagai seorang beragama Islam?”
Jadi, menurut pandangan Nita, semua manusia sejak zaman Adam, atau bahkan sejak masih bayi di dalam kandungan, secara alami alias kodrati sudah memeluk agama Islam. Alasannya, karena Tuhan sendiri beragama Islam dan yang menciptakan agama Islam. Tetapi, ketidakmampuan manusia menerima agama Islam yang diciptakan Tuhan membuat agama-agama lain muncul, yang tujuannya untuk menolak agama Islam.
Logikaku enggak nyambung dengan logika Nita ketika topik soal agama ini mulai kami bicarakan. Karena dari sudut pandangku:
“Tuhan enggak menciptakan agama. Agama diciptakan manusia sebagai wujud kerinduan manusia untuk mengenal Tuhan yang transenden.”
Ah... itu tadi topik yang cukup kuat untuk memulai diskusiku dengan Nita. Tapi aku mau ceritakan alurnya secara runtut. Biar kalau suatu kali ada yang nemuin buku aku ini dan membaca bab ini, dia enggak salah paham, dan aku enggak dituduh melakukan penistaan agama.
Pada dasarnya, ketika Nita mulai membalas postingan Facebook aku, yang waktu itu isinya soal sosial, politik, filsafat, dan teologi, Nita sedang berada dalam posisi “lemah iman”, atau dia mulai ragu dengan nilai-nilai agama Islam yang dia anut. Dia mulai mencoba mendekatiku dengan tujuan mencari validasi atas apa yang dia yakini, sekaligus apa yang dia pelajari tentang agamaku, yang dia dapat dari perspektif agama Islam.
Aku ceritakan dulu sudut pandang Nita sebagai seorang beragama Islam terhadap agama Kristiani, khususnya Katolik.
Jadi, dari sudut pandangnya, seperti kebanyakan orang Islam yang lain, dia sama sekali enggak membedakan Katolik, Ortodoks, maupun Protestan sebagai cabang-cabang dalam agama Kristiani. Buat dia, ketiganya sama saja dan enggak ada bedanya.
Lalu, dia juga menolak menggunakan istilah “Kristiani” atau “Kristen”, karena menurut dia, para pengikut Isa enggak disebut sebagai Kristiani dalam Quran, melainkan Nasrani.
Dari sudut pandangnya juga, dia menyamakan Isa yang adalah nabi dalam Quran dengan Tuhan Yesus yang ada dalam Alkitab. Menurut dia, orang-orang Kristiani itu salah karena menyembah Allah, Isa, dan Maria secara bersamaan, yang dia sebut sebagai Tritunggal versi Quran.
Dan dari sudut pandangnya, dia selalu berpikir orang Kristiani itu benci dengan orang Islam, bahkan agamanya secara langsung “mengajarkan” untuk membenci agama Islam secara total.
Jadi, ketika aku yang seorang Kristiani beragama Katolik ini tiba-tiba mau diajak berteman sama dia, seorang beragama Islam yang bercadar, dia lumayan kaget. Bahkan, menurut dia, sikapku asing buat dia.
Karena sejak awal perkenalan kami, aku sama sekali enggak mengajak dia berdiskusi perkara teologi atau agama.
Sebab menurut logika dia, kalau ada seorang Kristiani dekat dengan seorang beragama Islam, seorang Kristiani itu pasti akan mengajak diskusi soal teologi dan agama, dengan tujuan agar seorang beragama Islam meninggalkan agamanya.
Tapi menurut dia, aku enggak melakukan itu.
Itu yang membuat dia tertarik sama aku, dan bahkan mau diajak ketemuan.
Oke... aku akan mulai menyusun pertanyaan-pertanyaan Nita yang dia lemparkan kepadaku secara runtut, biar enggak menimbulkan kesalahpahaman. Karena jujur saja, menulis ini sedikit membuat aku takut.
Pertanyaan yang Nita lemparkan kepadaku sejujurnya cukup umum. Biasanya, orang-orang non-Kristiani juga sering melempar pertanyaan seperti ini.
Dalam topik pertamanya, Nita bertanya:
“Kenapa umat Kristiani menyembah Allah, Isa, dan Maria secara bersamaan sebagai Tritunggal?”
Aku menjawab:
“Umat Kristiani enggak pernah menyembah Maria. Dalam konsep monoteisme trinitarian, Tritunggal dari sudut pandang ajaran Kristiani adalah entitas Mahakuasa yang memiliki tiga pribadi, satu hakikat. Tiga pribadi itu adalah Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus. Enggak ada nama Maria di dalamnya. Umat Kristiani menghormati Maria secara khusus, bukan menyembahnya.”
Di titik ini, dia mulai ngeyel.
“Tapi ini sudah tertulis di Quran, dan apa yang tertulis di Quran itu mutlak benar, enggak pernah salah sedikit pun. Karena Quran ditulis oleh Tuhan langsung, bukan kayak Alkitab yang ditulis dan dikarang oleh manusia.”
Aku menjawab:
“Kalau menurut kamu Quran itu mutlak benar, ya itu menurut kamu saja. Jangan bawa-bawa umat Kristiani yang secara nyata enggak meyakini itu. Tapi yang jelas, umat Kristiani sejak dulu enggak menyembah Maria. Yang kami sembah itu Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus dalam konsep Tritunggal.
Ketiga pribadi itu bukan tiga hakikat yang berbeda, melainkan satu hakikat yang sama. Allah Bapa adalah diri-Nya Tuhan. Tuhan Yesus adalah firman-Nya Tuhan. Roh Kudus adalah roh-Nya Tuhan. Jadi, menurut yang kami yakini, Tuhan itu disebut Tuhan karena Ia memiliki diri, firman, dan roh. Nah, ketiga hal itu kami sebut tiga pribadi Tuhan yang sehakikat.
Jadi, Tuhan tetap Esa, tapi dalam keesaan-Nya, Ia punya tiga pribadi nyata. Mirip kayak manusia yang punya kesadaran, jiwa, dan raga. Dan itu juga yang menjadi alasan kenapa manusia disebut diciptakan serupa dengan Tuhan.”
Pertanyaan selanjutnya dari dia:
“Kenapa umat Kristiani enggak mengikuti ajaran Isa, dan malah ngikutin ajarannya Paulus? Kalau ngikutin ajarannya Isa, kan mereka pasti beragama Islam, karena Isa beragama Islam. Sementara Kristiani itu agama karangannya Paulus.”
Di titik ini, aku mulai agak geram. Tapi aku mencoba untuk tetap berkepala dingin, karena aku enggak mau diskusi ini jadi bahan bakar buat nyulut perselisihan antara aku dan Nita.
Lalu aku menjawab:
“Sosok Isa dan Tuhan Yesus yang kami yakini itu beda secara konsep. Mungkin Isa yang kamu yakini adalah Tuhan Yesus yang sama yang aku yakini, tapi konsep yang muncul dari dua perbedaan nama itu berbeda.
Isa yang kamu kenal cuma seorang nabi, sementara Tuhan Yesus yang aku kenal adalah firman Tuhan yang menjelma menjadi manusia.
Jadi, ini semacam satu tokoh yang sama, tapi dikenal melalui dua konsep yang berbeda. Jadi, jawaban aku sebagai seorang Kristiani, aku memang enggak mengikuti ajaran Isa, karena yang aku ikuti itu ajaran Tuhan Yesus.
Sementara itu, Paulus bukan orang yang mengarang atau menciptakan agama Kristiani. Dia adalah orang kudus yang menyebarkan ajaran Tuhan Yesus.
Nah, orang-orang yang mengikuti ajaran Tuhan Yesus itu disebut Kristiani. Jadi, bahkan Tuhan Yesus pun enggak menciptakan agama Kristiani. Agama Kristiani itu muncul sebagai sebutan untuk orang-orang yang mengikuti ajaran Tuhan Yesus yang disebarkan oleh para rasul-Nya.
Jadi, Tuhan yang aku yakini enggak pernah menciptakan agama. Agama lahir dari sisi manusia sebagai usaha manusia untuk memahami kehendak-Nya.”
Lalu pertanyaan terakhir, juga pertanyaan yang menjadi kegundahan Nita.
Kali ini dia bertanya:
“Apakah akhirat yang kita yakini sama atau berbeda? Jadi sebenarnya ada berapa sorga?”
Kalimat itu dia tanyakan karena sebuah keraguan besar dan kegundahan besar yang sebelumnya pernah dia katakan kepadaku.
Jujur saja, aku enggak tahu apakah ini benar-benar bagian dari ajaran Islam atau enggak. Tapi Nita pernah berkata:
“Sorga adalah tempat yang sangat kaya sumber daya. Susu dan madu mengalir layaknya sungai, dan setiap orang Islam disediakan bidadari dan bidadara yang sangat elok rupanya, yang bisa mereka gauli setiap saat.”
Aku menjawab:
“Aku enggak tahu apakah akhirat kita sama atau beda. Tapi akhirat yang aku yakini beda dengan apa yang kamu pernah bilang.
Akhirat dalam ajaran Kristiani adalah suatu keadaan atau kondisi yang akan dicapai jiwa manusia setelah raganya mati. Ada sorga, neraka, dan purgatorium. Ketiganya mencerminkan tiga kondisi yang berbeda yang akan dialami jiwa manusia sampai datangnya hari penghakiman atau kiamat.
Lalu, sorga dari sudut pandang orang Kristiani kayak aku adalah kondisi persekutuan kekal dengan Tuhan. Itu bukan suatu tempat yang penuh kepuasan duniawi, melainkan lebih ke kepuasan rohani karena berada di dalam Tuhan.”
Mendengar jawabanku itu, aku masih ingat betul, dia mulai melontarkan banyak sekali tuduhan aneh terhadap ajaran Kristiani. Mulai dari menyebut tokoh-tokoh terkenal di dunia kayak Mahatma Gandhi, Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, bahkan Paus Santo Yohanes Paulus II sebagai seorang beragama Islam.
Dan lebih anehnya lagi, dia mulai mendiskusikan soal Candi Borobudur yang dia sebut sebagai Bait Suci Salomo.
But...
Terlepas dari tiga pertanyaannya itu, ada satu hal dari semua itu yang membuat aku ketriger, dan berubah jadi seorang fanatik Kristiani. Aku mulai merasa kalau pandangan orang Islam tentang ajaran Kristiani itu salah, dan aku punya tanggung jawab moral untuk meluruskannya.
Dari situlah aku mulai menulis banyak sekali artikel berisi kritik terhadap ajaran Islam yang berkaitan dengan ajaran Kristiani.
Cara pandangku terhadap umat beragama lain juga mulai berubah. Aku mulai sulit menerima fakta bahwa:
“Setiap orang boleh punya pandangan berbeda terhadap diri kita dan apa yang kita yakini, terlepas dari kebenaran yang melekat pada diri kita.”
Kefanatikan agamaku ini pada akhirnya mendorong aku jadi orang yang munafik.
Di satu sisi, aku sering banget ngoceh soal agama dan teologi. Tapi di sisi yang lain, aku masih terjebak dalam dosa nafsu syahwat dan dosa-dosa menyakiti hati orang lain, terutama tanggung jawabku terhadap komitmen relasi cinta yang aku sepakati di awal dengan Ning.
Pada akhirnya, hubunganku dengan Nita hilang begitu saja karena lose contact. Kabar terakhir yang aku dapat, dia jadi istri keempat dari seorang ustaz.
Yup... kefanatikan aku ini kemudian disadarkan oleh Argi, teman baikku waktu SMP.
Ceritanya begini. Aku kan suka banget menulis artikel kritik terhadap ajaran Islam. Kebetulan, akun Facebook aku juga berteman dengan Argi.
Sekilas untuk diketahui, Argi itu orangnya taat banget beragama. Dia penganut Islam yang benar-benar taat.
Suatu kali dia mengirim chat kepadaku:
“Berhenti, sebelum aku melakukan dosa lebih banyak dengan membenci kamu.”
Di titik itu aku sadar, terlepas dari apakah tulisan-tulisanku itu benar atau salah, yang jelas tulisan aku secara nyata sudah menyakiti perasaan teman baikku.
Setelah itu, aku benar-benar berhenti. Kefanatikanku juga mulai berkurang. Dan hubunganku dengan Argi membaik kembali.
---
Kalau kalian suka, kalian bisa mentraktirku kopi, dengan mengklik link di profilku, atau search link ini di browser kalian https://trakteer.id/lilbonpcs thanks sudah mengapresiasi karya ini...
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥