Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Suap.
Arven bergerak pelan di dapur, seolah takut suara apa pun bisa memecahkan keseimbangan yang rapuh di antara kami. Aku masih berdiri di tempat, memeluk lenganku sendiri, sampai aroma hangat mulai menyusup ke udara.
Telur mata sapi, nasi hangat dan kecap. Sesuatu yang sangat sederhana.
Ia kembali dengan sepiring kecil, lalu menarik kursi dan duduk di depanku. Tidak langsung menyodorkan piring. Ia mengambil sendok lebih dulu.
"Duduk dulu." Sesuai perkataannya aku duduk di sofa ruang tengah.
"Ren," katanya ringan, mencoba terdengar santai. "Aku masak level anak kos. Jangan berharap spek Michelin."
Sudut bibirku bergerak tipis. Hampir tidak terlihat, tapi Arven menangkapnya. Dia mendekat perlahan dan duduk di sampingku.
"Nah," katanya cepat, pura-pura bangga. "Itu senyum. Berarti masakanku ada harapan."
Ia menyendok sedikit, meniupnya pelan sebelum mendekatkannya ke mulutku.
"Mulutnya dibuka, Bu Pasien," ujarnya setengah bercanda. "Dokternya galak."
Aku menurut. Satu suap kecil masuk, hangatnya menyebar perlahan di lidahku.
"Gimana?" tanyanya.
"Enak." Kataku
Aku mengalihkan pandangan, tapi sudut bibirku masih terangkat sedikit. Ia menyuapi lagi, dengan sabar.
"Ini suap kedua," katanya santai. "Yang tadi kan cuma pembuka."
Aku menatapnya. "Kamu licik."
Ia tertawa kecil. "Aku kreatif."
Beberapa suap masuk. Tidak banyak, tapi cukup membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan. Di tengah-tengah itu, Arven menyuap sambil bersandar di sofa, gaya santainya kontras dengan caranya memperhatikanku.
"Ayo satu lagi," bujuknya. "Habis ini aku berhenti ganggu kamu."
"Kamu bohong," gumamku.
"Iya," ia mengaku tanpa dosa. "Tapi bohong yang niatnya baik."
Aku akhirnya tertawa kecil. Suaraku serak, tapi Arven langsung menangkapnya.
"Nah," katanya lembut. "Itu yang aku cari."
Sendok terakhir masuk. Ia benar-benar berhenti.
"Cukup," katanya sebelum aku protes. "Kalau dipaksa nanti kamu muntah. Kita nggak mau drama tambahan selain kamu nangis-nangis seharian."
Aku mengangguk. Kepalaku terasa sedikit lebih jernih sekarang. Arven menaruh piring di atas meja makan, lalu kembali duduk di sampingku. Kali ini tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuatku merasa ditemani.
Aku menarik napas panjang. "Ven."
"Hm?"
"Aku mau mulai cari tahu."
Ia tidak terlihat terkejut. Seolah sudah tahu kalimat itu akan keluar sejak tadi. Arven berdiri berjalan ke meja kerjanya, lalu ia membawa laptopnya, duduk di sampingku dengan jarak yang cukup dekat sampai bahuku menyentuh lengannya. Sentuhan itu menenangkanku.
"Oke," jawabnya tenang. "Kita mulai dari mana?"
Aku terdiam sebentar, lalu menggeleng kecil. "Aku nggak tahu. Ingatanku bolong. Banyak hal tentang Maya yang kabur."
Arven bersandar, berpikir. Matanya fokus, bukan pada layar, tapi padaku.
Kamu masih ingat kebiasaan-kebiasaan kecilnya?"
tanyanya pelan. "Hal yang orang lain mungkin anggap sepele."
Aku memejamkan mata, memaksa ingatanku bekerja. "Dia cerewet. Kalau lama nggak balas chat, pasti ada alasan, dan dia bakal jelasin panjang lebar. Dia nggak suka bikin orang nunggu tanpa kabar."
Arven mengangguk. "Itu penting."
Aku membuka mata. "Makanya aku yakin ada yang salah."
Arven mengangguk pelan. "Itu nggak apa-apa. Kita pakai yang kamu punya sekarang."
Aku menatapnya, mendengarkan.
"Kalau ini bukan bunuh diri," lanjutnya hati-hati, "berarti ada yang nggak cocok di ceritanya. Biasanya hal-hal kecil."
Ia terdiam sebentar, lalu seperti teringat sesuatu. Alisnya berkerut.
"Berita," katanya tiba-tiba. "Kemarin aku lihat berita singkat. Tentang cewek yang diduga bunuh diri."
Dadaku langsung menegang. "Berita kemarin yang di TV?"
Arven mengangguk dan jarinya bergerak cepat membuka browser. Aku mendekat tanpa sadar, bahuku hampir bersentuhan dengan lengannya.
Layar itu menampilkan laman berita sederhana. Judulnya cukup mencolok.
"Dugaan Bunuh Diri Seorang Wanita di Rumah Kosong-"
Aku membaca cepat. Namanya muncul di sana.
Maya Lestari.
Tanganku refleks mencengkeram ujung meja.
Di bawah namanya tertulis kronologi singkat. Waktu perkiraan kematian, malam minggu. Dugaan sementara, keterangan polisi yang masih minim. Tidak ada detail yang menjawab apa pun, hanya rangkaian kata yang berantakan.
Aku menelan ludah
"Ada yang aneh, Ven," kataku pelan, mataku tidak lepas dari layar. "Katanya Maya meninggal malam minggu, kan?"
Arven mengangguk. "Iya. Di sini tertulis begitu."
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh padanya.
"Tapi Maya sempat chat aku," kataku. Suaraku gemetar. "Subuh."
Ruangan terasa lebih sempit.
Arven menatapku tajam.
"Chat apa?" tanyanya pelan.
Aku menggeleng kecil. "Isinya dia gak sempat datang buat main karena ada urusan, gaya nya maya banget, bahasanya juga"
Aku menatap layar lagi, jantungku berdegup tidak karuan.
"Kalau dia sudah meninggal," bisikku, "siapa yang chat aku?