Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan angin dan salju
Di luar hutan yang dipenuhi angin dan salju yang menghempas, tubuh seorang pemuda berusia 19 tahun terkapar tak bergerak. Rambutnya kusut dan tubuhnya terlihat kurus, tak bergerak seolah nyawanya hampir hilang. Di sampingnya, seorang pria mengenakan pakaian hitam dengan penutup kepala yang rapat juga terjatuh dalam keadaan tak sadar.
Pemuda itu bernama Zoran Shihai, dan dia bukan berasal dari dunia ini.
Beberapa hari sebelumnya, Zoran baru saja merampok seorang pemuda kaya. Hasil rampokan itu cukup besar, memberi dia banyak uang yang bisa bertahan hidup dalam beberapa waktu.
Zoran adalah seorang pemuda yang terbiasa merampok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena dia hidup sendirian tanpa seorang pun yang bisa diandalkan.
Meskipun sering merampok, Zoran punya prinsip sendiri. Dia tidak merampok orang miskin, karena dia merasa mereka tidak punya apa-apa. Zoran hanya menargetkan orang-orang kaya, karena merampok orang kaya memberi hasil yang jauh lebih besar. Dia tidak akan buang-buang waktu untuk merampok orang miskin yang tak bisa memberinya banyak.
Selama ini, Zoran hidup lancar. Namun, kali ini semuanya berbeda. Setelah merampok anak seorang keluarga kaya yang berhubungan dengan dunia gelap, hidup Zoran berubah drastis. Orang yang dia rampok ternyata tak tinggal diam. Mereka menyewa para pembunuh untuk membunuhnya.
Zoran, yang merasa berada di tempat terpencil, meremehkan para pembunuh itu. Dia yakin tidak mungkin mereka bisa menemukannya. Lagipula, siapa yang akan repot-repot mencari seorang perampok di tempat yang jauh seperti ini?
Namun, saat Zoran sedang bersantai seperti biasa, sebuah suara terdengar dari jauh.
Sekelompok pembunuh tiba-tiba muncul, mengepung tempat persembunyiannya, berniat membunuhnya.
Zoran terkejut, muram, tidak menyangka para pembunuh itu datang ke tempatnya yang kotor hanya untuk menuntut nyawanya. Tanpa pikir panjang, dia berlari.
Pembunuh-pembunuh itu ada tiga orang. Melihat Zoran lari, mereka langsung mengejar, tak ingin kehilangan kesempatan. Orang yang menyewa mereka telah memasang bayaran besar bagi siapa pun yang bisa membawa kepala Zoran. Emas yang sudah terbayang di depan mata, bagaimana mungkin mereka akan melepaskannya?
Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Zoran yang sudah hafal dengan daerah itu bergerak lincah, menembus rintangan-rintangan alam dengan mudah.
Para pembunuh yang mengejarnya kesulitan. Mereka tidak terbiasa dengan medan yang penuh dengan hutan belantara dan jalur yang sempit.
Zoran melompat, berlari, dan berbelok tajam, sementara para pembunuh itu harus berjuang untuk tetap berada di belakangnya.
Semakin lama, kecepatan mereka mulai melambat. Zoran yang tahu bahwa hidupnya tergantung pada langkah-langkah ini, memaksakan dirinya untuk berlari meski tubuhnya mulai kelelahan. Dia tidak bisa berhenti, tidak bisa menyerah. Kematian sudah terlalu dekat di belakangnya.
Namun, tiba-tiba, salah satu pembunuh itu, yang bertubuh tinggi dan berotot, melirik dua rekannya yang mulai kehabisan tenaga. Dalam sekejap, dia berlari mengejar Zoran, meninggalkan dua pembunuh lainnya yang terengah-engah.
Para pembunuh itu bukan berasal dari kelompok yang sama. Mereka datang terpisah dan bertemu secara kebetulan di sini. Kini, mereka harus berlomba satu sama lain untuk mendapatkan bayaran besar yang dijanjikan.
Dua pembunuh yang tertinggal saling pandang dengan muram. Jika pembunuh yang mengejar Zoran berhasil menangkapnya, mereka tentu tidak akan mendapatkan apa-apa. Dalam hati mereka, muncul perasaan cemas, karena yang tersisa hanya satu kesempatan untuk mendapatkan uang itu.
Namun, sedetik kemudian, mata mereka berbinar, meskipun hanya sebentar. Mereka sama-sama berpikir, jika pembunuh yang saat ini mengejar Zoran bisa menangkapnya, bukankah mereka juga bisa membunuh pembunuh itu dan membawa kepala Zoran? Mereka bisa mendapatkan bayaran yang sama.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk saling berpisah, menatap tajam satu sama lain, masing-masing membawa pikirannya sendiri.
Sementara itu, Zoran yang masih dikejar oleh satu pembunuh terus berlari, berusaha menjaga jarak. Namun, pembunuh itu semakin mendekat, dan Zoran semakin memacu kakinya. Ia tahu, jika ia berhenti, kematian sudah menunggunya.
Entah berapa lama mereka berlarian, tiba-tiba ruang di depan Zoran mulai retak.
Krakk.
Zoran yang tidak menyadari apa yang terjadi terus berlari memasuki celah itu. Pembunuh yang mengejarnya, yang terlalu fokus dan tidak mampu menghentikan larinya, ikut masuk ke dalam ruang yang retak itu.
Dan kini, mereka berdua berada di tempat yang asing.
Tiba-tiba, tubuh Zoran bergerak. Perlahan, ia mulai duduk, memegangi kepalanya yang terasa pusing dan aneh. Matanya terbuka, dan ia melihat sekeliling dengan kebingungan.
"Dimana ini? Kenapa ada salju?" pikirnya. Seingatnya, di Bumi, tempat tinggalnya, tidak pernah ada salju.
Tiba-tiba, tubuh Zoran menggigil. Ia menoleh ke samping dan melihat pembunuh yang mengejarnya masih pingsan di dekatnya.
"Keparat," umpat Zoran dengan geram.
Namun, saat melihat pakaian milik pembunuh itu, mata Zoran berbinar. Tanpa ragu, dia mendekat dan mulai melepas pakaian pembunuh tersebut satu persatu, hingga yang tersisa hanya pakaian dalamnya. Setelah itu, Zoran mengenakan pakaian tersebut dengan senyum lebar di wajahnya.
"Hehehehe," Zoran terkekeh, membayangkan bagaimana reaksi pembunuh itu saat bangun nanti.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana ekspresinya saat menyadari bahwa dia sekarang hanya mengenakan pakaian dalam.
Zoran merasa sedikit puas dengan leluconnya sendiri. Setelah puas, Zoran berbalik dan pergi meninggalkan pembunuh yang masih terkapar. Dia tahu ini adalah kesempatan untuk melarikan diri lebih jauh, meskipun dia merasa aneh dengan tempat ini, tempat yang entah kenapa terasa begitu berbeda.
***
Hutan angin dan salju, tempat Zoran berada sekarang, adalah sebuah hutan yang terkenal dengan cuacanya yang ekstrim.
Hutan ini sering digunakan oleh para pendekar untuk berlatih, karena selain medan yang berat, cuaca yang menggigilkan tubuh membuat pelatihan menjadi lebih menantang.
Hutan ini dikenal sebagai tempat yang menguji batas fisik dan mental para pendekar.
Dunia yang kini Zoran masuki adalah dunia tempat para pendekar berkumpul. Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya. Mereka yang memiliki kekuatan paling besar akan berada di puncak dan meraih semua yang mereka inginkan, sementara yang lemah hanya akan menjadi alas kaki bagi yang lebih kuat.
Tidak ada tempat bagi orang yang tidak bisa bertahan.
Para pendekar, setiap hari berlatih keras, mengasah fisik dan teknik mereka hingga mencapai puncak kemampuan.
Hutan angin dan salju adalah tempat yang sempurna untuk itu, karena medan yang keras dan cuaca yang ekstrem menjadi tantangan luar biasa bagi siapa pun yang berlatih di sini.
Di tepi hutan ini, terdapat beberapa kedai makanan yang terlihat jarang, namun tetap ada.
Aneh memang, mengingat cuaca yang begitu ekstrim, ada kedai yang buka di sini, apalagi di tepi hutan.
Namun bagi mereka yang membuka kedai, ini adalah berkah yang sangat besar. Setiap hari, para pendekar yang berlatih di hutan ini pasti akan singgah dan membeli makanan. Mereka akan menguasai dompet para pendekar itu tanpa masalah, apalagi tidak ada kedai lain di sekitar sini.
Ini adalah peluang emas yang tidak boleh disia-siakan.