Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Jalur Maut Menuju Nusantara
Dermaga kargo di perbatasan Perancis-Swiss tampak suram di bawah rintik hujan yang membeku.
Ryuga, Kiara, Dino, dan Satria baru saja turun dari mobil jip yang mereka kendarai dengan kecepatan tinggi menembus hutan.
"Pesawat kargo itu akan berangkat sepuluh menit lagi," ucap Maya sambil menunjuk sebuah pesawat tua bermesin baling-baling yang sedang memuat peti-peti kayu. "Itu satu-satunya cara kita keluar dari Eropa tanpa terdeteksi radar canggih Alvin."
Ryuga terpaksa berganti pakaian menjadi buruh kargo. Ia memakai jaket flanel kusam dan topi rajut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Ini benar-benar penghinaan bagi selera fashion-ku," gumam Ryuga sambil memanggul sebuah peti kecil untuk penyamaran.
Kiara tertawa, membantu mengoleskan sedikit jelaga hitam ke pipi Ryuga agar terlihat lebih natural. "Tahan sedikit, Pak Bos. Di mata mereka, Anda sekarang bukan CEO, tapi hanya buruh angkut bernama 'Bram'. Kelihatan sangat macho, kok."
"Macho dari mana? Aku merasa seperti karakter di film dokumenter kemiskinan," balas Ryuga ketus, namun ia tidak menolak saat Kiara memegang pipinya.
Mereka berhasil menyelinap ke dalam perut pesawat kargo. Namun, saat pesawat sudah berada di ketinggian 15.000 kaki, pintu belakang pesawat tiba-tiba terbuka secara paksa.
Tiga orang pembunuh bayaran dengan parasut dan pakaian taktis hitam melompat masuk dari pesawat lain yang terbang sejajar di atas mereka.
"The Ghost mungkin gagal, tapi kami tidak!" teriak salah satu dari mereka sambil menghunuskan pisau gerigi.
Ryuga langsung melindungi Kiara. "Dino, masuk ke balik peti! Satria, jaga Maya!"
Pertarungan terjadi di ruang kargo yang sempit dan berguncang. Ryuga harus menghadapi dua orang sekaligus. Di sisi lain, Kiara melihat salah satu pembunuh mencoba memotong tali pengikat kargo besar agar menghantam Ryuga.
"Tidak akan kubiarkan!" Kiara mengambil sebuah pengait besi besar. Dengan keahlian mekaniknya, ia mengaitkan kabel baja ke roda gigi pintu pesawat.
"Ryuga! Menunduk!" teriak Kiara.
Kiara menarik tuas manual. Pintu kargo terbuka lebih lebar, menciptakan tekanan udara yang luar biasa. Angin kencang menyedot salah satu pembunuh keluar dari pesawat sebelum ia sempat menyerang Ryuga.
Setelah sisa musuh berhasil dilumpuhkan dan pintu ditutup kembali, Ryuga terduduk di lantai pesawat yang dingin. Lengannya tersayat pisau, darah segar merembes di jaket flanelnya.
"Ryuga!" Kiara berlari mendekat. Ia segera merobek bagian bawah kemejanya sendiri untuk membalut luka Ryuga.
"Aku tidak apa-apa, Kiara... hanya luka kecil," ucap Ryuga menahan perih.
Kiara tidak mendengarkan. Ia dengan telaten membersihkan luka itu. "Diam. Anda selalu bilang jangan rusak, tapi Anda sendiri yang paling sering terluka."
Ryuga menatap Kiara yang sedang fokus membalut lukanya. Di bawah lampu remang kabin kargo, wajah Kiara tampak begitu tangguh. Ryuga menggunakan tangan satunya untuk menarik dagu Kiara, memaksa wanita itu menatapnya.
"Kenapa kau begitu peduli padaku, Kiara? Padahal aku sering merepotkan mu," bisik Ryuga.
Kiara berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca. "Karena asisten mana pun bisa diganti, tapi tidak ada orang lain yang bisa membuat jantung saya berdetak se berisik jam rusak selain Anda."
Ryuga tersenyum, lalu mengecup kening Kiara dengan lembut di tengah gemuruh mesin pesawat kargo.
🌸🌸🌸
Di sudut lain, Dino sedang memeriksa tas milik salah satu pembunuh yang berhasil dijatuhkan. Ia menemukan sebuah smartphone terenkripsi. Saat ia mencoba membukanya, sebuah video otomatis terputar.
Video itu memperlihatkan sosok Alvin Seongmin Dewangga yang duduk di kursi kebesaran Ryuga di Jakarta.
Alvin (di video): "Halo, Kakak-ku tersayang. Jika kau melihat ini, artinya perjalananku menjemputmu di langit Eropa telah dimulai. Jangan terburu-buru pulang, karena di sini... aku sudah menyiapkan pesta penyambutan untuk Kiara. Dia sangat cantik di foto, bukan? Sayang jika wajahnya harus hancur bersama rahasia S-1945."
Dino menelan ludah. "Bos... si Alvin ini... dia benar-benar terobsesi pada Kiara."
Ryuga berdiri, matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa. "Dia melakukan kesalahan besar dengan menyebut nama Kiara."
Suasana di dalam perut pesawat kargo tua itu mendadak menjadi sangat panas. Bukan karena suhu udara, melainkan karena peringatan merah yang berkedip di panel kokpit yang bisa terlihat dari ruang kargo. Pesan Alvin di video tadi bukan sekadar gertakan.
"Ryuga! Sensor panas mendeteksi ledakan di bagian mesin!" teriak Maya yang baru saja kembali dari arah depan pesawat. "Alvin memasang bom jarak jauh. Kita punya waktu kurang dari tiga menit sebelum pesawat ini pecah menjadi serpihan!"
Pesawat mulai berguncang hebat. Suara decitan logam yang terpelintir terdengar mengerikan. Di luar jendela kecil, sayap kanan pesawat mulai mengeluarkan api yang menjilat-jilat langit malam.
"Hanya ada tiga parasut yang tersisa!" Dino berteriak panik sambil menggeledah lemari darurat. "Tiga! Sedangkan kita berlima!"
Satria, ayah Kiara, menatap putrinya dengan tenang. "Gunakan untuk kalian. Ayah akan…"
"Tidak!" potong Kiara tegas. Ia mengambil tas peralatannya. "Ryuga, bantu saya mengikat kargo darurat. Kita bisa menggunakan parasut kargo besar untuk menurunkan Ayah, Maya, dan Dino sekaligus dalam satu palet pengaman. Tapi itu artinya..."
"Artinya aku dan kau harus menggunakan satu parasut yang tersisa. Bersama-sama," lanjut Ryuga dengan suara yang sangat tenang di tengah kekacauan.
Dengan kecepatan luar biasa, Kiara merakit sistem pengait manual pada palet kayu besar. Ia menggunakan kabel baja sisa pertarungan tadi untuk memastikan posisi ayahnya, Maya, dan Dino aman.
"Masuk sekarang!" perintah Kiara.
"Tapi Kiara, ini sangat berisiko buatmu!" Dino mencoba protes, namun Maya menariknya masuk.
Kiara menekan tuas hidrolik pintu belakang. Angin kencang langsung menyedot palet itu keluar ke kegelapan malam. Parasut raksasa kargo itu mengembang sempurna.
"Satu masalah selesai," napas Kiara terengah. "Sekarang tinggal kita, Ryuga."
Pesawat meledak di bagian depan. Api mulai merambat masuk ke ruang kargo. Ryuga segera mengenakan tas parasut terakhir di punggungnya, lalu ia menarik Kiara masuk ke dalam pelukannya. Ia menggunakan tali pengikat tambahan untuk mengunci tubuh Kiara tepat di depan tubuhnya dada bertemu punggung.
"Pegang aku erat-erat, Kiara," bisik Ryuga tepat di telinganya. "Jangan pernah lepaskan, apa pun yang terjadi."
Kiara melingkarkan lengannya di leher Ryuga, merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang namun stabil. "Saya tidak akan melepaskan Anda, Pak Bos. Bahkan jika dunia hancur di bawah kita."
Ryuga melompat keluar tepat saat pesawat kargo itu meledak total di belakang mereka.
Mereka jatuh bebas menembus awan. Angin menderu sangat kencang, namun di dalam dekapan Ryuga, Kiara merasa hangat. Setelah beberapa detik yang memacu adrenalin, Ryuga menarik tuas parasut.
WUUUSH!
Parasut mengembang. Keheningan tiba-tiba melingkupi mereka, hanya ada suara angin sepoi-sepoi di ketinggian. Di bawah mereka, lampu-lampu kota di perbatasan mulai terlihat seperti hamparan berlian.
Ryuga mempererat pelukannya pada pinggang Kiara. "Kau tahu... ini bukan cara yang aku bayangkan untuk berdansa denganmu."
Kiara tertawa kecil di tengah ketegangannya. "Tapi ini cukup berkesan, bukan? Lebih ekstrem daripada dansa di Menara Dewangga."
Ryuga mengecup bahu Kiara yang tertutup jaket. "Setelah kita mendarat dan sampai di Jakarta, aku akan memastikan Alvin Seongmin menyesali hari di mana dia memutuskan untuk mengusik mu. Kau adalah milikku, Kiara. Dan tidak ada satu pun Dewangga lain yang boleh menyentuhmu."
Sayangnya, momen romantis itu harus berakhir dengan pendaratan di atas pohon besar di sebuah perkebunan anggur. Parasut mereka tersangkut di dahan, membuat Ryuga dan Kiara bergelantungan sekitar dua meter dari tanah.
"Pak Bos... kaki saya tersangkut," gumam Kiara.
Ryuga mencoba melepaskan kaitan, namun ia justru kehilangan keseimbangan. Mereka jatuh bersamaan ke atas tumpukan jerami yang ada di bawah pohon.
"Aduh..." Ryuga mengerang. Ia mendarat dengan Kiara tepat di atas tubuhnya.
"P-Pak Bos, Anda tidak apa-apa?" tanya Kiara panik.
Ryuga membuka matanya, menatap wajah Kiara yang hanya berjarak beberapa senti. "Aku baik-baik saja... tapi sepertinya aku baru saja menyadari kalau jerami ini baunya jauh lebih baik daripada aroma parfum Alvin di video tadi."
Kiara tertawa, namun ia segera terdiam saat Ryuga menarik tengkuknya dan menciumnya dengan intens di bawah sinar bulan, sebuah ciuman yang menandakan bahwa mereka telah selamat dari maut... untuk sementara.
🌸 Gia ( si mbak kucing nya Dino )

Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?