Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang VIP
“Pasti brengsek itu yang ganggu kamu lagi,” ujar Noel dengan nada tertahan, tapi jelas mengandung amarah. Rahangnya mengeras, sorot matanya gelap.
“Hah, aku akan cari mereka,” lanjutnya, suaranya meninggi. Tubuhnya sudah setengah berbalik, siap kembali ke arah keramaian.
Namun sebelum sempat melangkah jauh, Mirea buru-buru meraih tangannya.
“Kak…”
Suara itu kecil, nyaris bergetar.
“Kak, sebenarnya… aku beberapa hari ini lagi mens,” ucapnya pelan berpura-pura mencari alasan, seolah malu harus mengatakannya.
Langkah Noel langsung terhenti.
Ia membeku sesaat, lalu refleks menggaruk tengkuknya. Wajahnya yang tadi penuh amarah mendadak berubah canggung, bahkan sedikit memerah.
“Oh… gitu,” gumamnya, suaranya langsung melembut. “Pantesan kamu lama di WC.”
Ia menatap Mirea lagi, kali ini dengan sorot penuh khawatir.
“Kalau begitu, kita langsung saja temui Pak Boris,” katanya sambil memegang kedua pundak Mirea dengan hati-hati. “Habis itu kita pulang. Kamu istirahat, ya.”
Mirea mengangguk pelan.
“Iya, Kak.”
Ia lalu mengikuti langkah Noel, berjalan di sampingnya dengan ekspresi lemah yang tampak meyakinkan.
......................
Kini mereka tiba di depan sebuah ruangan privat VIP. Noel mengetuk pintunya pelan. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Boris Johnson muncul dari dalam.
Raut wajah Boris langsung berubah saat melihat siapa yang berdiri di depannya. Matanya melebar, ekspresinya jelas terkejut, hampir seperti tidak percaya.
“Hah? Noel Rothwell?” ucapnya, sambil melirik ke kanan-kiri seolah memastikan dirinya tidak salah lihat.
Noel justru tersenyum lebar. Ia sempat membenarkan kerah kemejanya, tampak senang bertemu orang yang sudah ia anggap sebagai sahabat sendiri.
“Kenapa kamu bisa masuk ke Stone at Black?!” tanya Boris tiba-tiba, nadanya campur aduk antara panik dan bingung.
“Hah? Maksudmu apa?” Noel balas bertanya, makin heran dengan reaksi Boris. “Bukannya kamu sendiri yang jual tiket itu ke aku?” lanjutnya sambil menepuk bahu Boris santai.
“Ta-tapi dua tiket itu—” Boris terhenti. Ia nyaris saja keceplosan kalau tiket itu sebenarnya palsu. Mulutnya langsung menutup rapat.
“Kenapa?” Noel menatapnya lebih tajam, mulai curiga dengan gelagat aneh itu.
“Ah, itu… sudah lupakan saja,” ujar Boris cepat, sambil berkacak pinggang seperti orang kebingungan. “Nggak ada apa-apa, kok,” tambahnya, berusaha terdengar santai.
Lalu ia tertawa kecil, agak dipaksakan.
“Anu… mumpung kalian sudah di sini, ayo kita main bareng saja.”
Ia meraih lengan Noel ringan. “Ayo masuk.”
Noel mengangguk tanpa banyak berpikir dan langsung ikut masuk.
Di belakang mereka, Mirea melangkah sambil tersenyum tipis.
“Ternyata Boris sengaja mengincar kakakku,” batinnya sambil tersenyum miring. “Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau nanti bersikap tidak sopan.”
Begitu kaki mereka menapaki bagian dalam ruangan privat VIP itu, Mirea langsung menyadari sesuatu.
Di sana, sudah duduk dua orang di sofa melingkar mengelilingi satu meja kecil. Kaelion Blackwood dan Farel Alander. Keduanya tampak santai, masing-masing memegang segelas wine premium.
Kael sedang meneguk minumannya perlahan. Begitu melihat Mirea, gerakannya sedikit terhenti. Matanya menyipit, menatap gadis itu dengan sorot penuh selidik.
“Kenapa dia ada di sini?” batin Mirea. Pandangannya bertemu dengan mata Kael yang kini menatapnya tanpa berkedip, sebelum pria itu meletakkan gelasnya kembali ke meja.
Noel ikut menoleh, baru menyadari keberadaan dua pria itu. Ia tampak agak sungkan.
“Oh… ternyata ada temanmu di sini. Kenapa tidak bilang dari awal?” ujar Noel, nada suaranya hati-hati, takut kehadirannya justru mengganggu.
“Hahaha, sudahlah. Karena kalian sudah datang, kenalan saja dulu biar bisa berteman. Ayo,” ajak Boris sambil berjalan lebih dulu ke arah sofa.
Demi sopan santun, Kaelion langsung beranjak berdiri. Begitu juga dengan Farel di sebelahnya.
“Ini putra konglomerat dari Zhenkai, Kaelion Blackwood,” kata Boris memperkenalkan sambil menepuk bahu Kael ringan.
“Dan di sebelahnya, Farel Alander dari keluarga Alander,” tambahnya lagi sambil menunjuk pria berkacamata di samping Kael.
“Ah, Pak Noel, salam kenal,” ujar Farel dengan senyum tipis sambil mengulurkan tangan.
Noel segera menyambutnya, menjabat tangan Farel dengan sopan.
“Salam kenal juga,” jawabnya ramah.
“Aiss, jangan terlalu sungkan. Ayo duduk,” kata Boris sambil mempersilakan mereka duduk di sofa melingkar mengelilingi satu meja.
Noel duduk lebih dulu, tepat di seberang Boris. Lalu ia menepuk sofa di sebelahnya.
“Dik Mire, duduk sini,” ujarnya memberi isyarat.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
Alih-alih duduk di samping kakaknya, Mirea malah melangkah pelan dan duduk tepat di sebelah Boris.
Sontak Boris terdiam, sedikit terpelongo.
Farel mengangkat alis.
Kael menatap tanpa ekspresi.
Sedangkan Noel hanya menatap Mirea dengan sorot mata sinis, rahangnya mengeras, tapi ia memilih diam.
“Tunangan ini benar-benar tidak menghargai Kael sama sekali,” batin Farel yang langsung menangkap keanehan itu.
Suasana mendadak canggung.
Noel yang menyadari itu akhirnya mengambil satu gelas berisi wine di meja, lalu mengangkatnya sedikit.
“Pak Noel, terima kasih sudah membantu kami tadi,” ujarnya berusaha mencairkan suasana.
“Hah?” Kael hanya membuang muka, jelas tidak tertarik.
Farel terkekeh kecil.
“Putra konglomerat dari Zhenkai sudah membantu kalian, cuma dibalas segelas minum?” tanyanya santai tapi bernada mengejek.
“Menurutku… serahkan saja adikmu sebagai tanda terima kasih,” tambahnya sambil tersenyum tipis.
“GAK BISA!”
Noel dan Mirea langsung berteriak bersamaan, hampir tanpa jeda.