Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 26
Mereka semua berpamitan dengan Mariana karena hari sudah malam. "Terimakasih teman-teman atas kedatangannya kemari. Next time, kita kumpul lagi dengan anggota yang lebih lengkap." kata Mariana dengan wajah tersenyum.
"Oke, Mar. Sampai jumpa lagi. Selamat Malam."
Semua pulang kerumah masing-masing. Berbeda dengan Zai dan Ruri. Setelah kejadian tadi dirumah Mariana, keduanya nampak salah tingkah dan terdiam satu sama lain. Zai begitu gugup saat di dekat Ruri, begitu pula dengan Ruri. Dirinya, juga merasa nyaman saat berada di samping Zai setelah bertemu beberapa kali.
Dalam perjalanan pun, keduanya masih saling diam dan dengan pemikiran mereka masing-masing. "Kenapa hatiku begitu gugup ya? Tidak seperti biasanya?" Ruri berkata dalam hati dengan tersenyum tertahan menatap jendela kaca mobil.
"Apakah seharusnya aku bilang sekarang ya? Tapi, aku masih bingung bagaimana cara mengatakannya?" Zai berucap dalam hati.
Dirinya akan memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaannya ini di waktu yang tepat nanti.
Tak terasa, sudah sampai di rumah Ruri dan keduanya turun dari mobil. "Aku pamit sekalian ya? Hari sudah malam," pamit Zai yang berdiri di depan rumah Ruri.
"Iya. Hati-hati. Salam untuk Bapak dan Ibu, juga Rere dan Gabriel."
"Baiklah. Nanti kusampaikan."
Ruri melambaikan tangan pada Zai yang melangkah pergi menuju mobilnya. Namun, Zai berhenti di depan pintu memikirkan rencananya kedepan.
"Ruri? Kamu ada waktu minggu depan?" tanya Zai yang berdiri dekat mobil.
"Iya, hari sabtu aku libur dan kosong."
"Baiklah, kita jalan-jalan ke pantai bersama anak-anak," ajak Zai dengan antusias dan Ruri menjawab dengan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Yes. Makasih. Selamat malam, Ruri."
"Selamat malam."
Zai masuk mobil dengan hati riang gembira. Sedang Ruri, masuk ke rumah dan senang akan situasi yang sekarang dijalaninya dengan Zainudin. Dirinya berharap, Zai adalah sosok laki-laki yang pantas untuk kedua anaknya.
Di dalam mobil, Zai terus menerus tersenyum dan berharap cintanya diterima dan berakhir dengan bahagia.
Seminggu berlalu dengan cepat, kini Zai, Ruri dan kedua anak masing-masing berekreasi ke pantai yang cukup indah. Sejak pagi, Gabriel palinh senang dengan kegiatan tamasya ini. Rere pun tak kalah senangnya, karena jarang sekali dirinya ikut ke pantai dengan papanya.
Kali ini, suasananya sungguh berbeda. Ada sosok wanita lain di dekat Zai yaitu Ruri. Rere berharap, papanya bisa hidup bahagia dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi Mama barunya. Rere tersenyum melihat senyum di wajah papanya.
"Semoga, senyum Papa adalah yang terakhir untuk selamanya dengan Mama Ruri. Aku tahu, Papa pasti kesepian." ucap lirih Rere yang duduk berjauhan dengan mereka.
Rere, gadis itu mulai beranjak remaja. Dirinya cukup mengerti arti cinta yang selama ini belum dimiliki dari mamanya selama ini. Tapi, dia mulai memahami arti kasih sayang dari wanita itu yang bernama Ruri. Kemudian, Rere pun segera bergabung dengan adik dan juga yang lainnya bermain pasir di pantai.
Sedang Zai dan Ruri duduk di bawah pohon kelapa yang rindang dan sejuk seraya mengawasi anak-anak mereka. Mereka duduk di tikar yang dibawanya dan juga bekal makanan dari rumah. Persiapan itu sudah di rencanakan Ruri sehari sebelum keberangkatan mereka pagi ini karena Zai yang mengabarinya melalui telepon.
Kali ini, Zai akan mengungkapkan perasaannya itu sekarang. "Hatiku berdebar rasanya. Kayak pertama kali jatuh cinta saja." Zai berkata dalam hati seraya membawa cincin yang dibelinya semalam sebelum berangkat ke pantai.
mampir y