NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Wajah Pak Lurah seketika berubah merah padam, urat-urat di lehernya menegang melihat tingkah putrinya yang sudah di luar batas kesopanan. Di depan seorang Gus, di jam yang seharusnya suci bagi orang beriman, Keyla malah memamerkan auratnya tanpa rasa malu.

"KEYLA!!!" Gelegar suara Pak Lurah membuat kaca jendela rumah bergetar. "Masuk ke kamarmu sekarang atau Ayah sita semua fasilitasmu dan Ayah kirim kamu ke pesantren kilat detik ini juga!"

Keyla tersentak. Ia tahu kalau Ayahnya sudah menyebut soal "sita fasilitas", itu bukan main-main. Dengan langkah yang sengaja dibuat berlenggok nakal, ia berbalik menuju kamarnya. Namun, sebelum menutup pintu, ia sempat melirik Gus Hilman yang masih mematung membelakangi ruangan.

"Dah, Gus... Sampai ketemu di masjid," bisik Keyla pelan sambil mengedipkan mata, lalu menutup pintu kamarnya dengan bunyi brak! yang cukup keras.

Di ruang tamu, suasana mendadak senyap dan canggung. Bunda Sarah menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa gagal mendidik putrinya.

"Gus... saya... saya benar-benar minta maaf," ucap Pak Lurah dengan suara bergetar karena malu. "Anak itu memang sudah tidak bisa diatur. Saya sangat malu pada Gus dan keluarga pesantren."

Hilman menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih berpacu gila-gilaan. Bayangan pakaian merah tipis Keyla tadi seolah menjadi api yang membakar fokusnya. Ia harus berjuang keras mengusir bayangan itu dari kepalanya.

"Tidak apa-apa, Pak Lurah. Namanya juga anak muda, mungkin Mbak Keyla hanya belum terbiasa dengan lingkungan pesantren," jawab Hilman dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski jemarinya yang memegang tasbih masih sedikit gemetar. "Mari... kita ke masjid saja, Pak. Sebentar lagi azan."

Hilman praktis hampir berlari keluar rumah menuju masjid desa yang berada tepat di seberang jalan. Dinginnya embun pagi sama sekali tidak terasa bagi Hilman, karena hatinya sedang membara oleh ujian yang sangat berat.

Sesampainya di Masjid...

Hilman berdiri di barisan depan (shaf pertama). Namun, konsentrasinya buyar saat ia mendengar suara motor matic berhenti di halaman masjid. Tak lama kemudian, dari arah tempat shalat wanita yang hanya dibatasi kain kelambu tipis, terdengar suara bisikan yang sangat ia kenali.

"Gus... aku udah pakai mukena nih, cantik nggak?"

Itu Keyla. Ternyata dia benar-benar menyusul ke masjid, mengenakan mukena putih bersih milik ibunya. Tapi karena sifat hyper-nya, ia malah sengaja duduk paling depan di bagian wanita, tepat di belakang Hilman, dan sengaja menyentuh kain pembatas agar Hilman tahu dia ada di sana.

Azan subuh berkumandang, namun bagi Gus Hilman, suara azan itu seolah menjadi perlindungan terakhirnya dari godaan gadis anak Pak Lurah yang tidak ada habisnya.

Shalat Subuh pagi itu menjadi perjuangan terberat dalam hidup Gus Hilman. Setiap kali ia sujud, aroma vanila yang tertinggal di indra penciumannya seolah mengusik kekhusyukannya. Sementara itu, di balik tirai pembatas, Keyla terus-menerus bergerak gelisah, sengaja membuat suara gesekan mukena agar Gus Hilman tahu dia tetap memperhatikannya.

Begitu salam diucapkan, Hilman segera berzikir dengan sangat cepat, ingin segera keluar dari masjid untuk menghindari pertemuan lebih lanjut. Namun, dugaannya meleset.

Di gerbang masjid yang masih berkabut, Keyla sudah berdiri menyandar di tiang kayu. Mukenanya sudah dilepas, disampirkan begitu saja di bahu, memperlihatkan kembali kemeja putih tipisnya.

"Gus! Tungguin!" seru Keyla sambil berlari kecil menghampiri Hilman. "Dingin banget nih, anterin nyebrang dong. Takut ada hantu subuh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!