Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata Pertama
Aku mulai menyadarinya terlambat—sebuah kesadaran yang merayap seperti kabut dingin di pagi hari, perlahan namun pasti menyelimuti logika yang selama ini kujaga ketat. Bahwa aku tersenyum lebih sering. Bukan senyum penuh kemenangan, bukan juga tawa yang meledak. Hanya sebuah tarikan kecil, hampir tak kasat mata, di sudut bibirku. Sebuah refleks yang tidak pernah kulatih, tidak pernah kuinginkan, dan sejujurnya, sedikit menakutkan karena aku tidak bisa mengontrolnya.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa saja dalam rutinitas monoton di kediaman ini. Aku duduk di sudut kamar yang remang, jemariku sibuk menggosok pedang dengan minyak perawatan, tangan ku masih memakai sarung tangan hitam panjang tanpa hari pemberian ayah. sementara Cloudet—si kecil yang entah bagaimana menjadi tanggung jawab yang tak tertulis bagiku—berjalan mondar-mandir di sekitarku.
Langkah kakinya kini lebih mantap. Ia tidak lagi seperti bayi yang jatuh setiap dua atau tiga langkah; ia mulai menguasai gravitasi, mulai memahami bagaimana tubuhnya bekerja di atas lantai batu yang dingin. Dunia kecilnya berkembang dengan kecepatan yang mengerikan—terlalu cepat untuk seorang hibrida yang awalnya kupikir akan layu sebelum mekar.
Lalu, ia berhenti.
Keheningan yang tiba-tiba itu membuatku menoleh tanpa sadar. Cloudet berdiri mematung di tengah ruangan, matanya terpaku pada dinding batu di mana sebuah bingkai kayu tua tergantung. Di dalamnya, Jover—ayah kami—berdiri tegak dalam potret statis. Ayah memiliki ekspresi datar yang seolah-olah dipahat dari granit, sebuah wajah yang tidak menunjukkan emosi namun memancarkan otoritas yang membekukan.
Cloudet menatapnya lama. Terlalu lama untuk ukuran anak seusianya yang biasanya memiliki rentang perhatian sependek embun pagi. Kepalanya miring ke samping, telinga hitamnya yang runcing sedikit turun, dan mata kuning emasnya menyipit—seolah ia sedang menggali jauh ke dalam genetikanya, mencoba memanggil kembali bayang-bayang sosok yang hanya sekali ia temui.
Lalu, bibir kecilnya yang pucat bergerak.
“Ayah.”
Suaranya sangat pelan, serak seperti gesekan kertas, dan artikulasinya belum sempurna. Namun, kata itu jelas. Sangat jelas hingga seolah membelah kesunyian kamar. Ia kemudian tersenyum—sebuah senyum lebar dan polos yang memperlihatkan taring-taring kecilnya yang baru tumbuh—lalu tertawa kecil, membusungkan dada seolah baru saja memenangkan pertempuran besar.
Aku membeku. Minyak di tanganku menetes ke lantai, namun aku tidak peduli. Alis milikku terangkat tinggi.
“Hah.”
Aku menatapnya, lalu beralih menatap foto Jover yang dingin. Jadi kau bisa bicara, batin kecilku berteriak. Aku terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang tanpa sadar menyelip keluar dari tenggorokanku. “Kupikir kau bisu karena terlalu banyak diam selama ini.”
Cloudet menoleh padaku, matanya berbinar mendengar suaraku. Ia tertawa lagi, kali ini lebih berisik, lalu menunjuk foto itu dengan jari telunjuknya yang mungil. “Ayah!” Ia mengulanginya dengan nada yang lebih yakin, seolah mengonfirmasi kebenaran itu padaku.
Aku menyandarkan punggungku ke kursi, menatap langit-langit kamar yang penuh guratan retakan. Entah kenapa, dadaku terasa sedikit sesak, ada beban tak kasat mata yang tiba-tiba mendarat di sana. Kapan sebenarnya Ayah akan kembali dari dunia manusia? Tugas apa yang menahannya begitu lama hingga ia melewatkan pertumbuhan makhluk kecil ini?
Dan yang lebih mengusik pikiranku… Ibu—Calona. Kenapa ia tidak pernah lagi naik ke dunia manusia untuk melayani Nona Irina, pemilik sah kami? Biasanya ia adalah pelayan yang paling bersemangat, selalu patuh, selalu haus akan validasi dari atas sana. Ketidakhadirannya di dunia atas dan keberadaannya yang konstan di rumah ini mulai terasa seperti badai yang sedang mengumpulkan kekuatan.
Hmph. Aku mengibaskan pikiran itu dengan kasar. Apa peduliku pada intrik mereka.
Aku kembali memperhatikan Cloudet. Ia masih di sana, masih menatap foto itu dengan rasa ingin tahu yang aneh. Seolah-olah darah iblis dalam dirinya mengenali frekuensi yang sama, meski ingatannya belum sempat merekam satu pun momen bersama pria di foto itu. Aku berdiri, meletakkan sarung tanganku, lalu berjalan mendekat dan berlutut di sampingnya agar mata kami sejajar.
Cloudet menoleh padaku. Ia menatap fotonya, lalu menatapku, lalu kembali ke foto. Ia seolah sedang membandingkan garis rahang atau mungkin sorot mata.
“Calix,” katanya tiba-tiba.
Aku terdiam kaku. Jantungku berdenyut sekali dengan keras. “…Apa?”
Ia tersenyum lebih lebar kali ini, jari kecilnya beralih menunjuk dadaku. “Ca… lix.”
Suaranya terputus di tengah, tidak lancar, namun tidak ada keraguan di sana. Ia mengenaliku. Ia memberiku nama dalam dunianya. Sial. Perasaan hangat yang asing ini mulai menjalar, dan aku membencinya karena itu membuatku merasa lemah.
Aku menghela napas panjang, lalu berdiri dengan kaku. “Jangan sering menyebut namaku,” gumamku sambil membuang muka.
“Itu merepotkan. Kau hanya perlu mengikutiku dan jangan membuat masalah.”
Ia hanya tertawa kecil, jelas-jelas tidak memahami ancaman kosongku. Aku melangkah pergi menuju pintu, namun langkahku melambat tanpa bisa dicegah. Aku menoleh sekali lagi dari ambang pintu. Cloudet masih berdiri di sana, di bawah bayangan foto ayah, tersenyum polos seolah dunia ini adalah tempat yang aman untuknya.
Hari-hari berikutnya,
suasana di kediaman berubah. Atmosfernya menjadi lebih pekat, lebih menekan. Dan aku tahu satu hal dengan pasti: Calona mulai memperhatikan.
Bukan perhatian seorang ibu yang bangga, melainkan perhatian tajam dan dingin—seperti seekor predator yang akhirnya menyadari bahwa mangsa yang ia biarkan hidup di sudut kandang kini mulai tumbuh terlalu besar untuk diabaikan.
Cloudet kini bukan lagi rahasia kecil yang bisa kusembunyikan di balik jubahku. Ia mulai mengeksplorasi aula, berjalan di sampingku dengan langkah-langkah kecil yang berusaha menyamai ritmeku. Telinga hitamnya yang sensitif bergerak-gerak setiap kali mendengar dentang senjata atau suara langkah kaki prajurit iblis lain. Matanya yang cerah adalah kontras yang menyakitkan bagi kegelapan tempat ini.
Sore itu, di aula utama yang megah dan dingin, Calona berdiri di dekat singgasana batu. Lengannya terlipat di depan dada, gaun hitamnya menyapu lantai seperti aliran tinta.
“Menarik,” katanya, suaranya bergema di langit-langit tinggi. Ada nada sarkasme yang kental di sana. “Anak itu… ternyata tidak sebodoh kelihatannya. Ia akhirnya bisa bicara.”
Cloudet langsung berhenti melangkah. Ia merasakan perubahan suhu di ruangan itu—insting alaminya mulai bekerja. Ia menatap Calona dengan ragu, lalu dengan cepat menoleh ke arahku, mencari jangkar di tengah badai. Tangannya yang kecil meremas ujung pakaianku, mencarinya sebagai perlindungan.
Calona melangkah turun dari podium, setiap ketukan sepatunya terdengar seperti vonis mati. Ia mendekat, matanya yang tajam menguliti setiap inci dari keberadaan Cloudet.
“Kurasa darah campuran memang selalu cacat dalam perkembangan,” lanjutnya santai, seolah sedang membicarakan cuaca. “Atau mungkin… ia tidak benar-benar bicara. Hanya meniru suara seperti burung beo atau hewan peliharaan yang lapar.”
Aku merasakan rahangku mengeras. Rasa panas mulai merayap dari dadaku ke leher.
“Ibu, hentikan!”
Suaranya keluar lebih keras dan lebih tajam dari yang kupikirkan. Gema suaraku memantul di dinding-dinding aula, menciptakan kesunyian yang mendadak mencekam. Para iblis rendahan yang sedang bertugas di sudut ruangan langsung menunduk, tidak berani bernapas.
Calona berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan ke arahku, satu alisnya terangkat dengan ekspresi yang tampak sangat terhibur.
“Apa katamu, Calix?. tadi sepertinya aku tidak yakin bahwa aku mendengar dengan benar.”
Aku tidak mundur. Justru, aku menggeser posisiku, berdiri sedikit lebih maju untuk menutupi tubuh Cloudet yang kini gemetar di belakang kakiku. Aku bisa merasakan napasnya yang pendek menempel di kain celanaku.
“Aku bilang hentikan,” ulangku, suaraku kini lebih rendah namun penuh penekanan. “Ia bukan hewan. Dan ia bukan objek untuk kau hina demi kesenanganmu.”
Calona tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya. Matanya tetap dingin dan kosong. “Sejak kapan kau menjadi begitu… sentimental, putraku? Sejak kapan kau membela makhluk malang ini di hadapanku?”
“Sejak dia tidak melakukan apa pun untuk pantas menerima kebencianmu yang tidak beralasan,” balasku dingin.
Ketegangan di udara terasa hampir bisa disentuh. Calona menatapku lama sekali, seolah sedang mencari jejak pembangkangan lain dalam diriku. Senyum tipisnya perlahan menghilang, digantikan oleh garis lurus yang kejam.
“Kau mulai lancang, Calix. Kau lupa siapa yang memberimu tempat di istana ini?”
“Mungkin aku memang lancang,” tantangku, mataku tidak berkedip. “Atau mungkin aku hanya menolak untuk menjadi bagian dari kekejaman yang tidak memiliki tujuan. Itu tidak efisien.”
Untuk sesaat, aku benar-benar mengira ia akan menyerangku. Energi gelap di sekitar jarinya mulai berdenyut. Namun, di luar dugaan, Calona justru tertawa pelan sebuah tawa yang lebih terdengar seperti desisan ular.
“Kau… kadang-kadang kau terlalu mirip dengan ayahmu. Keras kepala dan penuh dengan prinsip-prinsip yang tidak berguna.”
Mendengar kata 'Ayah', Cloudet bergerak sedikit di belakangku. Ia memberanikan diri mengintip dari balik kakiku, matanya yang besar membulat menatap Calona, lalu beralih padaku.
“Ca… lix,” panggilnya pelan, suaranya bergetar karena takut.
Aku menoleh sedikit, melihatnya yang begitu rapuh di tengah aula yang penuh kebencian ini. Dadaku terasa seperti diremas. Aku berlutut sejenak, meletakkan tangan di atas bahunya yang kecil sebuah gestur yang mungkin terlihat aneh bagi siapapun yang melihat, namun baginya, itu adalah segalanya.
“Tidak apa-apa,” kataku lirih, hampir berupa bisikan. “Tetap di belakangku. Jangan lepaskan.”
Aku berdiri kembali, menatap Calona dengan tatapan yang sudah mati rasa.
“Aku akan membawanya pergi dari sini.”
Calona mengamati kami berdua dalam diam. Tatapannya berhenti sejenak pada Cloudet sebuah tatapan yang penuh dengan perhitungan dingin yang membuat bulu kudukku berdiri sebelum akhirnya kembali padaku.
“Lakukan sesukamu, Calix,” katanya sambil berbalik pergi, jubahnya berkibar di udara.
“Lindungi dia sesukamu. Namun ingat, di dunia kita, melindungi adalah beban. Dan aku ingin melihat seberapa lama kau bisa menahan beban itu sebelum ia menghancurkanmu. Selama kau siap menanggung akibatnya… silakan.”
Aku tidak menjawab. Aku segera menuntun Cloudet pergi, langkah kami cepat, meninggalkan aula yang terasa seperti penjara. Kami melewati lorong-lorong gelap yang sepi, jauh dari pengawasan mata-mata iblis lain.
Di sebuah lorong yang hanya diterangi oleh obor redup, Cloudet menarik-narik ujung pakaianku, memaksaku berhenti.
“Ma… rah?” tanyanya pelan, menatapku dengan mata kuningnya yang berkaca-kaca.
Aku berhenti, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungku yang masih berpacu. Aku berbalik menghadapnya.
“Sedikit,” jawabku jujur. “Tapi bukan padamu.”
Ia menatapku selama beberapa detik, seolah sedang memproses jawabanku, lalu tiba-tiba ia maju dan memeluk kakiku erat-erat. Ia menyembunyikan wajahnya di kain celanaku, seolah itu adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa di seluruh dunia ini.
Aku menghela napas, tanganku yang masih memakai sarung tangan itu bergerak ragu sebelum akhirnya mendarat di atas kepalanya, mengusap telinga hitamnya yang lembut dengan kaku.
“Jangan takut,” gumamku, lebih kepada diriku sendiri daripada kepadanya. “Selama aku masih berdiri di sini, tak ada seorang pun—termasuk dia—yang akan melukaimu.”
Ia mengangguk kecil dalam pelukanku.
Namun, di dalam kepalaku, peringatan Calona terus bergema.
Bersambung