NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Untuk Priaku

Malam di rumah sakit terasa lebih sunyi dari pemakaman. Arya akhirnya pulang sejenak, bukan untuk beristirahat, tapi karena ia merasa perlu menghirup sisa aroma Ria di rumah mereka sebelum aroma antiseptik rumah sakit benar-benar menghapus ingatannya.

Ia melangkah masuk ke kamar mereka. Kamar yang tidak pernah ia pakai berdua. Ranjang yang hanya di tiduri oleh Ria saja. Kamar yang luas itu kini terasa seperti gua yang dingin. Arya duduk di tepi ranjang, di sisi tempat Ria biasanya meringkuk. Saat tangannya meraba kolong tempat tidur—mencari entah apa—jarinya menyentuh sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi jauh di sudut.

Dengan tangan gemetar, Arya membukanya. Di dalamnya bukan perhiasan mahal yang pernah ia berikan, melainkan tumpukan amplop putih. Di setiap amplop tertulis tanggal dan sebuah kalimat pendek: "Untuk Mas Arya, saat aku sudah tidak bisa bicara lagi."

Arya membuka amplop pertama, bertanggal setahun yang lalu.

"Mas, hari ini kau pulang terlambat lagi. Aku memasak sup ayam kesukaanmu, tapi kau membuangnya ke tempat sampah karena bilang baunya memuakkan. Aku menangis di dapur, bukan karena sup-nya terbuang, tapi karena aku ingin memberitahumu bahwa hari ini dokter bilang ada yang salah dengan darahku. Aku takut, Mas. Aku ingin memelukmu, tapi punggungmu terasa seperti dinding batu yang tak bisa ku tembus."

Air mata Arya jatuh tepat di atas kertas itu, memudarkan tintanya. Ia tidak ingat kejadian itu. Baginya, itu hanyalah satu malam biasa di mana ia sedang lelah. Ternyata, itu adalah malam di mana Ria pertama kali memohon perlindungan yang ia tolak mentah-mentah.

Ia membuka amplop lainnya. Lembar demi lembar berisi jeritan diam seorang istri yang sekarat di tengah kemewahan.

"Mas, hari ini rambutku mulai rontok banyak sekali. Aku membelikan mu dasi baru agar kau tidak menyadari betapa pucatnya wajahku di cermin. Kau bilang dasinya norak. Tidak apa-apa. Setidaknya kau melihatku sebentar, meski hanya untuk menghina. Terima kasih sudah menatapku hari ini. Mas, satu hal yang tak pernah aku sesali, bahwa aku jatuh cinta padamu, sebagai suamiku."

Arya terisak hebat. Bahunya terguncang, suara tangisnya memenuhi kamar yang hampa itu. Ia merasa dadanya sesak, seolah-olah seluruh oksigen telah hilang. Setiap kata dalam surat itu adalah bukti kejahatannya. Ia tidak hanya mengabaikan penyakit Ria; ia adalah racun yang mempercepat kematiannya.

Surat terakhir bertanggal hanya tiga hari sebelum Ria pingsan di perjamuan.

"Jika kau membaca ini, mungkin aku sudah tertidur sangat lama. Mas, maafkan aku karena menjadi istri yang tidak berguna. Maafkan aku karena mencintaimu dalam diam hingga tubuhku hancur sendiri karena rasa sepi ini. Aku tidak membencimu. Aku hanya lelah menunggu pintu hatimu terbuka. Jangan merasa bersalah, ya? Anggap saja aku hanyalah pajangan yang memang sudah saatnya diganti. Selamat tinggal, satu-satunya pria yang pernah ku panggil suami."

"TIDAK! TIDAK, RIA!" Arya meraung, meremas kertas itu di dadanya. "Kau bukan pajangan! Kau nyawaku! Maafkan aku... kumohon bangun dan pukul aku, maki aku, tapi jangan pergi dengan membawa beban ini!"

Arya tersungkur di lantai, dikelilingi oleh surat-surat yang menjadi saksi betapa tulusnya cinta yang ia injak-injak selama ini. Ia teringat permintaan Ria untuk tidak menangisinya. Sekarang ia tahu alasannya. Ria tidak ingin Arya menangis karena ia tidak ingin Arya merasa terbebani oleh penyesalan. Bahkan di ambang maut, Ria masih memikirkan ketenangan batin pria yang telah menghancurkannya.

Keheningan malam itu terasa mencekik. Arya memeluk baju tidur Ria yang masih tertinggal di atas bantal, menghirup sisa wangi mawar yang samar. Di dalam kegelapan kamar itu, ia menyadari bahwa hukuman terberat bukanlah kematian, melainkan tetap hidup dengan ingatan tentang betapa berharganya seseorang yang baru ia hargai saat semuanya sudah terlambat.

Arya masih bersimpuh di lantai kamar, dikelilingi oleh lembaran-lembaran surat yang terasa seperti nisan bagi hatinya. Namun, rasa sakit itu belum mencapai puncaknya. Di dasar kotak kayu milik Ria, ia menemukan sebuah buku kecil bersampul kusam—sebuah buku harian masa kecil yang dibawa Ria dari rumah ayahnya.

Dengan tangan gemetar, Arya membukanya. Halaman demi halaman berisi tulisan tangan anak kecil yang berubah menjadi tulisan remaja yang penuh luka.

"Hari ini ulang tahunku yang ke-10. Tidak ada kue. Ayah memberiku tamparan karena aku meminta izin untuk membeli buku gambar. Beliau bilang, anak pembawa sial tidak butuh pendidikan, hanya butuh tempat untuk bersembunyi agar tidak memalukan keluarga."

Arya meremas dadanya. Rasa sesak itu kini berubah menjadi nyeri fisik yang nyata, seolah jantungnya sedang dipelintir. Ia teringat betapa seringnya ia memandang rendah Ria karena sikapnya yang terlalu pendiam dan penurut. Ia mengira itu adalah sifat asli Ria, padahal itu adalah mekanisme pertahanan seorang anak yang jiwanya telah dipatahkan berkali-kali sejak dini.

Ia terus membaca. Setiap kata adalah bukti bahwa hidup Ria adalah deretan penderitaan yang tak berujung.

" Aku telah menyelesaikan pendidikan ku dengan susah payah. Menurut dan hanya diam sebagai bayangan seperti yang Ayah minta. Namun semua pengabdian ku harus di bayar dengan menikah dengan pria yang bahkan aku tidak tahu. Satu tamparan yang Ayah berikan menyadarkan ku, bahwa anak seperti ku tidak pantas untuk bertanya dan menolak."

Hati Arya sakit, betapa besar beban yang di terima Ria sebelum ia membawanya ke sini. Ria bukan menurut karena dia mau, tapi dia terpaksa.

"Aku menikah hari ini. Ayah bilang ini adalah jasa terakhirku untuk membayar hutang budi karena dia sudah memberiku makan dan pendidikan. Aku berharap Mas Arya adalah penyelamatku. Aku berharap rumah ini akan menjadi tempatku pulang, bukan penjara baru."

Arya meraung, suara tangisnya pecah memenuhi ruangan. "Aku bukan penyelamatmu, Ria... aku justru sipir penjara yang paling kejam," bisiknya di sela isak tangis yang menyesakkan.

Ia menyadari kenyataan pahit yang menghancurkan jiwanya: Ria tidak pernah bahagia. Sejak ia lahir ke dunia hingga ia terbaring kritis di ICU, tidak ada satu hari pun di mana wanita itu merasa benar-benar aman dan dicintai tanpa syarat. Masa kecilnya habis oleh siksaan ayahnya, dan masa dewasanya habis oleh pengabaian suaminya.

Arya berjalan menuju meja rias Ria. Ia menyentuh botol-botol parfum yang tersusun rapi, perhiasan yang tak pernah dipakai, dan pakaian-pakaian mahal yang ia belikan hanya agar Ria pantas berdiri di sampingnya. Semua barang mewah ini terasa menjijikkan di mata Arya sekarang.

Ia teringat betapa seringnya ia memamerkan kekayaannya seolah itu bisa menggantikan kehadirannya. Ia memberikan kartu kredit tanpa batas, tapi ia tidak pernah memberikan waktu lima menit untuk mendengarkan keluh kesah Ria. Ia memberikan rumah bak istana, tapi ia membuat suasana di dalamnya lebih dingin dari kutub utara.

"Kau hanya butuh satu pelukan, dan aku memberimu berlian. Kau hanya butuh satu kata maaf, dan aku memberimu bentakan," ratap Arya.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin—pria yang tampak gagah namun sebenarnya sangat kosong. Ia melihat seorang pengecut yang menggunakan kekuasaan untuk menindas wanita yang paling tulus mencintainya. Rasa benci pada diri sendiri merayap seperti racun ke seluruh pembuluh darahnya.

Pikiran Arya melayang pada setiap momen di mana ia bisa saja berubah. Saat Ria menatapnya penuh harap di meja makan, saat Ria mencoba memegang tangannya di malam hari, atau saat Ria menawarinya secangkir teh di pagi hari. Semua kesempatan itu ia bunuh dengan keangkuhannya.

Rasa sakit ini begitu hebat hingga Arya merasa ingin membelah dadanya sendiri untuk mengeluarkan sesak itu. Ia menyadari bahwa ia telah membiarkan permata paling berharga dalam hidupnya hancur hanya karena egonya.

"Ria... jika kau pergi sekarang, kau pergi tanpa pernah tahu rasanya bahagia yang utuh," bisiknya dengan suara yang hilang kekuatan. "Jangan biarkan ini menjadi akhir ceritamu. Beri aku waktu untuk membuktikan bahwa dunia tidak selamanya jahat padamu."

Arya bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak akan membiarkan Ria menyerah. Jika selama hidupnya Ria tidak pernah menemukan kebahagiaan, maka Arya bersumpah akan menciptakan surga di dunia untuknya—jika takdir masih memberinya satu detik lagi kesempatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!