Bagaimana rasanya mencintai seorang pembunuh?
Bermula dari cerita masa kecil (1-7 bab) kedatangan Ray dengan ibu nya menjadi keluarga tiri Yara di mana Yara sangat akrab dengan mereka
Kerna suatu masalah Ray kabur dari rumah meninggalkan Yara yang selalu menantinya
10 tahun kemudian Yara bertemu dengan seorang pembunuh yang ternyata senior di sekolah nya, Yara mengancam nya lalu berakhir di sekap di tengah hutan yang berbahaya di mana Yara tidak bisa lari dan hidup berdua dengan pembunuh yang ternyata adalah Ray sang kaka tiri yang selama ini Yara cari
#Kriminal
#Romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Yara terbangun meregangkan tubuhnya yang terasa sakit, menetralkan penglihatannya yang masih buram dan dilihatnya area sekitarnya, ia terbaring di ranjang dengan selimut yang hangat serta nuansa ruangan serba kayu.
Degh!
Jantung Yara terasa ingin lepas dari tempatnya ia mengingat bahwa dia sekarang bukanlah di kost ataupun di rumahnya.
“ini di mana?” Yara mendekat ke arah jendela untuk mengintip, seluas pandangannya hanya ada pepohonan dan semak yang lebat.
Yara keluar dari kamar menelusuri ruangan rumah yang sepenuhnya terbuat dari kayu, Yara memutar knop pintu yang sepertinya akses untuk jalan ke luar.
Terlihatlah sosok pria yang menculik Yara sedang bermain dengan kucing warna pitih berbulu panjang.
Ray menyadari keberadaan Yara dari langkah kaki gadis itu, dia berbalik kemudian berkata, “kau sudah bangun ternyata, apa kau lapar Yara?” tanya Ray melempar senyum tipis.
“Aku ingin pulang,” jawab Yara dengan gugup.
“Tetaplah di sini, kaka tidak akan menyakitimu, percayalah,” ujar Ray meyakinkan.
“Yara mau pulang kak, Yara harus sekolah. Keluarga Yara pasti sangat khawatir sekarang”
“Tidak bisa, kaka tidak yakin kau akan menutup mulutmu.”
“Tolong maafkan aku kak, Yara janji bakal tutup mulut.”
Ray menggelengkan kepalanya tanda tidak, Yara yang mengerti kalau memohon tidak ada gunanya langsung lari melewati Ray ke arah manapun yang penting bisa lepas dari cengkraman Ray.
Bukannya mengejar Yara, Ray malah membiarkannya begitu saja sambil duduk santai menyeruput kopi dan mengelus elus bulu kucingnya.
“Meong”
“Moco, apa menurut mu aku harus mengejarnya sekarang?” tanya Ray pada kucingnya yang di beri nama Moco. “Nanti sajalah, biarkan dia mengerti seberapa berbahayanya hutan ini,” sambungnya kembali
Pukul 17.35
“Aaaaaaa,” teriak Yara keras berlari ketakutan sambil menangis.
Seekor beruang betina mengejar Yara kerna mengira Yara adalah musuh yang menginginkan anaknya.
“Tidak tidak tidak!! aku tidak menginginkan anakmu! aku hanya ingin pulang,” teriak Yara sambil menangis.
“Tolooong Tolong, kak Ray tolong akuuuu..Yara janji gak bakal kabur lagi”
BUGH
BUGH
Ray datang langsung melempar tanah ke mata beruang, menendang lurus ke arah perut beruang lalu meninju hidung beruang dengan sangat keras.
Selagi beruang menetralkan penglihatannya, Ray langsung menggandeng tangan Yara untuk lari menjauh, beruang itu tidak mengejar lagi, serangan Ray tadi cukup berefek pada tubuh si beruang.
Hari sudah mulai gelap Ray dan Yara masih berjalan di hutan, sedari tadi mereka tidak saling berbicara apapun hanya diam sambil berjalan.
“Kak,” panggil Yara membuka suara.
“Hmm,” sahut Ray
“Terimakasih, ya.” Yara menunduk malu.
“Masih ingin lari-larian lagi di hutan?” tanya Ray menyindir.
AUUUUUU~
Tiba-tiba terdengar suara teriakan serigala, Yara menggenggam tangan Ray erat kerna takut.
“Apa itu suara srigala?” ucap Yara, tubuhnya bahkan sudah tidak berjarak lagi sangking nempelnya.
“Tidak apa-apa, jangan takut. Kaka punya pisau dan pistol,” ujar Ray santai.
“Kenapa tidak digunakan untuk melawan beruang tadi?”
“Kasian anaknya kalau ibunya mati? emangnya kau mau merawat anak beruang itu?”
“Gak!” tekan Yara.
“Jika kau ingin kabur lagi sebaiknya berpikirlah 100x. Hutan ini sangat berbahaya, masih ada hewan hewan buas lainnya. Denganku jauh lebih aman dari pada mati mengenaskan dimakan predator”
“Tapi kak Ray juga berbahaya.”
“Kaka tidak akan membunuhmu.”
Yara hanya diam memikirkan perkataan Ray, Yara ingin pulang tapi sepertinya tanpa Ray dia akan mati di hutan ini.
“*Untuk saat ini aku nurut aja deh, yang penting hidup*,” ucap Yara dalam hati.
***Tbc***..