NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Upgrade

***

"Kalian berdua ini ya, kalau sudah di depan papan catur, keberadaan Mama benar-benar diabaikan!"

Dwi melangkah menghampiri meja di ruang tengah sambil meletakkan nampan berisi dua cangkir teh hangat yang aromanya menguar segar. Dia menggeleng-gelengkan kepala melihat suaminya dan Mirza yang sejak tadi sore terfokus penuh pada buah-buah kayu berukir di atas papan.

Mirza menyunggingkan senyum tipis. Jemarinya dengan tenang meraih salah satu bidak, lalu menggesernya membentuk pola diagonal yang presisi.

"Skakmat, Pa," ujar Mirza pelan namun mantap sembari memajukan kuda putihnya.

Liam bukannya kesal, justru malah tertawa lepas sampai bahunya berguncang.

"Haha! Kamu ini pintar sekali membaca gerakan Papa dari tadi, Za! Rencana kamu ternyata memang sudah menargetkan panglima perang Papa dari lima langkah yang lalu."

Liam memajukan tubuhnya, menunjuk papan catur dengan sisa tawanya.

"Tapi kamu harus ingat, Papa sebenarnya juga sudah mengincar permaisuri kamu dari tadi. Makanya, kamu harus pintar-pintar menyelamatkan permaisuri kamu sebelum Papa culik!"

Dwi yang menyandarkan tangannya di sandaran sofa langsung melontarkan sindiran pedas nan jenaka.

"Alah, Papa itu memang dari dulu enggak pernah jago main catur. Sok-sokan aja nantangin menantu sendiri, ujung-ujungnya kalah terus. Bikin malu orang tua aja di depan anak muda!"

"Lho, Mama ini malah membela Mirza!" protes Liam sambil tertawa terkekeh, menggelengkan kepalanya gemas.

Di dekat ambang pintu ruang tengah, Alana berdiri mematung. Langkah kakinya yang tadinya hendak masuk seketika terhenti total. Matanya melotot, melongo menyaksikan pemandangan yang sama sekali tidak masuk di akalnya.

"Sejak kapan mereka bisa seakrab ini?!" batin Alana memberontak, dadanya berdesir bingung campur aduk.

Pemandangan di hadapannya terasa teramat asing. Tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi tatapan dingin nan penuh permusuhan, apalagi sindiran tajam dari Liam dan Dwi seperti saat pertama kali Mirza melangkahkan kaki di rumah ini. Yang ada sekarang hanyalah gelak tawa kehangatan keluarga yang sangat alami, sesuatu yang bahkan jarang Alana rasakan dari kedua orang tuanya sendiri.

Dwi yang memutarkan badannya tak sengaja menangkap sosok Alana yang berdiri kaku di depan pintu. Senyum lebar seketika terbit di wajah ibunya.

"Alana? Kok cuma berdiri di situ aja, Nak?" panggil Dwi dengan suara renyah.

"Sini, masuk! Lihat ini Papamu, gaya aja yang mentereng, tapi dari tadi sore lawan suamimu malah kalah terus sampai tiga kali berturut-turut!"

Alana perlahan melangkah mendekat, berusaha keras menetralkan raut wajahnya yang sempat kaget menjadi setenang mungkin.

"Sejak kapan Papa pintar main catur?" tanya Alana skeptis.

Liam menyandarkan punggungnya ke sofa sambil terkekeh bangga.

"Sudah dari dulu, Alana. Cuma baru sekarang aja ketemu lawan yang benar-benar cocok dan seimbang."

Mirza yang duduk di seberang Liam mengulum senyum tipis, ikut menimpali.

"Mirza juga senang bisa main lawan Papa, setidaknya posisi Mirza sebagai juara bertahan di sini masih aman. Habis ini mungkin Mirza bisa pertimbangkan ikut kejuaraan catur sekalian."

Alana mendengkus pelan, menatap Mirza tajam.

"Terlalu percaya diri kamu."

"Biarin aja, Alana," potong Dwi sambil tersenyum lebar. Dia memegang bahu suaminya.

"Ayo Pa, lawan Mirza sekali lagi! Kali ini jangan mau kalah lagi, bikin strategi yang benar."

Alana melirik jam tangannya, lalu mengalihkan pandangan pada pria di depannya.

"Kapan kamu pulang, Mirza?"

"Satu jam yang lalu," jawab Mirza.

"Aduh, baru juga sebentar mainnya. Mama mau ke dapur dulu ya, mau ambil camilan buat kalian."

Melihat Dwi melangkah menuju dapur, Alana langsung menyusul dari belakang. Begitu sampai di area dapur yang agak jauh dari jangkauan pendengaran Liam dan Mirza, Alana menahan lengan ibunya.

"Ma," bisik Alana penasaran.

"Kenapa Papa sama Mirza bisa mendadak akrab begitu? Sejak kapan mereka main catur berdua?"

Dwi menghentikan kegiatannya menata kue di atas piring kecil.

"Sejak mereka pulang tadi sore. Mereka kan datangnya barengan, entah dari mana Mama juga enggak tahu. Tahu-tahu pas masuk rumah udah ketawa-ketawa aja, terus Papa langsung ngajak Mirza main catur di ruang tengah."

Dwi menatap putrinya dengan dahi berkerut heran.

"Harusnya kamu itu senang lihat Papa dekat dan akrab sama suamimu sendiri, bukannya malah curiga dan tanya-tanya begitu."

Tanpa menunggu balasan dari Alana, Dwi menyambar piring kue yang sudah siap di atas meja.

"Udah ah, Mama mau antar kue ini ke depan sekalian mau dukung Papamu. Kasihan dari tadi kalah terus, Mirza itu terlalu jago kalau main sama Papamu."

Alana hanya bisa berdiri mematung di dapur, menatap punggung ibunya yang berlalu. Pikirannya makin berkecamuk membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di antara Liam dan Mirza sepanjang hari ini.

***

Alana melangkah masuk ke dalam kamar, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan Mirza. Sepi, hanya suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang terdengar.

Perlahan, Alana berjalan mendekati meja rias. Dia duduk di kursi, menyambar selembar kapas, lalu mulai membersihkan sisa riasan wajahnya dengan gerakan perlahan. Di tengah kegiatannya, pintu kamar mandi terbuka.

Lewat pantulan cermin di hadapannya, Alana melihat bayangan Mirza keluar. Seketika itu juga, Alana merasakan dadanya berdesir hebat, sebuah sensasi aneh yang makin sering menyergapnya belakangan ini setiap kali sosok pria itu tertangkap oleh matanya.

Alana tersentak kecil, buru-buru menetralkan ekspresi wajahnya, lalu mengalihkan pandangan untuk menyambar botol pelembap.

Namun, meski jemarinya sibuk meratakan krim di pipi, matanya sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Lensa matanya secara refleks berulang kali melirik kembali pada bayangan Mirza dari cermin.

Mirza berdiri tak jauh di belakangnya, santai mengeringkan rambutnya yang basah dengan selembar handuk kecil. Tetesan air dari ujung rambutnya jatuh satu per satu, mengalir bebas melewati dada bidangnya yang terbuka tanpa tertutup sehelai benang pun. Celana training hitam yang dia pakai menggantung sempurna di pinggangnya, mempertegas bentuk tubuhnya yang atletis.

Pandangan Alana terkunci. Tanpa sadar, matanya terus menyisir bayangan Mirza dari atas sampai bawah lewat cermin.

Mirza yang sadar sedang diperhatikan, tiba-tiba menghentikan usapan handuknya. Doa melirik lurus ke arah cermin, menangkap basah mata Alana yang sedang menatapnya lekat.

Satu sudut bibir Mirza terangkat, menyunggingkan senyum jahil yang sangat khas.

"Mingkem, Alana. Awas ilernya netes ke baju," sindir Mirza santai sambil menaikkan sebelah alisnya.

Alana refleks mengusap sudut bibirnya dengan cepat, sebelum akhirnya sadar kalau bibirnya sama sekali tidak beriler.

"Mirza!" amuk Alana kesal setengah mati saat menyadari dia baru saja dikerjai.

Wajahnya mendadak makin hangat. Jemarinya yang sedang mengusap pelembap jadi semakin ketus dan berantakan karena salah tingkah luar biasa. Apalagi saat matanya menangkap bayangan Mirza di cermin yang mulai melangkah perlahan mendekatinya.

Mirza berhenti tepat di belakang kursi Alana. Begitu jarak mereka terkikis, aroma segar sabun mandi dan kehangatan samar yang menguar dari tubuh Mirza langsung menyergap indra penciuman Alana.

"Pakai baju kamu! Aku enggak suka lihatnya!"

"Enggak suka tapi sampai kagak kedip gitu?" goda Mirza sambil terkekeh pelan.

"Terpesona ya sama tubuhku? Kalau suka bilang aja, Alana. Besok-besok aku kagak usah pakai baju sekalian kalau di dalam kamar, yang penting kamu senang."

"Mirza, kamu—"

Belum sempat Alana menyelesaikan omelannya, Mirza mendadak membungkukkan tubuhnya ke depan. Kedua tangan tegapnya bertumpu pada pinggiran meja rias, mengurung tubuh mungil Alana tepat dari belakang.

Jarak mereka kini sangat dekat. Lewat cermin di hadapannya, Alana bisa melihat jelas sisa tetesan air dari ujung rambut Mirza yang jatuh meluncur, mengalir perlahan melewati lekuk dada tegap suaminya itu. Kehangatan kulit Mirza terasa hampir menyentuh punggung Alana, membuat napas Alana seketika tertahan di tenggorokan.

Mirza mengulum senyum puas dari balik cermin. Dia sengaja menatap lurus mata Alana yang membelalak tegang dengan kedua pipi yang sudah memerah padam bagai kepiting rebus. Benteng pertahanan dingin yang selama ini dibangun sang istri tampak makin retak dan runtuh di depan matanya.

"Kontrak kita harus di upgrade!" cetus Alana tegas, mencoba merebut kembali kendali atas detak dadanya yang sudah tak karuan.

"Di upgrade? Boleh. Memangnya mau ditambahi apa? Mau nambah masa bakti jadi lima tahun? Sepuluh tahun? Atau mau diubah jadi seumur hidup? Aku sih enggak keberatan."

"Ngaco kamu."

Alana bangkit berdiri dari kursi meja riasnya. Wajahnya yang memerah berusaha ia tutupi dengan raut dingin. Dia berjalan cepat mendekati tas kerjanya, mengeluarkan selembar kertas dokumen yang sudah rapi tercetak, lalu melemparkannya ke atas meja rias tepat di depan Mirza.

"Baca itu baik-baik!" perintah Alana sambil menyilangkan tangan di dada.

Mirza meraih lembaran kertas tersebut. Tanpa banyak bicara, dia melangkah santai menuju tepi ranjang lalu duduk di sana untuk membacanya. Alana langsung mengikuti langkah Mirza, berdiri mematung di hadapan pria itu untuk mengawasi.

Mata Mirza menyisir poin demi poin yang tertera di kertas. Sampai akhirnya, pandangannya tertahan di poin paling bawah. Dia membaca kalimat itu dengan suara pelan namun jelas.

"Poin sepuluh ... Pihak Kedua dilarang keras menyentuh atau bersentuhan secara fisik dengan Pihak Pertama dalam situasi apa pun, kecuali di depan orang tua atau di depan umum. Setiap pelanggaran akan dikenakan denda sebesar satu juta rupiah per sentuhan."

Mirza mendongak, menatap Alana dengan raut muka tak percaya sekaligus geli.

"Satu juta per sentuhan?! Buset, Alana ... kamu matre banget! Mahal amat cuma buat sekali sentuh doang."

Alana menyunggingkan senyum kemenangan, menaikkan dagunya angkuh.

"Makanya! Jangan macam-macam sama aku. Jangan sembarangan lancang pegang-pegang, apalagi peluk-peluk aku kalau memang kondisi enggak kepepet kayak semalam!"

Bukannya takut, Mirza malah mengangguk-angguk paham.

"Oke. Fair."

Mirza menjangkau laci meja di samping ranjang, mengambil sebuah pulpen hitam dari dalam sana. Tanpa ragu, dia membuka tutup pulpen dan mengarahkannya tepat di bawah baris poin nomor sepuluh.

Alana yang melihat pergerakan jemari Mirza seketika terkejut.

"Eh! Kamu mau ngapain?!"

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!