NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pendekar Desa Sunyi

Bangkitnya Pendekar Desa Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Action
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. ​Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PION-PION TAKDIR

​Aula Utama Benteng Pesisir Benua Barat berdiri megah dengan pilar-pilar batu pualam berukirkan kelopak teratai emas. Cahaya lilin-lilin minyak spiritual menyorot lembut ke tengah ruangan, namun kehangatan itu sama sekali tidak sanggup mengusir hawa dingin yang mencengkeram isi benteng.

​Di atas takhta giok, terduduk seorang wanita berpakaian gaun sutra keemasan yang teramat anggun.

​Dialah Dewi Lian Ji, Pimpinan Sekte Teratai Emas. Meski usianya telah mencapai ratusan tahun dan terhitung sebagai sesepuh tua di benua ini, paras wajahnya tetap tampak seperti gadis berusia dua puluh tahun. Kulitnya seputih pualam, matanya bening bagaikan telaga es, dan elok parasnya memancarkan pesona abadi khas praktisi ranah Soul Formation.

​Namun saat ini, keanggunan sang dewi terkoyak sepenuhnya.

​Jari-jarinya yang lentik gemetar hebat. Dadanya naik turun memburu, menahan gelombang ketakutan yang mencekik leher. Di lantai marmer tepat di hadapannya, pecahan Cermin Pengintai tersebar berantakan—cermin yang baru saja memperlihatkan adegan mengerikan ketika Jenderal Hai Long dicincang habis dan lautan pelindung mereka terbelah dua.

​"Hai Long tewas..." bisik Dewi Lian Ji dengan suara gemetar, bibirnya yang merah merekah kini pucat pasi bagaikan mayat. "Lautan kita... lautan racun kita terbelah dalam satu tebasan..."

​Pintu aula mendadak terdorong kasar dari luar.

​TAP! TAP!

​Master Yun Cang melangkah masuk dengan jubah putihnya yang terkoyak di beberapa bagian. Pimpinan Sekte Awan Putih itu memuntahkan sekantong darah hitam ke lantai marmer, wajah tuanya tampak sangat kusam akibat tekanan jiwa yang didapatnya saat melarikan diri dari benteng melayang sebelumnya.

​"Yun Cang..." Dewi Lian Ji berdiri dari takhtanya, matanya melotot menatap rekan sealiansinya itu. "Cermin itu... apakah yang kulihat itu benar?! Anak muda itu... dia benar-benar melintasi laut?!"

​Yun Cang menyapu darah di bibirnya dengan punggung tangan, matanya menyempit tajam dan pudar oleh keputusasaan.

​"Dia bukan lagi manusia, Lian Ji," kata Yun Cang dengan suara serak yang memecah keheningan aula. "Aku telah mengorbankan Benteng Melayang dan ribuan muridku hanya untuk memperlambat langkahnya. Tapi dia... dia melangkah di atas lautan seperti sedang berjalan-jalan di taman rumahnya sendiri."

​"Bagaimana mungkin?!" jerit Dewi Lian Ji histeris, keanggunan dirinya runtuh sepenuhnya saat melangkah turun dari tangga takhta. "Dia baru berusia dua puluh lima tahun! Dia tumbuh di dalam desa terpencil yang terisolasi tanpa sumber daya murni! Bagaimana bisa seorang pemuda ingusan melompati batasan ranah Soul Formation dan meremukkan kita semua?!"

​Yun Cang mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangan, mengalirkan darah segar.

​"Kita terpojok," pangkas Yun Cang berat. "Tidak ada lagi Benua Luar yang bisa kita tuju. Kapal-kapal penyeberangan kita hancur. Jika kita tidak menghentikannya di garis pantai ini... malam ini adalah malam terakhir untuk Tiga Sekte Besar."

​Dewi Lian Ji menatap Yun Cang dengan pandangan penuh keputusasaan, namun matanya mendadak memancarkan pendar kegilaan yang membara.

​"Kalau begitu... kita gunakan Formasi Pembantai Iblis Terakhir," kata Lian Ji, suaranya melengking dingin.

​Yun Cang tertegun. "Formasi Pembalas Lautan dan Awan? Formasi itu membutuhkan pembakaran seluruh darah murni dan inti jiwa kita! Jika kita mengaktifkannya, tingkat kekuatan kita akan merosot tajam, bahkan kehidupan kita akan terpotong!"

​"Apakah kau pikir kita punya pilihan lain?!" bentak Lian Ji dengan air mata ketakutan mengalir di pipinya yang mulus. "Jika kita mati di tangan pedang iblis itu, jiwa kita bahkan tidak akan bisa masuk ke dalam siklus reinkarnasi! Jiwa kita akan dilahap dan disiksa di dalam sarung pedangnya untuk selamanya! Lebih baik kita bakar darah kita sekarang dan hancurkan dia bersama pantai ini!"

​Yun Cang hening sejenak. Ia menatap ke luar jendela aula—menatap garis pantai di mana celah lautan yang terbelah mulai mendekat secara perlahan.

​"Baik," kata Yun Cang akhirnya dengan nada dingin yang pasrah. "Kita korbankan segalanya."

​Namun, sebelum mereka melangkah keluar menuju lingkaran mantra pantai, Dewi Lian Ji menoleh ke arah sudut aula yang tertutup gorden tebal. Ia menepuk tangannya dua kali.

​Dari balik gorden, muncul dua orang pemuda dan seorang gadis muda berpakaian jubah sutra murni. Wajah-wajah mereka tampan dan jelita, memancarkan bakat luar biasa yang sangat murni di ranah Foundation Establishment puncak. Mereka adalah anak kandung dan murid warisan terbaik yang disembunyikan oleh Lian Ji dan Yun Cang.

​"Ibu..." rintih gadis muda berwajah mirip Lian Ji dengan mata berkaca-kaca.

​Dewi Lian Ji melangkah mendekati gadis itu, merogoh sebuah jimat batu berwarna ungu pekat dari balik jubahnya—sebuah Bahtera Dimensi Rahasia yang mampu memindahkan manusia menembus jarak ribuan mil ke benua yang teramat jauh.

​"Bawa jimat ini," kata Lian Ji dengan suara serak, mengusap kepala putrinya dengan kehangatan terakhir seorang ibu. "Masuklah ke dalam Bahtera Dimensi sekarang juga. Jangan pernah kembali ke benua ini... dan jangan pernah mencoba membalaskan dendam kami."

​"Ibu, kami ingin bertarung bersamamu!" seru putra Yun Cang nekat.

​"Tutup mulutmu!" bentak Yun Cang keras, matanya memerah. "Kalian adalah satu-satunya warisan yang tersisa dari Tiga Sekte Besar! Jika kalian mati di sini, nama sekte kita akan musnah selamanya dari sejarah!"

​Saat mengaktifkan jimat Bahtera Dimensi untuk anak-anak mereka, Dewi Lian Ji menatap Yun Cang dengan senyuman pahit yang penuh penyesalan.

​"Yun Cang..." bisik Lian Ji pelan, matanya menatap gelapnya langit malam di luar. "...apakah kau ingat dua puluh lima tahun lalu? Saat sosok dari Sekte Iblis Langit Merah datang dari Benua Luar?"

​Yun Cang tertegun, kenangan kelam masa lalu mendadak memukul ingatannya.

​"Pihak asing itu..." pangkas Lian Ji dengan bibir gemetar. "...mereka memberi kita pusaka, janji keabadian, dan menuntun kita untuk mengumpulkan Sepuluh Ribu Jiwa Murni. Mereka yang menyuruh kita menghancurkan Desa Sunyi... mereka yang bilang tempat itu menyimpan rahasia kekuatan dewa."

​Yun Cang menelan ludah, dadanya terasa sesak. "Jangan bicara lagi, Lian Ji..."

​"Aku baru menyadarinya sekarang!" seru Lian Ji dengan tawa getir yang pecah di tengah air matanya. "Kita bukan sekadar pemburu... kita hanyalah pion bodoh! Entitas Asing dari Benua Luar itu sengaja memanfaatkan Tiga Sekte Besar untuk merobek segel Desa Sunyi... mereka sengaja memancing pemuda pembawa pedang iblis itu agar terbangun dan keluar!"

​Yun Cang memejamkan matanya rapat-rapat. Penyesalan yang teramat sangat menyeruak di dadanya. Tiga Sekte Besar yang merasa diri mereka adalah penguasa benua, pada kenyataannya tak lebih dari sekadar alat catur yang dikorbankan oleh Sekte Iblis Langit Merah demi memancing kiamat lepas dari kurungannya.

​"Sudah terlambat untuk menyesal," kata Yun Cang pelan saat cahaya Bahtera Dimensi melingkupi tubuh anak-anak mereka. "Pion atau bukan... malam ini kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai."

​SSSTTT!

​Cahaya ungu Bahtera Dimensi meledak pelan, memindahkan anak-anak warisan mereka melesat menembus ruang menuju tempat yang jauh di luar jangkauan benua ini.

​Dewi Lian Ji dan Master Yun Cang melangkah keluar dari benteng, mendarat di atas pelataran batu raksasa di tepi pantai.

​Di sekeliling mereka, ratusan murid tersisa dari Sekte Teratai Emas dan Sekte Awan Putih telah berbaris membentuk pola lingkaran raksasa.

​"Bakar Darah Murni!" jerit Dewi Lian Ji.

​Lian Ji dan Yun Cang menancapkan telapak tangan mereka ke atas batu pelataran. Cahaya merah darah meledak dari tubuh mereka berdua saat mereka membakar Inti Jiwa dan setengah dari masa hidup secara serentak!

​DUAARR! DUAARR! DUAARR!

​Rangkaian Formasi Pembantai Iblis Terakhir di sepanjang garis pantai Benua Barat seketika menyala dengan cahaya merah keemasan yang teramat dahsyat! Ratusan tiang cahaya petir dan api teratai mencuat ke udara, menggelegar membelah malam dan mengubah pasir pantai menjadi lautan lahar membara.

​Aura gabungan dari dua praktisi ranah Soul Formation Puncak yang mengorbankan jiwanya menciptakan kubah kematian seluas puluhan mil yang sanggup meremukkan jiwa siapa pun yang menapakkan kaki di pantai tersebut.

​Lian Ji yang rambut hitamnya mulai beruban akibat pembakaran masa hidup, menatap ke arah celah lautan yang terbelah dengan mata membara.

​"Datanglah, Iblis Desa Sunyi!" raung Lian Ji histeris. "Lihatlah bagaimana tempat ini menjadi kuburanmu!"

​Dari arah celah lautan yang kering tanpa air, perahu kayu hitam kecil perlahan-lahan mendarat di atas pasir pantai.

​TAP.

​Ryu Jin melangkah turun dari atas perahu kayu. Jubah kelabunya terkibas ditiup angin pantai yang panas oleh lautan lahar formasi. Langkah kakinya tenang, menyusuri pasir pantai yang membeku seketika begitu tersentuh oleh aura kematian yang dibawanya.

​Ryu Jin mendongak tipis, menatap ke arah kubah Formasi Pembantai Iblis Terakhir serta dua sosok penguasa sekte yang berdiri di puncaknya dengan darah mengalir dari mata dan hidung mereka.

​Wajah Ryu Jin tetap datar. Tidak ada ketakutan, tidak ada keterkejutan melihat formasi kematian raksasa yang menyala di hadapannya.

​GZZZZZZ!

​Di punggungnya, kain pembungkus Pedang Tulang Hitam perlahan-lahan terkuak. Enam ukiran mata merah pada sarung pedangnya berkedip secara bersamaan, menyerap hawa pembakaran jiwa dari formasi tersebut dengan kelaparan yang kian tak terkendali.

​Bibir Ryu Jin mengukir sebuah senyuman tipis—senyuman dingin, sadis, dan tanpa belas kasihan.

​"Kalian mengorbankan jiwa kalian hanya untuk menyambutku?" kata Ryu Jin datar, suaranya menggelegar menembus deru api formasi. "Tindakan yang sangat manis... untuk dua mangsa terakhir."

​Ryu Jin menggenggam penuh gagang Pedang Tulang Hitam, siap melancarkan tebasan yang akan menyapu bersih sisa-sisa Tiga Sekte Besar dari muka bumi!

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
saling support yo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!