Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Hari Pertama
Matahari pagi menyorot dari sela-sela ventilasi jendela kamar utama yang menghadap ke arah taman. Astri mengerjapkan netranya perlahan, namun, ia merasakan sesuatu yang berat menahan pinggangnya.
"Aaaaaa!" Astri memekik karena terkejut, hingga membuat Raden Daksa dan Sasmaya tersentak.
"Ada apa, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa. Wajahnya terlihat panik. Ia juga langsung memeriksa tangan dan wajah Astri.
"Bunda kenapa? Ada apa, Bunda?" Sasmaya pun tak kalah paniknya.
Sementara itu, Astri hanya bisa terdiam. Ia sungguh kaget karena ada tangan pria yang melingkar di pinggangnya. Namun, ia baru sadar jika itu adalah tangan suaminya. Astri lupa jika ia sudah menikah.
Namun, ketika sadar ia pun berpikir, bagaimana bisa dia ada ditengah? Sedangkan sebelum tidur, Sasmaya lah yang berada di antara ia dan Raden Daksa.
"Bunda..." Sasmaya menepuk pelan pipi Astri karena Astri masih saja terdiam.
"Maaf, Nduk, Bunda mimpi dililit ular." Jawab Astri yang tentu sebuah dusta.
"Ngapunten, Mas." Ucap Astri sambil menatap kearah Raden Daksa.
"Ya Allah, Dek Ayu. Kirain kenapa..." Lirih Raden Daksa yang merasa lega.
Sasmaya pun terkekeh karena kejadian lucu di pagi hari ini. Pengalaman pertamanya tidur dengan orang tua lengkap, benar-benar lucu dan menyenangkan.
"Memang ularnya sebesar apa, Bunda? Kenapa Bunda sampai berteriak?" Tanya Sasmaya.
"Sebesar apa, ya?" Ujar Astri dengan bola mata yang bergerak kesana dan kemari.
"Sepertinya sebesar ini." Jawabnya sambil mengangkat tangan Raden Daksa.
Mendengar itu, Sasmaya pun kembali tertawa. Ia terkikik geli lantaran tangan Ayahnya yang disamakan dengan ular di mimpi Bundanya.
"Sepertinya memang ini, ularnya." Sahut Raden Daksa sambil menatap tangannya.
Ia seolah mengerti dengan kebohongan yang diciptakan Astri. Astri sendiri hanya bisa meringis canggung sambil menatap netra suaminya.
"Ngapunten, Mas. Kulo kesupen. (Maaf, Mas. Aku lupa.)" Lirih Astri, hampir berbisik.
"Memang harus dilatih, Dek Ayu. Supaya tidak lupa." Bisik Raden Daksa yang membuat wajah Astri langsung memerah. Seketika, otaknya langsung traveling setelah mendengar kata 'dilatih' dari Raden Daksa.
"Ayah, Bunda..." Panggil Sasmaya.
"Dalem, Nduk." Jawab Astri yang buru-buru mengalihkan perhatian agar otaknya tak berpikir macam-macam.
"Sasa ingin sekolah. Sasa gak mau belajar di rumah Eyang lagi." Pinta Sasa. Wajahnya penuh dengan permohonan.
"Lho, kenapa, Nduk? Kan disana sudah ada Nyi Lintang yang mengajari Sasa." Tanya Raden Daksa.
"Sasa.... Sasa takut dimarahi Eyang terus." Jawab Sasa dengan lirih.
Raden Daksa hanya bisa menghela nafas. Ia tau betul bagaimana kerasnya sang Ibu saat mendidik. Ia sudah mengalami dan melihat sendiri bagaimana ibunya itu mendidik Mawar, dulu.
"Nanti Ayah bicarakan dengam Eyang Putri dulu, njih." Putus Raden Daksa kemudian. Sementara Astri tak bisa berkomentar apa-apa karena ia merasa jika itu adalah urusan Raden Daksa dengan Ibunya.
"Matur suwun, Ayah." Ucap Sasmaya dengan sumringah.
"Yasudah, sekarang Sasa mandi dengan Sus, ya." Titah Raden Daksa kemudian.
Sasmaya mengangguk menurut. Ia mengecup pipi Astri dan Raden Daksa sebelum meninggalkan Ayah dan Bundanya di kamar.
"Apa kamu mau bekerja hari ini, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa pada istrinya. Mereka berdua masih belum beranjak dari ranjang setelah Sasmaya keluar dari kamar mereka.
"Mmm... Aku masih libur, Mas." Jawab Astri.
"Apa Mas Daksa mau bekerja?" Tanya Astri.
"Tidak. Aku mau beristirahat hari ini. Rasanya badanku lungkrah (lelah)" Jawab Raden Daksa.
"Mau aku buatkan ramuan untuk berendam, Mas? Aku biasanya menggunakan ramuan itu untuk berendam kalau badanku terasa lelah." Tawar Astri.
"Apa tidak merepotkanmu, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa.
"Ndak, Mas. Sudah kewajibanku untuk mengurus suami." Jawab Astri.
"Aku kira, kamu masih lupa, Dek Ayu." Ledek Raden Daksa.
"Mas... Ampun ngoten niku, kulo lingsem (Jangan seperti itu, aku malu)" Ujar Astri yang justru membuat Raden Daksa terkekeh.
Astri kemudian meminta untuk disiapkan bahan-bahan yang sudah ia catat pada emban yang ada di rumah Raden Daksa. Bahan-bahan rempah itu, akan dibuat ramuan untuk Raden Daksa berendam.
"Raden Ayu, ini bahannya sudah lengkap." Ujar Simbok.
"Matur suwun, Mbok." Jawab Astri sambil tersenyum. Ia kemudian membawa bahan-bahan itu ke dapur.
"Mau buat apa, Raden Ayu? Biar Simbok bantu." Ujar Simbok.
"Ndak usah, Mbok. Njenengan selesaikan tugas njenengan saja. Aku cuma mau membuat ramuan untuk Raden Mas berendam." Jawab Astri yang membuat Simbok tersenyum.
Hatinya terasa menghangat. Sejak ikut dengan Raden Daksa ke rumah pribadinya, Akhirnya ia bisa melihat Radennya itu dirumati (diurusi) istrinya.
"Kalau butuh bantuan, panggil Simbok njih, Den Ayu." Ujar Simbok.
"Njih, Mbok." Jawab Astri sambil tersenyum.
Dengan telaten dan cekatan, Astri membuatkan ramuan untuk suaminya. Mulai dari menyiapkan bahan, hingga merebusnya, Astri lakukan sendiri. Astri memasukkan ramuan yang sudah ia rebus ke dalam bathtub yang berisi air hangat. Terakhir, ia menambahkan kembang (bunga) yang menjadi pewangi alami supaya suaminya bisa lebih rileks.
"Mas, rendamannya sudah siap." Ujar Astri yang menghampiri Raden Daksa di ruang kerjanya.
"Njih, matur suwun, Dek Ayu." Ucap Raden Daksa yang kemudian berjalan bersama Astri menuju ke kamarnya.
"Mau berendam bareng, Dek Ayu?" Tawar Raden Daksa yang membuat Astri mendadak salah tingkah dengan wajah yang memerah.
"Mm anu, ngapunten, Raden Mas. Aku sudah mandi dan mau ada meeting online sepuluh menit lagi." Jawab Astri dengan gugup.
"Yasudah, gak apa-apa." Kata Raden Daksa yang kemudian mengusap kepala belakang Astri sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai berendam dan mandi, Raden Daksa yang tampak segar itu kemudian keluar dari kamarnya dengan pakaian santai. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari keberadaan istrinya.
"Astri dimana, Mbok?" Tanya Raden Daksa pada embannya.
"Niku, Den Ayu. (Itu, Den Ayu)" Jawab Simbok sambil menunjuk ke arah jendela. Astri sedang duduk di pendopo kecil yang ada di halaman samping rumah Raden Daksa.
Astri sedang melakukan meeting online seperti apa yang ia katakan pada Raden Daksa. Wanita itu sangat cantik dengan rambut yang ia gelung dan dihiasi sirkam pemberian Raden Daksa.
PRAAAKK!
"Gusti Allah! Pripun to, Raden Mas. Lha kok iso dhawah. (Bagaimana to, Raden Mas. Lha kok bisa jatuh.)" Ujar Simbok yang buru-buru mengambil ponsel milik tuannya.
"Yongalah. Pecah begini layarnya, Raden." Imbuhnya sambil menunjukkan layar ponsel Raden Daksa yang pecah.
"Gak apa-apa, Mbok. Biar nanti di bawa Gareng ke tempat servis hape." Jawab Raden Daksa yang kemudian mencari keberadaan Gareng, supirnya.
"Raden Mas pasti terpesona sama kecantikan istri sendiri. Bisa-bisanya sampai hapenya jatuh to, Raden Mas." Lirih Simbok yang kemudian terkekeh sambil menatap punggung Raden Daksa yang berjalan menjauh.
🤔🤔
othor kie...🤣😄