Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: SETELAH PALU ITU BERBUNYI
Gema ketukan palu kayu Hakim Farhan masih menyisa samar di selasar lantai tiga Pengadilan Agama. Namun, langkah kaki Ranti saat menuruni tangga porselen gedung itu terasa amat berbeda dari saat ia datang tadi pagi. Setiap helai napas yang ia hirup terasa begitu dalam, bersih, dan lapang—seolah-olah pasokan udara yang selama lima tahun ini tertahan di tenggorokannya mendadak mengalir bebas tanpa hambatan.
Di sisi kirinya, Tasya merangkul lengan Ranti dengan binar mata yang meluapkan kebahagiaan tak terkira. Sementara Hendra melangkah santai di sisi kanan, merapikan dokumen dalam tas kulit hitamnya dengan gestur seorang pemenang yang telah menyelesaikan tugas dengan sempurna.
"Gimana rasanya, Ti?" bisik Tasya seraya menyenggol bahu sahabatnya itu lembut.
Ranti menghentikan langkahnya sejenak di bordes tangga, mengusap lehernya yang kini terbuka bebas tanpa balutan rambut panjang yang dulu menyiksanya. Senyum tipis yang sarat akan kedamaian terukir di bibirnya.
"Ringan, Sya," jawab Ranti halus, matanya memandang membentangnya langit cerah Jakarta Selatan di balik pintu kaca utama. "Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun... aku merasa dada ini benar-benar tidak sesak lagi."
"Ini baru permulaan dari kehidupan barumu, Bu Ranti," timpal Hendra dengan nada tenang namun berwibawa. "Palu hakim tadi hanya formalitas hukum. Hakiki dari kebebasan itu sudah ada di tangan Anda sejak Anda memutuskan untuk berdiri tegak dan membela harga diri Anda sendiri."
Namun, ketenangan di dalam aula gedung itu mendadak terusik begitu mereka mendorong pintu kaca besar untuk menuju pelataran parkir.
Di bawah naungan terik matahari pagi yang mulai membakar, sekumpulan orang bersenjatakan kamera DSLR berlensa panjang, klakson mikrofon dengan logo berbagai stasiun televisi swasta, serta smartphone yang terpasang di atas gimbal sudah berdiri membentuk barikade rapat di dasar tangga luar.
"Itu Bu Ranti!" seru seorang wartawan berkaos hitam seraya menunjuk ke arah pintu utama.
Dalam hitungan detik, belasan awak media berlarian mendekati tangga.Kilatan lampu flash kamera mendadak menyambar-nyambar seperti kilat di siang bolong, memantul di permukaan kacamata hitam yang diselipkan Ranti di kerah blazer-nya. Suara jepretan kamera beradu riuh dengan seruan pertanyaan yang saling bertubrukan di udara.
Kasus ini rupanya telah bocor ke ranah publik. Dugaan skandal perzinahan antara mantan pengusaha dan mantan guru TK, rekaman perselisihan panas, hingga pengambilalihan kembali seluruh aset berharga oleh putri pengusaha tekstil ternama telah menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial sejak akhir pekan lalu.
Tasya refleks menggeser tubuhnya untuk menutupi Ranti, sementara Hendra memasang barikade lengan untuk menahan desakan kerumunan wartawan yang makin merangsek naik.
"Mohon tenang, Rekan-rekan Media! Mohon beri jalan untuk Klien kami!" seru Hendra bariton, menahan dorongan dua orang juru kamera yang menyorotkan lensa tepat ke arah wajah Ranti.
"Bu Ranti! Tolong tanggapannya sedikit saja, Bu!" jerit seorang wartawan wanita berseragam media daring seraya menyodorkan mikrofon berbusa merah hingga hampir menyentuh dada Ranti. "Apakah benar hari ini majelis hakim sudah memutus gugatan perceraian secara mutlak?!"
"Bu Ranti! Bagaimana tanggapan Anda mengenai kondisi mantan suami Anda yang menderita luka bakar parah akibat insiden dengan selingkuhannya?!" timpal wartawan pria lainnya dengan nada mencecar. "Apakah Anda merasa terbalaskan atas pengkhianatan yang mereka lakukan?!"
"Bu Ranti, apakah Anda puas setelah menggugat cerai suami Anda?!"
Pertanyaan terakhir itu terlempar kencang, menggema menembus kebisingan di pelataran pengadilan.
Langkah Ranti terhenti tepat di anak tangga ketiga dari bawah. Tasya sempat menoleh panik, bersiap menarik Ranti agar segera masuk ke dalam mobil sedan hitam milik Hendra yang sudah bersiap di tepi jalan.
"Ranti, tidak usah dijawab! Ayo masuk mobil saja," bisik Tasya cemas.
Namun Ranti tidak menghindar. Ia tidak menyembunyikan wajahnya di balik kacamata hitam, tidak pula mempercepat langkahnya seperti seorang bersalah yang melarikan diri dari serbuan penghakiman publik.
Ranti berbalik perlahan. Ia merapikan kerah blazer abu-abunya dengan gerakan yang teramat anggun, lalu menatap lurus ke arah kumpulan kamera dan wajah-wajah wartawan yang saling berdesakan di hadapannya.
Suasana liar di pelataran itu mendadak berangsur hening saat melihat aura ketenangan yang dipancarkan oleh wanita berambut bob tersebut. Tidak ada kemarahan di matanya, tidak ada derai air mata duka, dan tidak ada pamer keangkuhan atas kemenangannya di meja hijau.
Ranti tersenyum tenang—sebuah senyuman jernih yang memancarkan kedewasaan jiwa yang telah tuntas merawat lukanya sendiri.
Ia memegang mikrofon berbusa merah yang disodorkan di depannya, lalu bersuara dengan nada yang stabil, jernih, dan merdu:
"Saya tidak sedang mencari kepuasan."
Ranti jeda sejenak, menatap satu per satu lensa kamera yang merekam setiap sudut ekspresinya.
"Saya hanya sedang memilih menyelamatkan diri dan anak saya."
Hanya dua kalimat. Singkat, padat, tanpa diwarnai intonasi dendam atau makian pada mantan suaminya. Namun bobot makna di balik kalimat itu begitu meremukkan segala spekulasi liar yang berkembang di luar sana.
Usai mengucapkan kalimat tersebut, Ranti menganggukkan kepalanya dengan sangat sopan ke arah awak media. "Terima kasih, Rekan-rekan sekalian. Selamat pagi."
Tanpa memberikan ruang untuk pertanyaan susulan, Ranti berbalik dan melangkah masuk ke dalam pintu belakang mobil sedan Hendra yang telah dibukakan oleh Tasya. Pintu mobil tertutup dengan dentuman tebal yang kedap, memotong mati keriuhan suara wartawan di luar.
Mobil sedan itu perlahan bergerak membelah kerumunan, meluncur mulus meninggalkan halaman Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Hanya dalam hitungan jam, rekaman video berdurasi dua puluh detik yang memperlihatkan Ranti berdiri anggun di tangga pengadilan dengan potongan rambut bob barunya menyebar luas bak api menyambar jerami kering di jagat maya.
Kutipan kalimatnya—"Saya tidak sedang mencari kepuasan. Saya hanya sedang memilih menyelamatkan diri dan anak saya"—menjadi tajuk utama di berbagai portal berita hiburan dan gaya hidup. Video tersebut diunggah ulang puluhan ribu kali di media sosial, memicu gelombang simpati dan pujian luar biasa dari jutaan netizen, terutama kaum wanita yang menganggap Ranti sebagai simbol keteguhan, kemandirian, dan harga diri seorang istri yang tak mau diinjak-injak.
Namun, di tengah gegap gempita perbincangan publik yang mengaitkan namanya dengan simbol kejayaan wanita, Ranti sama sekali tak tersentuh oleh euforia tersebut.
Tanpa Ranti sadari... pada detik yang sama saat ia berdiri di tangga pengadilan dan mengucapkan kalimat itu kepada para wartawan, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam pekat dengan kaca film gelap nomor satu terparkir tenang di seberang jalan raya depan pengadilan.
Mobil itu tidak menyalakan lampu hazard, juga tidak mematikan mesinnya. Di dalam interior berbalut kulit nappa berwarna cokelat tua yang dingin oleh udara AC, seorang pria berstelan jas abu-abu gelap tanpa dasi duduk bersandar di kursi penumpang belakang.
Pria itu memegang sebatang rokok kretek halus yang asap tipisnya membumbung membasahi kaca jendela yang sedikit terbuka.
Mata elangnya yang tajam dan pekat menembus kaca gelap, memperhatikan setiap pergerakan Ranti sejak wanita itu keluar dari pintu kaca pengadilan, memotong rambut panjangnya menjadi gaya bob yang sangat modern, hingga saat Ranti menyampaikan jawaban singkatnya di hadapan kerumunan media.
"Wanita yang menarik..." bisik pria itu dengan suara berat berkarakter baritone yang dingin.
Di kursi kemudi depan, seorang asisten pribadi berpenampilan rapi memutar sedikit kepalanya ke belakang. "Apakah perlu saya periksa latar belakang hukum dari aset-aset yang baru saja dialihkan kembali atas nama beliau, Pak Danu?"
Pria bernama Danu itu mematikan puntung rokoknya di asbak kristal di samping lengannya. Jemarinya yang mengenakan jam tangan Patek Philippe bersepuh rose gold meraba dagunya yang ditumbuhi cambang tipis terawat.
"Tidak perlu," sahut Danu pelan, pandangannya masih tak lepas dari mobil sedan hitam yang membawa Ranti menjauh dari halaman pengadilan. "Saya sudah membaca laporan lengkap dari tim legal kita kemarin malam. Wanita itu bukan sekadar menang karena beruntung. Dia cerdas, dingin, dan tahu persis kapan harus mengesekusi celah hukum lawannya tanpa celah."
Danu menyandarkan punggungnya kembali ke jok mobil, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan intrik dan ketertarikan yang dalam.
"Ternyata putri tunggal Mendiang Ibu Kirana dari Anindita Tekstil punya ketahanan mental yang persis sama dengan ibunya," gumam Danu. "Pria bodoh bernama Sony itu benar-benar tidak tahu harta karun apa yang baru saja dia hancurkan dan dia buang secara sia-sia."
"Lalu, bagaimana dengan rencana ekspansi akuisisi saham anak perusahaan PT Anindita Gemilang yang sempat tertunda akibat kasus perceraian ini, Pak?" tanya sang asisten lagi.
Danu menatap keluar jendela, memperhatikan jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan siang hari.
"Jadwalkan pertemuan resmi minggu depan," perintah Danu tegas. "Tapi bukan dengan tim pengacara atau direksi lama. Aku ingin bertemu langsung dengan pimpinan barunya... Ranti Anindita."
Sore Hari – Kediaman Ranti
Mentari sore memancarkan warna jingga keemasan yang hangat melalui jendela kaca ruang tengah apartemen Ranti. Suasana rumah begitu tenang dan damai. Bima sedang tertidur lelap di kamarnya usai lelah bermain cat air bersama Tasya beberapa jam lalu.
Ranti duduk di sofa empuk, memegang cangkir teh chamomile langganannya. Di hadapannya, Tasya sedang sibuk menggeser layar tablet dengan raut wajah berbinar-binar dan senyum yang tak bisa ditutupi.
"Ranti! Kamu lihat tidak?!" puji Tasya seraya menyodorkan tabletnya ke depan meja Ranti. "Video kamu di tangga pengadilan tadi pagi sudah ditonton lebih dari lima juta kali! Kolom komentarnya penuh sama pujian netizen! Semua orang bilang kamu keren banget, anggun, dan berkelas sekali waktu menjawab wartawan!"
Ranti hanya melirik layar tablet itu sekilas, lalu tersenyum tipis seraya menyesap teh hangatnya.
"Biar sajalah, Sya," sahut Ranti tenang. "Ramai-ramai di media sosial itu cuma seperti buih di lautan. Hari ini mereka memuji, besok kalau ada berita baru mereka juga lupa. Yang paling penting buat aku sekarang cuma Bima dan masa depan perusahaan."
Tasya meletakkan tabletnya, menatap Ranti dengan pandangan penuh rasa kagum sekaligus lega.
"Kamu benar-benar sudah berubah ya, Ti," tutur Tasya lembut. "Dulu... kalau ada masalah sedikit saja, kamu pasti kepikiran sampai tidak bisa tidur. Tapi sekarang, kamu kelihatan kokoh sekali. Kerapihan dirimu yang baru ini benar-benar bikin adem siapa pun yang melihat."
Ranti menyandarkan badannya di sofa, menatap langit-langit ruangan yang diterangi pendar lampu hangat.
"Aku tidak berubah, Sya," bisik Ranti pelan namun mantap. "Aku hanya pulang ke diriku yang sebenarnya. Diriku yang selama lima tahun ini sengaja aku sembunyikan hanya untuk menyenangkan orang yang salah."
Ia teringat kembali kata-kata Hakim Farhan di dalam ruang sidang tadi pagi—sebuah kalimat yang kini terpatri abadi di dasar sanubarinya: Sebab cantik bukan tentang tak pernah terluka, melainkan tentang bagaimana kamu tetap memilih untuk tumbuh, pulih, dan mekar dengan indah.
Ranti menyentuh dada kirinya. Luka itu memang pernah ada di sana, amat dalam dan menyengat. Namun luka itu tidak lagi berdarah. Luka itu telah mengering, mengeras, dan bertransformasi menjadi fondasi baja yang menempa dirinya menjadi wanita yang tak akan pernah bisa dihancurkan lagi oleh kebohongan atau pengkhianatan pria mana pun.
Ponsel Ranti yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar halus. Sebuah notifikasi email masuk dari alamat email resmi sekretariat perusahaan.
Ranti meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut. Email dari Asisten Direksi PT Anindita Gemilang Utama mengenai permohonan jadwal pertemuan bisnis dari pimpinan tertinggi Vandera Corp—salah satu konglomerasi investasi raksasa yang selama ini menjadi mitra strategis almarhum ibunya.
Kepada Yth. Ibu Ranti Anindita, Direktur Utama PT Anindita Gemilang Utama,
Dengan hormat, Sehubungan dengan penataan ulang struktur kepemimpinan dan konsolidasi saham perusahaan, Bapak Danu Vandera selaku Chief Executive Officer Vandera Corp mengajukan permohonan pertemuan bisnis tatap muka dengan Anda pada hari Rabu mendatang...
Ranti membaca nama pengirim email itu sejenak: Danu Vandera.
Ia belum pernah bertemu langsung dengan pria bernama Danu itu, meski nama besar keluarga Vandera sering ia dengar dari mendiang ibunya sewaktu kecil. Ranti mematikan layar ponselnya, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan yang teramat tenang.
Satu babak gelap dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang istri yang teraniaya telah resmi ditutup dengan ketukan palu pengadilan tadi pagi. Dan kini, lembaran baru sebagai seorang ibu, pemimpin perusahaan, dan wanita merdeka yang utuh telah membentang luas di hadapannya.
Ranti berdiri dari sofanya, berjalan mendekati jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan megah gedung-gedung pencakar langit Jakarta di bawah naungan senja. Angin sore berhembus lembut melintasi celah ventilasi, mempermainkan ujung rambut bob barunya.
Ranti tersenyum pada bayangan dirinya sendiri di kaca jendela. Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi ketakutan. Palu itu telah berbunyi, dan Ranti siap menaklukkan dunia dengan caranya sendiri.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.