NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: TOPENG DI KLINIK PESISIR

BAB 16: TOPENG DI KLINIK PESISIR

Gumpalan awan hitam menggantung rendah di atas langit pesisir Jakarta Pusat. Gerimis tipis yang membasahi kaca depan kendaraan taktis VPCI menambah hawa dingin yang menusuk. Di balik rimbunnya pepohonan pinus hias yang tertata rapi, gedung megah berarsitektur modern milik Klinik Medika Utama Pesisir berdiri kokoh dengan pendar lampu neon putih yang anggun.

Dari luar, tempat itu tampak seperti klinik estetika premium untuk kalangan elit. Namun, bagi Reno Devano dan dr. Sara Maheswari, setiap sudut bangunan porselen mengilap itu memancarkan aroma amis yang terselubung di balik keharuman antiseptik mahal.

"Dion, bagaimana dengan sistem jalur komunikasi dan CCTV klinik?" tanya Reno seraya memasang earpiece nirkabel di telinga kanannya.

"Gue udah meretas firewall lokal mereka," sahut suara Dion dari balik transmisi. "Klinik ini punya tiga lantai bawah tanah rahasia yang nggak terdaftar di cetak biru resmi pemerintah. Lantai B3 dipasangi pintu kedap udara berstandar militer. Di situlah ruang operasi rekonstruksi wajah dan laboratorium 'Mata Timbangan' berada."

"Bara, amankan pintu keluar-masuk darurat di area parkir belakang," perintah Reno tegas. "Sara, ikut aku lewat jalur penerimaan pasien VIP."

dr. Sara mengangguk mantap, merapatkan cengkeraman tangannya pada tas forensik taktis. Di dalam tas itu, ia telah menyiapkan lima ampul indikator reaksi kimia cepat serta serum penawar toksin radioaktif.

"Ingat, Reno, jika dr. Fransisca ada di dalam, kita harus mengamankan semua sampel cairan pengawet sebelum mereka sempat memusnahkannya."

"Aku paham," sahut Reno dingin.

Keduanya melangkah mantap menerobos gerimis, melewati pintu kaca otomatis resepsionis VIP yang lengang.

Suasana di dalam area penerimaan tamu terasa sangat hening. Keheningan yang janggal bagi sebuah klinik swasta besar di tengah kota. Tidak ada perawat di meja depan, hanya denting halus instrumen musik klasik yang berputar secara otomatis dari speaker langit-langit.

Reno memicingkan mata. Ketajaman instingnya langsung memicu denyut halus di pelipis sebuah sinyal alami bahwa trauma kematian yang baru telah terjadi di sekitar tempat ini.

"Jalur menuju tangga darurat ada di sebelah kiri lorong radiologi, Ren," petunjuk Dion bergema pelan di earpiece.

Reno dan dr. Sara menyusuri koridor berdinding marmer putih. Namun, begitu mereka melintasi ambang pintu otomatis menuju lorong laboratorium radiologi, bau menyengat asam sulfat bercampur aroma darah segar mendadak menghantam indra penciuman dr. Sara.

"Reno, tunggu," bisik dr. Sara seraya menahan lengan mantel Reno. Sang dokter forensik berlutut perlahan, menunjuk sebuah tetesan cairan keruh yang membeku di celah nat keramik lantai.

"Ini bukan darah biasa. Ini adalah darah yang sudah bercampur dengan larutan isotop radioaktif... sama persis dengan sampel dari jasad wanita di kapal kargo."

Reno menarik batang besi pertahanan dirinya, melangkah dengan posisi siaga mendahului dr. Sara. Mereka menuruni tangga beton yang remang-remang menuju lantai B3.

Semakin dalam mereka melangkah, suhu udara merosot drastis. Dinding-dinding lorong bawah tanah itu terbuat dari lapisan baja berlapis timbal struktur khusus yang dirancang untuk menahan radiasi sekaligus mengisolasi suara dari dunia luar.

Di ujung lorong B3, sebuah pintu kaca tebal berkode biometrik terbuka sedikit. Dari balik pintu tersebut, terdengar suara desisan halus mesin penyaring udara bertekanan tinggi.

Reno mendorong pintu kaca itu dengan ujung sepatu bootnya.

Pemandangan di dalam laboratorium B3 membuat dr. Sara menahan napas secara refleks.

Ruangan seluas seratus meter persegi itu dipenuhi belasan tabung kaca silinder raksasa berukuran manusia yang terisi cairan pengawet keruh. Di dalam tabung-tabung tersebut, tampak bayangan kaku beberapa manekin rekonstruksi wajah dan sampel jaringan tubuh manusia yang diawetkan dengan presisi mengerikan.

Di tengah laboratorium, di bawah sorotan lampu operasi berdaya tinggi, sesosok wanita bertubuh tinggi semampai berdiri mengawasi layar monitor medis. Wanita itu mengenakan gaun bedah berwarna hijau gelap dengan jas laboratorium putih terpasang rapi di bahunya. Rambut hitamnya tersanggul anggun, dan wajahnya dihiasi senyuman dingin yang sangat tenang.

Dialah dr. Fransisca, dokter spesialis rekonstruksi wajah sekaligus pemimpin cabang operasional 'Mata Timbangan'.

"Selamat malam, Detektif Reno Devano... dan Dokter Sara Maheswari yang terhormat," panggil dr. Fransisca tanpa memutar tubuhnya, suaranya halus bagaikan sutra namun sarat akan ancaman yang mematikan.

"Saya sudah menduga koin perak di kapal kargo itu akan membawa VPCI ke sini lebih cepat dari perkiraan."

Reno melangkah maju dengan langkah membaja, memosisikan tubuhnya di depan dr. Sara.

"Permainan identitas palsumu berakhir malam ini, Fransisca. Pihak kepolisian sudah memblokir seluruh rekening penampungan jaringanmu."

dr. Fransisca tertawa pelan sebuah tawa anggun yang bergaung dingin di antara tabung-tabung kaca. Ia memutar tubuhnya perlahan, memamerkan sepasang mata tajamnya yang menatap Reno penuh ketertarikan gila.

"Pemblokiran rekening?" ujar dr. Fransisca seraya mengelus permukaan salah satu tabung kaca.

"Uang adalah hal paling sepele dalam jaringan 'Mata Timbangan', Detektif. Yang kami tawarkan kepada para pejabat korup, penjahat perang, dan penguasa berdarah dingin adalah sesuatu yang jauh lebih bernilai: keabadian dan wajah baru."

dr. Fransisca menunjuk ke arah layar monitor besar di belakangnya yang menampilkan puluhan berkas identitas palsu berserta foto rekonstruksi wajah hasil bedahnya.

"Dengan teknologi medis dan racun pengawet buatan saya, orang-orang kaya itu bisa memalsukan kematian mereka di atas meja otopsi polisimu, lalu lahir kembali dengan wajah baru tanpa ada satu pun ahli forensik yang bisa mendeteksinya!" lanjut dr. Fransisca dengan mata berkilat obsesif.

"Saya menciptakan kebebasan mutlak dari jerat hukum tumpul kalian!"

"Kamu tidak menciptakan kebebasan, Fransisca!" pangkas dr. Sara dengan suara lantang dan penuh penekanan. Sang dokter forensik melangkah maju di samping Reno, matanya memancarkan kemarahan ilmiah yang begitu tajam.

"Kamu hanya membantai orang-orang tak bersalah demi menutupi jejak buronanmu! Wanita di kapal kargo itu tewas karena kamu menyuntikkan asam sulfat dan isotop ke dalam pembuluh darahnya saat dia berusaha keluar dari jaringan iblis ini!"

"Wanita itu adalah produk gagal yang berani mengancam integritas bisnis saya, Dokter Sara," balas dr. Fransisca dingin.

"Serahkan seluruh data klien dan formula larutan kimia itu sekarang!" gertak Reno, mengacungkan besi pertahanan dirinya.

dr. Fransisca tersenyum miring. Tangannya yang terbungkus sarung tangan medis dengan cepat menekan sebuah tombol merah di balik meja kendali operasi!

BIP! BIP! BIP!

Suara sirene bahaya bertekanan tinggi meledak seketika di dalam ruangan B3! Katup-katup darurat pada belasan tabung kaca silinder raksasa mendadak terbuka secara bersamaan, menyemprotkan gelombang larutan kimia pengawet bertekanan tinggi ke udara!

PRANG! PRANG! PRANG!

Kaca-kaca tabung silinder pecah berhamburan! Uap kimia beracun berwarna kuning keabu-abuan membumbung cepat, memenuhi ruangan bawah tanah itu dalam hitungan detik!

"Awas! Uap kimia radioaktif!" teriak dr. Sara seraya menarik selendang penutup wajah dan menahan napasnya.

Dari balik kepulan uap kimia yang membakar mata, dua orang pengawal pribadi berotot kekar mengenakan topeng gas taktis menerjang keluar seraya mengacungkan pisau lipat khusus!

"Sara, mundur!" teriak Reno.

Reno memiringkan tubuhnya dengan cepat, mengibaskan besi pertahanan dirinya untuk menepis tebasan pisau pengawal pertama! Benturan logam menyuarakan dentang keras di antara uap kimia.

Dengan gerakan memutar yang cepat, Reno mendaratkan pukulan telak ke rahang pengawal tersebut hingga tersungkur menghantam meja porselen!

Namun pengawal kedua memanfaatkan kesempatan itu untuk menerjang dr. Sara dari belakang!

"Dokter!" jerit Bara yang baru saja berhasil mendobrak pintu baja B3 bersama tiga personel kepolisian!

DOR! DOR!

Dua tembakan presisi dari senapan taktis Bara menghantam bahu dan kaki pengawal kedua hingga roboh ke lantai!

Di tengah kekacauan, uap kimia, dan pendar lampu merah yang berkedip gila, dr. Fransisca bergerak bagaikan bayangan. Ia menyambar sebuah kartu memori enkripsi berbahan titanium yang berisi seluruh database jaringan 'Mata Timbangan', lalu berlari kencang menuju pintu eskapasi rahasia di ujung laboratorium!

"Dia mau kabur membawa data klien!" teriak dr. Sara seraya menunjuk ke arah lorong eskavasi.

Reno tidak membuang waktu satu detik pun. Ia melompati pecahan kaca tabung dan meja operasi yang roboh, mengejar dr. Fransisca menembus lorong sempit ber dinding baja.

dr. Fransisca memutar tubuhnya di ambang pintu eskavasi, mencabut sebuah pistol jarum suntik otomatis dan menembakkannya lurus ke arah dada Reno!

Reno refleks menepis pistol suntik itu menggunakan besi pertahanan dirinya! Pistol itu terlempar dan hancur menghantam dinding, namun dr. Fransisca memanfaatkan momentum tersebut untuk menghantamkan sikutnya keras-keras ke bahu kiri Reno yang baru saja dibalut perban!

"Ugh!" Reno meringis menahan nyeri hebat saat lukanya kembali terbuka.

Namun, alih-alih mundur, Reno membuang besi pertahanan dirinya. Dalam posisi jarak dekat yang sangat terdesak, Reno melepas sarung tangan kulitnya dan mencengkeram erat leher dan bahu dr. Fransisca secara langsung!

Kulit bertelanjang jemari Reno menyentuh langsung bekas luka sayatan rekonstruksi kecil di belakang telinga dr. Fransisca!

DEG!

Hantaman psychometry meledak bagaikan gelombang kejut yang dahsyat di dalam ruang kesadaran Reno! Sensasi dingin kilas balik melempar kesadaran Reno masuk ke dalam memori pribadi dr. Fransisca!

Kilas balik masa lalu memutar kejadian enam bulan lalu di sebuah markas rahasia di luar negeri.

Reno melihat dr. Fransisca berdiri di hadapan sesosok pria berstelan jas mahal yang duduk di balik kegelapan meja kerja. Pria itu memegang sebuah tongkat berkepala emas berbentuk mata timbangan.

"Lakukan tugasmu di Jakarta, Fransisca," ujar pria misterius berstelan jas mahal itu dengan suara berat yang mengintimidasi.

"Bantai siapa pun di VPCI yang berusaha membongkar jaringan kita. Reno Devano hanyalah cacing tanah dengan penglihatan gaib yang tidak akan pernah bisa menyentuh pimpinan tertinggi kita di Eropa."

Reno melihat dalam ingatan tersebut bagaimana Fransisca menerima perintah pembunuhan, dan yang paling krusial: Reno melihat kode numerik enam digit yang dipakai Fransisca untuk mengunci pintu eskapasi rahasia di hadapannya!

BRAK!

Reno tersentak kembali ke realita! Pandangannya memerah oleh rasa sakit dan kelelahan, namun matanya memancarkan ketajaman yang tak tergoyahkan.

"Pimpinanmu di Eropa... tidak akan pernah aman dari VPCI, Fransisca!" bisik Reno tajam.

Dengan sisa tenaganya, Reno memutar tubuh dr. Fransisca, membantingnya ke dinding baja, dan dalam gerakan kilat, jemari Reno menekan enam digit tombol kombinasi pintu eskavasi di belakang dr. Fransisca: 7 - 3 - 9 - 1 - 0 - 4!

BIP! BIP! KRLAK!

Pintu eskavasi rahasia itu mendadak terkunci otomatis dari luar, mematikan seluruh akses melarikan diri bagi dr. Fransisca!

"Tidak! Bagaimana bisa kamu tahu kode sandi pribadiku?!" jerit dr. Fransisca histeris, matanya membelalak penuh teror dan ketidakpercayaan yang murni.

Reno merebut kartu memori titanium dari cengkeraman dr. Fransisca sebelum wanita itu sempat bereaksi.

dr. Sara dan Bara menerobos masuk ke dalam lorong eskapasi dengan senjata teracung. Bara dengan cepat menekuk kedua tangan dr. Fransisca ke belakang dan memasang borgol baja dengan kencang.

"Area aman! Pelaku utama berhasil dilumpuhkan!" teriak Bara ke dalam interkomnya.

dr. Sara mendekati Reno yang bersandar lemas di dinding baja, napasnya tersengal-sengal parah.

Dengan gerakan lembut dan cekatan, dr. Sara memeriksa balutan luka di bahu kiri Reno yang kembali merembeskan darah segar, lalu membebatnya kembali menggunakan perban steril dari tasnya.

"Kamu selalu bertindak nekat di saat-saat kritis, Reno," bisik dr. Sara dengan suara bergetar haru, namun matanya menatap sang detektif dengan rasa bangga dan percaya yang amat dalam.

Reno memandangi kartu memori titanium di tangannya, lalu menatap dr. Sara dengan senyuman tipis yang mantap.

"Kita mendapatkan seluruh database jaringan mereka, Sara," kata Reno pelan namun sarat akan kemenangan.

"Topeng 'Mata Timbangan' di kota ini resmi kita telanjangi."

Sinar lampu kendaraan taktis polisi dan ambulans membahana dari luar gedung Klinik Medika Utama Pesisir.

Di bawah tirai hujan yang perlahan mulai mereda, dr. Fransisca digiring keluar dalam cengkeraman hukum yang sah, sementara seluruh sampel jaringan dan bukti kimia diangkut oleh tim forensik VPCI.

Reno Devano dan dr. Sara Maheswari melangkah keluar dari dalam gedung menuju pelataran parkir.

Meski pimpinan puncak organisasi internasional itu masih membayang di seberang lautan, Reno tahu bahwa selama ada kepresisian ilmu forensik medis dan keberanian untuk menyingkap kebenaran, VPCI tidak akan pernah mundur satu langkah pun dari kegelapan.

1
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!