NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. Presentasi yang Runtuh

Navin tidak suka rapat yang dimulai dengan senyum. Senyum berarti ada sesuatu yang disembunyikan.

Pukul sembilan tepat, ia duduk di kursi kepala meja ruang rapat utama cabang Bandung, dikelilingi dua belas orang yang duduk tegak seperti murid menunggu vonis. Dimas berdiri di belakangnya membawa tablet. Di layar proyektor, slide pertama sudah terpampang: Laporan Kinerja Divisi Penjualan Kuartal Dua.

"Silakan," kata Navin.

Pria berkemeja biru di podium, Rangga, kepala divisi penjualan, berdeham. "Terima kasih, Pak. Kuartal ini kami mencatat peningkatan aktivitas kunjungan klien sebesar dua puluh persen, dan..."

"Aktivitas."

Rangga berhenti. "Maaf, Pak?"

"Kamu bilang peningkatan aktivitas. Bukan peningkatan penjualan."

"Aktivitas mendorong penjualan, Pak. Kami percaya..."

"Saya tidak membayar kepercayaan." Suara Navin datar, tanpa emosi. "Saya membayar hasil. Slide berikutnya."

Rangga menekan tombol. Grafik batang muncul, berwarna-warni dan cukup rapi. Navin memandangnya selama tiga detik.

"Sumbu Y-nya dipotong."

"Ya... Pak?"

"Sumbu Y tidak dimulai dari nol. Grafik ini membuat kenaikan tiga persen tampak seperti dua puluh. Kamu sengaja, atau kamu tidak tahu?"

Ruangan menjadi sangat sunyi. Di kursi-kursi sepanjang meja, orang-orang menunduk menekuni catatan mereka. Wajah Rangga memerah, lalu memucat.

"Itu untuk memperjelas tren, Pak..."

"Tren bisa dijelaskan dengan angka yang jujur." Navin bersandar. "Kalau di sepuluh menit pertama kamu sudah mencoba menipu saya dengan grafik, saya tidak ingin membayangkan apa yang kamu lakukan pada klien. Duduk."

"Pak, saya punya data tambahan..."

"Duduk, Rangga."

Rangga menutup laptopnya dengan tangan gemetar dan kembali ke kursinya. Tak ada yang bernapas. Navin merasakan tekanan ruangan itu, dan seperti biasa, ia tidak merasakan apa-apa. Itu bagian terbaik dari menjadi orang seperti dirinya: tidak ada rasa bersalah yang mengganggu tidur. Ayahnya pernah berkata bahwa pemimpin yang disukai semua orang biasanya hanya pemimpin yang belum diuji. Navin memilih untuk ditakuti. Ditakuti lebih aman, dan yang terpenting, tidak ada yang berani mengasihaninya.

Setidaknya begitu, sampai matanya menangkap sesuatu di sudut ruangan.

Di kursi paling belakang, dekat pintu, seorang perempuan duduk dengan punggung tegak dan tangan terlipat sopan di atas map. Blazer abu-abu. Rambut dikuncir rapi. Semua orang di ruangan itu menunduk. Semua orang, kecuali dia.

Perempuan itu menatapnya lurus.

Bukan tatapan menantang. Bukan pula tatapan takut. Hanya tatapan seseorang yang sedang menilai dengan tenang, seolah bertanya, begini caramu memimpin?

Navin merasakan sesuatu menekan dadanya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan di ruang rapat mana pun. Ia teringat wajah itu. Barisan kedua di lobi, tadi pagi. Satu-satunya orang yang tidak menunduk. Dan sebelumnya, dari balik kaca lantai dua, perempuan yang sama meletakkan sebungkus tisu di depan resepsionis yang baru ia bentak. Ia sendiri tidak paham kenapa adegan sekecil itu masih menempel di kepalanya.

Ia mengalihkan pandangan lebih dulu, dan itu membuatnya sangat jengkel.

Siapa dia?

"Divisi berikutnya," katanya, lebih tajam dari yang ia maksudkan.

Dua presentasi berikutnya berjalan seperti mesin, dan Navin menemukan cara untuk menjatuhkan keduanya. Ia menuntut penjelasan atas selisih laporan, atas keterlambatan pengiriman, atas kalimat pembuka yang menurutnya terlalu panjang. Setiap kali ia bicara, ia melirik ke sudut ruangan itu tanpa sengaja. Setiap kali pula, perempuan itu masih menatap lurus, tenang, tak bergeming.

Dan setiap kali, dadanya semakin sesak tanpa alasan.

Akhirnya Bu Retno membuka mapnya. "Pak, divisi perencanaan kontrak. Presentasi akan dibawakan oleh Ibu Ophelia dari tim Pak Harto."

Ophelia.

Navin baru ingat. Berkas di mejanya malam itu, catatan satu kalimat di kolom atasan. Tenang, tajam, tidak mudah dipengaruhi.

Semalam ia menganggap kalimat itu basa-basi penilaian kinerja. Kini, melihat orangnya berjalan ke depan seolah tak ada satu pun mata yang bisa menakutinya, ia mulai curiga bahwa itu satu-satunya kalimat jujur dalam seluruh berkas itu.

Kursi paling belakang bergeser. Perempuan itu berdiri dan berjalan ke podium tanpa terburu-buru, membawa map dan pointer kecil. Langkahnya mantap. Tak ada senyum yang dibuat-buat. Tak ada tangan yang gemetar.

"Selamat pagi, Pak Navin. Saya Ophelia Puspa dari divisi perencanaan kontrak," katanya. Suaranya jernih, sedikit lebih rendah dari yang Navin bayangkan. "Saya akan membahas penyebab penurunan margin dua kuartal terakhir, dan saya perlu jujur bahwa sebagian besar penyebabnya ada pada struktur kontrak yang ditandatangani tahun lalu."

Alis Navin terangkat sedikit. Tidak ada satu pun presenter pagi itu yang berani memulai dengan kata jujur.

"Lanjutkan."

Slide berganti. Tidak ada grafik warna-warni. Hanya satu tabel sederhana dengan sumbu yang dimulai dari nol.

Navin menatap sumbu itu, lalu menatap perempuan itu. Ia menyadari, sekilas, bahwa Ophelia telah menyaksikan Rangga dijatuhkan oleh grafiknya dan memilih untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Sesuatu di dalam diri Navin berdesir. Bukan marah, bukan pula kagum, tapi sesuatu yang tidak punya nama.

"Di lampiran ketiga kontrak distribusi," lanjut Ophelia sambil menunjuk layar, "terdapat klausul denda keterlambatan yang hanya berlaku sepihak dan merugikan kita. Klausul ini menyebabkan kerugian sekitar empat ratus juta rupiah selama dua kuartal."

Ruangan itu menahan napas. Pak Harto menatap Ophelia seperti menatap seseorang yang baru melompat dari tebing.

Navin mengamati wajahnya, mencari kegugupan yang biasanya muncul pada orang yang berani jujur di depannya. Tidak ada. Hanya ketenangan yang membuatnya, entah kenapa, ingin terus menatap.

"Berapa persisnya?" tanyanya, dan untuk pertama kali dalam bertahun-tahun, ia menyadari suaranya tidak sedingin biasanya.

"Empat ratus dua belas juta, Pak. Rinciannya ada di halaman tujuh."

"Kamu yang menemukan ini?"

"Ya, Pak."

"Kenapa tidak dilaporkan lebih awal?"

Sudut bibir Ophelia bergerak sedikit, hampir seperti senyum. "Karena tidak ada yang bertanya, Pak."

Ruangan itu seperti menyusut. Bu Retno memejamkan mata sesaat, dan Rangga di kursinya menatap Ophelia dengan campuran lega dan heran, seolah baru sadar bahwa ada cara lain untuk bertahan hidup di ruangan ini. Dimas menunduk di belakang Navin, menahan sesuatu yang mungkin tawa, mungkin ngeri.

Navin menatap Ophelia sekali lagi, lebih lama dari seharusnya. Lalu ia berkata pelan, "Istirahat sepuluh menit."

Ia bangkit lebih dulu dari siapa pun dan meninggalkan ruangan tanpa menoleh. Di lorong, ia berhenti dan menekan pelipisnya. Jantungnya berdetak tidak wajar.

Ada apa denganku?

Dimas menyusul dengan hati-hati. "Pak, Ibu Ophelia itu..."

"Cari tahu semua tentang divisi kontrak," potong Navin. Lalu, terlalu cepat: "Maksud saya, tentang kontraknya."

"Ya, Pak. Kontraknya."

Dimas menunduk, dan untuk kedua kalinya hari itu ia menyembunyikan senyum. Tiga tahun bekerja untuk pria ini, dan belum sekali pun ia melihat atasannya salah bicara.

Ia tidak menemukan jawabannya. Ia hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup, seseorang telah membuatnya lupa cara menyerang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!