NovelToon NovelToon
Rumah Impian Yang Retak

Rumah Impian Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.

Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Keesokan harinya Rian yang sudah rapi dengan kemeja kerjanya berdiri di depan cermin sambil memasang jam tangan. Nadia melangkah mendekat, membantunya merapikan kerah kemeja sang suami seperti yang biasa ia lakukan.

​"Nad, sekalian berangkat yuk? Mas antar kamu sampai ke galeri," tawar Rian seraya memegang lembut pinggang istrinya.

​Nadia tersenyum manis lalu menggeleng pelan. "Nggak usah, Mas Aku naik taksi aja. Hari ini aku ada beberapa urusan dulu sebelum ke sana. Lagian galeri bukanya nanti sekitar jam sembilanan. "

​Rian mengangguk paham, lalu mendaratkan kecupan hangat di kening Nadia. "Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa hubungi aku, jangan sungkan."

​"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."

​Setelah Rian berangkat, Nadia kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Namun, ketika ia hendak mengambil tasnya, langkahnya terhenti. Di ambang pintu kamar yang terbuka, Sarah berdiri bersandar sambil bersedekap dada. Tatapan matanya penuh dengan rasa tidak suka, kebencian dan rasa iri yang tak bisa ia tutupi.

​"Mbak Nadia pinter banget ya aktingnya," sindir Sarah dengan nada sinis. "Pakai alasan kerja segala. Padahal mah cuma mau keluyuran dan bersenang-senang di luar, kan? Biar bisa kabur dari kewajiban ngurus rumah dan melayani Tante Ratna."

​Nadia tidak membalas. Ia merapikan pakaiannya di depan cermin, menganggap suara Sarah tak ubahnya seperti angin lalu. Cueknya sikap Nadia justru membuat Sarah makin tersulut.

​"Lagian, Mas Rian kasihan banget dapat istri kayak Mbak. Nggak bisa ngasih keturunan, eh sekarang malah makin ngelunjak!" tambah Sarah tajam.

​Nadia membalikkan badan, menatap Sarah dingin tanpa raut marah sedikit pun. "Sudah bicaranya? Kalau sudah, tolong minggir. Aku mau lewat."

​Nadia melangkah keluar kamar. Sebelum benar-benar pergi, ia menarik daun pintu dan menguncinya rapat dari luar, lalu memasukkan kunci kamar ke dalam tasnya. Melihat itu, wajah Sarah seketika makin masam karena rencananya untuk menggeledah atau sekadar masuk ke kamar Rian jadi berantakan.

​Di ruang tamu, Bu Ratna sudah menunggunya dengan wajah cemberut.

​"Mau kemana lagi kamu pagi-pagi begini?! Rumah belum beres semua sudah mau main pergi aja!" semprot Bu Ratna begitu melihat Nadia mau keluar rumah.

​"Bi Inah sudah datang, Bu. Semua kebutuhan rumah tangga dan dapur sudah diurus Bi Inah," jawab Nadia tenang tanpa emosi. "Saya permisi berangkat dulu."

​Tanpa menunggu balasan dari ibu mertuanya, Nadia melenggang pergi keluar rumah. Omelan Bu Ratna yang melengking dari balik pintu sama sekali tidak dihiraukannya lagi.

​Begitu Nadia menghilang di balik pagar, Bu Ratna berjalan mendekati Sarah yang masih berdiri di dekat kamar Nadia. Kedua wanita itu saling pandang, lalu duduk bersama di sofa ruang tamu untuk bicara empat mata.

​"Sar, Tante benar-benar sudah tidak tahan sama kelakuan Nadia," bisik Bu Ratna dengan nada penuh kedengkian. "Makin hari dia makin berani melawan Tante gara-gara dibela Rian terus. Kita harus cari cara supaya Rian sadar kalau wanita itu tidak pantas jadi istrinya!"

​Sarah tersenyum licik, memegang tangan Bu Ratna. "Tante tenang saja. Kita bikin rencana pelan-pelan. Kita cari celah dari kegiatan 'kerja' Mbak Nadia di luar itu. Pasti nanti ada hal yang bisa kita pakai buat bikin Mas Rian marah besar dan ngusir dia dari rumah ini secepatnya."

"Kamu bener juga, kita nggak usah buru-buru kalau begitu biar Nadia ataupun Rian nggak curiga."

"Iya, tante. Kalau kita terlalu gegabah, kita malah yang kena."

​Sementara itu, tujuan pertama Nadia pagi ini adalah sebuah toko besar perlengkapan alat tulis dan seni. Ia sudah berjanji untuk bertemu dengan Amira di sana. Tak berapa lama menunggu, sosok Amira melambaikan tangan dari pintu masuk dan langsung menghampirinya.

​"Nadia! Maaf ya agak telat, jalanan macet banget," ujar Amira sedikit terengah.

​"Nggak apa-apa, Ra. Aku juga baru sampai kok. Yuk, langsung pilih barang-barang yang kita butuhkan," balas Nadia bersemangat.

​Keduanya mengitari rak-rak toko, memilih berbagai ukuran kanvas, jajaran cat minyak dan cat air kualitas terbaik, set kuas profesional, sketsel, hingga beberapa lampu sorot dekoratif untuk memajang hasil lukisan di galeri nanti.

​Di sela-sela memilih warna cat, Amira yang sejak kemarin penasaran akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

​"Nad, jujur ya, aku kagum banget sama kamu," ucap Amira seraya menatap sahabatnya itu. "Nominal sewa tempat di sana itu kan lumayan banget untuk satu tahun. Suamimu royal banget ya, langsung ngasih dana segar sebanyak itu buat kamu bikin galeri?"

​Nadia tertegun sejenak, lalu terkekeh pelan dan menggelengkan kepala.

​"Bukan dari Mas Rian, Ra," jawab Nadia jujur dengan senyum tipis. "Uang sewa itu murni pakai uang simpananku sendiri. Tabungan dari hasil karyaku dulu, ditambah uang peninggalan almarhum orang tuaku yang memang belum pernah aku sentuh sama sekali. Lagian mas Rian nggak tau kalau aku mau buka galeri. Aku bilangnya, aku kerja jaga galeri. "

​Amira membelalakkan mata kaget. "What? Seriusan? Aku pikir suamimu yang membiayai semuanya! Dan dia bener-bener nggak tau kalau kamu punya rencana buka galeri? "

​Nadia hanya tersenyum mengiyakan dalam hati. Amira tidak tahu bagaimana realitas rumah tangganya selama ini. Uang yang diberikan Rian setiap bulan hanya cukup untuk keperluan belanja dan rumah tangga. Nadia tidak pernah mendapatkan uang jajan khusus untuk dirinya sendiri. Jika ada sisa kembalian dari uang belanja harian, barulah Nadia menyimpannya sedikit demi sedikit di tabungan pribadinya.

​"Wah, hebat kamu, Nad!" puji Amira tulus, makin bangga pada sahabatnya. "Kamu bener-bener mandiri. Perempuan emang harus punya pegangan sendiri!"

​"Iya, Ra. Aku mau membuktikan kalau aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri, aku udah capek terus di hina dan sepelekan sama ibu mertua ku. Sekarang aku harus memulai karirku,takutnya suatu hari nanti sesuatu terjadi pada pernikahan kami, Naudzubillah ya. Tapi hanya untuk berjaga-jaga saja. Karena aku tau sifat suami dan mertuaku. " sahut Nadia penuh keyakinan.

"Iya, apapun itu. Aku akan mendukungmu."

​Setelah puas memilih dan menyelesaikan pembayaran seluruh perlengkapan lukis di kasir, Nadia meminta pihak toko untuk langsung mengirimkan barang-barang tersebut ke alamat studio galeri barunya.

​Nadia dan Amira pun segera meluncur kembali ke studio galeri yang mereka sewa kemarin. Mereka duduk di balkon lantai dua yang teduh seraya menikmati angin segar di bawah naungan pohon mangga, menantikan kedatangan mobil boks pengirim barang dengan hati yang dipenuhi harapan baru.

1
Susi Yanti
semoga sarah mendapatkan balasan yg setimpal dgn kelakuannya menyiksa nadia melalui tangan rian
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
ditambah dong ka up nya
Ariany Sudjana
betul sekali, dasar pelacur murahan kamu Sarah, sudah pengangguran, eh pelacur murahan juga, sama seperti Maya
Ariany Sudjana
hahaha Rian Rian kamu bodoh, mau saja disetir sama Mak Lampir dan juga pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Heni Setiyaningsih
ternyata suami dan mertua bersekongkol mengincar hartanya Nadia ciih menjijikan
Heni Setiyaningsih
gk sabar pengen lihat pembalasan Nadia
falea sezi
🤣🤣 trik laki. yg uda ketauan selingkuh ya begitu
Eys Resa: yah, begitulah🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
datang lagi hama...hilang maya datanglah sarah...mungkinkah ini yg akan memicu perginya nadia??ditunggu..
Mefiani: siiip lah...👍
total 2 replies
Mefiani
mungkinkah perubahan itu bisa selamanya ato sesaat??ditunggu kelanjutane
Eys Resa: siap bos
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
kurang Thor besok update nya double ya 😄💪
Eys Resa: hehehe, kalo sempet ya kak. othor lagi ngerjain 4 novel soalnya😁🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
pergi sono nadia dan kembalilah kekehidupanmu sebelum kamu menikah...raihlah kebebadanmu..💪
Eys Resa: hooh kk
total 3 replies
falea sezi
mertua kayak lampir lanjut thor laki bego gini di cerai aja🤣
Eys Resa: 🙈🙈🙈🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending q kirim bunga dehh🤭
Eys Resa: makasih kak. semoga ya, lagi mikir alurnya kak, semoga nanti suka😁
total 1 replies
Mefiani
akhirnya buat cerita baru lagi kak resa sayank..q dah meluncur nich..😘💪
Eys Resa: makasih kak Mefi, yang pertama nih. bentar lagi juga ngisi di sebelah kak. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!