Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pasangan
Amira melihat semua tempat dan tidak menemukan sosok yang ada dipikirannya di pesta itu. Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah Glen tidak jadi datang?, tapi tidak mungkin Glen tidak datang.
Amira tersadar, kenapa dia tiba-tiba memikirkan Glen?, Dia tidak bisa terlalu berharap lagi pada Glen, karena Glen sudah memberikan trauma padanya dimasa lalu. Amira berpikir untuk tidak terlalu mengharapkannya lagi sekarang.
"Amira!."
Glen kaget, dia tahu siapa yang memanggilnya. baru saja dia memikirkannya tapi dia sudah muncul. Amira berusaha membuat dirinya biasa saja. Ah sudah lah padahal tadi dia sangat mengharap keberadaan Glen.
"Glen?." Ucapnya lirih
"Hai, kamu terlihat cantik sekali malam ini." Ucap Glen memuji dengan jujur melihat dress yang Amira gunakan terlihat cocok untuknya.
Amira terdima namun tersipu didalam hatinya. "Terimakasih." Jawabnya dengan ekspresi biasa saja.
"Apa kamu tidak ingin memujiku?." Tanya Glen
"Ha?." Amira bingung.
"ya ampun, padahal aku berdandan selama dua jam hanya untuk terlihat menarik dihadapan mu. Kamu tidak mau memberiku apresiasi dengan memuji ku?." Ucapnya menuntut
"Aneh!." Ucap Amira datar dan langsung pergi meninggalkan Glen.
"Eh, tunggu dulu. Mir!" Glen mengejar Amira dan menyesuaikan langkahnya dengan Amira.
"Kenapa kamu mengikuti ku?." Ucapnya datar
"Aku harus mengejar masa depan ku." Jawabnya percaya diri.
Amira terhenti dan Glen mengikut.
"Kenapa menatapku seperti itu?," Tanya Glen memperhatikan Amira yang menatapnya serius. "Apa kamu mulai jatuh cinta padaku?." Tanya nya menggoda.
Amira menghela napas kesal dan langsung pergi menuju meja tempat minuman disajikan. Amira ingin menikmati berbagai macam minuman non alkohol disana. Dan Glen tetap saja mengikutinya.
Amira minuman yang ada ditangannya dan tanpa sengaja melihat Glen yang terus menatapnya. Glen menyadari Amira melihatnya.
"Aku mencintai mu." Ucapnya seketika.
Uhukk...uhuk...
Amira tersedak oleh minuman yang masih di tenggorokannya.
"Eh," Segera Glen menepuk-nepuk punggung Amira membantu menenagkan Amira dari batuknya. "Apa kamu baik-baik saja?."
Hampir saja Amira pindah alam akibat Minumannya masuk ke tenggorokan bukan ke kerongkongannya. Lalu dia berusaha menenagkan napasnya yang tergesa-gesa.
"Aku minta maaf, pasti kamu terkejut ya?." Tanya Glen merasa bersalah.
"Sok tahu kamu."
"Glen, Amira." Panggil Alvero datang menghampiri mereka.
"Eh, halo Bro!."
"Hai Al." Jawab Amira.
"Terimakasih ya, kalian sudah datang meramaikan acara ini."
"Sama-sama bro, aku yang harus berterimakasih padamu. Karana kalau bukan karena acara ini, aku tidak akan bisa dekat dengannya." Ucap Glen mengedipkan matanya kepada Alvero.
Suci terdiam sejenak, dia merasa apa yang Glen katakan barusan tetapi dia berusaha untuk biasa saja.
"Oh iya, ayo kita kesana, aku ingin memperkenalkan kalian berdua kepada keluarga ku." Ajak Alvero.
Amira bingung, kenapa dia harus iku. Tetapi karena sudah di ajak Alvero maka dia tidak bisa menolaknya. Dia mengikuti Amira dan Glen berjalan ke tempat dduduk dimana keluarga Alvero duduk.
"Hai, Mah, pah."
"Iya Alvero?." Semua keluarga Alvero termasuk keluarga ipar Alvero melihat kearah mereka bertiga.
"Kenalin, ini adalah Glen teman ku. Dan ini Amira."
"Hai Om, Tante, Hai semuanya." Sapa Glen senang hati dan dibalas senyuman oleh semua orang.
"Halo, salam kenal semuanya." Ucap Amira sedikit canggung.
"Hai, Amira. Oh iya kalin pasangan ya berdua?." Tanya Ibu Alvero.
Glen dan Amira sontak kaget dengan pertanyaan Ibu Alvero tersebut.
Amira menggeleng kepalanya dan mengatakan tidak sementara Alvero mengangguk ia. Disisi lain Alvero tersenyum seperti kesenangan melihat ke kakuan kedua orang yang bersamanya.
Semua orang bingung melihat jawaban mereka yag berbeda-beda.
"Yang benar yang mana ini?." Tanya Ibu Alvero.
"Sepertinya Amira malu-malu, Mah." Ucap Kakak Alvero. "Mungkin mereka masih baru saja bersama." Tambahnya.
"Iya kamu benar." Jawab Glen percaya diri. Dengan cepat Amira menatap Glen bingung. Glen melihat kearahnya dan tersenyum miring.
"Wah, kalian pasangan yang sangat serasi. Satu ganteng dan satu lagi cantik." Puji Kakak Alvero.
"Benar sekali. Oh iya Glen, tolong kamu bantu juga Alvero supaya cepat dapat pasangan ya, ajari dia mencari Gadis secantik pasangan mu, karena dia bodoh mencari pasangan." Pinta Ibu Alvero
"Mamah!." Rengek Alvero kesal.
Semua orang menertawakannya, Amira bisa merasakan keluarga Alvero adalah keluarga yang hangat. Andaikan kedua orang tuanya masih hidup dia tidak akan kesepian seperti sekarang ini.
"Oh iya Amira. Terimakasih ya sudah mengurus acara ini berjalan dengan sangat baik, kami menyukainya." Ucap Ayah Alvero.
"Iya, om saya senang kalau kalian menyukainya." Balas Amira tersenyum bahagia, akhirnya perjuangannya mempersiapkan semuanya tidak sia-sia.
"Oh iya Glen, kapan kalian rencananya menikah?." Tanya Ibu Alvero.
"Ha?." Amira sontak terkejut mendengarnya, belum apa-apa sudah ditanyakan pernikahan.
"Doakan secepatnya Tante." Jawab Glen.
Amira menatap Glen serius, bagaimana bisa dia mengatakan secepatnya? bahkan dia saja belum meneri Glen, kenapa sepercaya diri itu mantan kekasihnya ini sekarang. Amira tidak habis pikir.
"Wah, kami akan menunggu undangan pernikahan kalian kalau begitu."
"Pasti dong." Jawab Glen.
Amira hanya menghela napas saja sudah pasrah dengan jawaban Glen yang tidak masuk akal.
Beberapa saat kemudia mereka sudah mulai berpencar, dan Amira memilih untuk pergi kesuatu tempat yang tidak terlalu ramai untuk menenagkan diri. Sebenarnya dia termasuk orang yang Introvert, dan bertemu banyak orang membuat energinya cepat terkuras.
Amira duduk dibangku bagian belakang Kafe nya itu, disana tidak ada orang hanya dia sendiri. dia merileks kan badannya bersandar di bangku itu. Amira kembali teringat setiap perkataan Glen tadi. Baru juga merasa rileks pikirannya sudah dipenuhi bayang-bayang Glen, sungguh pria itu sudah melekat dipikirannya sekarang. Amira berusaha menyadarkan diri dan melupakannya.
"Oh, ternyata kamu disini?."
Amira sontak kaget mendengar suara Glen yang tiba-tiba saja muncul.
"Kamu?? Ucapnya bingung.
"Iya, Aku. Kenapa?."
Amira menghela napasnya.
"Aku tahu, kamu pasti sedang memikirkan ku kan?."
"Sok tau kamu."
"Aku paling kenal kamu Amira," Glen duduk disebelah Amira.
"Ngapain kamu kesini?."
"Aku mencari belahan jiwaku, teryata dia berada disini."
"Stop berbicara aneh seperti ini." UCap Amira kesal.
"Aku tidak bisa tanpa mu Amira, makanya aku mencari mu."
Sejujurnya, jantung Amira sekarang sedikit berdetak lebih kencang dari yang biasanya. Namun dia masih berusaha bersikap biasa saja dihadapan Glen, meskipun dia sudah memberikan kesempatan untuk Glen bisa mengejarnya, tapi dia tidak ingin Glen dengan mudahnya mendapatkannya lagi. Glen harus belajar, belajar dari kesalahan dia dimasa lalu untuk tidak pergi dan datang dengan mudahnya.
"Apa aku belum bisa meminta nomer Hp mu?."
"Belum!."
"Pelit banget, tapi tidak masalah. Aku akan segera mendapatkannya. Dan ketika aku mendapatkannya kamu harus berjanji setiap kali aku meminta sesuatu padamu, kamu harus mengabulkannya." Ucap Glen.
"Apa?."
"Iya, setidaknya kamu memberiku apresiasi di setiap usahaku." Tuntutnya.
"Jadi kamu belum merasa cukup jika hanya mendapatkan ku saja?."
Seketika Glen menatap Amira serius. "Maksud mu, kalau aku berhasil mendapatkan nomor Hp mu maka aku sudah mendapatkan mu?." Tanya Glen penuh harapan. "Yesss!!!, aku akan mendapatkannya segera. dan kamu akan menjadi milikku." Tambahnya penuh kebahagiaan.
Amira terdiam, bukan itu maksudnya. Tapi kalau dipikir-pikir maksud dari perkataanya adalah itu. Glen sudah salah paham padanya.