NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Musa mengambil kembali ponselnya, lalu menatap Umi Sinta yang kini tertunduk dengan raut wajah penuh rasa malu.

Tanpa bermaksud memperpanjang perdebatan yang hanya akan membuat istrinya kian tertekan, Musa menggenggam jemari Laila dan berdiri.

"Abah, Umi, Musa permisi mengajak Laila berangkat sekarang. Laila harus bekerja di rumah sakit," ucap Musa dengan nada santun namun tegas.

"Setelah mengantar Laila, Musa akan langsung kembali ke pondok untuk mengajar para santri."

Kyai Adam menatap putra dan menantunya dengan pendar lega. Beliau menganggukkan kepalanya mantap.

"Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Jaga istrimu baik-baik, Musa."

"Mari, Abah. Umi." pamit Laila lembut sembari menunduk hormat.

Musa membimbing Laila melangkah keluar dari Dalem menuju mobil hitamnya yang terparkir di halaman.

Pria itu membukakan pintu depan dengan penuh kelembutan, memastikan Laila duduk dengan nyaman sebelum melangkah mengitari kap mesin dan masuk ke kursi kemudi.

Ceklek.

Musa memasang sabuk pengaman untuk dirinya, lalu condong mendekat untuk membantu memasangkan sabuk pengaman milik Laila.

Namun, bukannya langsung memundurkan tubuhnya, Musa menahan posisinya sejenak.

Sepasang mata tajamnya menatap lurus ke dalam iris mata bening Laila dari jarak yang amat dekat.

"Sayang, apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Musa dengan suara berat nan lembut.

Laila mengedipkan matanya bingung di balik cadar. "Maksud kamu, Musa?"

"Apakah kamu bisa beladiri?" tanya Musa penuh rasa ingin tahu, mengingat refleks secepat kilat yang ditunjukkan Laila saat menangkis nampan kayu Musdalifah tadi.

Laila menatap suaminya polos, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak, Musa. Aku cuma refleks biasa karena kaget."

Musa mengamati binar kejujuran di wajah istrinya sejenak, lalu mengulas senyum tipis dan menganggukkan kepalanya.

Ia mengusap pelan kening Laila di balik kain penutup kepala sebelum akhirnya kembali ke posisi mengemudi.

"Baiklah, Bidadariku," bisik Musa halus.

Musa menyalakan mesin mobil, lalu melajukan kendaraannya dengan tenang membelah gerbang pesantren menuju Rumah Sakit Hasta Utama.

Laila menoleh pelan, melirik profil samping suaminya yang sedang fokus menatap jalanan di balik kemudi.

Wajah tegas dengan gurat rahang kokoh itu terlihat begitu tenang, namun menyimpan pendar pelindung yang teramat dalam untuk dirinya.

Laila meremas pelan jemarinya sendiri di atas pangkuan.

Rasa bersalah berdesir halus di dalam dadanya saat teringat kebohongan kecil yang baru saja ia katakan.

Maafkan aku, Musa. Ada sesuatu yang masih aku rahasiakan darimu, ucap Laila lirih di dalam hatinya, menatap suaminya dengan tatapan teduh nan penuh penyesalan.

Ia tahu, gerakan refleks dan presisi secepat kilat tadi bukanlah sekadar 'refleks biasa orang kaget'.

Namun untuk saat ini, Laila merasa belum saatnya membeberkan seluruh lembaran masa lalunya—termasuk kemampuan bertahan diri yang pernah ia pelajari demi menjaga keselamatan nyawanya sendiri di masa-masa sulit dulu.

Musa yang menyadari lirikan sang istri perlahan mengulurkan tangan kirinya dari kemudi.

Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, jemari tegapnya menggenggam erat jemari Laila yang terasa agak dingin, mengusap punggung tangan istrinya penuh kehangatan.

"Kenapa, Sayang? Kok melamun?" tanya Musa lembut, suaranya mengalun hangat memecah keheningan di dalam mobil.

Laila tersentak pelan dari lamunannya. Ia menggelengkan kepala cepat di balik cadar, lalu membalas genggaman tangan suaminya.

"Tidak apa-apa, Musa. Aku cuma bersyukur punya kamu," bisik Laila tulus, mengubur rapat rahasianya untuk sementara waktu.

Musa mengulas senyum tipis yang menawan, lalu membawa jemari Laila ke bibirnya dan mengecupnya penuh kasih sebelum kembali memfokuskan pandangan melajukan mobil menuju rumah sakit.

Mobil hitam Musa perlahan memperlambat lajunya, berhenti dengan mulus tepat di area drop-off depan gedung utama Rumah Sakit Hasta Utama.

Suasana pagi di rumah sakit tampak cukup ramai dengan lalu-lalang para petugas medis dan pasien.

Laila membalikkan tubuhnya menghadap Musa. Dengan lembut dan penuh rasa takzim, ia meraih jemari suaminya lalu mencium punggung tangan Musa cukup lama—menyerap kehangatan dan rasa tenang dari sosok pelindungnya.

Musa tersenyum tipis di balik raut tegasnya. Tangan tegapnya mengusap lembut kepala Laila, lalu condong mendekat dan mencium kening istrinya dengan pendar kasih yang teramat dalam.

"Bekerjalah dengan tenang, Bidadariku. Kalau sudah selesai, hubungi aku," bisik Musa rendah penuh perhatian.

"Iya, Musa. Hati-hati di jalan, ya," jawab Laila santun di balik cadarnya.

Setelah itu, Laila membakar senyum manis yang tersembunyi di balik kain penutup wajahnya, meraih tas kerjanya, lalu turun dari mobil.

Musa memperhatikan langkah anggun istrinya menyusuri selasar rumah sakit hingga sosok itu menghilang di balik pintu kaca utama.

Setelah memastikan Laila aman di dalam, Musa kembali melajukan mobilnya membelah jalanan kota.

Namun, raut wajahnya tak lagi sehangat saat bersama Laila.

Sorot mata tajamnya meredup, berganti dengan gurat pemikir yang dalam dan penuh selidik.

Musa merogoh ponsel pintarnya yang terhubung ke sistem hands-free di kemudi, memanggil satu kontak utama.

Hanya dalam satu detik, panggilan itu terhubung.

"Yusuf, tolong cari tahu tentang istriku," perintah Musa dengan suara berat dan dingin.

Di seberang telepon, suara Yusuf terdengar kaget dan agak kebingungan.

"Maksud Bos apa? Kenapa dengan Umi?" tanya Yusuf heran.

Sejauh yang ia tahu, Laila adalah sosok dokter yang polos, lembut, dan tidak memiliki rekam jejak yang mencurigakan.

Musa terdiam sejenak. Pandangannya lurus menatap jalanan di depannya, sementara ingatan di kepalanya melayang kembali pada insiden sengatan air panas Musdalifah di Dalem pesantren tadi.

Ia mengingat detik demi detik saat nampan kayu itu hendak terbalik.

Refleks Laila bukan sekadar gerakan spontan orang panik.

Cara pergelangan tangan Laila memutar, menangkis, dan mengalihkan tumpahan air panas dengan presisi sempurna tanpa mengenai kulitnya sendiri sedikit pun—itu adalah teknik efisien yang hanya dimiliki oleh seseorang yang pernah melatih fisik dan pertahanan dirinya secara profesional.

"Dia punya refleks yang terlalu sempurna untuk seorang dokter biasa, Yusuf," gumam Musa rendah, suaranya sarat akan rasa penasaran yang mendalam.

"Cari tahu seluruh rekam jejak masa lalunya, tanpa ada satu pun yang terlewat."

Musa menutup panggilan teleponnya, mengakhiri pembicaraan dengan Yusuf, lalu memutar kemudi membalikkan arah kendaraan kembali menuju Pondok Pesantren.

Sesampainya di kompleks pondok, Musa memarkirkan mobilnya dan melangkah tegap menyusuri koridor utama menuju ruang kelas santriwati.

Penampilannya yang gagah berbalut baju koko putih bersih seketika menarik perhatian para santriwati yang sedang berkumpul di sekitar selasar.

Pandangan mereka tertuju pada sosok ustaz muda idaman tersebut.

"Jaga pandangan," ucap Musa tegas dan dingin tanpa menghentikan langkahnya.

Suara bernada datar namun penuh wibawa itu membuat para santriwati tersentak kaget.

Mereka refleks menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani lagi menatap sang ustaz.

Musa melangkah masuk ke dalam ruang kelas, berdiri di depan mimbar kayu dengan gurat wajah yang teramat serius.

Ia menatap jajaran santriwati di hadapannya yang seketika duduk tegap dan hening.

"Sekarang hafalkan surah Al-Baqarah. Setelah itu maju satu per satu," perintah Musa dingin.

Mendengar perintah itu, suasana kelas seketika mendingin. Keringat dingin mulai membasahi pelipis para santriwati.

Raut wajah mereka menyuarakan kepanikan yang teramat sangat.

"U-ustaz, itu panjang sekali," celetuk salah seorang santriwati dengan suara gemetar memberanikan diri.

Musa memicingkan matanya tajam, menatap santriwati yang baru saja menyela dengan pendar mata tanpa kompromi.

"Hafalan atau hukuman?" tanya Musa pendek, suaranya berat dan sarat ancaman yang tak pernah main-main.

Mengingat betapa berat dan mengerikannya hukuman fisik serta tugas kebersihan ekstra yang biasa Musa berikan bagi siapa saja yang melanggar atau lalai dari tugasnya, para santriwati seketika bungkam rapat.

"Hafalan, Ustaz!" seru mereka serentak dengan wajah pucat, langsung membuka kitab suci masing-masing dan mulai menghafal dengan tekun tanpa berani mengeluh lagi.

Sementara itu di Rumah Sakit Hasta Utama, Laila sudah berganti pakaian khusus bedah lengkap dengan gaun dan penutup kepala steril.

Setelah membasuh tangannya sesuai standar prosedur medis, ia melangkah masuk ke dalam ruang operasi utama.

Hari ini jadwal Laila begitu padat. Ada lima pasien yang membutuhkan penanganan bedah darurat dan terencana di bawah kepemimpinannya.

Sejenak, Laila menghela napas panjang di balik masker medisnya, mengusap lembut dadanya untuk membuang jauh-jauh sisa ketegangan akibat insiden di Dalem pesantren pagi tadi.

Begitu ia berdiri di samping meja operasi dan memegang pisau bedah (scalpel), pendar matanya berubah sepenuhnya—menjadi begitu fokus, tenang, dan sangat presisi.

"Lampu operasi siap. Mari kita mulai dengan doa," ucap Laila dengan suara lembut namun mantap kepada tim dokter dan perawat di sekelilingnya.

Jemari lenturnya yang tadi pagi mampu menangkis serangan Musdalifah dengan refleks secepat kilat, kini bergerak dengan keahlian luar biasa—menorehkan garis bedah yang sangat rapi dan menyelamatkan nyawa pasien satu demi satu.

Bagi Laila, ruang operasi adalah dunianya, tempat di mana seluruh fokus dan ketenangannya diuji tanpa kompromi.

1
Rahmawati Amma
akhirnya tamat juga bagus ceritanya ngak terlalu panjang babnya saya suka karna saya suka ceritanya kuberi gift nonton iklan 10× traktir kopi 🍵 plus kasih vote maaf thor cuma itu yg bisa saya beri😖😢🙏
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Muft Smoker
cerita ny bagus kak ,, aq suka ma ceritanya 😁🤗
Muft Smoker
akhirnya semua udh bertemu dengan kebahagiaan masing2 ,,

makasih buat cerita ny yx kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,, semangat buat cerita terbaru ny
total 2 replies
Yani Agustin
thor, katanya dua2nya keturunan kyai tapi koq ga ada shalat2 nya, trus ga ada ritual ahalat sunat dulu sebelum MP, trs kelakuan bu nyainya tdk mencerminkan bu nyai seh thor 🙏
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
alhmdulillah versi mini dr kalian telah lahir dg sehat dan selamat ,,
Muft Smoker
waah bayi ny aj janjian mau keluarnya ,, 🤭 ,, semoga ibu dan bayi ny sehat2 ,, baik Laila atau pun Musdalifah ,,,
Rahmawati Amma
kok sepi pembaca ya padahal novelnya lumayan bagus 🤔
Rahmawati Amma
bagus ceritanya
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🙏
total 1 replies
Rahmawati Amma
ya berhubung nonton iklan sisa 7kali ya aku cuma bisa ngasi segitu plus traktir kopi 🍵 😅
Rahmawati Amma
ini aneh laila lah katanya bisa bela diri lah ini kenapa lembek 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
weh thor kok nama doang yg di sebut ngak sopan itu panggil abang ke atau mas lah ini nama doang tampa embel2 😔
my name is pho: terima kasih kak. tapi nanti ada di bab ke sekian ada panggilan mas
total 1 replies
Rahmawati Amma
lah bukannya laila bercadar di sampul novelnya 🤔😅
Yati Susilawati: mungkin nnt klu sdh nikah😌
total 1 replies
Muft Smoker
akhirnya semua udh berdamai dg masa lalu ,, begitu juga dg Zafar ,, semoga stelah masa hukuman km telah selesai segera pertanggung jawabkan perbuatan mu terhadap Musdalifah ,,
Muft Smoker
alhmdulillah smua udh baik2 aj ,,
semoga ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
semoga Musdalifah bnr2 berubah ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
sri hastuti
semoga selanjutnya bahagia semua thor, semua rukun ,🙏
sri hastuti
bagus, musa tegas sbg pria tau batasannya, jd gak semua wanita brani goda, siippp Musa, 👍👍
sri hastuti
semoga sdh tdk ada gangguan lagi, atau pelakor,atau kejahatan ,biar mereka berdua bahagia thor 🙏
Muft Smoker
putri angkat???
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁gpp kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!