NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Naga Mata Satu dari Oshu dan Serigala dari Mikawa

"Date Masamune masih menahan pasukannya di Oshu? Anak muda itu benar-benar suka bermain-main dengan maut."

Suara Tokugawa Ieyasu meluncur tenang di tengah suara gemericik air sungai kecil di tepi perkemahan Mikawa. Ieyasu duduk di atas kursi lipat kayu di dalam tenda komando besarnya yang dipasangi tirai bertuliskan lambang klan Tokugawa—tiga daun aoi dalam lingkaran. Di tangannya, sebuah gulungan kertas kecil bekas pembawa pesan dari utara tergulung rapi.

Hattori Hanzo, yang berdiri berlutut di dalam bayangan tiang tenda, menundukkan kepalanya. "Benar, Ieyasu-sama. Intelijen kita dari Oshu melaporkan bahwa klan Date baru saja menyelesaikan konflik internal mereka dengan klan Ashina. Masamune-dono masih ragu apakah harus memenuhi panggilan Tuan Kampaku ke Odawara atau memilih bertahan di utara."

Ieyasu menghela napas panjang, lalu terkekeh pelan seraya meletakkan gulungan kertas itu di atas meja kecil di samping cangkir tehmya.

"Masamune adalah naga muda yang bangga," tutur Ieyasu, mata kecilnya menyipit menatap peta wilayah Oshu di dinding tenda. "Dia merasa bahwa dengan menguasai seluruh utara, kedudukannya setara dengan Hideyoshi. Dia belum pernah merasakan dinginnya parang yang diletakkan persis di atas lehernya oleh Kuroda Kanbei."

"Apakah Hideyoshi-sama akan mengirimkan pasukan pembalasan ke Oshu jika Date Masamune tidak muncul di Odawara?" tanya Hanzo.

"Hideyoshi tidak perlu repot-repot mengirimkan pasukan ke utara," sahut Ieyasu seraya berdiri dan membetulkan letak jubah tempurnya. "Dua ratus ribu prajurit yang kini berkumpul di Sagami sudah cukup untuk membuat siapa pun di tanah Jepang berlutut. Jika Masamune terlambat satu langkah saja... kepalanya akan dijadikan hadiah kemenangan pertama dalam panggung pertunjukan Hideyoshi."

Ieyasu melangkah ke luar tenda komando, menatap barisan ribuan prajurit klan Tokugawa yang mulai bergerak menyusuri Jalur Tokaido menuju perbatasan Kanto.

Pergerakan klan Tokugawa menuju wilayah Kanto adalah sebuah mahakarya efisiensi militer yang dicatat oleh sejarah. Atas perintah langsung dari Toyotomi Hideyoshi dan petunjuk rincian logistik dari Kuroda Kanbei, lebih dari tiga puluh ribu prajurit Mikawa bergerak dalam disiplin besi.

Di bawah komando jenderal-jenderal kawakan klan Tokugawa seperti Honda Tadakatsu dan Sakakibara Yasumasa, barisan prajurit berjalan beriringan dengan rapi. Bendera-bendera bergambar lambang aoi dan panji-panji perang bertuliskan slogan buddhis 'Ikkoku Joju' berkibar gagah di antara barisan tombak panjang dan senapan tanegashima. Pedati-pedati pembawa pasokan beras, garam, serta amunisi ditarik oleh kuda-kuda kekar, melintasi celah-celah jalan pegunungan yang telah diperlebar sebelumnya oleh para pekerja klan Tokugawa.

Peran klan Tokugawa dalam Pengepungan Odawara sangatlah vital. Sebagai daimyo terbesar yang berbatasan langsung dengan wilayah Kanto, Ieyasu ditugaskan untuk menjadi pembuka jalan—menyapu bersih pos-pos pertahanan terdepan klan Hojo di sepanjang perbatasan Sagami, serta memastikan bahwa seluruh jaringan logistik dari Kansai dapat mengalir tanpa hambatan menuju markas utama Toyotomi di Gunung Ishigaki.

Namun di balik kepatuhan yang ditunjukkannya secara terbuka, Ieyasu bermain dalam permainan yang jauh lebih dalam.

Setiap kilometer tanah Kanto yang dilalui oleh pasukannya dicatat dengan cermat oleh para juru tulis dan shinobi Iga yang menyamar di dalam barisan. Jalur sungai, kesuburan tanah, kekuatan benteng-benteng satelit Hojo, hingga suasana hati rakyat pedesaan Kanto dipetakan dengan detail yang luar biasa. Ieyasu tahu apa yang belum disadari oleh banyak orang: Hideyoshi bermaksud memindahkan wilayah kekuasaan klan Tokugawa dari Mikawa ke Kanto setelah klan Hojo dihancurkan. Pergerakan pasukan ini bukan sekadar tugas militer, melainkan persiapan awal untuk menguasai calon wilayah barunya.

Sementara itu, jauh di utara, di dalam Istana Aizu-Kurokawa yang baru saja direbutnya, Date Masamune duduk termangu di depan perapian besar.

Pria muda berusia dua puluh tiga tahun itu dikenal dengan julukan Dokuganryu—Naga Satu Mata dari Oshu—akibat mata kanannya yang buta dan ditutupi kain hitam sejak kecil. Masamune mengenakan jubah perang mewah berwarna hitam pekat dengan ukiran bulan sabit emas raksasa di atas pelindung kepalanya. Wajahnya yang tampan dipenuhi kegelisahan dan kemarahan yang tertahan.

Di sekelilingnya, para penasihat dan jenderal klan Date sedang berdebat sengit.

"Kita tidak boleh tunduk pada mantan pembawa sandal itu!" seru Katakura Kojuro, penasihat terpercaya Masamune, suaranya lantang memecah keheningan ruangan. "Klan Date baru saja menyatukan Oshu. Jika kita pergi ke Odawara dan berlutut di depan Hideyoshi, seluruh wilayah yang kita rebut dengan darah prajurit kita akan disita oleh istana!"

"Tapi Kojuro-dono!" sela Date Shigezane, sepupu Masamune. "Dua ratus ribu prajurit Toyotomi kini berada di Sagami! Kuroda Kanbei telah mengunci seluruh jalur laut dan darat. Jika kita menolak panggilan perang ini, klan Toyotomi akan menjadikan klan Date sebagai target berikutnya setelah Hojo runtuh! Kita tidak akan sanggup menahan gempuran seluruh Jepang!"

Masamune mendengarkan perdebatan itu dengan gigi terkerak. Jarinya menepuk-nepuk gagang katananya dengan gelisah.

Di satu sisi, harga dirinya sebagai penguasa utara memberontak saat harus membungkuk di hadapan Toyotomi Hideyoshi—seorang pria dari kalangan rakyat jelata yang merebut kekuasaan lewat intrik dan kelicikan. Masamune merasa bahwa jika saja ia lahir sepuluh tahun lebih awal, dialah yang akan bertarung merebut kekuasaan tertinggi di Kyoto, bukan Hideyoshi.

Namun di sisi lain, logika militernya menyadari kenyataan pahit: klan Date kalah jumlah, kalah amunisi, dan terisolasi di utara.

"Cukup!" bentak Masamune, berdiri dari duduknya. Seluruh jenderal di ruangan itu seketika bungkam dan menundukkan kepala.

"Panggil utusan dari Mikawa," perintah Masamune, mata kirinya yang tersisa memancarkan kilatan tajam. "Aku ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Tokugawa Ieyasu sebelum aku mengambil keputusan."

Empat hari kemudian, sebuah pertemuan rahasia berlangsung di sebuah kuil tua di perbatasan Provinsi Shimotsuke dan Musashi.

Date Masamune, hanya dikawal oleh Katakura Kojuro dan lima prajurit pilihan, berkuda secara sembunyi-sembunyi untuk menemui Tokugawa Ieyasu yang sedang beristirahat di sela-sela mobilisasi pasukannya menuju Odawara.

Atmosfer di dalam aula kuil tua itu sangat tegang. Masamune melangkah masuk dengan gaya angkuh yang khas—dada terbusung, pedang panjang terikat di pinggang, dan pelindung kepala bulan sabit emasnya berkilat ditimpa sinar matahari sore.

Di ujung ruangan, Tokugawa Ieyasu duduk bersila di atas tikar jerami sederhana. Ia tidak mengenakan baju zirah mewah, melainkan jubah kain katun biasa yang kusam. Di sampingnya, Hattori Hanzo berdiri seperti patung hitam yang tak bernyawa.

"Kau tampak sangat gelisah untuk seseorang yang dijuluki Naga dari Oshu, Masamune-dono," menyapa Ieyasu dengan senyuman ramah yang menenangkan.

Masamune duduk di hadapan Ieyasu tanpa membuang waktu untuk formalitas berbelit-belit. "Ieyasu-dono, aku datang bukan untuk mendengarkan ejekan. Seluruh Jepang tahu kau adalah jenderal paling senior di antara para daimyo. Beritahu aku... apakah aku harus pergi ke Odawara?"

Ieyasu menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen di depannya, lalu menyodorkannya ke arah Masamune.

"Minumlah dulu," kata Ieyasu tenang. "Jalan dari Aizu sangat panjang dan dingin."

Masamune menatap cangkir teh itu sejenak, lalu meminumnya dalam satu tegukan besar. "Hideyoshi menuntut aku membawa seluruh pasukan klan Date ke Odawara. Namun dia tidak memberi jaminan bahwa wilayahku di Oshu tidak akan dikurangi. Jika aku pergi, aku menyerahkan leherku. Jika aku bertahan, aku memicu perang dengan dua ratus ribu orang."

Ieyasu terkekeh pelan, mengusap janggut tipisnya. "Kau mengingatkanku pada diriku sendiri sewaktu muda, Masamune. Dulu, ketika Oda Nobunaga-sama memanggilku ke Azuchi, aku juga merasakan ketakutan yang sama. Kebanggaan kita sebagai penguasa sering kali membuat mata kita buta terhadap skala kekuatan di depan kita."

Masamune menyipitkan matanya. "Kau menyuruhku menyerah?"

"Aku menyuruhmu untuk hidup," potong Ieyasu, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dalam dan berbobot, melenyapkan kesan ramah yang tadi ditunjukkannya.

Ieyasu condong ke depan, menatap tepat ke mata kiri Masamune yang tajam.

"Hideyoshi saat ini bukan lagi sekadar seorang jenderal," terang Ieyasu dengan nada berbisik yang berat. "Dia adalah Kampaku. Dia memegang stempel Kaisar dan komando atas seluruh prajurit di tanah ini. Di sampingnya ada Kuroda Kanbei—seorang pria yang sanggup menghancurkan klanmu hanya dengan selembar kertas dan beberapa keping emas untuk menyuap musuh-musuhmu di Oshu."

"Tapi aku adalah kepala klan Date!" bentak Masamune, tangannya mencengkeram lututnya sendiri. "Bagaimana mungkin aku berlutut di hadapan pria yang dulu membawa sandal Nobunaga-sama?!"

"Lalu apa gunanya kebanggaan klan Date jika kepala seluruh keluargamu dipajang di gerbang Jurakudai?" balas Ieyasu dingin.

Pertanyaan itu menghantam Masamune bagaikan tamparan keras. Pria muda itu membeku, bibirnya terkatup rapat.

Ieyasu menghela napas panjang, tatapannya melunak kembali saat melihat keraguan yang mendalam di wajah jenderal muda tersebut.

"Dengarkan nasihatku baik-baik, Masamune," tutur Ieyasu lembut, seperti seorang ayah yang menasihati putranya. "Ketika kau bertemu dengan Hideyoshi di Odawara nanti... jangan datang sebagai seorang raja penakluk dari utara. Jangan kenakan jubah emasmu atau membawa pedang mahakaryamu."

Masamune mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Kenakan kain kafan putih," ujar Ieyasu, setiap kata meluncur dengan kepastian yang mengerikan. "Datanglah dengan pakaian duka seorang mayat. Biarkan rambutmu terurai tanpa diikat, dan bawalah sebuah tongkat kayu seperti seorang pengembara yang memohon ampun."

Katakura Kojuro yang berdiri di belakang Masamune tersentak kaget. "Ieyasu-sama! Itu adalah penghinaan terbesar bagi klan Date! Pangeran kami tidak bisa—"

"Diam, Kojuro!" potong Masamune pendek, melambaikan tangannya untuk membungkam penasihatnya. Masamune menatap Ieyasu dengan rasa heran yang mendalam. "Kain kafan putih...?"

"Hideyoshi adalah pria yang sangat haus akan pengakuan," jelas Ieyasu, senyuman tipis terukir di bibirnya. "Dia naik dari lapisan terbawah masyarakat menuju puncak kekuasaan. Hal yang paling disukainya di dunia ini bukanlah emas atau tanah... melainkan melihat para daimyo berdarah murni dari klan-klan tua berlutut menundukkan kepala di bawah telapak kakinya."

Ieyasu menyandarkan tubuhnya kembali. "Jika kau datang dengan pakaian tempur lengkap dan wajah menantang, Kanbei akan berbisik di telinga Hideyoshi untuk membunuhmu demi menghilangkan potensi pemberontakan di utara. Namun jika kau datang mengenakan kain kafan putih, memamerkan Lehermu yang siap dipenggal... kau sedang memberi Hideyoshi panggung untuk menunjukkan keluhuran budinya di hadapan seluruh daimyo Jepang."

Masamune terdiam. Otak jeniusnya mulai memproses kalkulasi politik di balik nasihat Ieyasu. Taktik itu terdengar sangat memalukan, namun secara psikologis, itu adalah satu-satunya cara untuk melumpuhkan ego Hideyoshi dan membuat Kuroda Kanbei kehilangan alasan untuk mengeksekusinya.

"Tundukkan kepalamu rendah-rendah, Masamune," lanjut Ieyasu dengan suara yang hampir tak terdengar. "Biarkan dahi menyentuh debu di depan panggung Hideyoshi. Biarkan dia tertawa, biarkan dia merasa bahwa dia telah menundukkan sang Naga Satu Mata. Menundukkan kepala bukan berarti kau patah... itu hanyalah cara agar kepalamu tetap menempel di leher saat badai melintas."

Masamune menatap Ieyasu dengan rasa takjub yang bercampur bulu kuduk berdiri. Di balik penampilan Ieyasu yang sederhana dan ramah, Masamune melihat kesabaran yang mengerikan—kesabaran dari seorang pria yang rela menelan penghinaan berulang kali demi menunggu momentum yang tepat untuk bangkit.

"Kau... kau sendiri melakukan hal yang sama pada Hideyoshi, bukan?" bisik Masamune.

Ieyasu hanya tersenyum samar, tidak mengiyakan maupun membantah. Ia mengangkat cangkir tehmya kembali.

"Pergilah ke Odawara, Masamune. Bawa pasukanmu, pakai kain kafan itu, dan biarkan Hideyoshi menikmati kemenangannya di Kanto. Dunia ini bergerak dalam lingkaran. Siapa yang berada di puncak hari ini... besok bisa jadi adalah abu di bawah telapak kaki kita."

Beberapa jam kemudian, Date Masamune dan Katakura Kojuro berkuda kembali menuju utara di bawah naungan malam yang kelam. Angin dingin Kanto meniup jubah hitam Masamune, mengibarkan lambang bulan sabit emasnya di kegelapan.

"Pangeran..." panggil Kojuro ragu dari atas kudanya. "Apakah kita benar-benar akan mengikuti nasihat Tokugawa Ieyasu? Apakah kita akan mengenakan pakaian duka itu di hadapan Hideyoshi?"

Masamune tidak langsung menjawab. Ia menengadah, menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit malam di atas tanah Sagami.

"Ieyasu adalah pria yang sangat mengerikan, Kojuro," kata Masamune, suaranya parau namun penuh kepastian baru. "Hideyoshi bertarung dengan api dan pedang... tapi Ieyasu bertarung dengan waktu. Dia mengajari kita bagaimana cara bertahan hidup di antara dua gajah yang sedang bertarung."

Masamune menarik tali kekang kudanya, mempercepat lajunya. "Siapkan kain kafan putih itu, Kojuro! Kita berangkat ke Odawara besok subuh!"

***

Sementara itu, di puncak Gunung Ishigaki yang menghadap langsung ke Benteng Odawara, Kuroda Kanbei berdiri di atas menara pengawas kayu yang baru saja selesai dibangun.

Di bawah sana, dalam jarak pandang mata, Benteng Odawara berdiri megah dengan tembok-tembok batu putihnya yang tebal dan parit-parit raksasa yang dialiri air laut. Klan Hojo di dalam benteng masih merasa aman, yakin bahwa benteng kekaisaran mereka tidak akan pernah bisa ditembus oleh pasukan dari barat.

Namun Kanbei tidak menatap benteng itu. Matanya yang tajam menatap ke arah jalur perbatasan utara.

"Apakah ada kabar dari Date Masamune?" tanya Kanbei pada seorang pembunuh Suppa yang berlutut di belakangnya.

"Intelijen melaporkan bahwa Masamune telah meninggalkan Aizu dan sedang bergerak menuju Odawara, Tuan Kanbei," jawab sang penyusup. "Dan dilaporkan bahwa ia sempat bertemu dengan Tokugawa Ieyasu dua hari lalu."

Kanbei menyipitkan matanya, mengusap tongkat kayunya perlahan. "Ieyasu..."

Kanbei tahu betul apa yang terjadi. Ieyasu baru saja menyelamatkan nyawa Date Masamune sekaligus mencegah terjadinya perang saudara di utara yang bisa mengacaukan skenario pengepungan Odawara.

"Ieyasu selalu tahu bagaimana cara menjaga agar papan catur tetap seimbang," gumam Kanbei pada dirinya sendiri. "Dia menyelamatkan Naga dari utara... bukan untuk Tuan Kampaku, melainkan untuk cadangan kekuatannya sendiri di masa depan."

Kanbei membalikkan badan, menatap ke arah ribuan perkemahan prajurit klan Toyotomi yang membakar malam di sepanjang pesisir Sagami. Raksasa dua ratus ribu prajurit kini telah sepenuhnya mengurung Odawara. Perang terbesar dalam sejarah unifikasi Jepang telah dimulai—sebuah pertempuran yang tidak hanya akan meruntuhkan klan Hojo, tetapi juga mematangkan benih-benih persaingan baru antara Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu.

Dan jauh di balik pegunungan di utara, di dalam kesunyian suci Gunung Kurama, Mumei kecil terus berlatih dalam diam, melangkah di atas bayangan zaman yang sedang bergeser dengan dahsyat.

1
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!