NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Ivy

Kehidupan Kedua Ivy

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nitaastri

Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.

Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.

Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.

Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Dengan tangan gemetar, dia membantu Edgar mengatur posisi duduknya, kemudian berpindah ke kursi pengemudi.

Setelah memastikan Edgar masih sadar, Ivy segera menyalakan mesin mobil.

Dia tidak peduli lagi pada kendaraan yang rusak ataupun kaca yang pecah. Yang ada di pikirannya hanya satu: membawa Edgar ke rumah sakit secepat mungkin.

"Edgar, bertahanlah! Kumohon, jangan tutup matamu!" kata Ivy panik saat dia melihat mata Edgar sedikit tertutup.

"Aku masih di sini, Ivy," kata Edgar lirih.

"Jangan tutup matamu! Kamu harus tetap sadar!" seru Ivy panik. Ia menggenggam tangan Edgar erat-erat, sementara tatapannya di penuhi kecemasan.

Edgar menoleh kepadanya dengan susah payah.

Melihat wajah Ivy yang basah oleh air mata, entah mengapa dia justru merasa sedikit lega.

Wanita itu benar-benar mengkhawatirkannya, bukan karena rasa kasihan, bukan pula karena merasa berutang budi.

Setidaknya, itulah yang terlihat dari caranya menangis dan berulang kali memanggil namanya.

Edgar ingin mengatakan sesuatu, tetapi rasa sakit yang tiba-tiba menyerang perutnya membuatnya mengerutkan kening.

Ivy langsung panik.

"Edgar!"

"Aku tidak apa-apa..." gumamnya lemah.

Namun, suaranya semakin pelan.

Ivy menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis sembari terus mengemudikan mobil menuju rumah sakit milik keluarga Falcon.

"Bertahanlah, Edgar. Aku tidak ingin kehilanganmu juga," kata Ivy lirih.

Suaranya bergetar menahan kecemasan, sementara genggaman pada tangan Edgar semakin erat. Ia menatap Edgar dengan mata berkaca-kaca, berharap pria itu tetap bertahan dan membuka matanya kembali.

Begitu tiba di rumah sakit, Ivy segera membunyikan klakson dan meminta pertolongan.

Beberapa petugas medis yang telah melihat kondisi Edgar langsung membawa brankar untuk mengevakuasinya.

"Tolong selamatkan dia!" seru Ivy dengan suara bergetar. "Dia terkena tembakan di perut dan bahunya!"

"Tenang, Nyonya. Kami akan segera menanganinya."

Para petugas medis membawa Edgar ke ruang penanganan darurat.

Ivy berusaha mengikuti mereka, tetapi seorang perawat menghentikannya sebelum pintu ruang tindakan tertutup.

"Maaf, Anda tidak bisa masuk. Silakan menunggu di luar."

"Tapi aku—"

"Nyonya, kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya."

Pintu ruang tindakan akhirnya tertutup.

Ivy berdiri terpaku di lorong rumah sakit.

Baru saat itulah dia menyadari betapa lemasnya kedua kakinya, dia berpegangan pada dinding lalu perlahan merosot ke kursi tunggu.

Kedua tangannya masih berlumuran darah Edgar.

Melihat noda merah itu, air matanya kembali mengalir.

"Ini semua salahku..."

Jika Edgar tidak bersamanya, apakah pria itu akan mengalami kejadian mengerikan tersebut?

Apakah para penyerang itu memang mengincar Edgar sejak awal? Atau justru keberadaannya membuat Edgar berada dalam bahaya?

Pikiran-pikiran itu terus menghantuinya, Ivy menundukkan kepala dan menangis dalam diam.

Dia tidak tahu siapa yang menyerang mereka, dia juga tidak tahu apakah para pria itu akan kembali. Yang dia tahu, Edgar telah terluka parah ketika berusaha melindunginya.

Dan dia tidak mampu melakukan apa pun untuk membantu pria itu. Tiga puluh menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong.

Seorang pria tua berusia sekitar tujuh puluh tahun berjalan tergesa-gesa, ditemani seorang wanita tua yang wajahnya juga dipenuhi kecemasan.

Mereka adalah Kakek James dan Nenek Veronica, tadi mereka menerima kabar kalau Edgar terluka.

Begitu melihat Ivy duduk sendirian di depan ruang tindakan, Nenek Veronica segera menghampirinya.

"Ivy, di mana Edgar?"

Ivy mengangkat wajahnya.

Begitu melihat kedua orang tua itu, dia tidak mampu menahan tangisnya lagi.

"Grandma.."

Nenek Veronica duduk di sampingnya dan menggenggam kedua tangannya.

"Apa yang terjadi? Kami mendapat kabar bahwa Edgar terluka! Siapa yang melakukan ini kepadanya?" tanya wanita tua itu dengan nada cemas.

Ivy mencoba menjawab, tetapi tenggorokannya terasa tercekat.

Kakek James berdiri di hadapan mereka, wajahnya tampak tegang, sementara sorot matanya menyimpan kecemasan yang sulit disembunyikan.

"Ivy, ceritakan semuanya kepada kami. Bagaimana Edgar bisa sampai terluka seperti itu?" Tanya pria tua di samping nenek Veronica dengan nada serius. Ia menatap Ivy lekat-lekat, menunggu penjelasan darinya. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran sekaligus ketidaksabaran untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Ivy menundukkan kepala.

"M-maafkan aku..." ucap Ivy terbata-bata. Ia menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya mengepal erat. Suaranya bergetar menahan kesedihan, dan matanya kembali berkaca-kaca saat rasa bersalah menyelimuti hatinya.

Nenek Veronica mengerutkan keningnya.

"Kenapa kau meminta maaf, Nak?" Tanya Nenek Veronica, dia tidak menyalahkan Ivy. Karena tanpa ada Ivy pun hidup Edgar memang selalu dalam bahaya. Dia sangat tau itu, musuh keluarga mereka terlalu banyak bahkan kecelakaan yang menewaskan anak dan menantunya dulu juga akibat ulah salah satu musuh keluarga mereka.

Air mata Ivy kembali jatuh, dia menggenggam tangan Veronika erat-erat seolah-olah hanya itulah yang bisa membuatnya tetap bertahan.

"Maafkan aku, grandma... Aku tidak bisa melindungi Edgar..." ucap Ivy lirih. Kepalanya tertunduk, sementara air mata mulai menggenang di sudut matanya. Suaranya bergetar menahan kesedihan, seolah ia mengalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi pada Edgar.

"Dia terluka karena aku. Aku melihat semuanya, tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak bisa meminta pertolongan karena ponselku mati," ujar Ivy dengan suara yang semakin bergetar. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang semakin sulit di bendung. Kepalanya tertunduk, sementara air mata perlahan membasahi pipinya.

"Kalau saja aku bisa melakukan sesuatu... kalau saja aku bisa membantunya..." Lanjutnya. Air mata mengalir semakin deras, sementara kedua tangannya mengepal erat du pangkuannya.

"Aku benar-benar minta maaf..." Ucap Ivy lirih. Ia menggenggam tangannya sendiri erat-erat, tak mampu mengangkat wajahnya karena rasa bersalah yang begitu besar.

Nenek Veronica terdiam mendengar pengakuan itu. Dia memandangi gadis muda di hadapannya yang menangis seolah-olah seluruh kesedihannya telah menumpuk di dalam dadanya dan seolah-olah kejadian yang menimpa Edgar adalah kesalahannya, padahal itu semua tidak ada hubungannya dengannya.

Kemudian, tanpa banyak bicara, nenek Veronica menarik Ivy ke dalam pelukannya.

"Sudahlah, Nak. Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ujar nenek Veronica lembut. Ia mengusap bahu Ivy dengan penuh kasih sayang, berusaha menenangkan gadis yang masih larut dalam kesedihan itu.

"Tapi, Nek..."

Ivy mengangkat wajahnya yang penuh dengan air mata, seolah masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

"Kau tidak perlu meminta maaf karena sesuatu yang bukan kesalahanmu," ujar nenek Veronika lembut. Ia mengusap kepala Ivy dengan penuh kasih sayang, berusaha meredakan kesedihan yang menyelimuti gadis itu. "Kau sudah melakukan apa yang kau bisa. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.

Ivy menggelengkan kepalanya sambil menangis.

"Aku takut, grandma. Aku sangat takut ketika melihat darahnya. Aku pikir... aku pikir Edgar akan meninggalkanku," ucap Ivy terbata-bata. Tubuhnya bergetar saat mengingat kejadian itu, sementara air mata kembali mengalir membasahi pipinya. Ia mencengkram erat pakaian sang nenek, seolah baru merasa tenang setelah mendapatkan tempat untuk bersandar.

Kalimat yang di ucapkan Ivy itu membuat nenek Veronica terdiam sesaat.

Sementara itu, Kakek James mengepalkan tangannya. Ini semua salahnya, seandainya dia menjadi orang biasa mungkin anak dan cucunya tidak akan selalu berada dalam bahaya. Dia lalu menatap istrinya dengan tatapan sedih, bahkan sampai detik ini dia belum bisa mengatakan siapa dalang di balik kematian anak dan menantu mereka. Namun kini, cucu mereka kembali dalam bahaya.

"Aku yakin orang yang menyerang Edgar bukan orang sembarangan," kata nenek Veronica dengan suara berat. Dia menatap suaminya dengan tatapan yang di penuhi kesedihan. "Aku ingin tahu siapa orang yang sudah berani menyerang cucuku."

Tatapan pria tua itu berubah dingin saat mendengar perkataan istrinya itu.

Keluarga Falcon bukan keluarga sembarangan. Mereka memiliki pengaruh dan kekuatan yang membuat banyak orang berpikir berkali-kali sebelum berani mencari masalah dengan mereka.

Namun, seseorang baru saja menyerang Edgar secara terang-terangan.

Dan yang lebih mengkhawatirkan, serangan itu terjadi ketika Edgar sedang bersama Ivy.

Kakek James lalu menoleh kepada Ivy.

"Apakah kau mengenali salah satu dari mereka?" Tanya kakek James dengan nada serius. Ia menatap Ivy dengan seksama, berharap gadis itu dapat memberikan petunjuk mengenai orang-orang yang telah melukai cucunya, Edgar.

Ivy perlahan melepaskan diri dari pelukan nenek Veronica, lalu menggelengkan kepala.

"Tidak, Grandpa. Wajah mereka tertutup. Aku tidak tahu siapa mereka atau mengapa mereka menyerang kami," jawabnya sambil menggelengkan kepala. Dahinya berkerut, sementara tatapannya menunjukkan kebingungan.

"Apakah Edgar sempat mengatakan sesuatu?" Tanya kakek James dengan raut wajah serius. Tatapannya tertuju pada Ivy, seolah berharap mendapatkan petunjuk yang bisa menjelaskan alasan di balik serangan tersebut.

Ivy mencoba mengingat kejadian tadi.

"Dia hanya menyuruhku mengunci pintu mobil dan tidak keluar. Setelah itu, dia menghadapi mereka sendirian."

Kakek James terdiam.

Edgar menghadapi tujuh orang bersenjata seorang diri demi melindungi Ivy.

Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa serangan tersebut bukan kejadian biasa.

"Baiklah," ucapnya akhirnya. "Kita tunggu sampai Edgar sadar. Aku ingin mendengar langsung darinya mengenai apa yang sebenarnya terjadi."

Nenek Veronica kembali menggenggam tangan Ivy.

"Untuk sekarang, kau harus menenangkan dirimu terlebih dahulu. Edgar sedang ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit ini."

Ivy mengangguk lemah, tetapi matanya terus tertuju pada pintu ruang tindakan.

Dia hanya ingin Edgar keluar dari ruangan itu dalam keadaan selamat.

Dia ingin mendengar pria itu berbicara lagi, melihat senyum tipisnya, dan memastikan bahwa dia benar-benar baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang tindakan masih belum terbuka.

Ivy kembali meremas kedua tangannya.

Dalam hati, dia berdoa agar Edgar bisa melewati semua ini.

Karena tanpa disadarinya, pria yang selama ini berdiri di sisinya perlahan telah menjadi seseorang yang sangat berharga bagi dirinya.

Dan jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Edgar, Ivy tidak tahu apakah hatinya akan sanggup menanggung kehilangan itu sekali lagi.

Bersambung

1
Mundri Astuti
kamu tanya Selena ..mana mau ngaku...dah bener kamu selidiki sendiri...jangan syokkk yakkk ntar 😛
Naru_Ch@n: Dia dapat karma🤣🤣🤣
total 1 replies
Mundri Astuti
mudah"an bukan anaknya Mateo yg dikandung Mak lampir...tapi dah gitu masih aja bodoh yak..si Mateo...mkn dah tuh cinta ..😛
Naru_Ch@n: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Mundri Astuti
yeee si Mateo teh belum kismin ...pantes si ulet Keket ga pergi"
Naru_Ch@n: Iya soalnya di tolong sama sahabat bapaknya 🤭
total 1 replies
Mundri Astuti
biar rasa ...dah ngelawan ortunya lagi
Naru_Ch@n: Demi cinta🤭
total 1 replies
Isya Lily
Semangat
Hendra02
Semangat ya👍
Hendra02
Untung cerai🤭
Hendra02
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Iva_
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Siti Isya
Thor lanjut dong🥹
Anisa
Lanjut thor💪👍
Itha Ast
Lanjut dong thor🙏
Anisa
Lanjut lanjut...
Semangat terus thor👍👍👍
Anisa
Ceritanya ku suka, lanjut terus ya thor....
Semangat
Siti Isya
Lanjut dong thor💪
Double up ya🤭🤭
Isya Lily
Tetap Semangat ya
Isya Lily
Lanjut thor
Isya Lily
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Isya Lily
Dasar Edgar 🤭🤭🤭
Isya Lily
Pokoknya kamu harus selalu jagain Ivy ya Edgar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!