Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Kepanikan Ivy
Dengan tangan gemetar, dia membantu Edgar mengatur posisi duduknya, kemudian berpindah ke kursi pengemudi.
Setelah memastikan Edgar masih sadar, Ivy segera menyalakan mesin mobil.
Dia tidak peduli lagi pada kendaraan yang rusak ataupun kaca yang pecah. Yang ada di pikirannya hanya satu: membawa Edgar ke rumah sakit secepat mungkin.
"Edgar, bertahanlah. Kumohon, jangan tutup matamu!" Kata Ivy panik saat dia melihat mata Edgar sedikit tertutup.
"Aku masih di sini, Ivy." Kata Edgar lirih.
"Jangan tutup matamu! Kamu harus tetap sadar!" Ucap Ivy.
Edgar menoleh kepadanya dengan susah payah.
Melihat wajah Ivy yang basah oleh air mata, entah mengapa dia justru merasa sedikit lega.
Wanita itu benar-benar mengkhawatirkannya, bukan karena rasa kasihan, bukan pula karena merasa berutang budi.
Setidaknya, itulah yang terlihat dari caranya menangis dan berulang kali memanggil namanya.
Edgar ingin mengatakan sesuatu, tetapi rasa sakit yang tiba-tiba menyerang perutnya membuatnya mengerutkan kening.
Ivy langsung panik.
"Edgar!"
"Aku tidak apa-apa..." gumamnya lemah.
Namun, suaranya semakin pelan.
Ivy menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis sembari terus mengemudikan mobil menuju rumah sakit milik keluarga Falcon.
"Bertahanlah, Edgar. Aku tidak ingin kehilanganmu juga." Kata Ivy lirih.
Begitu tiba di rumah sakit, Ivy segera membunyikan klakson dan meminta pertolongan.
Beberapa petugas medis yang telah melihat kondisi Edgar langsung membawa brankar untuk mengevakuasinya.
"Tolong selamatkan dia!" seru Ivy dengan suara bergetar. "Dia terkena tembakan di perut dan bahunya!"
"Tenang, Nyonya. Kami akan segera menanganinya."
Para petugas medis membawa Edgar ke ruang penanganan darurat.
Ivy berusaha mengikuti mereka, tetapi seorang perawat menghentikannya sebelum pintu ruang tindakan tertutup.
"Maaf, Anda tidak bisa masuk. Silakan menunggu di luar."
"Tapi aku—"
"Nyonya, kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya."
Pintu ruang tindakan akhirnya tertutup.
Ivy berdiri terpaku di lorong rumah sakit.
Baru saat itulah dia menyadari betapa lemasnya kedua kakinya, dia berpegangan pada dinding lalu perlahan merosot ke kursi tunggu.
Kedua tangannya masih berlumuran darah Edgar.
Melihat noda merah itu, air matanya kembali mengalir.
"Ini semua salahku..."
Jika Edgar tidak bersamanya, apakah pria itu akan mengalami kejadian mengerikan tersebut?
Apakah para penyerang itu memang mengincar Edgar sejak awal? Atau justru keberadaannya membuat Edgar berada dalam bahaya?
Pikiran-pikiran itu terus menghantuinya, Ivy menundukkan kepala dan menangis dalam diam.
Dia tidak tahu siapa yang menyerang mereka, dia juga tidak tahu apakah para pria itu akan kembali. Yang dia tahu, Edgar telah terluka parah ketika berusaha melindunginya.
Dan dia tidak mampu melakukan apa pun untuk membantu pria itu. Tiga puluh menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong.
Seorang pria tua berusia sekitar tujuh puluh tahun berjalan tergesa-gesa, ditemani seorang wanita tua yang wajahnya juga dipenuhi kecemasan.
Mereka adalah Kakek James dan Nenek Veronica, tadi mereka menerima kabar kalau Edgar terluka.
Begitu melihat Ivy duduk sendirian di depan ruang tindakan, Nenek Veronica segera menghampirinya.
"Ivy, di mana Edgar?"
Ivy mengangkat wajahnya.
Begitu melihat kedua orang tua itu, dia tidak mampu menahan tangisnya lagi.
"Granma.."
Nenek Veronica duduk di sampingnya dan menggenggam kedua tangannya.
"Apa yang terjadi? Kami mendapat kabar bahwa Edgar terluka. Siapa yang melakukan ini kepadanya?"
Ivy mencoba menjawab, tetapi tenggorokannya terasa tercekat.
Kakek James berdiri di hadapan mereka, wajahnya tampak tegang, sementara sorot matanya menyimpan kecemasan yang sulit disembunyikan.
"Ivy, ceritakan semuanya kepada kami, bagaimana Edgar bisa sampai terluka seperti itu?" Tanya Kakek James.
Ivy menundukkan kepala.
"M-maafkan aku..." cicit Ivy.
Nenek Veronika mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau meminta maaf, Nak?" Tanya Nenek Veronica, dia tidak menyalahkan Ivy. Karena tanpa ada Ivy pun hidup Edgar memang selalu dalam bahaya. Dia sangat tau itu, musuh keluarga mereka terlalu banyak bahkan kecelakaan yang menewaskan anak dan menantunya dulu juga akibat ulah salah satu musuh keluarga mereka.
Air mata Ivy kembali jatuh, dia menggenggam tangan Veronika erat-erat seolah-olah hanya itulah yang bisa membuatnya tetap bertahan.
"Maafkan aku, granma... Aku tidak bisa melindungi Edgar." Kata Ivy, suaranya bergetar hebat.
"Dia terluka karena aku, aku melihat semuanya, tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak bisa meminta pertolongan karena ponselku mati..." Kata Ivy sambil terisak.
"Kalau saja aku bisa melakukan sesuatu... kalau saja aku bisa membantunya..." Lanjutnya.
Dia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku benar-benar minta maaf..." Lirih Ivy.
Nenek Veronika terdiam mendengar pengakuan itu. Dia memandangi gadis muda di hadapannya yang menangis seolah-olah seluruh kesedihannya telah menumpuk di dalam dadanya dan seolah-olah kejadian yang menimpa Edgar adalah kesalahannya, padahal itu semua tidak ada hubungannya dengannya.
Kemudian, tanpa banyak bicara, nenek Veronika menarik Ivy ke dalam pelukannya.
"Sudah, Nak. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
"Tapi, Nek..."
"Kau tidak perlu meminta maaf karena sesuatu yang bukan kesalahanmu." Kata nenek Veronika lembut, dia mengelus rambut Ivy dengan penuh kasih sayang.
Ivy menggelengkan kepalanya sambil menangis.
"Aku takut, granma. Aku sangat takut ketika melihat darahnya. Aku pikir... aku pikir Edgar akan meninggalkanku..." Lirih Ivy sedih.
Kalimat itu membuat nenek Veronika terdiam sesaat.
Sementara itu, Kakek James mengepalkan tangannya. Ini semua salahnya, seandainya dia tidak pernah menjadi mafia anak dan cucunya tidak akan hidup dalam bahaya seperti ini. Dulu dia sudah membubarkan organisasi itu, tapi Edgar membentuknya lagi dan itu semua karena musuh-musuh lama mereka terus mengincar keselamatan mereka. Jadi satu-satunya jalan hanya melawan balik dan kakek James tidak akan membiarkan orang yang sudah melukai Edgar berkeliaran bebas di luar sana.
"Aku yakin orang yang menyerang Edgar bukan orang sembarangan," katanya dengan suara berat. "Aku ingin tahu siapa orang yang sudah berani menyerang cucuku."
Tatapan pria tua itu berubah dingin.
Keluarga Falcon bukan keluarga sembarangan. Mereka memiliki pengaruh dan kekuatan yang membuat banyak orang berpikir berkali-kali sebelum berani mencari masalah dengan mereka.
Namun, seseorang baru saja menyerang Edgar secara terang-terangan.
Dan yang lebih mengkhawatirkan, serangan itu terjadi ketika Edgar sedang bersama Ivy.
James menoleh kepada Ivy.
"Apakah kau mengenali salah satu dari mereka?"
Ivy perlahan melepaskan diri dari pelukan Veronika, lalu menggelengkan kepala.
"Tidak, granoa. Wajah mereka tertutup, aku tidak tahu siapa mereka atau mengapa mereka menyerang kami."
"Apakah Edgar sempat mengatakan sesuatu?"
Ivy mencoba mengingat kejadian tadi.
"Dia hanya menyuruhku mengunci pintu mobil dan tidak keluar. Setelah itu, dia menghadapi mereka sendirian."
Kakek James terdiam.
Edgar menghadapi tujuh orang bersenjata seorang diri demi melindungi Ivy.
Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa serangan tersebut bukan kejadian biasa.
"Baiklah," ucapnya akhirnya. "Kita tunggu sampai Edgar sadar. Aku ingin mendengar langsung darinya mengenai apa yang sebenarnya terjadi."
Nenek Veronika kembali menggenggam tangan Ivy.
"Untuk sekarang, kau harus menenangkan dirimu terlebih dahulu. Edgar sedang ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit ini."
Ivy mengangguk lemah, tetapi matanya terus tertuju pada pintu ruang tindakan.
Dia hanya ingin Edgar keluar dari ruangan itu dalam keadaan selamat.
Dia ingin mendengar pria itu berbicara lagi, melihat senyum tipisnya, dan memastikan bahwa dia benar-benar baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang tindakan masih belum terbuka.
Ivy kembali meremas kedua tangannya.
Dalam hati, dia berdoa agar Edgar bisa melewati semua ini.
Karena tanpa disadarinya, pria yang selama ini berdiri di sisinya perlahan telah menjadi seseorang yang sangat berharga bagi dirinya.
Dan jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Edgar, Ivy tidak tahu apakah hatinya akan sanggup menanggung kehilangan itu sekali lagi.
Bersambung