Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Deru mesin SUV hitam metalik milik Tian membelah jalanan kota yang mulai merayap padat oleh kendaraan kaum urban di pagi hari. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, atmosfer mendadak terasa begitu dingin dan kaku. Hal itu bukan karena pendingin ruangan yang disetel terlalu rendah, melainkan karena aura intimidatif yang dipancarkan oleh sang pengemudi.
Ini adalah kali pertama dalam hidup Hanum berada di dalam satu ruangan yang sempit dan tertutup hanya berdua saja dengan Tian. Selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keluarga Mahardika, interaksi mereka sangat minim. Mereka hanya bertemu saat acara makan malam keluarga besar atau perayaan hari raya. Itu pun Tian selalu memilih untuk duduk di sudut ruangan, menjauh dari hiruk-pikuk dan hanya berbicara seperlunya jika memang sangat penting.
Sebenarnya, tadi subuh Hanum sudah berniat untuk pergi ke hotel tempat papa mertuanya menginap dengan menggunakan mobilnya sendiri yang dikemudikan oleh sopir pribadi. Dia sama sekali tidak ingin merepotkan siapa pun di keluarga itu, terlebih pria sedingin Tian. Namun, niat mandiri itu langsung dipatahkan secara mutlak melalui sambungan telepon oleh sang papa mertua. Pria paruh baya itu melarang keras Hanum menyetir sendiri atau pergi sendirian dalam kondisi emosi yang belum sepenuhnya stabil pasca-perceraian. Dengan tegas, beliau memerintahkan Tian untuk menjemputnya langsung di depan teras rumah. Di keluarga Mahardika, perintah sang papa adalah hukum mutlak yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun, bahkan oleh Tian sekalipun.
Hanum melirik sekilas dari sudut matanya ke arah pria yang duduk tenang di balik kemudi. Profil samping wajah Tian tampak begitu tegas, lurus menatap ke depan tanpa ada niat untuk menoleh sedikit pun. Kedua tangannya yang kekar mencengkeram setir mobil dengan santai namun mantap. Rahangnya yang kokoh tampak mengeras, dan bibirnya terkatup rapat, membentuk satu garis lurus yang seolah memberi sinyal tegas kepada siapa saja untuk tidak mengajaknya berbicara.
Melihat pemandangan itu, Hanum hanya bisa menghela napas panjang di dalam hati. Dia benar-benar bisa merasakan secara langsung mengapa di kalangan kolega bisnis maupun keluarga besar, Tian dijuluki sebagai sosok monster dingin yang tak tersentuh. Karisma kuat yang keluar dari tubuh pria itu begitu pekat, sanggup membuat siapa saja yang duduk di sampingnya merasa tertekan, canggung, dan serba salah.
Namun, di tengah kecanggungan yang merayap itu, satu hal yang selalu membuat Hanum bingung adalah transformasi sikap Tian jika sudah berhadapan dengan kedua anak kembarnya, Kayla dan Kenzie. Jujur, Hanum sering kali dibuat terheran-heran. Bagaimana bisa seorang laki-laki yang terkenal sangat pendiam, dingin, kaku, dan seolah tidak punya hati seperti Tian, bisa seketika melunak menjadi sosok yang hangat dan sangat protektif saat berkumpul dengan si kembar?
Hanum masih ingat betul bagaimana mata tajam yang biasanya menatap dingin itu bisa memancarkan binar jenaka saat mendengarkan cerita tidak masuk akal dari Kenzie tentang mainan robotnya. Tangan kekar yang sanggup menghancurkan karier bisnis lawan dalam sekejap itu juga bisa dengan begitu lembut dan sabar merapikan jepitan rambut Kayla yang miring. Bagi Tian, kedua keponakan tirinya yang tidak sedarah itu seolah-olah menjadi sebuah wilayah suci yang tidak boleh disakiti atau disentuh oleh kejahatan siapa pun di dunia ini, bahkan termasuk oleh ayah kandung mereka sendiri, Hanif.
Ciiittt...
Lamunan Hanum seketika buyar ketika tubuhnya sedikit terdorong ke depan akibat mobil yang melambat dengan halus, sebelum akhirnya berhenti total di bahu jalan. Hanum mengerutkan keningnya, mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya kembali. Dia menoleh ke arah depan, mengira mereka sudah sampai di hotel tempat papa mertuanya menginap.
Namun, dugaannya salah besar. Di luar sana, bangunan yang berdiri kokoh bukanlah sebuah lobi hotel bintang lima, melainkan sebuah ruko berdesain klasik Eropa yang sangat familier di ingatan Hanum.
Sebelum Hanum sempat membuka mulut untuk bertanya, Tian sudah bergerak lebih cepat. Tanpa berbicara sepatah kata pun bahkan tanpa menatap atau memberi kode sedikit pun pada Hanum pria itu langsung mematikan mesin mobil, melepas sabuk pengamannya, dan melangkah keluar dari pintu kemudi dengan gerakan yang teratur.
Hanum hanya bisa terpaku di tempat duduknya, menatap punggung tegap Tian yang berjalan cepat menyeberangi trotoar dan mendorong pintu kaca ruko tersebut hingga terdengar denting bel kecil dari kejauhan. Hanum memperhatikan papan nama besar yang tergantung di atas ruko tersebut dengan saksama. Le Petit Plaisir Patisserie.
Jantung Hanum berdesir halus. Dia baru sadar bahwa toko kue yang baru saja dimasuki oleh Tian adalah toko kue premium langganannya sendiri. Toko kue itu adalah tempat di mana Hanum selalu memesan camilan dan kue kering khusus untuk kedua anak kembarnya setiap akhir pekan. Kue-kue di sana terkenal dengan bahan organik dan rendah gula, sangat cocok untuk konsumsi Kayla dan Kenzie yang memiliki pencernaan cukup sensitif.
Bagaimana Tian bisa tahu toko kue ini? Rasa bingung Hanum kian bertambah. Selama ini, Tian berada di luar negeri, dan Hanum tidak pernah sekalipun menceritakan atau mengirimkan pesan kepada pria itu mengenai detail kecil seperti toko kue langganan anak-anaknya. Satu-satunya kemungkinan adalah Tian diam-diam mencari tahu sendiri atau dia sengaja memperhatikan setiap detail kecil yang disukai oleh keponakan kembarnya itu melalui laporan orang-orang kepercayaannya.
Hanum terus memperhatikan dari dalam kaca mobil yang gelap. Di dalam toko yang bernuansa hangat itu, sosok Tian terlihat sangat kontras dan mencolok. Tubuh tinggi atletisnya yang dibalut kemeja biru dongker mahal berdiri tegak di depan etalase kaca, sementara seorang pelayan toko tampak membungkuk hormat berkali-kali dengan wajah yang agak tegang karena terintimidasi oleh wajah kaku Tian. Pria itu menunjuk beberapa menu dengan gerakan tangan yang efisien, lalu mengeluarkan kartu kredit hitamnya untuk melakukan pembayaran tanpa banyak drama.
Tidak butuh waktu lama, sekitar lima menit kemudian, pintu kaca toko kue itu kembali terbuka. Tian keluar dari dalam toko dengan langkah kaki yang lebar dan mantap. Di tangan kanan Tian kini sudah bertengger sebuah kantong kertas berlogo toko kue tersebut dengan ukuran yang cukup besar.
Tian membuka pintu kemudi, memasukkan tubuh tegapnya kembali ke dalam kabin mobil, lalu meletakkan kantong kertas tersebut di jok kursi belakang dengan sangat hati-hati, memastikan agar kotak di dalamnya tidak terguncang atau rusak. Aroma harum dari mentega premium dan vanila segar seketika menyeruak, memenuhi rongga dada di dalam mobil, sedikit mencairkan atmosfer dingin yang sempat pekat tadi.
Setelah memastikan barang bawaannya aman, Tian kembali memasang sabuk pengamannya dengan gerakan tenang. Dia memutar kunci kontak, menyalakan kembali mesin SUV besarnya, bersiap untuk melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
Hanum yang menyaksikan seluruh rangkaian kejadian itu dari awal hingga akhir tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Di tengah keheningan yang kembali merayap, wanita anggun itu memberanikan diri untuk membuka suara.
"Kak Tian..." panggil Hanum lembut, suaranya terdengar sangat kontras dengan kesunyian kabin.
Tian tidak menyahut dengan kata-kata, namun dia melirik sekilas dari sudut matanya, memberi tanda bahwa dia mendengarkan.
"Itu... kue untuk Kayla dan Kenzie, ya?" tanya Hanum sambil menunjuk pelan ke arah jok belakang dengan dagunya. Sebuah senyuman tulus tak bisa disembunyikan dari wajah cantiknya. "Kakak tahu dari mana kalau mereka berdua sangat suka croissant cokelat dan macaron dari toko itu? Padahal seingatku aku tidak pernah menceritakannya pada Kakak."
Tian diam selama beberapa detik, memutar kemudi dengan satu tangan untuk membawa mobil kembali masuk ke dalam lajur jalan raya utama. Wajahnya tetap datar, kaku, tanpa ekspresi manis sedikit pun seolah-olah pertanyaan Hanum barusan hanyalah angin lalu.
"Anak-anakmu itu berisik jika sedang lapar," jawab Tian akhirnya dengan nada suara yang sangat lempeng, dingin, dan sarat akan gengsi khasnya. "Kemarin malam di hotel, mereka terus-menerus merengek menyebut nama toko kue itu sampai membuat telinga saya sakit. Daripada saya harus mendengar tangisan mereka sepanjang hari ini, lebih baik saya membelinya sekarang sebelum menjemput mereka."
Mendengar jawaban yang terdengar ketus namun sebenarnya penuh perhatian itu, Hanum tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh pelan. Dia tahu betul bahwa kalimat membuat telinga saya sakit hanyalah topeng atau alasan yang sengaja dibuat oleh Tian untuk menutupi rasa sayangnya yang teramat besar kepada si kembar.
"Terima kasih banyak ya, Kak," ucap Hanum tulus, tatapan matanya melembut menatap profil samping pria di sampingnya. "Meskipun Kakak selalu bicara ketus, aku tahu Kak Tian sangat menyayangi mereka berdua. Ketulusan Kakak dan Papa mengobati banyak rasa sakit di hati aku hari ini."
Tian tidak membalas ucapan terima kasih itu. Dia hanya terus menatap lurus ke depan. Namun, jika Hanum memperhatikan dengan lebih jeli, cengkeraman tangan Tian di setir mobil tampak sedikit mengendur dan sudut bibirnya yang kaku itu sempat berkedut tipis selama sepersekian detik.
Sebelum keheningan kembali menguasai mobil, Tian tiba-tiba membuka suara dengan nada dingin yang tidak biasa. "Mantan suamimu sempat mendatangi hotel tadi pagi sebelum saya berangkat menjemputmu."
Hanum tersentak, tubuhnya seketika menegang mendengar nama Hanif disebut. "Hanif? Untuk apa dia ke sana, Kak?"
"Mencari simpati Papa agar posisinya di perusahaan tidak dicabut," sahut Tian datar, matanya berkilat tajam. "Dia memohon-mohon di lobi seperti orang tidak punya harga diri. Tapi Papa bahkan tidak sudi menemuinya. Saya sudah memerintahkan keamanan untuk menyeretnya keluar dari area hotel secara kasar."
Mendengar hal itu, ada rasa lega sekaligus getir yang menyergap dada Hanum. Dia tidak menyangka Hanif akan merendahkan dirinya sejauh itu demi mempertahankan posisinya setelah semua pengkhianatan yang dia lakukan.
Tak terasa, mobil SUV hitam itu akhirnya berbelok mulus, membelah gerbang utama dan melaju perlahan memasuki pelataran megah dari hotel bintang lima tujuan mereka. Hanum menatap keluar jendela, menguatkan hatinya untuk melangkah masuk menemui anak-anaknya dan memulai babak baru hidupnya yang sesungguhnya.
kalo gx ampuun deh kak ,,
gx kebayang tu org2 sekitar mereka pada cengoo semua ,, 😂😂😂😂
kalo gx ampuun deh kak ,,
gx kebayang tu org2 sekitar mereka pada cengoo semua ,, 😂😂😂😂
lmaran aja pke map yg isinya ky proposal biar prshaan mau krjsma,mskpn yg ni isinya klebihan dia sndri sih...🤣🤣🤣...
jd pgn ngakak ngebyangin tiap hri ktmu,trs kl lg diskusi yg d bhas pke bhsa formal.....
aku tertawa sendiri membayangkan lanjutan ceritanya....
semangat💪
itu laa tian dingin di luar tetapi lembut di dalam ,, 😁😁😁😁😁