Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Pagi hari di Gedung Bisnis Universitas California, Los Angeles, diselimuti oleh atmosfer yang sama sekali berbeda dari hari-hari biasanya.
Hawa dingin yang menusuk kulit di luar ruangan seolah menguap, tergantikan oleh riuh bisik-bisik kasak-kusuk yang memenuhi lorong-lorong kampus sejak pukul tujuh pagi.
Para mahasiswa dan mahasiswi jurusan Manajemen Bisnis Internasional sengaja datang jauh lebih awal hari ini.
Koridor di depan ruang kuliah utama sudah dipadati oleh kerumunan manusia yang berpura-pura membaca jurnal atau mengobrol santai, padahal mata dan telinga mereka sepenuhnya tertuju pada pintu ruang dosen.
Penyebab utamanya tentu saja satu: hari ini adalah jadwal kuliah tatap muka yang diampu langsung oleh Profesor Jameson Baxter Ashford.
Di barisan kursi tengah ruang kuliah yang bertingkat, Seraphina duduk bersandar dengan cemas sembari sesekali melirik pintu masuk.
Di sampingnya, Hazel duduk dengan sangat anggun, membuka laptop dan merapikan lembar catatan tanpa menunjukkan riak emosi sedikit pun di wajah porselennya.
"Hazel, kau tahu tidak?" bisik Seraphina heboh, memajukan tubuhnya hingga merapat ke telinga Hazel.
"Grup angkatan kita hampir meledak tadi malam! Kabar tentang rekaman rapat direksi Profesor Ashford sudah menyebar ke seluruh fakultas. Semua orang di kelas ini datang pagi-pagi hanya untuk melihat bagaimana reaksinya hari ini!"
Hazel menggoreskan penanya di atas kertas, mengulas senyum tipis yang amat sangat tenang.
"Orang-orang terlalu banyak membuang waktu untuk mengurusi kehidupan pribadi dosen, Sera. Lebih baik kau merapikan materi presentasimu."
"Bagaimana bisa aku fokus pada presentasi jika pria es yang biasanya tertutup rapat itu ternyata..." Seraphina menggantung kalimatnya, mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya yang memerah.
"Ah, sudahlah! Kau pasti juga membaca potongan rumornya, kan?"
Hazel tidak menjawab.
Ia hanya terus menulis dengan ketenangan sempurna—sebuah topeng aristokratik yang menyembunyikan rapat-rahasia bahwa dialah sosok wanita misterius yang membuat guncangan besar tadi malam.
Tepat pukul delapan pagi, langkah kaki tebal berirama tegas bergema dari arah lorong luar.
Suara bisik-bisik di dalam ruang kuliah yang semula riuh seketika surut bagai ditelan bumi.
Udara di dalam ruangan mendadak membeku saat pintu kayu ganda terdorong lebar.
Jameson Baxter Ashford melangkah masuk ke dalam kelas.
Pria itu mengenakan kemeja formal berwarna biru gelap yang terpotong sempurna membingkai bahunya yang lebar dan tegap.
Namun, bukannya tampil tertutup untuk menyembunyikan rasa malu atas insiden menggemparkan tadi malam, sang dosen muda justru membiarkan dua kancing teratas kemejanya terbuka santai.
Dan di sana—tepat di pangkal leher kirinya yang berotot—terpampang sangat jelas dua bekas ruam merah pekat berbentuk gigitan dan cengkeraman halus.
Sebuah tanda kepemilikan yang amat sangat kentara, dipamerkan tanpa rasa bersalah sedikit pun di hadapan puluhan mahasiswanya.
Srekk...
Suara desahan napas tertahan dan ketegangan melingkupi seluruh ruangan.
Beberapa mahasiswi di barisan depan membeku dengan mata membelalak, sementara para mahasiswa saling bertukar pandang dengan raut wajah tak percaya.
Bukannya merasa canggung atau mempertahankan wajah dingin berpura-pura tidak terjadi apa-apa, Jameson justru melangkah tegap menuju meja podium.
Pendar mata hazel-nya menyapu seluruh isi ruangan dengan sorot mata yang jauh lebih tajam, dominan, dan intimidatif dari biasanya.
"Selamat pagi," tegur Jameson, suaranya yang berat dan dalam memantul sempurna di dinding ruang kuliah.
"Buka buku modul bab enam. Kita tidak punya waktu untuk hal-hal tidak berguna hari ini."
Atmosfer mengajar Jameson hari ini berada di tingkat kekejaman yang berlipat ganda.
Tidak ada toleransi untuk keterlambatan, tidak ada jeda untuk helaan napas panjang, dan tidak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun.
Baru sepuluh menit perkuliahan berjalan, dua mahasiswa di barisan belakang terdengar saling berbisik pelan sembari menunduk di balik layar tablet mereka.
Klek.
Jameson menghentikan peletakan spidolnya di atas meja. Pria itu memutar tubuhnya perlahan, menatap lurus ke arah dua mahasiswa di barisan belakang tersebut.
"Kalian berdua," tunjuk Jameson dengan suara rendah yang mendinginkan isi ruangan.
"Keluar dari kelasku sekarang."
Kedua mahasiswa itu tersentak kaget, wajah mereka mendadak pucat pasi.
"P-profesor... kami hanya—"
"Aku tidak menerima alasan," potong Jameson dingin, menyilangkan tangan di depan dada.
"Ulangi mata kuliah ini di semester depan. Keluar!"
Tanpa berani membantah sepatah kata pun, kedua mahasiswa itu terburu-buru merapikan tas mereka dan berjalan menunduk keluar kelas dengan langkah gemetar.
Ketegangan di dalam ruangan makin memuncak. Semua orang menahan napas, tidak berani membuat pergerakan sekecil apa pun atau sekadar menggeser posisi duduk mereka.
Sementara itu, di barisan agak samping, tiga mahasiswa laki-laki duduk merapat.
Salah satu dari mereka menelan ludah kasar, menatap punggung tegap sang dosen dengan raut wajah yang canggung luar biasa.
"Gila..." bisik mahasiswa bersweater hitam di sudut kiri pada temannya.
"Jujur saja, aku canggung sekali duduk di kelas ini hari ini. Aku jadi penasaran ingin menanyakan olahraga atau latihan apa yang dilakukan dosen kita sampai bisa membuat wanitanya berteriak seperti itu di rekaman..."
"Tutup mulutmu, bodoh!" bisik temannya cepat dengan wajah tegang, melirik takut-takut ke arah podium.
"Kau mau dilempar keluar ruangan juga?! Videonya di ponselmu sudah dihapus belum?"
"Tentu saja sudah hilang bersih!" jawab mahasiswa pertama dengan suara lirih.
"Tadi pagi sewaktu aku buka filenya, filenya terhapus otomatis dan akun penyebarnya hilang. Apa kau pikir keluarga Ashford akan meninggalkan jejak digital sekecil itu di internet? Mereka punya tim siber tingkat militer!"
"Syukurlah kalau sudah hilang," gumam yang satunya lagi. "Tapi tetap saja... melihat tanda di lehernya itu... pria itu benar-benar tidak punya rasa takut."
Di podium depan, Jameson kembali menjelaskan materi analisis risiko investasi dengan artikulasi bahasa yang sangat cepat dan presisi.
Namun, di tengah-tengah penjelasannya, pandangan mata sang profesor perlahan bergeser, mengunci lurus pada sosok Hazel yang duduk tenang di barisan tengah.
Hazel menatap balik mata hazel milik Jameson tanpa gentar.
Ketika mata mereka bertemu di udara, sudut bibir Jameson terangkat sangat tipis—sebuah kedipan pendar mata yang amat sangat berbahaya, seolah mengomunikasikan rahasia panas yang hanya diketahui oleh mereka berdua.
Hazel menyunggingkan senyum miring yang teramat sangat dingin, lalu dengan sengaja memalingkan wajahnya ke arah jendela, mengabaikan kontak mata sang dosen sepenuhnya.
Sikap dingin dan penolakan terselubung dari Hazel di tengah kelas yang tegang itu bukannya meruntuhkan dominasi Jameson, melainkan justru makin membakar gairah perburuan di dalam dada sang penguasa Ashford.
Perkuliahan pagi itu berlangsung bagai medan pertempuran mental yang intens—di mana seorang dosen kejam memamerkan luka dosanya tanpa malu, sementara sang mahasiswi menyembunyikan kejahatan dan sentuhan berdarah mereka di balik keanggunan yang tak tersentuh.
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣