Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Keinginan Berbenturan dengan Niat Baik
Seminggu berlalu begitu cepat setelah acara kelulusannya. Gadis itu memilih memfokuskan energinya pada persiapan pendidikan tinggi, sibuk menata berkas pendaftaran seorang diri karena Zara pun tengah berjuang mengurus seleksi beasiswanya.
Namun, ada ganjalan yang kian menyita pikiran Aira. Ia memang telah berdiskusi terbuka dengan mamanya mengenai jurusan yang sangat ia impikan. Hanya saja, ia belum menyampaikan keputusan itu secara langsung kepada Reyhan. Sebelumnya, Reyhan sempat menitipkan brosur salah satu universitas ternama lewat sang mama, mendesak Aira agar segera mendaftar ke sana.
Aira sadar betul betapa kokohnya pendirian sang kakak. Kendati demikian, kali ini ia bertekad mengutarakan isi hatinya secara bertatap muka. Ia pun memutuskan berkunjung ke rumah Reyhan, sekalian melepas rindu pada kedua keponakan kembar mereka.
Berbalut sweater rajut lengan panjang berwarna biru tua yang dipadukan dengan high-waisted jeans bernuansa light wash denim, penampilan Aira tampak kasual namun rapi. Ia menjinjing tote bag warna krem oleh-oleh dari Reyhan saat berkunjung ke Semarang dan memadukannya dengan sepatu sneakers. Setelah merapikan rambut pendeknya dan mengancingkan helm, Aira memacu sepeda motornya, menyimpan harapan besar agar Reyhan sudi memberinya ruang untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
╰─━━━━━━━━━⊱◈⊰━━━━━━━━━─╯
Beberapa puluh menit membelah lalu lintas kota, Aira tiba di kediaman Reyhan. Usai melepas helm, ia menekan bel pintu. Tak lama kemudian, Dinda membukakan pintu dan menyambut adik iparnya itu dengan senyum hangat.
"Lho, Aira? Kamu ke sini kok tidak bilang-bilang dulu?" menyapa Dinda ramah.
Ibu hamil itu nampak lebih berisi dan usia kandungannya sudah dua bulan.
"Biar mengejutkan, Kak! Noah sama Nora mana?" tanya Aira antusias.
"Lagi di dalam sama eyangnya. Masuk saja, yuk. Kakak buatkan minum dulu, ya," ujar Dinda.
Aira mengangguk riang lalu melangkah masuk. Di ruang tengah, tampak kedua orang tua Dinda sedang berinteraksi dengan si kembar.
"Duh, Nak Aira... Sudah makin besar dan tambah cantik saja," sapa ibu Dinda hangat.
Aira segera menyalami kedua orang tua Dinda. Ia tak pernah merasa canggung di dekat mereka, sebab sejak kecil Reyhan sering membawanya berkunjung ke rumah keluarga Dinda hingga mereka sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
"Gimana sekolahnya, Nak? Tahun ini mau lulus, kan?" tanya bapak Dinda menyambung perbincangan.
"Iya, Pak. Sekarang lagi sibuk-sibuknya urus pendaftaran kuliah."
"Sudah menentukan mau ambil jurusan dan kampus mana?"
"Sudah, Pak. Makanya Aira ke sini mau mendiskusikannya langsung sama Bang Reyhan," sahut Aira tersenyum tipis.
Saat mereka sedang berbincang, Reyhan yang baru saja selesai mandi melangkah keluar. Langkahnya terhenti sejenak begitu mendapati keberadaan adiknya.
"Eh, Bocil centil? Kenapa ke sini tidak kabari dulu?" goda Reyhan.
"Siapa yang Bocil? Aira ke sini mau bertemu Noah dan Nora, ya!" balas Aira tak mau kalah.
Kedua orang tua Dinda hanya tertawa kecil menyaksikan pertengkaran khas kakak-beradik yang tak pernah berubah itu.
"Mas... jangan begitu. Aira boleh datang kapan saja, ini kan rumahnya juga," sela Dinda yang muncul membawa cangkir minuman untuk Aira.
Namun, sebelum Aira sempat meraih gelas itu, Reyhan justru mendahuluinya dan menyeruputnya hingga tersisa separuh.
"Mas! Itu kan Dinda buatkan khusus untuk Aira," tegur Dinda gemas.
Reyhan mengembalikan gelas itu ke atas nampan, lalu melangkah menghampiri Aira. Tanpa peringatan, ia menarik tubuh adiknya dan mengapit kepala Aira di bawah ketiaknya.
"Abang! Lepaskan! Rambut Aira jadi berantakan, nih!" gerutu Aira berjuang meloloskan diri.
"Abang tahu kamu ke sini ada maunya. Ayo bicara di ruang tamu," ujar Reyhan sembari merangkul paksa pundak adiknya menuju sofa depan.
Tiba di ruang tamu, Reyhan meraih sebuah map formal yang terselip di samping vas bunga meja. Ia menyodorkannya tepat di hadapan Aira.
"Ini Abang sudah ambilkan formulir pendaftaran. Kamu tinggal isi dan lengkapi berkasnya. Kalau sudah, biar Abang yang urus semua ke kampusnya," terang Reyhan lugas.
Aira menerima map tersebut dan membukanya dengan dahi berkerut. Matanya membelalak kaget begitu membaca baris judul di lembaran pertama Formulir Pendaftaran Fakultas Kedokteran.
Rasa cemas seketika melingkupi dada Aira. Ia memberanikan diri menatap mata kakaknya. "Bang... Aira ke sini justru mau bilang kalau Aira sudah yakin mau mengambil jurusan Psikologi. Aira mau kuliah di jurusan yang memang Aira inginkan. Mama juga sudah memberi izin dan mendukung pilihan Aira."
Raut wajah Reyhan berubah seketika. "Tidak bisa. Abang sudah pilihkan jurusan Kedokteran, dan ini jauh lebih terjamin untuk masa depanmu. Bukannya dari dulu Abang sudah tegaskan kalau Abang tidak setuju kamu ambil Psikologi? Itu tidak cocok untukmu, Aira."
Aira meletakkan map itu kembali ke meja, berusaha menahan getaran di suaranya. "Aira tahu mungkin menurut Abang itu tidak cocok. Tapi ini cita-cita Aira dari dulu, Bang. Aira yakin bisa menjalaninya."
Sorot mata Reyhan mengeras sebuah tatapan tegas yang teramat dihafal Aira, persis ketika dahulu kakaknya secara sepihak memutuskannya untuk pindah sekolah dan menjalani homeschooling.
"Fakultas kedokteran ini tempat terbaik buat kamu. Prospek kerjanya jelas dan masa depanmu terjamin. Dan satu hal lagi... Abang sudah berjanji pada almarhum Papa untuk membuktikan kalau kamu bisa sukses menjadi dokter anak membuktikan bahwa kamu bukan anak yang bisa diremehkan begitu saja sama Papa!" tegas Reyhan dengan suara berat.
Kata-kata itu menghujam dada Aira. Mata gadis itu berkaca-kaca, tak menyangka jika ambisi kakaknya bersumber dari beban masa lalu yang tak pernah ia minta.
"Tapi itu bukan jurusan yang Aira inginkan, Bang!" seru Aira, matanya mulai membasah. "Meskipun Aira tidak jadi dokter, Aira tetap bisa jadi psikolog klinis dan bekerja di rumah sakit! Aira tidak peduli lagi soal pembuktian pada almarhum Papa! Ini masa depan Aira, Bang! Aira yang berhak menentukan, dan Abang seharusnya memberikan masukan serta dukungan, bukan memaksakan kehendak!"
Airmata Aira akhirnya menetes. Sejak kecil, Reyhan adalah sosok penopang hidupnya dan Nadia setelah kepergian Papa mereka. Namun, sikap overprotective dan keputusan searah dari kakaknya kini terasa amat mengekang.
"Terserah kamu mau bicara apa," putus Reyhan dingin, tak terpengaruh air mata adiknya. "Keputusan Abang sudah bulat. Kamu harus kuliah di jurusan yang sudah Abang tentukan. Biayanya sudah Abang siapkan semua, kamu tinggal fokus belajar."
"Tapi, Bang—"
"Tidak ada tapi, Aira! Ini tanggung jawab Abang sebelum kamu menikah kelak. Tugasmu cuma menurut dan mempersiapkan diri," potong Reyhan tanpa ruang kompromi.
Dada Aira bergemuruh sesak. Emosi yang tertahan sekian lama mendadak pecah. Rasa hormat yang selama ini membuatnya selalu mengalah runtuh oleh ketidakadilan yang dirasakannya.
"Selama ini Aira selalu menurut dan mengikuti semua kemauan Abang! Aira ikuti karena Aira tidak mau jadi beban buat Abang!" pekik Aira dengan suara bergetar. "Tapi Aira pikir kali ini Abang mau mendengarkan dan memberi Aira kesempatan untuk memilih jalan hidup sendiri! Kalau Abang merasa Aira ini beban dan tanggung jawab yang harus Abang atur hidupnya... mulai sekarang Aira keluar dari rumah! Aira akan cari kerja sendiri, dan Abang tidak perlu mengurus atau bertanggung jawab lagi atas hidup Aira!"
"AIRA!" bentak Reyhan, berdiri dari duduknya.
Tanpa memedulikan panggilannya, Aira mengusap air matanya kasar, berbalik melangkah cepat meninggalkan rumah itu. Reyhan hendak mengejar, namun Dinda bergegas menahan lengan suaminya.
"Mas, tunggu! Jangan mengejarnya dalam keadaan emosi begini!" cegah Dinda panik.
Reyhan terhenti, dadanya naik-turun menahan emosi. Ia akhirnya ambruk di sofa sembari memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Kata-kata Aira sebelum pergi terngiang-ngiang tajam di telinganya. Ini kali pertama gadis kecilnya itu berani membentaknya dengan begitu keras.
"Mas... tidak seharusnya Kamu mengedepankan emosi," bisik Dinda lembut sembari mengelus punggung Reyhan. "Dengarkan dulu apa keinginan Aira. Memaksanya masuk ke jurusan yang tidak dia minati hanya akan membuatnya makin tertekan."
╰─━━━━━━━━━⊱◈⊰━━━━━━━━━─╯
Malam kian melarut, namun ponsel Aira tak kunjung aktif. Ibu Windy yang cemas luar biasa akhirnya menghubungi Reyhan, sebab ia tahu anak bungsunya itu sempat pamit pergi ke rumah abangnya.
"Mama..." sapa Reyhan begitu menginjakkan kaki di rumah sang mama.
"Aira tidak bisa dihubungi dari tadi, Rey. Mama sudah telepon teman-temannya, tapi mereka juga tidak ada yang tahu," ucap Bu Windy cemas.
Rasa bersalah merayapi dada Reyhan. Firasat sang mama terbukti benarnya kedua anaknya telah berselisih paham.
"Rey... Mama tahu kamu sangat menyayangi Aira dan selalu ingin memberikan yang terbaik untuknya," tutur Bu Windy lembut namun penuh penekanan. "Tapi kamu tidak boleh egois. Dia punya hak menentukan jalan hidupnya sendiri. Dia sudah dewasa, Rey. Dia bisa memilih mana yang terbaik untuk dirinya."
Reyhan tertunduk, memegang helm di tangannya erat-erat. "Reyhan cuma ingin masa depannya terjamin, Ma..."
"Masa depan seseorang tidak bisa digantungkan pada keinginan kita," potong Bu Windy perlahan. "Kamu dulu bercita-cita ingin jadi tentara, tapi kenyataannya sekarang kamu jadi dosen dan pengusaha, kan? Dan Mama tidak pernah menuntutmu, karena Mama percaya pilihan yang lahir dari hati sendiri akan jauh lebih baik."
Reyhan menghela napas panjang, meresapi setiap penuturan ibunya. "Reyhan paham, Ma... Nanti Reyhan akan bicara lagi baik-baik dengannya. Sekarang Reyhan cari Aira dulu."
"Tolong jangan tekan dia lagi, Rey. Kamu tahu sendiri betapa berat beban yang pernah dia tanggung. Mama tidak mau dia kenapa-kenapa," pesan Bu Windy penuh harap.
╰─━━━━━━━━━⊱◈⊰━━━━━━━━━─╯
Reyhan melangkah menuju area parkir rumah sakit, menunggu Arkan yang baru saja menyelesaikan jam dinasnya. Arkan sempat terkejut mendapati Reyhan sudah berdiri di dekat mobilnya dengan raut wajah keruh.
"Ada apa, Bang?" tanya Arkan menghampiri.
"Apa Aira sempat menemui kamu hari ini?" tanya Reyhan tanpa basa-basi.
Arkan mengernyit. "Tidak ada. Sudah hampir seminggu ini kami tidak bertemu."
Reyhan mengusap wajahnya kasar, mendesah berat.
"Sebenarnya ada masalah apa, Bang?" desak Arkan menyadari kejanggalan sikap pria di hadapannya.
"Saya baru saja berdebat keras dengan Aira soal jurusan kuliah. Dia marah besar dan pergi meninggalkan rumah. Sampai malam begini ponselnya tidak aktif," terang Reyhan lemas.
Arkan terpaku sejenak. "Soal kuliah... Aira memang sempat bercerita kepada saya kalau dia sangat ingin mengambil jurusan Psikologi. Waktu menceritakan impiannya untuk mendampingi dan mengajar anak-anak, matanya berbinar penuh semangat. Dia sudah menginginkan jurusan itu sejak lama."
Reyhan mendongak menatap Arkan, terkejut mengetahui bahwa adiknya justru lebih terbuka kepada orang lain mengenai impiannya. Rasa bersalah di dadanya kian kian bergemuruh.
"Saya tidak berhak mencampuri urusan keluarga Bang Reyhan," lanjut Arkan hati-hati. "Tapi kalau boleh memberi saran... ada baiknya Bang Reyhan memberi dia kesempatan. Dunia perkuliahan itu penuh tekanan. Jika dia dipaksa menjalani jurusan yang tidak disukainya, itu justru bisa merusak mentalnya."
Reyhan membisu, mencerna setiap kalimat Arkan. Ia kembali mencoba menelepon nomor Aira, tetapi hasilnya tetap nihil.
"Soal pilihannya... nanti akan saya pertimbangkan lagi," ujar Reyhan gusar. "Tapi sekarang yang membuat saya cemas adalah keberadaannya. Dia pergi dalam keadaan emosi dan tertekan."
Arkan pun ikut diliputi rasa cemas. Ia tahu betul kondisi psikologis Aira yang pernah berada di titik terendah. Tanpa buang waktu, Arkan merogoh ponselnya, mencoba menghubungi nomor Aira serta menanyakan keberadaan gadis itu kepada Zara, Panji, dan Bayu. Namun, ketiganya kompak menjawab tidak tahu.
"Bagaimana kalau kita cari bersama-sama, Bang?" usul Arkan. "Kita periksa tempat-tempat yang biasa dia kunjungi atau taman di sekitar sini."
"Baiklah, terima kasih, Arkan," sahut Reyhan cepat.
Keduanya berpisah menggunakan kendaraan masing-masing, membelah malam demi menyusuri sudut-sudut kota. Jalan demi jalan disisir, namun hingga larut malam sosok Aira tak kunjung ditemukan.
Di tengah keputusasaan itu, ponsel Reyhan mendadak berdering nyaring. Nama mamanya tertera di layar.
"Halo, Ma? Aira masih belum ketemu..." ujar Reyhan cepat begitu mengangkat panggilan.
"Reyhan... Om kamu baru saja menelepon Mama," potong Bu Windy dari seberang telepon, suaranya terdengar jauh lebih tenang. "Aira ternyata ada di rumah Oma di desa. Dia menumpang travel tadi sore. Kamu tenang saja, dia aman di sana. Pulanglah dulu, besok baru kamu susul ke sana."
Helaan napas lega berhembus dari dada Reyhan. Beban berat yang menghimpit dadanya mendadak terangkat. "Alhamdulillah... Baik, Ma. Besok pagi Reyhan susul ke desa."
Setelah mengakhiri panggilan dengan sang mama, Reyhan segera menghubungi Arkan untuk mengabarkan berita tersebut.
"Dokter Arkan, Aira sudah ketemu. Ternyata dia pergi ke rumah Omanya di desa. Besok saya akan menjemputnya ke sana. Maaf sudah merepotkanmu malam-malam begini."
Arkan menyandarkan punggungnya di kemudi, ikut bernapas lega. "Alhamdulillah... Tidak masalah, Bang. Kalau boleh, besok saya ikut menemani Bang Reyhan ke desa."
"Kamu tidak ada jadwal dinas?" tanya Reyhan memastikan.
"Jadwal jaga saya baru besok malam," jawab Arkan tenang.
Reyhan tersenyum tipis di balik kemudinya. "Baiklah. Kalau besok kamu berhasil membantuku membujuk Aira sampai dia mau memaafkanku... nanti hubungan kalian langsung saya restui."
Arkan terpaku di tempatnya, menatap layar ponsel yang telah diputus sepihak oleh Reyhan dengan kening berkerut dalam, meresapi ujaran ambigu yang baru saja dilontarkan sang kakak.
Bersambung__
_____
Style Aira saat kerumah Bang Reyhan🫰