NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.

Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.

Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.

Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Setelah Madame Tania pergi dengan wajah merah padam dan Helena akhirnya meninggalkan ruang tamu dengan langkah yang sedikit lebih ringan, hanya tersisa Arlan dan Karin di ruangan yang kini beraroma lemon sintetis yang menyengat.

Karin duduk kaku di kursinya. Alasannya bukan karena bau teh palsu itu, melainkan karena kaki Arlan di bawah meja masih menempel pada kaki Karin. Gesekan lembut itu sama sekali tidak terasa seperti ketidaksengajaan.

"Kak Arlan..." bisik Karin, wajahnya memanas. "Kaki Kakak... nyentuh kaki aku."

Arlan tidak menarik kakinya. Ia malah bersandar di kursinya, menatap Karin dengan tatapan yang sangat tenang, seolah-olah ia tidak sedang melakukan hal yang sangat tidak pantas di ruang tamu. "Aku tahu. Kakiku lelah. Cari tumpuan."

"Tapi ini di bawah meja! Nanti kalau ada pelayan masuk, mereka lihat!" protes Karin panik, mencoba menarik kakinya, tapi Arlan dengan mudah menjepitnya lebih erat.

"Biarkan saja," jawab Arlan datar, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum. "Lagipula, kau yang tadi menyenggolku lebih dulu dengan tumitmu."

"Itu karena aku kaget lihat Ibu mertua!"

"Alasan yang buruk, Nyonya Dirgantara," Arlan akhirnya menarik kakinya, lalu berdiri dan mengulurkan tangan pada Karin. "Ayo pulang. Aku harus mengurus 'teh' itu agar tidak ada yang meminumnya secara tidak sengaja. Dan kau... kau perlu istirahat. Otakmu pasti kelelahan setelah mencium bau karbol seharian."

Karin menepuk tangan Arlan, mengabaikannya, dan berlari kecil menuju pintu. Gawat! Gawat! CEO dingin ini mulai main kaki di bawah meja! Plotnya sudah melenceng jauh dari novel! Di novel, dia cuma mau nyentuh tangan istri aslinya kalau lagi mau cerai!

***

Keesokan paginya, Karin harus kembali ke markas besar Dirgantara Group. Arlan bersikeras bahwa Karin harus menemaninya di kantor hari ini karena ada beberapa kontrak yang perlu ditinjau, dan menurut Arlan, "kehadiranmu akan membuat para direktur yang korup itu berkeringat dingin."

Karin duduk di ruang CEO, bermain dengan sebuah kubus rubik yang sudah ia acakkan warnanya menjadi satu sisi merah saja. Pintu ruang CEO terbuka, dan masuklah seorang wanita dengan setelan jas abu-abu yang sangat tajam, rambutnya diikat rapi, dan tatapannya setajam silet.

Ini Clara, Kepala Sekretaris Arlan. Dalam novel, Clara adalah karakter pendukung wanita yang sangat kompeten, dingin, dan diam-diam menyukai Arlan. Clara selalu menganggap tokoh asli Karin sebagai beban yang memalukan.

"Selamat pagi, Pak Arlan," sapa Clara, suaranya profesional dan efisien. Ia meletakkan secangkir kopi hitam di meja Arlan, lalu matanya beralih ke Karin. Tatapan itu penuh dengan penilaian yang tidak disembunyikan. "Dan... selamat pagi, Nyonya Karin."

"Pagi, Mbak Clara!" sapa Karin riang, mengangkat kubus rubiknya. "Lihat! Aku berhasil bikin semua sisi merah. Tapi kok rasanya kayak saus tomat ya? Jangan-jangan ini rubik rasa tomat."

Clara menghela napas pelan, jelas merasa muak. Ia menoleh ke arah Arlan. "Pak Arlan, ini tumpukan kontrak dari divisi pemasaran dan logistik yang belum disortir. Totalnya ada dua ratus dokumen. Asisten magang saya sedang sakit, jadi belum ada yang mengurutkannya berdasarkan prioritas dan tanggal. Apakah Bapak ingin saya menyuruh staf lain untuk..."

"Tidak," potong Arlan, matanya tidak lepas dari layar laptopnya. "Karin yang akan menyortirnya."

Clara terbelalak. "Maaf, Pak? Nyonya Karin? Dengan segala hormat, menyortir dua ratus kontrak berdasarkan tingkat urgensi, nilai nominal, dan tanggal jatuh tempo membutuhkan pemahaman dasar tentang alur kerja perusahaan. Nyonya Karin mungkin akan... kesulitan."

Karin menatap tumpukan dokumen setinggi gunung kecil di meja samping. Dua ratus dokumen? Ini bukan menyortir, ini bunuh diri! Kalau aku urutkan pakai logika bisnis, Clara pasti lapor ke dewan direksi kalau aku pura-pura bodoh!

"Tapi Mbak Clara," ucap Karin, meletakkan rubiknya dan berjalan ke meja dokumen. "Aku kan punya hidung. Hidungku tajam, lho. Kalau disuruh nyortir pakai mata, nanti mataku capek. Jadi aku pakai hidung aja."

Clara memutar matanya, menatap Arlan dengan tatapan 'lihatlah betapa gilanya istrimu', tapi Arlan hanya mengangkat alisnya, memberi isyarat agar Clara membiarkan Karin.

Karin mulai mengambil dokumen satu per satu. Ia tidak melihat isinya. Ia hanya mendekatkan dokumen itu ke hidungnya, menghirupnya dalam-dalam, lalu melemparkannya ke tumpukan kiri, tengah, atau kanan.

Hirup. Lempar kiri.

Hirup. Lempar kanan.

Hirup. Lempar tengah.

Clara menahan napas, bersiap untuk melihat kekacauan total. Setelah lima belas menit, Karin selesai. Ia menepuk-nepuk tangannya yang penuh debu kertas. "Selesai! Tuh kan, Mbak Clara. Nggak susah."

Clara melangkah maju dengan wajah skeptis. Ia mengambil dokumen dari tumpukan kiri. "Tumpukan kiri ini... ini semua kontrak dari divisi pemasaran yang menggunakan tinta printer biru. Tinta ini hanya dipakai oleh manajer pemasaran senior, yang berarti ini adalah kontrak bernilai tinggi di atas lima miliar. Diurutkan berdasarkan tanggal jatuh tempo."

Clara mengambil dokumen dari tumpukan tengah. "Tumpukan tengah... ini kontrak logistik. Kertasnya lebih tebal, dan baunya seperti lem kertas murah yang hanya dipakai di cabang luar kota. Ini kontrak bernilai rendah di bawah satu miliar."

Clara mengambil dokumen dari tumpukan kanan, matanya membelalak. "Dan tumpukan kanan... ini draf kontrak yang belum ditandatangani. Baunya seperti tinta basah dan parfum manajer hukum yang baru saja mencetaknya!"

Ruangan itu hening. Clara menatap Karin dengan mulut terbuka, seolah-olah ia baru saja melihat hantu. Wanita idiot itu tidak membaca satu kata pun dari dua ratus dokumen, tapi ia menyortirnya berdasarkan bau tinta dan jenis kertas, yang kebetulan berkorelasi langsung dengan tingkat urgensi dan nilai kontrak karena kebijakan pengadaan alat tulis kantor yang berbeda-beda di tiap divisi!

"Bagaimana..." suara Clara terdengar serak. "Bagaimana kau bisa tahu?"

Karin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memasang wajah paling bodoh yang bisa ia buat. "Ya aku kan bilang, Mbak. Hidungku tajam. Terus, Mbak Clara tadi bilang urutin berdasarkan prioritas. Prioritas itu kan yang penting-penting. Yang penting itu yang tintanya mahal. Kalau tintanya murah, berarti nggak penting. Gitu kan logikanya, Mbak?"

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Susi Nugroho
Lanjut
ALEXIS A.😇
up kak
Susi Nugroho
Lanjut
Kucingku Hitam
seruu😍
lanjut kn thor💪
Susi Nugroho
,Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!