Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Adel dan Karin baru saja duduk di salah satu meja kayu panjang dekat pojok ruangan.
Sebelum Karin sempat menyuap bakso pertamanya, seseorang mendadak berdiri di meja mereka.
"Selamat siang, Adel," sapa orang tersebut.
Adel mendongak. Devan berdiri yang mengenakan jaket tim basketnya.
Di kedua tangannya, ia membawa nampan berisi setumpuk sandwich daging premium, salad segar, dan dua botol minuman manis mahal.
"Kak Devan?!" Karin tersedak kuah bakso, matanya membelalak tak percaya. "Ada... ada apa ya, Kak?"
Devan meletakkan nampan tersebut tepat di depan Adel tanpa meminta izin.
"Aku lihat kemarin kamu makan siang cuma pakai roti kecil. Jadi aku minta koki langganan keluargaku buatkan sandwich khusus ini buat kamu. Dimakan ya, Del?" ucapnya sambil sambil tersenyum.
Adel menatap nampan itu, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Devan dengan raut datar tanpa ekspresi.
"Aku tidak minta. Dan aku tidak suka ada orang asing yang tiba-tiba mengatur apa yang harus aku makan," ujar Adel dingin.
Devan terkekeh pelan, mengusap tengkuknya dengan santai. "Anggap saja ini permohonan maafku karena kemarin menabrakmu di koridor. Aku Devan, kelas XI-B. Kamu belum kenalan resmi denganku, kan?"
"Aku tidak berminat kenalan. Bawa kembali makananmu. Karin dan aku mau makan dengan tenang," balas Adel tegas.
Ia memajukan nampan itu kembali ke arah Devan.
Karin menyenggol lengan Adel pelan di bawah meja, berbisik panik.
"Del! Itu Kak Devan, lho! Anak-anak perempuan lain di sekolah ini bisa ngamuk kalau tahu kamu menolak makanan pemberiannya!" bisiknya.
"Biar saja. Kak Devan, permisi. Meja ini sempit. Tolong jangan mengganggu kami," jawab Adel pelan menatap Devan.
Devan sedikit tersentak. "Oke, hari ini kamu menolak. Tapi aku tidak gampang menyerah, Adel," katanya sambil mengulas senyum tipis, lalu mengambil kembali nampannya.
*******
Di depan gerbang utama sekolah. Hujan gerimis mulai menetes pelan.
Adel sedang berdiri menunggu jemputan Pak Doni ketika mobil convertible merah milik Devan berhenti tepat di hadapannya.
"Adel! Ayo naik, aku antar pulang. Hujannya makin deras, nanti kamu sakit," tawar Devan menurunkan kaca mobil.
Beberapa siswi yang sedang berteduh di pos satpam mulai berbisik-bisik iri.
Adel menarik napas panjang, mengepalkan jemarinya di tali ransel. Ia sudah sangat muak dengan perhatian berlebihan yang merusak impiannya untuk hidup tenang sebagai murid biasa.
Adel melangkah mendekati pintu mobil Devan, menatap lurus ke dalam mata laki-laki itu.
"Kak Devan," panggil Adel.
"Ya, Del? Mau naik, kan?" sahut Devan cerah.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku ke sekolah ini untuk belajar, bukan untuk main drama remaja atau jadi tontonan orang-orang. Aku sama sekali tidak tertarik pada Kak Devan. Tidak dengan mobilmu, tidak dengan makananmu, dan tidak dengan popularitasmu," ujar Adel tanpa ragu.
Senyum di wajah Devan perlahan menghilang.
"Tolong berhenti mendekatiku dan berhenti menungguku seperti ini. Sikap Kak Devan ini sangat mengganggu kenyamananku. Kalau Kak Devan memang pintar seperti yang orang-orang bilang, harusnya Kak Devan paham artinya kata 'tidak'!" lanjut Adel tanpa memberi jeda.
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Adel berbalik membelakangi Devan tepat saat mobil Sedan Pak Doni berhenti di belakangnya.
Adel masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi sedikit pun, meninggalkan Devan yang terpaku kaku di dalam mobil mewahnya di tengah rintik hujan.
Di dalam mobil, Pak Doni melirik melalui spion tengah.
Matanya memancarkan rasa ke khawatiran
"Non Adel... apa anak laki-laki itu membuat Non merasa terganggu?" tanya Pak Doni hati-hati.
"Saya bisa hubungi Bos Ardio sekarang juga kalau anak itu sudah lewat batas," kata Pak Doni bersiap melindungi.
Adel bersandar di jok mobil, memejamkan matanya yang lelah. "Jangan, Pak Doni. Tolong jangan beri tahu Papa. Ini cuma masalah sepele di sekolah, Adel bisa atasi sendiri. Adel tidak mau bikin Papa cemas atau bikin keributan besar."
Pak Doni menahan tangannya yang hendak memencet tombol panggilan darurat ke markas pusat.
"Baik, Non. Tapi kalau anak itu berani macam-macam lagi, saya tidak bisa janji untuk tetap diam," kata Pak Doni lagi.
Sementara itu, dari sudut lantai tiga gedung sekolah, seorang siswa berbaju pramuka, yang sebenarnya adalah tim intelijen wanita bentukan Ardio, menyaksikan seluruh penolakan Adel. Ia menekan tombol mikrofon kecil di balik kerahnya.
"Laporan untuk markas pusat. Non Adel telah secara tegas menolak target Devan Putra Dewanta di depan gerbang. Target terlihat syok, namun situasi masih terkendali. Tidak ada kontak fisik."
Ardio mendengarkan rekaman suara penolakan Adel melalui pengeras suara.
Tangannya mengusap dagu, matanya menatap tajam ke arah foto profil Devan di layar monitornya.
"Gadis pintar," gumam Ardio pelan, menyunggingkan senyum bangga atas ketegasan putrinya.
"Reno."
"Siap, Bos," sahut Reno dari samping meja.
"Siapkan kejutan kecil untuk bisnis rumah sakit milik keluarga Dewanta. Beri tahu mereka secara tersirat untuk mendidik anak laki-laki mereka agar tidak bertingkah seperti lalat yang mengganggu putriku," bisik Ardio penuh ancaman.