NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Matahari pagi menyinari gedung Rumah Sakit Medika Sentosa dengan hangat.

Suasana di koridor IGD tampak sibuk seperti biasa.

Arka berjalan santai menyusuri lorong menuju ruang kerjanya.

Ia mengenakan jas dokter putih bersih tanpa beban di wajahnya.

Siska berlari kecil menyusul langkah Arka dari belakang.

"Dokter Arka, tunggu sebentar!" panggil Siska terengah-engah.

Arka menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap perawat tersebut.

"Ada apa lagi, Siska? Jangan bilang ada preman lagi yang datang," jawab Arka datar.

"Bukan preman, tapi ada laporan medis aneh yang baru saja masuk ke meja perawat," jelas Siska cepat.

Arka mengerutkan keningnya sesaat.

"Laporan aneh bagaimana maksudmu?" tanya Arka penasaran.

Siska menyerahkan sebuah map biru berisi catatan rekam medis pasien.

"Dalam tiga hari terakhir, ada lima pasien dengan gejala gagal organ mendadak," lapor Siska serius.

Arka membuka map biru tersebut lalu membaca catatan klinisnya dengan cermat.

"Mereka semua meminum obat penurun demam impor dari merek yang sama," lanjut Siska.

"Merek apa?" tanya Arka dingin.

"Nusantara Pharma," jawab Siska pelan.

Arka terdiam sejenak menatap deretan data obat di dalam map.

"Perusahaan farmasi besar itu rupanya mulai memasarkan produk eksperimental berbahaya," gumam Arka.

"Apa obat itu ilegal, Arka?" tanya Siska cemas.

"Secara hukum legal, tapi efek samping formulanya sengaja ditutup-tutupi," jelas Arka tenang.

Clara Wijaya tiba-tiba muncul dari ujung koridor dengan langkah cepat.

"Arka, aku baru saja mendapat kabar buruk dari bagian logistik," potong Clara cemas.

"Kabar buruk apa lagi, Nona Konglomerat?" tanya Arka melirik Clara.

"Distribusi obat dari Nusantara Pharma itu mendominasi separuh rumah sakit di kota ini," jawab Clara serius.

"Direktur pemasaran mereka memaksa kita untuk terus menggunakan produk itu," tambah Clara kesal.

Arka tersenyum tipis mendengar informasi dari Clara.

"Mereka sengaja menjadikan rumah sakit kita sebagai batu loncatan," ucap Arka dingin.

[Sistem Mendeteksi Distribusi Obat Ilegal Berbahaya]

[Membuka Misi : Membongkar Sindikat Farmasi Gelap Nusantara]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.

Arka melipat map biru di tangannya dengan gerakan perlahan.

"Kalau begitu, kita harus menemui perwakilan perusahaan farmasi itu langsung," kata Arka.

"Menemui mereka untuk apa?" tanya Clara bingung.

"Untuk melihat seberapa tebal muka mereka menjual racun berkedok obat," jawab Arka santai.

Siska menatap Arka dengan rasa khawatir yang jelas di wajahnya.

"Tapi bos besar Nusantara Pharma itu punya koneksi politik yang sangat kuat, Arka," peringat Siska.

"Justru itu yang membuat permainan ini menarik," balas Arka menyeringai kecil.

Clara menghela napas panjang menyadari watak keras kepala Arka.

"Baiklah, aku akan atur jadwal pertemuan resmi di kantor pusat mereka siang ini," putus Clara.

"Bagus, siapkan mobil kita sekarang," perintah Arka singkat.

Mereka bertiga berjalan menuju lift khusus menuju lantai dasar parkiran.

Mobil sedan hitam mewah milik keluarga Wijaya melaju kencang meninggalkan halaman rumah sakit.

Suasana di dalam mobil terasa cukup hening.

"Apa kamu sudah punya rencana pasti untuk menghadapi mereka, Arka?" tanya Clara memecah keheningan.

"Kita lihat saja seberapa pintar pengacara mereka berbohong di hadapanku," jawab Arka tenang.

Tidak lama kemudian, mobil mewah itu tiba di depan gedung pencakar langit milik Nusantara Pharma.

Gedung tinggi berlapis kaca hitam itu tampak menjulang angkuh di pusat kota.

Arka turun dari mobil disusul oleh Clara dan Siska di belakangnya.

"Wah, gedungnya kelihatan mahal dari uang haram penjualan obat," sindir Siska pelan.

"Makanya kita harus ambil alih uangnya untuk renovasi IGD," balas Arka bercanda.

Mereka melangkah masuk ke dalam lobi gedung yang sangat megah dan mewah.

Resepsionis berambut rapi langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyuman formal.

"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis ramah.

"Kami mau bertemu dengan Direktur Utama Nusantara Pharma," jawab Clara tegas.

"Apakah kalian sudah membuat janji temu sebelumnya?" tanya resepsionis itu lagi.

"Katakan saja Arka dari Rumah Sakit Medika Sentosa ingin bertamu," potong Arka santai.

Resepsionis itu mengerutkan keningnya mendengar nama Arka.

"Maaf, Tuan Arka, Direktur Utama sedang sibuk dan tidak bisa diganggu," tolak resepsionis sopan.

Arka tidak membuang waktu dengan berdebat panjang di meja resepsionis.

Ia berjalan langsung melewati meja resepsionis menuju lift VVIP.

"Tuan! Anda tidak boleh masuk sembarangan ke lift utama!" cegah petugas keamanan gedung.

Siska bergerak cepat menghalangi langkah petugas keamanan yang ingin mengejar Arka.

"Urusan kalian bukan dengan satpam, tapi dengan atasan kalian," ucap Siska dingin.

Clara ikut berdiri di samping Siska memberikan dukungan penuh.

Arka menekan tombol lantai paling atas gedung pencakar langit tersebut.

Ting...

Pintu lift tertutup rapat membawa Arka naik menuju ruangan petinggi Nusantara Pharma.

Suasana di lantai atas terasa jauh lebih sunyi dan eksklusif.

Arka melangkah keluar lift mendapati pintu kayu jati megah di hadapannya.

Tanpa mengetuk pintu, Arka langsung mendorong gagang pintu tersebut dengan keras.

Brak!

Pintu terbuka lebar menampilkan seorang pria paruh baya berjas rapi sedang merokok cerutu.

Pria itu adalah Direktur Utama Nusantara Pharma bernama Hendrawan.

Hendrawan terkejut setengah mati melihat seorang pemuda tak dikenal masuk tanpa izin.

"Siapa kamu berani masuk ke ruanganku tanpa ketuk pintu?!" bentak Hendrawan marah.

Arka berjalan santai mendekati meja kerja besar milik Hendrawan.

"Aku orang yang datang untuk menghentikan bisnis racunmu," jawab Arka dingin.

Hendrawan mendengus sinis lalu tertawa meremehkan.

"Bocah kurang ajar dari rumah sakit kecil itu rupanya yang datang," cibir Hendrawan.

Arka melempar map biru berisi rekam medis korban obat ilegal ke atas meja.

"Baca laporan ini sebelum kamu pamer kesombongan di depanku," suruh Arka tenang.

Hendrawan melirik map biru itu dengan sorot mata meremehkan.

"Obat kami sudah lulus uji klinis nasional, jangan sebarkan fitnah murahan!" bela Hendrawan.

"Uji klinis palsu yang disuap dari pejabat lab lama ya?" selidik Arka tajam.

Hendrawan mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi yang mulai meluap.

"Panggil keamanan gedung sekarang juga dan usir anak ini!" perintah Hendrawan lewat interkom.

[Sistem Mendeteksi Penghancuran Dokumen Bukti Oleh Hendrawan]

[Mengaktifkan Penyadatan Otomatis Seluruh Server Perusahaan]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.

Arka tersenyum tipis melihat kepanikan kecil di wajah Hendrawan.

"Tidak usah repot-repot memanggil satpam, mereka sedang sibuk di bawah," ucap Arka santai.

Pintu ruangan kembali terbuka menampilkan Clara dan Siska yang baru saja naik.

"Keamanan di bawah ternyata tidak sekuat omongan mereka," kata Clara tersenyum puas.

Hendrawan berdiri dari kursinya dengan wajah memerah karena marah besar.

"Kalian benar-benar sudah melangkah terlalu jauh di wilayahku!" geram Hendrawan.

"Wilayah ini sebentar lagi akan berganti pemilik, Tuan Hendrawan," balas Arka tajam.

Hendrawan meraih telepon meja dengan tangan bergetar menahan amarah.

"Aku akan pastikan kalian berdua dipenjara karena pencemaran nama baik korporasi!" ancam Hendrawan.

Arka sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun menghadapi ancaman tersebut.

"Silakan coba saja kalau surat penangkapanmu datang lebih dulu dari polisi antikorupsi," tantang Arka.

[Sistem Mengunggah Seluruh Catatan Penipuan Obat Ke Portal Penegak Hukum]

Suara notifikasi kembali berderik pelan di dalam kepala Arka.

Layar komputer besar di ruang kerja Hendrawan tiba-tiba menyala sendiri menampilkan data transaksi gelap.

Hendrawan membelalakkan matanya melihat rahasia perusahaannya terbongkar dalam hitungan detik.

"I-ini... bagaimana mungkin sistem kami bisa diretas dari jarak jauh?!" jerit Hendrawan histeris.

"Sistemku tidak meretas, sistemku cuma merapikan sampah perusahaanmu," jawab Arka tenang.

Clara melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah Hendrawan.

"Permainan kotor kalian menjual obat berbahaya demi keuntungan pribadi sudah berakhir," kata Clara tegas.

Siska menganggukkan kepalanya setuju dengan ekspresi wajah penuh kemenangan.

"Nyawa manusia bukan barang mainan yang bisa kalian tukar dengan uang," tambah Siska.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar menampilkan kedatangan aparat penegak hukum berpakaian resmi.

"Hendrawan, anda resmi ditahan atas tuduhan distribusi obat ilegal dan penipuan publik," umum penyidik.

Wajah Hendrawan seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat hidup.

Ia terduduk lemas di lantai bersandar pada meja kerjanya yang mewah.

"Tolong... lepaskan saya... saya bisa bayar berapa saja...!" rintih Hendrawan memohon.

Penyidik tidak memedulikan ratapan tersebut dan langsung memborgol kedua tangan Hendrawan.

"Bawa pelaku dan amankan seluruh dokumen sebagai barang bukti," perintah kepala penyidik.

Hendrawan diseret keluar ruangan dengan amarah yang berubah menjadi keputusasaan total.

Suasana di ruang kerja direktur utama kembali sunyi senyap.

Arka merapikan sedikit kerah jasnya lalu berbalik menghadap Clara dan Siska.

"Satu sarang laba-laba sudah berhasil kita hancurkan," ucap Arka datar.

"Tapi ini baru awal dari jaringan farmasi nasional yang jauh lebih luas," balas Clara serius.

Siska tersenyum lebar menatap Arka dengan rasa kagum yang tak terbatas.

"Apapun jaringannya, aku akan selalu siap membantu di belakangmu, Arka," kata Siska manis.

Arka membalas senyuman kedua wanita hebat di sisinya itu dengan tatapan tenang.

Arc kedua baru saja menampakkan babak awalnya yang penuh dengan misteri berbahaya.

Dan Arka Prasetya siap membongkar semuanya hingga ke akar-akar terdalam.

1
nadymaddy
hebat🥰
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!