Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalau Halal Boleh, kan?
**
"Rey, gimana rasanya nikah?"
"Gurih-gurih enyoy," jawab Reyhan sambil meragakan lidah seperti sedang menjilat sesuatu.
"Jadi pengen nikah," celetuk Bima. "Enak yah, tiap malem tidur ada yang meluk."
Reyhan yang sedang mengutak-atik motornya dengan muka cemong penuh oli langsung mengangguk. "Jelas anget. Saking angetnya gue pakai kipas, padahal cuman tidur di alas tikar doang."
Seketika, terdengar tawa Bima yang langsung membuat Reyhan mendengus kesal karena dia tahu pertanyaan Bima tadi memang sengaja sedang meledeknya.
Reyhan memang secara spontan sudah sering menceritakan keadaan rumah tangganya ini kepada dua temannya. Bahkan, dia juga menceritakan pandangannya dimasa depan tentang rumah tangganya.
Reyhan masih tak yakin, rumah tangga mereka akan langgeng. Pondasi dasar tentang sebuah kata cinta saja, mereka tak punya. Semua kan, memang seharusnya berawal dari cinta kemudian saling bekerjasama, percaya, memahami dan hal menye lainnya yang semakin membuat hubungan semakin erat.
Reyhan sendiri bahkan belum yakin akan masa depannya. Tidak mungkin kan, dia selamanya terus bekerja di minimarket yang sangat jarang liburnya itu. Dia tidak mungkin terus menghabiskan gajinya setiap bulan tanpa ada sisa untuk bekal dimasa depan seperti ini.
Berat sekali pikiran dia, padahal masih berusia 19 tahun. Hidup dengan kemiskinan sedari kecil, dituntut sukses tanpa sokongan dana dari orangtua. Reyhan hanya harus bekerja mati-matian untuk keluarganya, tidak ada sama sekali untuk dirinya sendiri selama ini. Tidak ada, bahkan hanya untuk sekedar berbelanja menikmati masa mudanya. Sekarang, saat dia masih banyak beban, malah sudah dihadapkan harus menafkahi istri yang baru saja dia kenal.
Sekarang, menafkahi Ayana menjadi yang utama dibanding keluarganya. Setelah menikah, Reyhan sudah jarang mengirimkan uang kepada keluarganya, jika ada sisa baru dia kirim, selama kebutuhan Ayana sudah terpenuhi walau masih kurang. Prioritasnya sudah berbeda, terlepas Ayana hanya istri dadakannya tapi sekarang gadis itu tetap sudah menjadi prioritas utamanya.
Drtt drtt drtt
Nada dering ponselnya menghentikan lamunan Reyhan. Lelaki itu langsung mengambil ponsel yang ada di saku jeansnya.
"Iya, hallo. Assalamualaikum Ibu, ada apa?"
Mendengar jawaban di seberang telepon, langsung seketika raut wajah Reyhan menjadi muram. Hal itu tak luput dari perhatian Bima.
"Iya, Ibu. Reyhan akan usahakan yah, sisihin pas gajian besok. Nanti Reyhan izin ke Ayana juga. Iya, dia kan sudah jadi istri Reyhan, Bu." Reyhan kembali terdiam. "Iya Ibu, Reyhan usahakan tapi gak janji full. Iya, nanti dikirim. Ya udah, assalamu--"
Tut
Panggilan diputus sepihak dari ibunya, membuat Reyhan hanya bisa menghela napas berat. "Alaikum warahmatullahi wabarakatu," sambung salam Reyhan yang tadi.
Reyhan memijit keningnya yang terasa sakit. Belum saja gajian, tapi dia sudah terbayang uangnya akan habis kemana. Jika tidak memberikan ibunya uang untuk biaya tour Rima adiknya ke Yogyakarta yang saat ini kelas dua SMA, Reyhan sudah bisa membayangkan akan semarah apa ibunya nanti.
Dia juga merasa kasihan pada adiknya, jika tidak ikut tour seperti teman-temannya. Dia tidak mau adiknya merasakan apa yang dia rasakan dulu. Sepertinya, dia harus mencari uang tambahan lagi. Entah, harus bekerja apa lagi dia? Dia sudah tidak mungkin mengganggu uang gajiannya, dia tidak mau membuat Ayana lebih kekurangan. Apalagi, Reyhan masih merasa bersalah karena sudah memakai uang tabungan gadis itu. Dia tidak mau Ayana sampai harus menggunakan uang gajinya untuk kebutuhan mereka. Biar saja, itu tetap menjadi uang milik gadis itu.
"Kenapa, minta duit lagi ibu, lo?" Pertanyaan Bima langsung diangguki Reyhan. "Kali ini buat apa?"
"Biaya tour adek gue yang cewek ke Jogja."
"Tour lagi?" tanya Bima yang tak habis pikir. "Padahal, baru tiga bulan yang lalu sebelum lo nikah, adek lo tour ke Bandung. Sekolah apaan sih, tiga bulan sekali pergi tour?"
Reyhan hanya mengedikan bahunya. "Kasian kalau dia gak ikut, sementara temen-temennya pada ikut."
Bima hanya mendengus. "Keluarga lo kerjanya cuman bisa nuntut dan minta doang."
"Namanya juga keluarga, wajar mungkin. Setidaknya, mereka minta ke gue keluarga mereka sendiri bukan keluarga orang lain," jawab Reyhan yang bahkan dalam pikirannya juga menyangkal ucapannya ini.
"Tapi keluarga lo kebangetan! Kalau lo kaya, kerjaan gaji dua digit!" Bima misuh-misuh. "Tapi ini gaji lo cuman UMR, terus sekarang udah punya bini dan permintaan mereka makin menjadi!"
"Terus, gue mesti apa, Bim? Gue anak mereka. Sampai gue bisa segede ini, berkat mereka juga. Kalau gue gak sukses bukan salah mereka, tapi ini salah diri gue sendiri."
Jawaban Reyhan semakin membuat Bima ingin memukul temannya ini dengan palu. Bima sudah menjadi saksi hidup Reyhan dari SMP, dimana temannya itu sudah bekerja serabutan. Dari kerja di pasar menjadi tukang panggul, jaga konter, jual aneka snack ke sekolah, sampai membantu ibu kantin di sekolah supaya mendapatkan jatah makan gratis pada saat istirahat.
Orangtua Reyhan bisa dibilang, tidak mendapat peran terlalu banyak dalam membesarkan lelaki itu karena dia yang membesarkan dirinya sendiri.
"Rey lo--"
"Kerja dimana sekarang si Dion, sampai harus lembur sampai begini?" tanya Reyhan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan yang langsung disadari oleh Bima.
Bima menghela napas berat. Selalu seperti ini, Reyhan tidak mau terlalu dalam membahas tentang keluarganya. Bukannya Bima ingin ikut campur, tapi dia tidak tega dan peduli pada Reyhan. Dia hanya ingin sekali saja, melihat temannya itu menikmati hasil dari keringatnya.
"Pabrik boneka. Katanya gak UMR tapi banyak lemburannya. Kalau sebulan full lembur, bisa dua kali lipat dari gaji UMR," jawab Bima akhirnya seperti biasa menyerah.
"Wah, mantep tuh!" Harusnya terdengar riang jawaban Reyhan ini, tapi di telinga Bima malah terdengar hampa.
"Rey?"
"Hemmm ...."
"Gak capek apa?"
"Apaan?" tanya balik Reyhan.
"Pura-pura bahagia dan kuat."
Setelah mendengar ucapan Bima, Reyhan terdiam. Merenungi semua perkataan Bima.
Apa memang benar, jika selama ini dirinya terlalu banyak berpura-pura? Pura-pura bahagia, pura-pura kuat, bahkan dipikirannya selalu menyangkal apa yang dilakukan ibunya selama ini adalah hal tak wajar? Dia selalu meyakinkan diri, jika wajar orangtua seperti itu, wajar seorang anak memang harus seperti ini.
*
"Enggak! Ma ... Pa ... jangan pergi!"
Reyhan yang mendengar teriakan Ayana, langsung terbangun. Dengan mata setengah terpejamnya, melirik ke arah Ayana dimana gadis itu terlihat gelisah dalam tidurnya. Wajah yang terlihat memerah penuh keringat, ditambah air mata yang terlihat membasahi pipinya.
"Jangan pergi!"
Tangis Ayana semakin pecah dalam tidurnya, membuat Reyhan yang akan kembali terlelap merasa tidak tega. Lelaki itu menghampiri Ayana, secara perlahan menghapus keringat di wajah Ayana, kemudian menghapus air mata gadis itu.
"Bangun!" Reyhan mulai membangunkan Ayana.
Kata orang, jika ada yang sedang bermimpi buruk, harus segera dibangunkan entah untuk apapun alasannya itu.
"Ay, bangun!" Reyhan mulai mengguncangkan tubuh Ayana.
Perlahan, mata Ayana terbuka. Gadis itu terlihat terdiam sesaat masih sambil terisak, memandang Reyhan seolah sedang mencerna situasi apa yang sedang terjadi. Kemudian dia tersadar, jika mungkin tadi sedang bermimpi buruk dan seperti biasa selalu menangis dalam tidur.
Padahal, tadi dia akan marah saat melihat Reyhan tengah mengusap pipinya dengan posisi lelaki itu yang menunduk dari duduknya.
"Aku mimpi buruk, yah?" Pertanyaan Ayana langsung diangguki oleh Reyhan. "Aku nangis, yah?" Kembali, Reyhan mengangguk. "Aku ganggu kamu tidur, yah?"
Kali ini Reyhan menggeleng, kemudian tersenyum tipis. "Enggak. Kamu gak papa?"
Ayana terdiam sesaat, kemudian dia menggeleng kecil." Sekarang, udah gak papa."
"Tadi juga gak papa?"
Ayana menggeleng. "Iya. Tadi kan lagi mimpi buruk, jadi gak papa juga."
"Ya udah, ini masih tengah malam. Ayo lanjut tidur lagi, yuk!"
Reyhan sudah menjauh dari Ayana, dia sudah kembali berbaring di tempatnya.
"Rey," panggil Ayana pelan yang masih bisa didengar oleh Reyhan.
"Kenapa?" Reyhan sudah membaringkan tubuhnya miring ke arah Ayana.
"Aku ... boleh minta peluk pas lagi tidur lagi, gak?" tanya Ayana terdengar gugup. "Bukan mau apa-apa. Aku juga gak takut, tapi emmm ... gak jadi deh, gak usah."
Ayana sudah berbaring miring ke sisi tembok membelakangi Reyhan. Dia mencoba memejamkan matanya, berharap mimpi buruk tadi tidak akan datang lagi. Berharap juga pada saat nanti Reyhan bangun, lelaki itu akan melupakan ucapan memalukannya barusan.
Tiba-tiba, Ayana merasakan sebuah tangan memeluk perutnya dari belakang serta ada hembusan napas hangat di atas kepalanya.
"Rey, aku gak papa. Ucapan tadi gak usah dianggap," ujar Ayana yang merasa gugup atas kedekatan tubuh mereka.
"Masalahnya, aku juga lagi gak papa, Ay," balas Reyhan semakin mengeratkan pelukannya. "Gimana, kalau kita sama-sama ngasih kekuatan?"
Ayana tiba-tiba berbalik. Hal pertama yang dilihatnya adalah benjolan di leher putih Reyhan. Kemudian, seketika dia merasakan Reyhan menaikan tubuhnya sehingga sekarang wajah mereka sudah sejajar dengan jarak tidak lebih sejengkal dengan posisi Reyhan yang masih memeluknya erat.
"Kamu kenapa?" tanya Ayana, jujur dia merasa kondisi jantungnya yang berdetak lebih cepat. Ini tidak apa-apa, kan?
Reyhan tersenyum tipis. "Mari kita gak bahas sesuatu yang bikin kita terluka malam ini. Mari, kita hanya lakuin sesuatu yang bikin kita tenang."
"Maksudnya?"
Ayana yang hanya melihat senyum Reyhan tiba-tiba sadar, jika pandangan lelaki sedari tadi hanya terfokus ke bibirnya. Seketika, gadis itu menelan ludah gugup. Sesuatu terasa lebih panas dari tadi, mungkin wajahnya sekarang sudah memerah. Entah kenapa, dia mulai paham apa yang akan Reyhan lakukan tapi dia tidak bisa menolak anehnya.
Perlahan, Reyhan mendekatkan wajahnya. Sedang Ayana menutup matanya, seolah memang mengizinkan lelaki itu untuk melakukan apapun yang dia mau.
Reyhan tersenyum kecil saat melihat respon Ayana, seolah gadis itu juga menginginkan hal yang sama yang juga dirinya inginkan.
Entahlah, sekarang kepala dia sangat berisik. Mungkin mengecup jujur gadis ini bisa meredakan sedikit rasa berisiknya.
sekarang bibir mereka sudah kembali bertemu untuk saling memagut untuk yang kesekian kalinya, Reyhan ikut memejamkan matanya.
Setelah itu perlahan, mereka sudah saling memagut untuk saling bisa mengecapi rasa bibir masing-masing. Tangan Ayana sudah beralih memeluk belakang kepala Reyhan.
Entah kenapa, Reyhan sangat suka melihat respon Ayana. Reyhan mulai kehilangan kontrol diri, yang awalnya dia melumat pelan bibir gadis itu, entah kenapa dia merasa tak puas. Reyhan menggigit kecil bibir Ayana yang membuat gadis itu membuka mulutnya karena meringis sakit.
"Rey ...."
Reyhan langsung memasukan lidahnya, mengajak gadis itu bermain. Entah bagaimana, dia sudah berada di atas Ayana. Saling memagut, melumat dan bermain lidah dengan lebih intens.
Setelah merasakan pasokan udara menipis, melihat Ayana juga seperti membutuhkan napas, Reyhan menjauhkan bibirnya. Tanpa sempat Ayana merespon, ciumannya sudah turun ke dagu Ayana terus ke bawah menuju leher Ayana.
Mengecupi leher putih gadis itu yang sering membuatnya salah fokus. Akhirnya, leher ini sudah menjadi miliknya. Entahlah ini seperti kekanakan, dulu dia tidak mau melakukan hal ini dengan mantannya, seperti kekanakan memberikan sebuah tanda. Tapi sekarang, mungkin karena posisinya sudah halal dia malah sangat senang memberikan beberapa tanda di leher putih Ayana.
"Rey ... udah ....."
Reyhan yang sepenuhnya hilang kontrol, mana mau dia menuruti permintaan Ayana. Dia terus bermain di leher gadis itu, setelah puas Reyhan kembali mencium bibir Ayana lagi.
Gadis itu awalnya menolak karena ciuman tiba-tibanya, tapi lama-lama kembali mengikuti tempo ciuman Reyhan seperti tadi.
Entah bagaimana caranya, tangannya mulai berani menyentuh area dada gadis itu dari area luar. Memijatnya pelan membuat gadis itu melenguh.
Reyhan senang, dia lelaki biasa yang terkadang sering salah fokus pada area ini selama ini.
Tring
Seperti ada sebuah lampu yang menyala di otaknya yang menyuruhnya untuk berhenti. Dia tidak boleh melakukan lebih jauh dari ini karena belum ada persiapan.
Dengan berat hati Reyhan menjauhkan wajahnya, berhenti menciumi gadis itu. Tangannya juga sudah menjauh dari area dada gadis itu.
Dia tersenyum melihat penampilan Ayana yang berantakan dengan bibir yang bengkak atas ulahnya dan area leher yang penuh oleh tandanya. Dia mencium kening Ayana, ibu jarinya mengusap pelan bibir gadis itu.
Menarik napas berat, melepaskan ciuman terakhir di kening Ayana.
"Kita harus berhenti, aku gak punya kond*m. Aku gak mau ngambil resiko saat kita belum stabil gini."
Dengan berat hati Reyhan bangkit kemudian duduk di samping Ayana, tersenyum saat melihat Ayana
yang terlihat masih syok. Kemudian lelaki itu berdiri untuk menuntaskan sesuatu yang membuat kepalanya pusing.
"Kemana?" tanya Ayana setelah sekian lama akhirnya bisa menguasai diri. Tapi tadi mereka melakukan apa, yah?
"Kamar mandi Ay, gak kuat pusing."
Setelah mengatakan itu, Reyhan sudah masuk ke kamar mandi. Entah kenapa, Ayana malah paham apa yang dimaksud pusing oleh Reyhan. Dia malu, langsung menenggelamkan wajahnya di bantal.
Mereka tidak melakukan dosa kan, barusan? Eh, tapi mereka kan, sudah halal.
"Malu banget. Kalau halal, boleh kan?"
##