Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. RITUAL SEMBUR GEHENG
"Sumpah, lo kenapa sih? Habis kena santet ilmu hitam di desa apa gimana? Orang cicak kecil begitu lo sangka siluman. Sebenarnya lo lagi memikirkan apa sih, Sya?"
Rahsya perlahan-lahan duduk kembali ke sofa, merasa sangat bodoh sekaligus merasa lega di saat yang bersamaan. Ia menyandarkan punggungnya yang terasa kaku ke sandaran sofa kulit milik Reno.
Rahsya menarik napas panjang dalam-dalam, mencoba keras mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasan logisnya sebelum menumpahkan seluruh cerita rahasianya.
"Ren, dengerin gue baik-baik. Ini bukan efek dari kurang tidur atau bentuk halusinasi jomblo akut," buka Rahsya dengan nada suara rendah yang serak.
Reno yang tadinya masih ingin tertawa terpingkal-pingkal, perlahan-lahan mulai merapatkan posisi duduknya. Ia menyadari bahwa sorot mata sahabat dokternya itu menyimpan sebuah horor nyata yang mendalam.
Rahsya pun mulai bercerita mengalir. Kedua tangannya bergerak gelisah, sesekali meremas lututnya sendiri saat menceritakan bagaimana ia dibangunkan secara paksa pukul dua dini hari oleh seorang warga bermuka kriminal bernama Pak Udin.
"Gue dokter manusia, Ren! Tapi malam itu gue dipaksa lahir batin buat membantu proses persalinan seekor sapi mulas. Bayangin, kedua tangan gue belepotan lendir dan darah sapi di tengah kondisi desa yang sunyi senyap!"
Ketegangan di wajah Rahsya kian memuncak saat ceritanya sampai pada bagian area telaga hitam. "Pas gue jalan balik melewati telaga itu... tiba-tiba saja, bug! Ada sebuah kepala manusia jatuh tepat di depan kedua kaki gue! Kepala itu menggelinding kaku kayak bola, sepasang matanya melotot tajam ke arah gue!"
Rahsya memperagakan gerakan sesuatu yang jatuh menggunakan kedua tangannya, wajahnya tampak pias.
"Belum cukup sampai di situ saja, pas gue sampai di depan gerbang vila, ada sesosok tubuh wanita tanpa kepala nangkring memegang kunci di depan pintu. Gue berasa lagi dikasih fasilitas welcome drink versi neraka."
Reno yang tadinya ingin menyela obrolan, mendadak memilih bungkam saat melihat butiran keringat dingin mengucur deras di pelipis Rahsya.
"Terus... Kinanti muncul," suara Rahsya mendadak melunak, namun terdengar bergetar.
"Gadis yang sempat kita taksir bersama zaman SMA dulu. Dia tiba-tiba ada duduk di kamar gue, Ren. Muncul begitu saja tanpa permisi. Tapi semuanya berubah menjadi gelap dan kacau sejak ada warga lokal yang mati secara misterius, namanya Rehan. Dia itu sempat mau mencelakai Amel, cucunya Pak Cahyanto rekan penting papa gue. Untungnya gue datang sebelum terlambat dan berhasil menyelamatkan nyawa Amel dari kepungan geng motor. Tapi besok paginya, si Rehan ini ditemukan tewas mengenaskan dengan kondisi kepala terputus di tepi telaga! Secara medis itu sama sekali enggak masuk akal, luka robekan lehernya rapi banget kayak dipotong pakai teknologi laser."
Rahsya lalu menceritakan tentang sosok bocah bernama Nathan, anak kecil basah kuyup yang menyeret paksa jiwanya masuk ke dalam dimensi dunia lain melalui rumah kayu hangus.
"Gue dipaksa dan ditarik masuk ke dimensi dunia lain yang asri sama anak kecil itu, Ren. Tapi pas gue sampai di depan halaman rumahnya, gue lihat ada tiga bapak-bapak, dan salah satunya ternyata adalah ayah dari si Nathan. Di sana juga ada seorang cewek cantik yang wajahnya mirip banget sama Kinanti kita, namanya pun mirip! Tapi ayahnya Nathan malah mengusir gue dengan emosi dari sana. Gue didorong kuat sama cewek mirip Kinan itu sampai akhirnya gue terlempar balik lagi ke dimensi dunia nyata."
Rahsya terdiam seketika, sepasang matanya menatap kosong ke arah meja kaca yang ada di depan mereka berdua. "Dan sejak saat insiden itu terjadi... mata gue seolah-olah 'dijebol' paksa. Gue bisa melihat keberadaan mereka semua sekarang dengan jelas di mana saja. Di dalam apartemen, di jalanan kota, bahkan sosok nenek-nenek bungkuk berambut panjang yang tadi sempat bergelantungan di pohon cemara pekarangan rumah nyokap gue."
Reno terdiam seribu bahasa mendengar penuturan itu. Ia secara refleks melirik ke arah deretan koleksi barang-barang antiknya yang ada di sudut ruangan, yang mendadak terasa jauh lebih "berat" dan mencekam dari biasanya.
"Sya... kalau seluruh cerita lo ini beneran terjadi, berarti 'keluarga' gaib di dimensi itu sengaja melempar lo balik ke dunia manusia dengan membawa 'oleh-oleh' berupa pembukaan indra keenam."
"Mungkin. Gue juga enggak tahu pasti. Jadi gimana, lo bisa bantuin gue enggak? Biar gue enggak bisa melihat yang begituan lagi. Gue enggak mau diteror hantu terus, Ren!" desak Rahsya dengan tatapan memelas. Kedua tangannya mencengkeram erat lengan sofa kulit cokelat itu.
"Kayaknya gue enggak bisa," ucap Reno pendek sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Kenapa enggak bisa?! Bukannya lo punya golok sakti yang katanya bisa mengusir segala macam makhluk seram?"
Rahsya makin panik. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajah ke arah Reno.
"Masalahnya... penunggu golok saktinya lagi mudik ke alamnya, Sya. Jadi sorry, gue enggak bisa ngapa-ngapain sekarang. Gue bukan 'Reno Sakti' lagi kalau asisten gaib gue lagi mengambil hak cuti," ucap Reno sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, menunjukkan gestur menyerah yang tampak sangat menyebalkan.
"Terus gue harus gimana dong? Masa gue harus pergi ke ustaz atau dukun beneran?"
Reno terdiam sejenak. Ia mangut-mangut dengan sebuah seringai tipis yang terlihat sangat mencurigakan di mata Rahsya.
"Kayaknya gue tahu orang yang tepat buat bantuin lo."
"Siapa?"
"Geheng," ucap Reno mantap.
"Karyawan lo itu? Serius lo? Emangnya lo yakin dia bisa bantuin gue?" tanya Rahsya sangsi.
Otak medisnya langsung membayangkan sosok koki yang biasa ia lihat bekerja di dapur bawah.
"Ck, lo enggak tahu sih. Selain kerja jadi koki di restoran gue, dia itu punya pekerjaan sampingan jadi dukun... eh, bukan dukun kali ya, semacam spesialis pengusiran hantu atau pembersihan aura negatif gitu deh. Pokoknya lo samperin saja dia ke dapur sekarang."
"Ya sudah deh kalau begitu. Makasih banyak, Bro!"
Rahsya segera keluar dari ruangan kerja Reno dengan membawa secercah harapan baru. Ia melangkah cepat menuruni anak tangga menuju ke area dapur restoran yang sedang sibuk-sibuknya.
Di sana, seorang pemuda berkulit gelap berusia 23 tahun bernama Hengki—yang akrab disapa Geheng—sedang berdiri tegak di balik meja plating.
Dengan rambut kribo khasnya yang mencuat dari balik topi koki hitam, kedua tangannya tampak sangat lincah menata garnis daun di atas piring saji.
"Geheng!" sapa Rahsya sambil menepuk pundak pemuda itu.
Geheng tersentak kaget sedikit, lalu menolehkan kepalanya dengan seulas cengiran lebar. "Eh, Mas Rahsya! Mau makan siang ya, Mas? Sudah pesan belum? Menu hari ini spesial lho."
"Bukan, Ge. Saya mau minta tolong. Bisa bicara sebentar, kan? Penting banget," ucap Rahsya dengan nada suara mendesak.
"Waduh, saya lagi sibuk banget ini, Mas. Pesanan makanan lagi membeludak. Maaf ya," tolak Geheng halus sambil matanya kembali fokus pada tetesan saus di piringnya.
"Sudah, lo pergi saja dulu ke belakang. Gue yang menyuruh Rahsya ke sini," potong Reno yang tiba-tiba saja muncul di belakang mereka sambil bersedekap dada.
"Eh, Pak Bos! Beneran nih?" tanya Geheng memastikan. Matanya seketika berbinar cerah karena mendapat izin "bolos" sementara dari depan kompor panas.
Reno hanya mengangguk patuh lalu kembali melangkah menuju ke ruangannya di lantai atas.
Geheng meletakkan penjepit makanannya dengan sebuah gerakan yang sangat dramatis, seolah-olah ia baru saja meletakkan sebuah senjata pusaka keramat. Ia mengelap kedua tangannya ke kain celemek yang sudah berwarna-warni terkena noda karamel, lalu menatap Rahsya lekat-lekat dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Sepasang matanya menyipit tajam, mirip sebuah mesin detektor logam yang sedang memindai keberadaan "penumpang" tak kasat mata di punggung sang dokter muda.
"Ayo Mas, ikut saya ke 'ruang eksekusi'," bisik Geheng misterius.
Geheng mengajak Rahsya berjalan ke arah halaman belakang restoran yang sepi, di antara tumpukan krat botol soda dan aroma tempat sampah. Mereka akhirnya duduk bersama di sebuah bangku kayu panjang yang sudah reyot dimakan usia.
"Jadi, Mas butuh bantuan apa dari jasa profesional mistis saya?" tanya Geheng to the point.
"Begini, Ge. Gue pengen lo menutup mata batin gue secepatnya. Kalau perlu, bikin semua hantu yang naksir gue itu pergi jauh-jauh. Lo bisa, kan?"
Rahsya bertanya dengan nada suara memelas, seolah-olah masa depan kariernya bergantung penuh pada koki kribo ini.
"Itu mah gampang, Mas. Kecil!"
Geheng menyombongkan diri penuh percaya diri.
"Tapi Masnya sanggup enggak menerima pantangan dan menuruti seluruh prosedur ritual saya? Janji ya, jangan sedikit pun marah, protes, apalagi laporan ke Pak Reno nantinya."
"Gue sanggup! Gue janji apa pun itu bakal gue turuti, asal gue bisa hidup normal tanpa melihat penampakan pocong atau tuyul main yoyo lagi!"
Rahsya mengangguk mantap.
"Oke, kalau begitu. Kita mulai ritual 'Deep Cleaning Spiritual'."
Geheng bangkit berdiri dari bangku kayu. "Mas Rahsya tunggu di sini sebentar, ya."
Rahsya tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk pasrah. Pria kribo itu berlari cepat ke arah dapur, lalu tidak lama kemudian kembali lagi dengan membawa sebuah mangkuk plastik berisi air jernih. Ia duduk kembali di samping Rahsya.
Geheng lalu merogoh saku celemek memasaknya. Ia mengeluarkan selembar daun sirih, buah pinang, kapur sirih, dan sepotong gambir. Tanpa basa-basi lagi, ia memasukkan semua bahan itu ke dalam mulutnya dan mulai mengunyahnya dengan kuat.
Rahsya mengernyitkan dahi heran melihat pemandangan konyol itu.
'Ini dukun apa nenek-nenek yang lagi ngerumpi di pasar tradisional sih?' pikirnya kebingungan.
Belum selesai rasa herannya, Geheng kembali merogoh dalam-dalam saku celemeknya—yang sepertinya memiliki dimensi gaib seluas kantong ajaib Doraemon—dan mengeluarkan bongkahan kemenyan hitam, beberapa biji lada utuh, sebongkah terasi mentah, kunyit, jahe, lengkuas, hingga kencur.
Semuanya tanpa ampun langsung dimasukkan ke dalam mulutnya dan dikunyah bareng-bareng menjadi satu kesatuan.
Suara kriuk-kriuk dari dalam mulut Geheng yang sedang menghancurkan rempah-rempah mentah berbau tajam itu sukses membuat nyali Rahsya menciut seketika.
Rahsya menelan ludahnya dengan susah payah. Ia merasa ngeri melihat wajah Geheng yang tetap tampak tenang tanpa menampilkan ekspresi mual sedikit pun, padahal aroma jamu basi bercampur terasi menyengat sudah mulai tercium pekat dari radius satu meter di sekitar mereka.
Begitu gerakan rahang Geheng berhenti bergerak mengunyah, ia segera meminum sebagian air di dalam mangkuk plastik tadi, lalu mulai berkumur-kumur dengan suara berisik.
Ia tiba-tiba saja berdiri tegak, membusungkan dadanya ke depan, dan...
BYURRRRR!
Geheng menyemburkan seluruh cairan "jus" rempah-rempah berwarna merah pekat itu tepat ke arah wajah tampan Rahsya dari jarak dekat.
"ADUH! BRENGSEK KAMU, GEHENG!"
Rahsya meloncat berdiri dari bangku sambil menjerit histeris ketakutan.
Ia sibuk mengucek sepasang matanya yang mendadak terasa sangat perih akibat terkena serpihan kunyit mentah bercampur cairan keramat hasil kunyahan Geheng.
Wajahnya yang biasanya selalu bersih dan kinclong terawat kini berubah warna menjadi oranye kemerahan, mirip lumuran bumbu rendang yang gagal matang.
"Katanya Mas sanggup dan sudah janji tidak bakalan marah? Mana jiwa kesatria seorang dokter Anda, Mas?" sindir Geheng tanpa dosa sambil meletakkan mangkuk plastiknya.
"Tapi enggak begini juga caranya, Malih! Kenapa lo tega menyembur muka gue pakai begituan? Lo kira muka gue ini kompor yang lagi kebakaran?!"