Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Kebangkitan Fisik Iblis
Tantangan Shen Luo membuat seluruh alun-alun seketika sunyi.
Puluhan ribu pasang mata tertuju kepadanya. Sebagian menganggap pemuda berjubah tambalan itu sudah kehilangan akal, sementara yang lain menunggu untuk melihat bagaimana ia akan mempermalukan dirinya sendiri.
Di atas panggung batu giok, wajah Tetua Kepala sempat memerah karena marah. Namun tak lama kemudian, kemarahan itu berubah menjadi senyum dingin.
"Bagus. Kau ingin membuktikan bahwa Sembilan Akarmu bukan sampah?"
Qi yang keluar dari tubuhnya membuat udara di sekitar panggung bergetar.
"Baik. Aku kabulkan."
Tatapannya menjadi tajam.
"Tapi ingat, jika kau mati di dalam Lorong Pedang Besi, jangan berharap sekte mengurus mayatmu."
Tanpa menunggu jawaban, Tetua Kepala mengeluarkan sebuah token giok hitam dan melemparkannya ke arah dinding tebing.
Grrruuum!
Suara gemuruh segera mengguncang tanah.
Dinding batu perlahan terbelah, memperlihatkan sebuah pintu batu hitam setinggi sepuluh tombak. Tiga aksara kuno terukir di atasnya.
Lorong Pedang Besi.
Ketika pintu itu terbuka, hawa dingin bercampur tekanan tajam langsung menyapu alun-alun. Beberapa pendaftar tanpa sadar mundur beberapa langkah.
Lorong sepanjang tiga ratus tombak itu dipenuhi formasi kuno. Tekanan berat memenuhi setiap sudutnya, sementara pedang Qi dapat muncul dari segala arah tanpa peringatan.
Bahkan kultivator Pembentukan Fondasi harus berhati-hati jika ingin melewatinya.
Tetua Kepala menunjuk ke pintu yang gelap.
"Masuklah. Mari kita lihat seberapa kuat tubuhmu."
Shen Luo tidak menjawab.
Ia hanya merapikan jubahnya, lalu berjalan menuju lorong.
Begitu tubuhnya melewati pintu, batu besar itu kembali bergerak dan menutup di belakangnya.
Bum!
Di luar, sebuah kristal cermin perlahan melayang di udara. Permukaannya menampilkan keadaan di dalam lorong sehingga seluruh pendaftar dapat menyaksikan ujian Shen Luo.
Sebagian besar dari mereka sudah menunggu kegagalannya.
Namun di dalam lorong, Shen Luo hanya berdiri dengan tenang.
Cahaya perak tiba-tiba menyala di sepanjang dinding.
Dalam sekejap, tekanan berat jatuh dari atas.
Wussh!
Tanah di bawah kaki Shen Luo langsung retak.
Tubuhnya sedikit merendah, tetapi kedua kakinya tetap menancap kuat di tanah.
Shen Luo menarik napas dalam-dalam dan mengedarkan Qi Darah Iblis ke seluruh tubuh.
Qi itu mengalir melewati tulang dan ototnya, membangkitkan kekuatan yang telah ditempa selama sepuluh tahun.
Tubuh yang selama ini terlihat biasa saja akhirnya menunjukkan hasil dari latihan panjangnya.
Shen Luo merasakan tekanan di sekelilingnya, lalu tersenyum tipis.
"Tekanan ini masih lebih ringan daripada amarah Kakek Hitam."
Setelah mengatakan itu, ia mulai berjalan.
Namun baru beberapa langkah, cahaya perak di dinding kembali menyala.
Syuuut!
Pedang Qi muncul dari berbagai arah.
Satu.
Sepuluh.
Puluhan.
Dalam sekejap, ratusan bilah memenuhi lorong dan melesat menuju Shen Luo seperti hujan besi.
Shen Luo tidak panik.
Ia menggeser tubuhnya mengikuti celah di antara bilah-bilah tersebut. Langkah Hantu Darah bergerak secara alami, membuat tubuhnya seperti bayangan yang terus bergeser di antara hujan pedang.
Sebuah pedang Qi melewati bahunya.
Yang lain melintas di depan wajahnya.
Beberapa bahkan menyapu ujung jubahnya.
Namun tidak satu pun berhasil mengenai tubuhnya.
Di luar lorong, suara kerumunan perlahan menghilang.
Tetua Kepala yang semula masih terlihat tenang mulai mengernyit.
"Bagaimana mungkin?"
Shen Luo terus berjalan.
Semakin jauh ia melangkah, semakin kuat formasi di dalam lorong.
Cahaya perak kembali memenuhi dinding.
Kali ini, jumlah pedang Qi yang muncul jauh lebih banyak. Ratusan bilah memenuhi seluruh ruang hingga hampir tidak menyisakan celah untuk menghindar.
Shen Luo akhirnya berhenti.
Ia melihat pedang-pedang yang datang dari segala arah.
"Lumayan."
Lima bilah Qi melesat lurus ke arahnya.
Shen Luo tidak menghindar.
Ia justru mengangkat kedua lengannya untuk melindungi tubuh.
Trang! Trang! Trang!
Kelima pedang itu menghantam lengannya dan pecah menjadi serpihan cahaya.
Shen Luo menundukkan kepala.
Sebuah goresan tipis terlihat di kulitnya.
Ia menyentuh luka itu dengan jarinya, lalu menatap darah yang hanya keluar sedikit.
"Hanya begini?"
Tatapannya berubah tenang.
Ia kembali melangkah.
Kali ini, ia tidak lagi menghindari semua pedang.
Setiap bilah yang mendekat dihantam dengan tinju, telapak tangan, atau tendangan. Tubuhnya bergerak maju tanpa sedikit pun keraguan.
Trang!
Satu pedang hancur di bawah telapak tangannya.
Bang!
Pedang lainnya pecah setelah dihantam tinju.
Sebuah tendangan menyapu tiga bilah sekaligus hingga berubah menjadi serpihan cahaya.
Shen Luo terus maju di tengah badai pedang.
Tubuhnya yang ditempa selama sepuluh tahun akhirnya memperlihatkan kekuatan sebenarnya.
Pedang Qi yang cukup untuk melukai kultivator biasa bahkan tidak mampu menghentikan langkahnya.
Di luar lorong, para tetua mulai kehilangan kata-kata.
Seorang pengawas yang terlalu terpaku pada kristal cermin bahkan tidak sadar bahwa papan catatan di tangannya telah terlepas dan jatuh ke tanah.
"Mustahil..."
Ia menatap layar dengan wajah pucat.
"Tubuh manusia tidak mungkin sekuat itu."
Tetua Kepala mengepalkan tangannya.
Wajahnya semakin suram.
Ia mulai menyadari bahwa pemuda yang baru saja disebutnya sampah mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat.
Tidak lama kemudian, Shen Luo akhirnya tiba di ujung lorong.
Di hadapannya berdiri sebuah pintu batu raksasa yang menjadi penghalang terakhir.
Ia berhenti di depan pintu itu.
Selama perjalanan, Shen Luo telah merasakan niat membunuh yang tersembunyi di balik formasi. Lorong ini bukan sekadar ujian ketahanan. Setiap serangan yang dilepaskan benar-benar dirancang untuk menghancurkan tubuh orang yang masuk ke dalamnya.
Tatapan Shen Luo perlahan menjadi dingin.
"Kalau begitu, ini yang terakhir."
Ia menarik napas panjang.
Qi Darah Iblis kembali mengalir deras di dalam tubuhnya. Otot dan tulangnya menegang, sementara kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya terkumpul pada kaki kanan.
Shen Luo mengangkat kakinya.
Kemudian menendang pintu batu itu sekuat tenaga.
Boom!
Pintu raksasa tersebut langsung retak.
Retakan menyebar ke seluruh permukaannya sebelum akhirnya pecah berkeping-keping.
Serpihan batu berhamburan keluar dari lorong. Para tetua di atas panggung segera mengangkat perisai Qi untuk melindungi diri.
Debu tebal mengepul dan menutupi pintu masuk.
Seluruh alun-alun terdiam.
Beberapa saat kemudian, sebuah sosok berjalan keluar dari balik kepulan debu.
Shen Luo.
Jubah abu-abunya penuh debu, rambutnya sedikit berantakan, tetapi tubuhnya tidak mengalami luka berarti.
Ia menepuk-nepuk debu di bahunya, lalu mengangkat kepala.
Puluhan ribu orang menatapnya dengan wajah pucat.
Tidak ada yang menyangka pemuda yang dianggap memiliki bakat terburuk itu benar-benar akan keluar dari Lorong Pedang Besi dengan kedua kakinya sendiri.
Shen Luo kemudian memandang Tetua Kepala.
"Ujian ini terlalu mudah."
Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas di seluruh alun-alun.
Ia menunjuk token giok yang masih berada di tangan Tetua Kepala.
"Jadi, sekarang aku sudah lulus?"
Tetua Kepala berdiri kaku.
Untuk pertama kalinya sejak ujian dimulai, ia tidak mampu memberikan jawaban.
Di belakangnya, beberapa tetua saling bertukar pandang.
Sementara itu, Shen Luo hanya berdiri dengan tenang.
Ia tidak tahu bahwa sejak keluar dari Lorong Pedang Besi, pandangan seluruh Sekte Bintang Jatuh terhadapnya telah berubah.
Pemuda berjubah tambalan yang tadi dianggap sampah kini telah membuat puluhan ribu orang terdiam.
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/