[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Anak-anak Bintang Dari Dimensi Planet Diamond
"Bantu aku cepat, Sarah! Jangan sampai ada seberkas cahaya pun yang memantulkan kilau bunga es ini keluar rumah! Kalau ada satu saja petani yang lewat dan melihat ornamen es sedahsyat ini di tengah musim panas, tamatlah riwayat kita!" bisik Lucas setengah panik sembari memanjat sebuah kursi kayu di depan bingkai jendela.
Sarah segera membaringkan kembali tubuh White ke dalam boks bayinya, lalu bergerak cepat membantu suaminya membentangkan kain seprai. Telapak tangan Lucas bergetar saat bersentuhan langsung dengan bingkai kayu jendela yang dilapisi es padat. Suara gesekan antara kain seprai dan lapisan kristal es memunculkan bunyi gemerincing halus yang mematikan bagi kewarasan mereka.
"Cepat lakukan, Lucas! Sial, aku sepertinya mulai mendengar samar-samar suara langkah kaki orang berjalan di jalan setapak depan rumah kita!" seru Sarah dengan nada suara tertahan yang dipenuhi kepanikan.
Lucas menarik napas panjang untuk memfokuskan gerakannya. Menggunakan martil kecil dan paku, pria itu dengan gerakan cepat memaku ujung kain tebal pada bingkai kayu bagian atas jendela, menutupi seluruh permukaan kaca yang membeku tanpa menyisakan celah sedikit pun. Seketika itu juga, interior kamar tidur mereka berubah menjadi remang-remang, karena seluruh cahaya matahari pagi telah terhalang oleh lapisan kain tebal yang Lucas pasang.
"Sudah... semuanya sudah tertutup dengan rapat," gumam Lucas seraya turun dari kursi kayu dengan napas terengah-engah.
Keringat dingin bercampur sisa hawa beku membasahi dahinya. Pria itu menempelkan telinganya pada dinding papan rumah, mendengarkan dengan saksama suara langkah kaki dan obrolan ringan para petani di luar yang perlahan mulai berjalan menjauh meninggalkan pekarangan bukit mereka.
Setelah merasa situasi benar-benar aman, Lucas memutar tubuh, menatap Sarah yang masih berdiri kaku di samping boks bayi.
"Kita tidak akan pernah bisa bertahan jika terus menggunakan metode penyamaran seperti ini, Sarah. Kain tebal ini hanya bisa menyembunyikan visual bunganya, tetapi tidak akan pernah bisa meredam hawa dingin murni yang dipancarkannya. Jika ada salah satu warga desa yang nekat bertamu ke rumah ini, mereka akan langsung merasakan sensasi dingin ekstrem seolah masuk ke dalam sebuah lemari es raksasa," tutur Lucas penuh kecemasan.
Sarah mengusap kedua lengan atasnya yang meremang akibat sisa suhu kamar. "Aku tahu risiko itu, Lucas. Tapi untuk saat ini, ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan. Kita harus tetap bersikap tenang di luar rumah, seolah seluruh kehidupan kita berjalan normal di mata warga desa. Mulai hari ini, pasang larangan keras: jangan pernah biarkan ada satu orang pun tamu yang diizinkan melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama ini, mengerti?"
Lucas mengangguk perlahan tanda setuju, meskipun di dalam hatinya ia sadar bahwa menyembunyikan rahasia magis sedahsyat ini tidak akan bisa bertahan lama hanya dengan modal selembar kain seprai tua.
Lucas melangkah menuju ke sudut kamar yang paling remang-remang. Di bawah tumpukan kain bekas dan karung goni tua, tersembunyi sebuah peti kayu ek kuno berukuran sedang yang terkunci rapat oleh slot besi tebal. Dengan tangan bergetar, Lucas merobek kancing kemejanya, mengeluarkan sebuah kunci perak usang berukir aneh dari kalung rantai yang selama ini ia sembunyikan rapat di balik dadanya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Lucas?" tanya Sarah berbisik, khawatir suaranya kembali mengusik tidur White.
"Kakek buyutku bukan sekadar penebang kayu biasa di hutan purba ini, Sarah. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya ratusan tahun lalu, dia mewariskan kunci perak dan peti kuno ini kepadaku. Beliau berpesan dengan sangat serius bahwa suatu saat nanti, tatanan dunia fana ini akan berubah menjadi tempat yang asing dan berbahaya, dan isi dari buku di dalam peti ini yang akan menjadi pemanduku untuk bertahan hidup," jawab Lucas sembari memasukkan kunci perak tersebut dan memutarnya hingga terdengar suara klik besi yang berat.
Lucas membuka penutup peti kayu tersebut. Di dalamnya tergeletak sebuah buku tebal kuno bersampul kulit hitam pekat bertekstur kasar—kulit naga—yang sudah menghitam dimakan usia. Jutaan butiran debu mikro beterbangan saat Lucas mengangkat buku masif itu keluar. Di bagian tengah sampul, tampak terukir sebuah lambang kuno berbentuk lingkaran matahari bersinar yang dikelilingi oleh jalinan pecahan kristal es yang tajam. Sebuah simbol mistis yang selama ratusan tahun ini selalu dianggap Lucas sebatas hiasan ukiran belaka tanpa makna.
"Kakek buyutmu... apakah beliau adalah seorang penyihir?" Sarah terbelalak, hampir tidak mempercayai fakta sejarah keluarga suaminya sendiri.
"Penyihir pelindung klan malam," ralat Lucas pelan dengan nada suara yang sarat wibawa kuno. Pria petani itu menaruh buku besar tersebut di atas meja kayu kecil, lalu mulai membalik halaman perkamen yang sudah menguning rapuh dengan gerakan teramat hati-hati.
Gerakan jemari Lucas mendadak terhenti di sebuah halaman tengah. Halaman tersebut menampilkan sebuah ilustrasi gambar tangan kuno yang teramat hidup: sesosok bayi mungil yang sedang mengambang di udara, dikelilingi oleh pusaran kepingan salju abadi di tengah hamparan gurun pasir yang gersang.
"Lihat dan baca baris kalimat ini dengan saksama, Sarah. 'Anak-anak Bintang dari dimensi Planet Diamond,'" baca Lucas dengan suara serak yang bergetar menahan badai emosi.
"Buku literatur kuno kakekku menyebutkan secara detail tentang eksistensi ras Pegasus dan ras Kristal murni. Mereka memendam sebuah inti energi kehidupan yang teramat masif dan memiliki suhu dingin mutlak di dalam jantung mereka sejak lahir. Jika anak-anak dari ras ini merasa terancam, mengalami stres emosional, atau kondisi psikologis mereka tidak stabil, inti energi dingin tersebut secara otomatis akan melepaskan barier sihir untuk membekukan apa pun yang berada di sekitar radius mereka sebagai bentuk pertahanan diri absolut."
Sarah melangkah mendekat, tubuhnya menempel pada bahu Lucas. Sepasang matanya menyusuri deretan tulisan tangan kuno dengan tinta hitam yang sudah memudar tersebut, membaca baris demi baris hukum magis semesta yang tertulis di sana.
"Jadi... putri kecil kita White adalah salah satu bagian dari anak-anak bintang ras Pegasus itu, Lucas?" gumam Sarah takjub, sebelum kemudian matanya terpaku pada sebaris kalimat peringatan berwarna merah di bagian bawah halaman.
"Tunggu... tapi di halaman bagian bawah ini tertulis sebuah peringatan fatal... kekuatan es murni milik mereka... bisa memicu daya tarik masif bagi para... pemangsa?"
Lucas mengangguk dengan raut wajah yang kian memucat. "Energi dingin murni dari sisa-sisa ras klan Pegasus adalah magnet konsumsi yang paling dicari bagi bangsa Demon dan makhluk malam berdarah dingin lainnya," baca Lucas dengan suara yang kian serak dan beraura mencekam.
"Mereka memiliki kemampuan indra supranatural yang sanggup merasakan getaran sisa energi es murni ini dari jarak puluhan bahkan ratusan mil melintasi batas kota."