NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:44.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Nadia baru selesai membersihkan sisa muntahan di lantai dan mengganti karpet yang kotor. Pakaian serta tangannya sudah ia cuci bersih.

Sementara itu, Arvin yang sudah sadar akibat guyuran air dingin duduk terdiam di sofa sudut kamar. Pria itu sudah berganti kaos polos dan celana santai. Rambutnya masih sedikit basah, dan raut wajahnya tampak kaku.

Nadia berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang, berjarak beberapa langkah dari tempat Arvin duduk. Pandangannya lurus menatap suaminya.

"Mau kamu apa sih, Mas?" suara Nadia terdengar lelah.

Arvin tak langsung menjawab. Ia hanya mengusap wajahnya kasar, enggan menatap manik mata istrinya.

"Saya tidak bisa terus-terusan hidup seperti ini," lanjut Nadia.

"Kamu pemarah, otoriter, dan ingin semua berjalan sesuai kemauanmu tanpa peduli perasaan orang lain. Dan malam ini... kamu pulang mabuk berat, main judi, bahkan menabrakkan mobilmu sendiri."

Nadia menarik napas panjang, menahan air mata yang mendesak di pelupuk matanya.

"Shalat pun kamu tidak pernah, Mas... Bagaimana kamu bisa jadi pemimpin dan imam dalam rumah tangga ini kalau kamu sendiri tidak pernah bersujud?"

"Nadia...."

"Kalau kamu terus-menerus seperti ini, lebih baik kita cerai saja," potong Nadia tegas, kalimat yang seketika membuat Arvin membeku.

Nadia menatap Arvin lurus-lurus, sorot matanya tak lagi menyisakan ragu.

"Seumur hidup itu lama, Mas. Saya tidak mau menghabiskan sisa hidup saya dengan pria yang hanya bisa merusak dirinya sendiri dan menuntut dimengerti, tanpa pernah mau menghargai saya sebagai istrinya."

Arvin mendongak. Sorot matanya menyirat kilat amarah dan terkejut yang luar biasa. Rahangnya mengeras saat ia bangkit berdiri dari sofa dengan gerakan mendadak.

"Cerai?" ulang Arvin. Ia melangkah mendekati ranjang, menatap Nadia dari atas. "Kamu gampang sekali bicara cerai, Nadia! Kamu pikir pernikahan ini cuma permainan anak sekolah?!"

Nadia tak bergeming. Meski dadanya bergemuruh, ia tetap menatap Arvin tanpa gentar. "Saya tidak pernah menganggap pernikahan ini permainan, Mas. Kamu yang memperlakukannya seperti itu. Kamu pikir dengan uang dan statusmu, kamu bisa mengontrol seluruh hidup saya?"

"Saya suami kamu!" bentak Arvin, suaranya menggelegar.

"Segala fasilitas, rumah ini, nama besar saya... semuanya kamu nikmati! Kurang apa saya sama kamu?!"

"Saya tidak butuh semua itu kalau harus dibayar dengan rasa tertekan setiap hari!" potong Nadia cepat, suaranya bergetar menahan tangis yang akhirnya pecah seraya ia ikut berdiri menghadap Arvin.

"Saya butuh dihormati! Saya butuh suami yang punya arah, bukan pria yang kalau ada masalah langsung lari ke meja judi, minum-minuman keras, dan melampiaskan amarahnya secara kasar!"

Nadia menarik napas panjang, menatap Arvin lurus-lurus tanpa menyembunyikan kekecewaannya.

"Bagaimana kalau Damian, Jovan, dan Kenzo melihatmu seperti ini, Mas? Dewasa nanti mereka mau jadi apa kalau ayahnya sendiri memberi contoh seperti ini?!" tegas Nadia.

"Bagaimana mereka bisa menghormati orang tua kalau kamu saja tidak pernah memberi teladan yang baik?"

Pria itu mengepalkan tangannya rapat-rapat, hendak membalas, namun tak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari tenggorokannya.

Nadia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu menghela napas panjang menetralkan sesak di dadanya.

"Pikirkan baik-baik, Mas," ucap Nadia pelan.

"Kalau kamu memang tidak bisa berubah dan masih mau hidup dengan cara seperti ini... lepaskan saya secara baik-baik. Jangan siksa kita berdua dalam pernikahan yang kosong ini. Seumur hidup itu terlalu lama."

Nadia berbalik, mengambil bantal serta selimut ekstra dari lemari, lalu berjalan menuju pintu kamar tanpa berpaling lagi.

"Nadia, mau ke mana kamu?!" panggil Arvin penuh penekanan.

"Saya tidur di kamar Kenzo," sahut Nadia datar tanpa menghentikan langkahnya.

Nadia melangkah membelah lorong temaram, memeluk bantal dan selimut di dadanya. Jejak air mata masih tersisa, namun ia berusaha mengendalikan napas.

Ia mendorong perlahan pintu kamar Kenzo. Lampu tidur berbentuk bintang memancarkan cahaya redup. Nadia mendekati ranjang, meletakkan bantal di sisi Kenzo, lalu merebahkan diri.

Nadia menarik Kenzo ke pelukannya. Rasa hangat tubuh anak sambungnya itu menjadi penawar dari rasa sesak yang meremukkan perasaannya. Ia mengecup puncak kepala Kenzo lembut.

Gerakan itu membuat Kenzo terusik. Mata bulatnya mendongak menatap Nadia.

"Bunda...?" bisik Kenzo serak. "Bunda tidur di sini?"

Nadia tersenyum tipis, mengelus pipi Kenzo.

"Iya, Sayang... Bunda tidur di sini sama Kenzo," bisik Nadia lembut.

Kenzo mengangguk pelan, menyandarkan kepala di dada Nadia dan melingkarkan tangan kecilnya.

"Lanjut tidur lagi ya, Anak Pinter. Masih malam," bisik Nadia mengusap punggung Kenzo.

"Iya, Bunda..." gumam Kenzo lirih, lalu kembali tertidur lelap.

Nadia memandangi wajah polos Kenzo. Di balik dinding kamar, ia tahu Arvin masih mematung sendirian di kamar utama.

Pagi menyapa ruang makan dengan suasana dingin mencekam. Suara denting sendok dan piring beradu kaku. Damian, Jovan, dan Kenzo menyantap sarapan senyap, melirik bingung pada kedua orang tuanya yang saling membuang muka. Nadia melayani anak-anak tanpa menatap Arvin, sementara Arvin hanya mengaduk kopinya dengan raut kaku.

Hingga anak-anak pamit sekolah, keheningan tetap terjaga. Tak ada sepatah kata pun terucap.

Usai mengantar anak-anak, Nadia kembali ke kamar utama. Ia duduk di depan meja rias, meraih kotak obat dan kasa steril untuk mengganti perban di dahinya. Namun, posisi luka membuat tangannya kesulitan melepas plester.

Bayangan Arvin muncul di cermin. Pria itu mendekat dan mengambil alih gunting serta alkohol dari tangan Nadia.

Nadia tersentak hendak bersuara, namun Arvin memotong dengan suara rendah serak.

"Diam. Biar saya bantu."

Nadia mematung, menatap pantulan cermin saat jemari Arvin telaten membersihkan lukanya secara hati-hati.

Setelah memasang perban baru, Arvin tak langsung menjauh. Jemarinya bertahan di tepi wajah Nadia. Ia menunduk, menatap mata istrinya di cermin dengan sorot bersalah.

"Nadia..." panggil Arvin lirih dan parau. "Saya... saya minta maaf."

Kata maaf itu meluncur dari bibirnya, menggantung di udara pagi yang dingin.

Nadia tetap diam, menatap lurus pantulan wajah Arvin di cermin. Keheningan itu membuat Arvin makin cemas. Pria yang biasanya dominan dan arogan itu kini berlutut pelan di samping kursi meja rias, merendahkan posisinya agar bisa menatap mata Nadia secara langsung.

"Nadia, tolong... mari kita bicara," bisik Arvin serak dan penuh penyesalan. Ia memberanikan diri menggenggam kedua tangan Nadia di pangkuannya.

Nadia menarik napas pendek, menatap Arvin dingin. "Bicara apa lagi, Mas?"

"Saya minta maaf atas semua sikap saya selama jadi suami kamu," lanjut Arvin.

"Saya sadar saya pemarah, otoriter, dan sering memaksakan kehendak. Semalam... saya benar-benar lepas kendali."

Arvin mempererat genggamannya, menatap Nadia lurus-lurus. "Soal perasaan saya... jujur, di awal pernikahan kita, saya memang belum sepenuhnya mencintai kamu. Tapi seiring waktu, saya mencoba buka hati. Saya belajar menyayangi kamu, Nadia. Sekarang saya sadar kalau saya sudah mencintai kamu, hanya saja ego saya terlalu besar untuk mengakuinya."

Nadia membuang muka sebentar, menahan rasa sesak di dadanya. "Cinta tidak seperti ini, Mas..."

"Saya tahu saya salah, Nadia..." Arvin menunduk sejenak, suaranya makin lirih.

"Soal anak... saya minta maaf karena membentak kamu kemarin. Sebenarnya saya cuma ingin kita punya anak untuk mengikat hubungan kita. Saya takut di usia kita sekarang, kalau ditunda terlalu lama, terjadi hal yang tidak diinginkan. Saya... saya juga takut kalau diri saya sendiri yang ternyata tidak subur lagi."

Nadia tersentak pelan mendengar pengakuan jujur itu. Raut wajahnya yang kaku perlahan melunak.

Arvin mendongak, menatap Nadia dengan sorot memohon yang belum pernah terlihat sebelumnya.

"Tolong kasih saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya dari awal," pinta Arvin tulus.

"Saya berjanji akan menurunkan ego saya, belajar mendengar kamu, dan jadi suami serta imam yang lebih baik. Tolong jangan tinggalkan saya, Nadia..."

Nadia menatap Arvin dalam-dalam, lalu berbisik pelan, "Saya butuh bukti, Mas. Bukan janji."

1
English Lesson
next kk😍😍😍
Fitri Yah
oh .. ferdunan beda agama toh
Fitri Yah
lanjutt lagi kaaa ... terima kasih sdh up banyak
utama
yang sabar Kenzo, bentar lagi adek kamu mau otw🤭
lanjut up kak
utama
lanjut up kak
vita
makasih kak buat ceritanya d tunggu kelanjutannya 💪💪💪
Fitri Yah
iya ajaklah nadya honeymoon, jg anak2mu mas arvin sekalian libur keluarga , pasti anak2 senang .. liburan bareng bunda sama ayahnya 😍
utama
terimakasih sudah up kak🥰
English Lesson
😍😍😍
English Lesson
next kk😍😍😍
Sri Supriatin
Nadia balik n Hana dapat baba😍😍😍🙏🙏🙏
vita
penasaran sm sikap damian nantinya sm nadia, pasti ada rasa takut ya
utama
Alhamdulillah akhirnya Nadia balik lagi kerumah,
sudahlah Ajeng mengalah saja demi si princess Hanna🤭
lanjut up kak
Iffanaya 😽
jgn² Ajeng jodoh nya Ferdinand 🤭
Fitri Yah
dah plg nad ... kasian anak2 di rumah sm suamai kamu. kan dr rumah hanya 1 jam ke rumah ajeng. next main2 lg ke rumah ajeng ajan kenzo jg kl bosen dirumah ya nad hehe .. pasti suamimu ngizinin ko hehe
utama
lanjut up kak
English Lesson
next KK 😍😍😍
vita
semoga nadia luluh kasian kenzo
Fitri Yah
terhuraa huraa aku bacanya thor. buat arvin jnj pelajaran ya ... kl ga mau kehilangan nadya lg. saling terbuka dan jgn sakiti nadya lg kl ga mau lihat nadya kabur2an lg ya. ..
utama
serindu itu meraka sama bunda yaa
lucu adek hana tahu saja cowok ganteng lagi vc🤣
lanjut up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!