NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Ting!

Tepat ketika Pak Darmawan selesai menulis soal, sebuah layar biru transparan muncul di depan wajah Tommy.

[MISI MENDADAK TERSEDIA.]

[Misi: Selesaikan soal Olimpiade Matematika tingkat Provinsi dalam waktu 15 menit.]

[Hadiah: +5 Poin IQ dan 1 Skill Baru.]

[Hukuman jika gagal: Penurunan IQ sebesar -20 poin.]

Tommy membaca notifikasi sistem itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya sama sekali.

Ia lalu menundukkan pandangannya untuk melihat soal yang ditulis oleh gurunya.

Itu adalah soal tentang volume benda putar yang digabungkan dengan integral parsial dan limit fungsi trigonometri yang sangat rumit.

Untuk siswa SMA biasa, melihat soal ini saja sudah cukup untuk membuat mereka pusing tujuh keliling.

Namun bagi Tommy, yang kini memiliki IQ sembilan puluh dan ingatan fotografis sempurna dari seluruh buku pelajaran, soal ini terasa berbeda.

Otaknya langsung membedah soal panjang itu menjadi beberapa potongan rumus dasar yang saling berkaitan.

"Waktumu lima belas menit dimulai dari sekarang," ucap Pak Darmawan sambil melirik jam tangannya. "Silakan menyerah kapan saja kamu mau."

Tommy tidak membalas ucapan gurunya.

Ia mengambil pulpen di atas meja dan mulai menempelkan ujungnya ke atas kertas.

Srak! Srak! Srak!

Tangan Tommy mulai bergerak menuliskan rentetan angka dan simbol tanpa ragu sedikit pun.

Pak Darmawan yang awalnya duduk bersandar dengan santai, perlahan mulai mencondongkan tubuhnya ke depan.

Mata guru tua itu perlahan melebar saat melihat baris pertama penyelesaian yang ditulis oleh Tommy.

"Langkah penjabaran integral parsialnya sempurna," batin Pak Darmawan terkejut.

Ia mengira itu hanyalah kebetulan belaka atau Tommy sekadar menghafal rumus dari suatu tempat.

Tetapi tangan Tommy tidak berhenti bergerak sama sekali.

Baris demi baris penyelesaian terus mengalir dengan lancar dari ujung pulpennya tanpa ada coretan atau keraguan.

Tommy bahkan memotong jalan dengan menyederhanakan persamaan trigonometri kompleks menjadi bentuk paling sederhana.

Sebuah teknik yang hanya diketahui oleh mereka yang benar-benar memahami esensi matematika tingkat tinggi.

"Tidak mungkin," gumam Pak Darmawan tanpa sadar saat melihat Tommy memasukkan batas limit ke dalam persamaan akhir.

Srak!

Tommy menarik garis bawah dua kali pada angka hasil akhirnya, menandakan bahwa ia sudah selesai.

Ia lalu meletakkan pulpen itu kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan.

"Selesai," ucap Tommy sambil menatap mata gurunya dengan tenang.

Pak Darmawan buru-buru menarik kertas itu dan menelitinya dari atas sampai bawah dengan tangan sedikit gemetar.

Setiap langkah, setiap substitusi variabel, dan setiap perhitungan diselesaikan dengan sangat brilian dan tanpa cacat sedikit pun.

Jawaban akhirnya tepat seratus persen.

"Berapa lama waktu yang saya butuhkan, Pak?" tanya Tommy memecah keheningan yang mencekam itu.

Pak Darmawan menelan ludah dengan susah payah sebelum melirik jam tangannya.

"Tiga... tiga menit empat belas detik," jawab guru itu dengan suara serak.

Bahkan Pak Darmawan sendiri membutuhkan waktu sepuluh menit untuk memecahkan soal ini saat pertama kali melihatnya.

"Dari mana kamu belajar cara menyelesaikan ini?" tanya Pak Darmawan sambil menatap Tommy seolah sedang melihat sosok hantu.

"Saya hanya membaca buku perpustakaan semalam, Pak," jawab Tommy dengan alasan yang sudah ia siapkan. "Ternyata kalau dibaca pelan-pelan, matematika itu sangat mudah."

Pak Darmawan terdiam seribu bahasa.

Semua pengalamannya selama dua puluh tahun mengajar seakan runtuh dalam waktu tiga menit saja.

Anak yang selama ini dianggap sebagai kotoran sekolah, ternyata memiliki pemahaman logika yang jauh melampaui guru matematikanya sendiri.

"Sekarang, saya harap Bapak menepati janji Bapak." Tommy melirik ke arah amplop putih di atas meja.

Tangan Pak Darmawan masih sedikit gemetar saat ia mengambil amplop SP ketiga tersebut.

Srettt! Srettt!

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, guru itu merobek amplop beserta surat di dalamnya menjadi serpihan kecil.

Ia lalu membuang serpihan kertas itu ke dalam tempat sampah di bawah mejanya.

"Bapak sudah merobeknya," ucap Pak Darmawan dengan nada yang kini terdengar jauh lebih lunak, bahkan sedikit segan.

"Terima kasih, Pak." Tommy mengangguk sopan.

"Tunggu dulu, Tommy." Pak Darmawan menahan saat Tommy baru saja akan berdiri dari kursinya.

"Ya, Pak?"

"Dengan kecerdasan seperti ini, kamu bisa langsung mewakili sekolah kita di olimpiade bulan depan." Pak Darmawan menatapnya dengan pandangan penuh harap. "Bapak akan mendaftarkan namamu sekarang juga."

Tommy langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Tidak, Pak, saya tidak mau ikut campur dalam kompetisi apa pun."

"Kenapa?" Pak Darmawan terlihat sangat terkejut. "Kamu bisa membersihkan namamu dari julukan si bodoh, kamu bisa menjadi bintang di sekolah ini!"

"Saya hanya ingin lulus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun," jawab Tommy dengan suara pelan namun sarat akan peringatan.

"Dan saya harap, apa yang terjadi di ruangan ini hari ini, tetap menjadi rahasia di antara kita berdua saja."

Pak Darmawan menatap muridnya itu dengan pandangan tidak mengerti.

Banyak siswa berlomba-lomba mencari muka agar terlihat pintar, tetapi anak ini justru ingin mengubur kejeniusannya dalam-dalam.

"Tapi kenapa, Tommy? Jika semua orang tahu kau pintar, mereka akan berhenti merundungmu."

"Kecerdasan yang diumbar terlalu cepat hanya akan menjadi sasaran empuk bagi mereka yang iri, Pak." Tommy tersenyum tipis yang terlihat sangat dewasa untuk anak seusianya.

"Biarkan saya tetap menjadi Tommy si bodoh di kelas."

Melihat tekad keras di mata muridnya, Pak Darmawan akhirnya hanya bisa menghela napas panjang dan mengangguk pasrah.

"Baiklah jika itu kemauanmu, Bapak akan tutup mulut." Pak Darmawan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lelah. "Tetapi cepat atau lambat, berlian yang dikubur dalam lumpur pun akan tetap memancarkan kilaunya, Tommy."

"Kita lihat saja nanti, Pak," balas Tommy tenang.

Tommy bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju pintu keluar ruang guru.

Tepat saat tangannya menyentuh kenop pintu, suara notifikasi sistem kembali berbunyi nyaring di dalam kepalanya.

Ting!

[MISI MENDADAK SELESAI.]

[Evaluasi: Pengguna berhasil memukau guru matematika dan membalikkan keadaan dengan sempurna.]

[Mengirimkan hadiah...]

[IQ pengguna meningkat +5 poin.]

[IQ Saat Ini: 95 Kategori: Rata-rata Atas]

[Selamat! Anda mendapatkan Skill Baru: "Manipulasi Ekspresi Mikro".]

[Deskripsi Skill: Pengguna kini dapat mengontrol raut wajah, bahasa tubuh, dan detak jantung dengan sempurna saat berbohong atau menyembunyikan emosi.]

Tommy tersenyum kecil membaca layar biru yang melayang di depan matanya itu.

Kemampuan barunya ini adalah senjata yang sangat sempurna untuk melengkapi peran sandiwaranya di sekolah.

Ia membuka pintu ruang guru dan melangkah keluar menuju lorong.

Udara siang itu terasa jauh lebih segar dari biasanya.

Ancaman pemecatan yang sejak kemarin menghantuinya kini sudah musnah tanpa sisa.

Namun Tommy juga sadar bahwa ketenangannya tidak akan bertahan lama.

Pak Darmawan mungkin akan menjaga rahasianya untuk saat ini, tetapi guru itu pasti akan terus mengawasinya dari kejauhan.

Apalagi dengan kecurigaan Nadin di kelas tadi pagi.

"Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai," batin Tommy sambil melangkah santai menyusuri lorong sekolah menuju kelasnya.

1
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!