Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Ting!
Tepat ketika Pak Darmawan selesai menulis soal, sebuah layar biru transparan muncul di depan wajah Tommy.
[MISI MENDADAK TERSEDIA.]
[Misi: Selesaikan soal Olimpiade Matematika tingkat Provinsi dalam waktu 15 menit.]
[Hadiah: +5 Poin IQ dan 1 Skill Baru.]
[Hukuman jika gagal: Penurunan IQ sebesar -20 poin.]
Tommy membaca notifikasi sistem itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya sama sekali.
Ia lalu menundukkan pandangannya untuk melihat soal yang ditulis oleh gurunya.
Itu adalah soal tentang volume benda putar yang digabungkan dengan integral parsial dan limit fungsi trigonometri yang sangat rumit.
Untuk siswa SMA biasa, melihat soal ini saja sudah cukup untuk membuat mereka pusing tujuh keliling.
Namun bagi Tommy, yang kini memiliki IQ sembilan puluh dan ingatan fotografis sempurna dari seluruh buku pelajaran, soal ini terasa berbeda.
Otaknya langsung membedah soal panjang itu menjadi beberapa potongan rumus dasar yang saling berkaitan.
"Waktumu lima belas menit dimulai dari sekarang," ucap Pak Darmawan sambil melirik jam tangannya. "Silakan menyerah kapan saja kamu mau."
Tommy tidak membalas ucapan gurunya.
Ia mengambil pulpen di atas meja dan mulai menempelkan ujungnya ke atas kertas.
Srak! Srak! Srak!
Tangan Tommy mulai bergerak menuliskan rentetan angka dan simbol tanpa ragu sedikit pun.
Pak Darmawan yang awalnya duduk bersandar dengan santai, perlahan mulai mencondongkan tubuhnya ke depan.
Mata guru tua itu perlahan melebar saat melihat baris pertama penyelesaian yang ditulis oleh Tommy.
"Langkah penjabaran integral parsialnya sempurna," batin Pak Darmawan terkejut.
Ia mengira itu hanyalah kebetulan belaka atau Tommy sekadar menghafal rumus dari suatu tempat.
Tetapi tangan Tommy tidak berhenti bergerak sama sekali.
Baris demi baris penyelesaian terus mengalir dengan lancar dari ujung pulpennya tanpa ada coretan atau keraguan.
Tommy bahkan memotong jalan dengan menyederhanakan persamaan trigonometri kompleks menjadi bentuk paling sederhana.
Sebuah teknik yang hanya diketahui oleh mereka yang benar-benar memahami esensi matematika tingkat tinggi.
"Tidak mungkin," gumam Pak Darmawan tanpa sadar saat melihat Tommy memasukkan batas limit ke dalam persamaan akhir.
Srak!
Tommy menarik garis bawah dua kali pada angka hasil akhirnya, menandakan bahwa ia sudah selesai.
Ia lalu meletakkan pulpen itu kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan.
"Selesai," ucap Tommy sambil menatap mata gurunya dengan tenang.
Pak Darmawan buru-buru menarik kertas itu dan menelitinya dari atas sampai bawah dengan tangan sedikit gemetar.
Setiap langkah, setiap substitusi variabel, dan setiap perhitungan diselesaikan dengan sangat brilian dan tanpa cacat sedikit pun.
Jawaban akhirnya tepat seratus persen.
"Berapa lama waktu yang saya butuhkan, Pak?" tanya Tommy memecah keheningan yang mencekam itu.
Pak Darmawan menelan ludah dengan susah payah sebelum melirik jam tangannya.
"Tiga... tiga menit empat belas detik," jawab guru itu dengan suara serak.
Bahkan Pak Darmawan sendiri membutuhkan waktu sepuluh menit untuk memecahkan soal ini saat pertama kali melihatnya.
"Dari mana kamu belajar cara menyelesaikan ini?" tanya Pak Darmawan sambil menatap Tommy seolah sedang melihat sosok hantu.
"Saya hanya membaca buku perpustakaan semalam, Pak," jawab Tommy dengan alasan yang sudah ia siapkan. "Ternyata kalau dibaca pelan-pelan, matematika itu sangat mudah."
Pak Darmawan terdiam seribu bahasa.
Semua pengalamannya selama dua puluh tahun mengajar seakan runtuh dalam waktu tiga menit saja.
Anak yang selama ini dianggap sebagai kotoran sekolah, ternyata memiliki pemahaman logika yang jauh melampaui guru matematikanya sendiri.
"Sekarang, saya harap Bapak menepati janji Bapak." Tommy melirik ke arah amplop putih di atas meja.
Tangan Pak Darmawan masih sedikit gemetar saat ia mengambil amplop SP ketiga tersebut.
Srettt! Srettt!
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, guru itu merobek amplop beserta surat di dalamnya menjadi serpihan kecil.
Ia lalu membuang serpihan kertas itu ke dalam tempat sampah di bawah mejanya.
"Bapak sudah merobeknya," ucap Pak Darmawan dengan nada yang kini terdengar jauh lebih lunak, bahkan sedikit segan.
"Terima kasih, Pak." Tommy mengangguk sopan.
"Tunggu dulu, Tommy." Pak Darmawan menahan saat Tommy baru saja akan berdiri dari kursinya.
"Ya, Pak?"
"Dengan kecerdasan seperti ini, kamu bisa langsung mewakili sekolah kita di olimpiade bulan depan." Pak Darmawan menatapnya dengan pandangan penuh harap. "Bapak akan mendaftarkan namamu sekarang juga."
Tommy langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Tidak, Pak, saya tidak mau ikut campur dalam kompetisi apa pun."
"Kenapa?" Pak Darmawan terlihat sangat terkejut. "Kamu bisa membersihkan namamu dari julukan si bodoh, kamu bisa menjadi bintang di sekolah ini!"
"Saya hanya ingin lulus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun," jawab Tommy dengan suara pelan namun sarat akan peringatan.
"Dan saya harap, apa yang terjadi di ruangan ini hari ini, tetap menjadi rahasia di antara kita berdua saja."
Pak Darmawan menatap muridnya itu dengan pandangan tidak mengerti.
Banyak siswa berlomba-lomba mencari muka agar terlihat pintar, tetapi anak ini justru ingin mengubur kejeniusannya dalam-dalam.
"Tapi kenapa, Tommy? Jika semua orang tahu kau pintar, mereka akan berhenti merundungmu."
"Kecerdasan yang diumbar terlalu cepat hanya akan menjadi sasaran empuk bagi mereka yang iri, Pak." Tommy tersenyum tipis yang terlihat sangat dewasa untuk anak seusianya.
"Biarkan saya tetap menjadi Tommy si bodoh di kelas."
Melihat tekad keras di mata muridnya, Pak Darmawan akhirnya hanya bisa menghela napas panjang dan mengangguk pasrah.
"Baiklah jika itu kemauanmu, Bapak akan tutup mulut." Pak Darmawan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lelah. "Tetapi cepat atau lambat, berlian yang dikubur dalam lumpur pun akan tetap memancarkan kilaunya, Tommy."
"Kita lihat saja nanti, Pak," balas Tommy tenang.
Tommy bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju pintu keluar ruang guru.
Tepat saat tangannya menyentuh kenop pintu, suara notifikasi sistem kembali berbunyi nyaring di dalam kepalanya.
Ting!
[MISI MENDADAK SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil memukau guru matematika dan membalikkan keadaan dengan sempurna.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +5 poin.]
[IQ Saat Ini: 95 Kategori: Rata-rata Atas]
[Selamat! Anda mendapatkan Skill Baru: "Manipulasi Ekspresi Mikro".]
[Deskripsi Skill: Pengguna kini dapat mengontrol raut wajah, bahasa tubuh, dan detak jantung dengan sempurna saat berbohong atau menyembunyikan emosi.]
Tommy tersenyum kecil membaca layar biru yang melayang di depan matanya itu.
Kemampuan barunya ini adalah senjata yang sangat sempurna untuk melengkapi peran sandiwaranya di sekolah.
Ia membuka pintu ruang guru dan melangkah keluar menuju lorong.
Udara siang itu terasa jauh lebih segar dari biasanya.
Ancaman pemecatan yang sejak kemarin menghantuinya kini sudah musnah tanpa sisa.
Namun Tommy juga sadar bahwa ketenangannya tidak akan bertahan lama.
Pak Darmawan mungkin akan menjaga rahasianya untuk saat ini, tetapi guru itu pasti akan terus mengawasinya dari kejauhan.
Apalagi dengan kecurigaan Nadin di kelas tadi pagi.
"Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai," batin Tommy sambil melangkah santai menyusuri lorong sekolah menuju kelasnya.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇