Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
"Nama mbak ini siapa?" Tanya Santi saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Nama saya Sarah!" Jawab Sarah.
"Oh mbak Sarah, Nama saya Santi. Saya istri nya ma Gibran!" Wanita bernama Santi itu memperkenalkan diri nya dengan bangga.
Sarah merasakan sakit yang teramat sangat di dalam hati nya, selama 10 tahun ini dia mengorbankan diri merawat keluarga suami nya. Tapi Gibran malah memiliki keluarga lain di tanah perantauan.
"Mas Gibran itu laki - laki yang sangat baik mbak, dia memperlakukan aku dan keluarga ku dengan sangat baik. Semua orang di sini merasa iri dengan ku, karena memiliki suami sebaik mas Gibran!" Kembali Santi bercerita.
Sarah tersenyum getir, suami yang sangat dia percaya ternyata telah berkhianat di belakang nya. Bahkan dulu Gibran selalu menolak berkunjung ke rumah orang tua nya Sarah, tapi kini da menghormati orang lain sebagai mertua nya.
Mobil itu memasuki pekarangan rumah yang sangat luas, rumah itu adalah satu - satu nya rumah paling bagus di kampung itu. Rumah bersantai 2 dengan gaya modern.
"Mari mbak Sarah, kita sudah sampai!" Ucapan Santi membuat Sarah kaget.
"Ini rumah mu?" Tanya Sarah sambil tersenyum pahit.
"Iya mbak, rumah ini di bangun oleh mas Gibran untuk ku!" Jawab Santi dengan bangga.
Kembali Sarah merasakan perih di hati nya, selama 10 tahun menikah Gibran selalu menolak saat Sarah mengajak memiliki rumah sendiri. Gibran selalu beralasan bahwa rumah orang tua nya cukup besar, dan akan menjadi milik mereka. Tapi nyata nya, di sini Gibran malah membangun sebuah rumah mewah berlantai 2 untuk wanita lain.
"Mari silahkan masuk!" Ajak Santi dengan ramah.
Sarah mengikuti langkah kaki Santi, memasuki rumah mewah itu.
"Sri, buatkan minuman untuk mbak Sarah!" Santi berkata pada seorang wanita yang menjadi pembantu di rumah nya.
"Baik nyonya!" Jawab wanita yang di panggil Sri.
"Silahkan duduk mbak Sarah, saya akan telepon mas Gibran dulu!" Santi kembali berkata.
"Terimah kasih!" Jawab Sarah singkat.
Santi agak sedikit menjauh dari Sarah, dia mulai menelepon Gibran melalui ponsel nya.
"Hallo mas, gimana keadaan ibu?" Tanya Santi saat panggilan telepon terhubung.
"Ibu tidak papa sayang, dia hanya demam biasa!" Jawab Gibran dari seberang sana.
Sarah bisa mendengar suara suami nya, karena Santi menyalahkan pengeras suara di ponsel nya. Sebisa mungkin Sarah menyimpan rasa sakit ini, dia ingin tahu seperti apa reaksi Gibran saat tahu bahwa saat ini istri sah nya sudah berada di rumah nya.
"Mas, nanti kalau sudah selesai kamu buruan pulang ya. Di rumah sedang ada tamu!" Kembali Santi berkata.
"Iya sayang, kamu tunggu saja di rumah!" Jawab Gibran dari seberang sana.
"Iya sayang, cepat pulang ya. Bye,,,!" Santi pun menutup panggilan telepon dengan Gibran.
Setelah itu Santi kembali duduk bersama Sarah, Sarah melihat dengan jelas di tubuh Santi ada banyak perhiasan emas.
"Semua ini di berikan oleh mas Gibran sebagai hadiah untuk ku, bahkan kalung ini di berikan nya pada saat ulang tahun pernikahan kami tahun ini!" Jelas Santi sambil memperlihatkan kalung nya yang Indah.
"Mas Gibran itu sangat baik, setiap kali aku ulang tahun dia akan memberikan perhiasan emas. Begitu pun setiap kali kami merayakan ulang tahun pernikahan kami, mas Gibran pasti membelikan aku hias mewah!" Santi menceritakan kebaikan Gibran pada Sarah.
Seketika pikiran Sarah teringat saat dulu di ulang tahun pernikahan mereka yang ke 3, Gibran menolak dan marah - marah saat Sarah meminta di belikan sebuah cincin.
'Buat apa beli perhiasan, semua itu tidak penting. Lebih baik uang nya di gunakan saja untuk tabungan masa depan kita!' Uapan Gibran kala itu kembali terngiang di telinga Sarah.
"Oh ya mbak Sarah, kamu tunggu di rumah ya. Aku mau jemput Kevin dulu, ini sudah waktu nya dia pulang dari sekolah!" Santi berkata pada Sarah.
"Baik lah, aku akan menunggu!" Jawab Sarah.
"Sri, jika nanti Sarah ingin beristirahat kamu antar kan dia ke kamar tamu!" Santi memberi perintah pada Sri.
"Baik Nyonya!" Jawab Sri sambil mengangguk kan kepala nya.
Setelah itu Santi langsung pergi dari rumah, untuk menjemput anak nya yang sudah pulang dari sekolah.
"Aku mau istirahat saja!" Sarah berkata pada Sri.
"Mari bu, ikut saya!" Ajak Sri dengan ramah.
Sarah segera mengikuti langkah kakai Sri menuju ke kamar tamu, Sarah di minta istirahat di dalam nya. Setelah Sri pergi, Sarah tidak bisa lagi menahan air mata nya. Dia menangis tanpa suara, hati nya begitu perih menyadari bahwa suami nya telah mengkhianati nya selama bertahun - tahun.
"Tega sekali kau mas Gibran, dulu kan menolak menjenguk ibu ku yang sedang sakit. Bahkan kau menolak untuk pulang saat ibu ku meninggal dunia, ternyata kau bukan nya sibuk bekerja, kamu malah bersenang - senang dengan wanita selingkuhan mu dan juga keluarga nya di sini!" Sarah berkata pada diri nya sendiri sambil menangis.
Selama ini Gibran selalu menolak jika Sarah meminta mereka memiliki rumah sendiri, tapi di sini dia malah membangun rumah mewah untuk wanita lain. Bahkan selama 10 tahun usia pernikahan mereka, belum pernah sekalipun Gibran membelikan diri nya perhiasan. Di sini Gibran selalu membelikan hadiah mewah untuk wanita lain.
"Keterlaluan kau mas Gibran, aku menyembunyikan semua kelemahan mu karena aku menghargai mu. Tapi ini lah balasan yang kau berikan pada ku!" Kembali Sarah berkata sambil meremas kertas yang ada di tangan nya.
Kertas itu adalah surat hasil pemeriksaan kesehatan mereka dulu, entah kenapa kemarin Sarah terfikir untuk membawa nya kemari. Mungkin surat ini akan berguna untuk membuka mata hati Gibran.
"Mas, kau itu mandul dan aku menerima mu. Tapi kau malah memiliki keluarga yang lain di sini, tapi tadi Santi bilang dia akan menjemput anak nya. Apakah itu arti nya anak itu anak nya mas Gibran? Tapi bagai mana bisa? Mas Gibran kan tidak bisa memiliki keturunan?" Sarah bertanya pada diri nya sendiri.
Sarah tertegun sambil berfikir, Gibran tidak bisa memiliki keturunan. Jadi mustahil dia bisa memiliki anak bersama Santi, itu arti nya ada yang tidak beres dan Gibran tidak menyadari semua itu.
"Mas Gibran, surat ini akan aku jadikan hadiah untuk mu nanti. Sebuah fakta yang tidak kau ketahui, aku sudah tidak sabar lagi melihat wajah penuh keterkejutan mu!" Monolog Sarah pada diri nya sendiri.
Sarah tersenyum sambil menghapus sisa air mata nya, dia bertekad akan membalas pengkhianatan suami nya. Dia ingin melihat langsung reaksi Gibran, saat dia tahu saat ini Sarah ada di sini. Di rumah yang dia bangun untuk wanita selingkuhan nya dan juga keluarga nya.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah