NovelToon NovelToon
Gawat! Aku Punya Anak Dari Musuh Sendiri!

Gawat! Aku Punya Anak Dari Musuh Sendiri!

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.

Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.

Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.

Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Kita Menikah

Malam semakin larut ketika suasana di kediaman mewah Frederic dan Sorana menjadi begitu tenang. Di dalam kamar utama milik Guzelar, Ayara terlihat duduk termenung di tepi ranjang king-size yang empuk.

​Jika ditanya soal Gabriel, bocah tampan itu dengan tegas menolak tidur bersama mamanya. Alasannya sangat di luar nalar anak seusianya.

"Iel ingin tidur sekamar dengan Grandpa karena ingin melanjutkan obrolan soal strategi bisnis dasar."

Terkadang, Ayara dibuat geleng-geleng kepala dengan cara berpikir putranya yang terlalu tua sebelum waktunya.

​Tiba-tiba, suara pintu kamar mandi terbuka lebar, memunculkan uap hangat yang mengepul keluar. Dari balik pintu, Guzelar melangkah keluar dengan santai. Pria itu hanya mengenakan celana pendek ketat tanpa atasan, mempertontonkan otot perut six-pack dan bentuk tubuh atletis sempurna yang tanpa bisa dipungkiri membuat siapa pun termasuk Ayara mengakui bahwa suaminya itu terlihat sangat seksi.

​"Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayangku?" tanya Guzelar dengan suara bariton yang lembut. Pria itu meraih celana piyama panjangnya, lalu berjalan mendekat dan ikut merebahkan diri di sebelah Ayara di atas ranjang.

​"Tidak ada apa-apa," jawab Ayara ketus sambil membuang muka.

​Tanpa aba-aba, Guzelar langsung menarik tubuh Ayara ke dalam pelukan eratnya, menenggelamkan wajah tampannya di ceruk leher dan dada sang istri.

"​Tuhan... tolong aku, pria ini benar-benar melecehkan ku"! batin Ayara meronta histeris di dalam hati, berusaha keras menahan diri agar tidak refleks mendorong tubuh suaminya jauh-jauh.

​"Begitu ya? Kalau tidak memikirkan apa-apa, lalu kenapa tadi siang tidak mengabari aku kalau kamu dan Gabriel pergi ke rumah Mami? Aku sempat panik setengah mati dan berpikir kalian diculik orang saat pulang ke rumah tadi sore," adu Guzelar manja, merengek pelan di dada Ayara.

​"Itu... aku lupa, soalnya asyik banget ngobrol seru sama Mami dan Hera," jawab Ayara sejujurnya.

​Guzelar mendesah pasrah, lalu mengecup sekilas puncak kepala istrinya. "Baiklah, untuk kali ini aku maafkan. Tapi lain kali, jangan diulangi lagi ya, Sayang? Aku tidak suka cemas sendirian," pinta Guzelar tulus.

​"Iya," balas Ayara pelan.

​Sebenarnya, sedari tadi Ayara dilanda rasa penasaran yang teramat besar. Ia sangat ingin menanyakan sebuah pertanyaan krusial kepada Guzelar. Bagaimana bisa mereka akhirnya menikah? Namun, keraguan sempat menahan lidahnya. Meskipun begitu, memendam rasa penasaran bukanlah gaya Ayara.

​"Guzelar," panggil Ayara ragu-ragu.

​"Hmm... Kenapa, Sayang?" sahut Guzelar lembut, jemarinya mulai terulur memainkan helaian rambut panjang Ayara.

​"Kamu masih ingat nggak... alasan persisnya kenapa kita berdua bisa sampai menikah?" tanya Ayara hati-hati, memancing topik yang paling sensitif.

​Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Guzelar di rambut Ayara mendadak terhenti total. Pria itu langsung melepaskan pelukannya secara kasar, lalu menegakkan duduknya dan menatap Ayara dengan sorot mata panik bercampur bingung.

​"Tentu saja aku ingat mati-matian, Sayang! Mengapa tiba-tiba malam ini kamu menanyakan hal itu?" tanya Guzelar dengan nada tidak santai. Pria itu langsung meraih kedua tangan Ayara dan mengecupnya lama, seolah ingin menyalurkan ketenangan.

​"Entahlah... aku merasa ingatan bagian itu sedikit kabur. Bisakah kamu bantu mengingatkan aku?" tanya Ayara penuh harap, mengira suaminya akan dengan senang hati menceritakannya.

​Namun, reaksi yang ditunjukkan Guzelar justru jauh di luar perkiraannya. Pria itu tampak marah dan tersinggung.

​"Bagus kalau kamu sampai lupa, Sayang! Sama sekali tidak ada gunanya kamu mengingat hal itu lagi!" ucap Guzelar dengan nada suara yang mendadak berubah dingin dan kaku.

​Ayara mengernyitkan dahi, semakin dibuat penasaran setengah mati. "Kenapa memangnya? Kenapa aku tidak boleh tahu?" desak Ayara tajam.

​Guzelar menarik napas panjang, sorot matanya menyuratkan ketakutan yang mendalam. "Ayara... dengar, aku justru sangat bersyukur jika kamu melupakan kejadian itu. Sudah, jangan dibahas lagi. Sebaiknya kita tidur saja sekarang, ya?" pinta Guzelar sambil kembali merentangkan tangan hendak memeluk Ayara.

​Ayara menepis tangan suaminya dengan kesal. "Aku belum mengantuk, Guzelar! Tolong katakan padaku, apa sebenarnya alasan kita bisa menikah?!" mohon Ayara mulai frustasi, rasa penasarannya sudah mencapai ubun-ubun.

​Guzelar menggeleng kuat-kuat, merengkuh bahu Ayara erat-erat. "Ayara... kumohon, jangan pernah ungkit hal itu lagi, Sayang. Aku... aku takut kalau nanti ingatan itu kembali dan membuatmu kenapa-kenapa," mohon Guzelar dengan suara bergetar dan tatapan sedih.

​"Jadi kamu tetap bersikeras tidak mau mengatakannya padaku?! Kalau begitu malam ini aku tidak mau tidur di sini, aku mau tidur bersama Hera saja!" ancam Ayara telak, sengaja memakai kartu as untuk memancing kepanikan suaminya.

​Dan benar saja, ancaman itu langsung sukses membuat Guzelar kocar-kacir. "Jangan, Sayang! Jangan tidur di kamar Hera, kumohon! Aku... aku tidak bisa tidur semalaman kalau tidak memelukmu," rengek Guzelar manja, wajahnya menyuratkan keputusasaan yang nyata.

​"Makanya, katakan alasannya sekarang!" protes Ayara dengan nada kesal yang meluap-luap.

​Guzelar terdiam lama. Pria itu menatap manik mata istrinya dalam-dalam, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia sanggup membuka kotak Pandora masa lalu yang kelam itu. Raut wajahnya menyuratkan keraguan yang teramat besar.

​"Kamu benar-benar yakin ingin mendengarnya, Sayang? Bagaimana kalau trauma masa lalu mu kambuh lagi gara-gara ini?" tanya Guzelar penuh kehati-hatian, sorot matanya menyiratkan rasa cemas yang tulus.

​"Kambuh apa sih maksudmu?! Jangan bertele-tele, ayo buruan cerita sekarang!" tuntut Ayara tidak sabaran, sudah tidak tahan lagi dengan teka-teki ini.

​Guzelar menghela napas panjang, menyerah pada desakan istrinya. "Baiklah... tapi kamu harus berjanji satu hal. Jika nanti di tengah jalan kamu merasa tidak sanggup mendengarnya atau kepalamu pusing, kita harus langsung menyudahi cerita ini, ya?" pinta Guzelar serius. Ayara mengangguk cepat tanda menyetujui syarat tersebut.

​Guzelar merapikan duduknya, lalu mulai membuka lembaran masa lalu yang kelam. "Waktu itu, di malam perayaan pergantian tahun baru... tiba-tiba kamu datang mengetuk pintu apartemenku sendirian di tengah malam," ucap Guzelar menggantungkan kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah Ayara seolah ingin memastikan kondisi mental istrinya baik-baik saja.

​"Untuk apa aku datang malam-malam ke apartemen mu?" tanya Ayara tidak sabar, memotong cepat.

​Guzelar tersenyum kecut, kilatan luka terpancar jelas di manik matanya. "Tentu saja... untuk mengungkapkan rasa cintamu padaku, Sayang," ucap Guzelar lirih, mencoba menyelipkan sedikit gurauan tipis seraya mencondongkan wajah untuk mengecup singkat bibir Ayara.

​Ayara mendorong pelan dada suaminya dengan jengkel. "Aku serius, Guzelar! Jangan bercanda!" protesnya tajam.

​"Sayang... apa tidak sebaiknya kita lupakan saja malam itu? Aku benar-benar takut penyakit mental atau trauma mu kambuh lagi," mohon Guzelar dengan raut wajah yang begitu ketakutan, menyiratkan bahwa malam pergantian tahun itu menyimpan memori yang sangat buruk bagi mereka berdua.

​"Aku penasaran setengah mati, Guzelar! Ayo buruan lanjutkan ceritanya, jangan coba-coba menutupinya dariku!" desak Ayara ngeyel, sama sekali tidak mau mengalah.

"Lagipula sejak kapan aku memiliki penyakit mental dan trauma?!" kesal Ayara.

​Guzelar mendengus pasrah, menyadari bahwa istrinya tidak akan pernah berhenti mendesak sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.

​"Baiklah..." gumam Guzelar pelan.

"Kamu datang waktu itu dalam keadaan menangis tersedu-sedu, menggedor pintu apartemenku tengah malam. Dan untung saja saat itu aku sedang berada di dalam unit, sedang hancur lebur karena patah hati..."

​Guzelar berhenti sejenak, menelan ludahnya dengan susah payah. Ingatannya kembali berputar pada siang hari di tanggal 31 Desember tahun itu di mana dengan sangat percaya diri, Guzelar sempat menyatakan cinta dan mengajak Ayara berpacaran secara jantan di hadapan banyak orang. Namun, dengan teganya Ayara justru menolak mentah-mentah ajakan itu, bahkan melontarkan kalimat-kalimat hinaan tajam untuk mengolok-olok harga dirinya di depan umum.

​Mengingat kembali kejadian siang itu saja sudah membuat hati Guzelar terasa nyeri luar biasa. Ayara di masa lalu benar-benar wanita paling egois yang tidak punya perasaan sedikit pun padanya.

​Ironisnya, meskipun sudah dipermalukan separah itu di hadapan banyak orang, rasa cinta mati Guzelar kepada Ayara tidak sedikit pun luntur. Pria itu justru tetap siap siaga menerima wanita yang telah menghancurkan harga dirinya, bahkan ketika Ayara datang dalam keadaan hancur di tengah malam.

​Namun, hingga detik ini, Guzelar tetap menahan lidahnya. Pria itu masih menyembunyikan bagian paling krusial dari alasan mengapa pernikahan itu akhirnya benar-benar terjadi, sengaja merahasiakannya rapat-rapat dari Ayara yang kini tengah duduk menatapnya penuh tuntutan.

Bersambung...

Siap-siap kalian terkejut ya part selanjutnya.

1
Ita Putri
mike
Hadi Mulyono
biadab banget ayah ayara ..jadi kuat ayara balas dendam .aku kok pingin ayara bisa bela diri .hajar keluarganya yg jahat
mimief
ternyata yg bikin dia hancur bukan mike.
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
Anbu Hasna
ketiduran di ruang laundry 🫣🫣
mimief
saudara tirinya ya?🥹🥹🥹
mimief
sering Thor...
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
It's me Ri🥕
Wkwkwk... Ayara emang suka benget ngerjain orang, tapi ga boleh ditiru yaa🤭
It's me Ri🥕
Tania nya belom mau cuti kak😭
mimief
dasar Ayana...kasian bapak bapak dikerjain.
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
Anbu Hasna
kirain beneran jadi sekertaris. kasihan Tania lagi hamil besar disuru kerja
Mia Camelia
banyak rahasia ingatan yg belum terungkap nih🤔
Hadi Mulyono
guziler perlu di bawa ke uya kiya biar di hipnotis tar kan jujur ngomongnya😄
mimief
iy kan,laki laki tuh aneh. buat nyari perhatian kita tuh ngelakuin segala cara🤣🤣🤣.
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
mimief
masa lalu adalah cerminan masa depan kita
mimief
kyk dihipnotis kl yaaa....🥹🥹🥹
biar trauma nya terputus
Mia Camelia
mungkin duanda nyiksa ayara pas lagi hamil muda 🤔🤔🤔
Hadi Mulyono
emang nanti Gabriel mati?
Hadi Mulyono
ayara ayo semangat balas lah dendammu
mimief
pantesan mereka sebegitu benci nya.
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
mimief
kalau kata di didrakor fix me..
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama
It's me Ri🥕: Benar kak, semakin bungkam maka akan semakin sulit untuk sembuh 🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!