NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 - Pidato Juara Satu

Kelas masih riuh oleh keramaian yang belum juga mereda.

Nadia memeluk Intan erat-erat sambil setengah berteriak: "Mulai sekarang kita berpisah, dan kita akan saling rindu selamanya!"

Intan tertawa sambil berusaha melepaskan diri: "Sudahlah, sudahlah, sampai aku merinding!"

Intan memeluk dirinya sendiri sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri dari pelukan Nadia, ketika Rangga datang dengan senyum yang lembut. "Selamat ya, Intan. Kau juara satu se-kota." Nadia baru melepaskan Intan begitu melihat ada orang lain datang.

Intan mengangkat wajah dan tersenyum cerah: "Terima kasih!" Sekilas heran lewat di mata Rangga; cepat-cepat ia menunduk, dan senyumnya melebar sedikit demi sedikit.

Belum sempat obrolan itu memanjang, Bima masuk kelas sambil menggiring bola basket bersama serombongan teman-temannya.

Begitu melihat Intan, ia membuang jauh bola itu, berloncat ke depan secara berlebihan, lalu mendorong Rangga menyingkir: "Intan cantik, kau dewi, kau bidadariku! Bolehkah aku curi satu pelukan?" Sesudah itu Bima berkedip-kedip dengan penuh gengsi.

Nadia yang melihatnya langsung bergesit, matanya berkilat seperti petasan yang tersulut. "Menjauh! Dasar bajingan macam apa kau, jangan mengganggu Intan-ku!"

"Hai! Aku justru tidak memprovokasi apa pun. Apa kamu sudah lebih dulu mengalami menopause?"

Bima membalas seenaknya, sama sekali tidak terusik. Dalam kegaduhan yang menggema itu, Intan sempat melamun sejenak melihat pemandangan yang dahulu pernah berulang di kelas sebelumnya.

Namun semua itu hanyalah kegembiraan yang terakhir.

Begitu mereka meninggalkan tempat ini, mereka tidak akan pernah melihat pemandangan seperti ini lagi; sekalipun suatu hari bertemu, semua sudah berbeda.

Kelas masih riuh ketika wali kelas, Bu Retno Wulan, masuk.

Biasanya beliau langsung menegur keras, tetapi kali ini bukan begitu, wajahnya justru berseri karena senyum.

Barangkali karena ujian masuk sekolah menengah atas sudah selesai dan ia tidak perlu lagi menahan murid-murid yang gemar memberontak.

Atau barangkali karena kelas yang diampuinya melahirkan juara satu se-kota, sehingga ia terus berada dalam suasana hati yang baik.

Menghadapi keributan murid-muridnya, Bu Retno menunggu cukup lama sampai semua mulai tenang, barulah ia berkata:

"Baiklah, anak-anak, sudah cukup ribut. Urusan resmi kita baru kita kerjakan. Rapor dan ijazah kita bagikan lebih dulu, sedangkan surat penerimaan dari masing-masing sekolah menyusul belakangan."

"Nanti, begitu nilai dan formulir pilihan sekolah sudah lengkap, kalian turun ke lapangan untuk mengambil foto kelulusan. Setelah itu, kita benar-benar harus berpisah!"

Begitu kalimat itu jatuh, mata murid-murid yang tadi masih tersenyum langsung berkaca-kaca; beberapa gadis yang sentimental bahkan saling berpelukan dan diam-diam menyeka air mata.

Bu Retno sendiri bisa mengambil jarak dengan lapang dada; senyumnya tidak pernah pudar walau melihat tangis di depan matanya.

"Walau Ibu masih muda, Ibu sudah beberapa kali mengantar kelas terakhir. Berkumpul dan berpisah itu hal yang lumrah; tidak ada jamuan di dunia ini yang tidak berakhir."

"Hari ini Ibu berharap kalian bekerja lebih keras lagi di masa depan, dan suatu hari nanti bisa hidup dengan tenang."

"Usaha tiga tahun kalian hari ini sudah berbuah! Kalian adalah kelas kedua yang Ibu bimbing, dan Ibu berbangga karena kelas kita menduduki peringkat pertama se-kota."

"Untuk teman kalian, Intan Larasati, berikan tepuk tangan yang meriah! Sebentar lagi sekolah akan mengadakan acara pemberian penghargaan, dan Intan akan menerima hadiah."

"Sekolah kita belum pernah mendapat peringkat pertama se-kota, jadi kami pun tidak mengira ada penghargaan seperti ini."

"Wah!"

Seisi kelas gempar, dan semua mata memandang Intan dengan campuran iri dan kekaguman yang sama-sama jujur.

Mereka semua belajar dengan cara yang sama; mengapa yang bisa mengerjakan ujian dengan sempurna itu selalu Intan?

Mata Intan seketika berbinar. Soal hal lain ia tidak terlalu peduli, tetapi begitu menyangkut uang, ia selalu paling peka.

Ia berpura-pura tenang selama rapor dibagikan dan formulir pilihan sekolah selesai diisi, lalu tidak sabar lagi mengikuti teman-temannya turun ke lapangan.

Ketika masuk sekolah tadi, ia tidak sempat memperhatikan apa pun. Ternyata, di atas panggung lapangan terbentang sebuah spanduk yang sama persis dengan yang tergantung di gerbang.

Di atas panggung itu berjejer meja, kursi, dan sebuah mikrofon.

Intan berdiri sebentar di barisan kelasnya, lalu didorong oleh Bu Retno Wulan ke barisan paling depan.

Seluruh mata dari belakang itu membuat punggungnya merasa seperti tersangkut seberkas cahaya.

Rasa diperhatikan seperti ini benar-benar membuat seluruh tubuhnya tidak nyaman.

Namun, selama ini ia belajar bahwa untuk sampai ke tempat yang ia mau, ketidaknyamanan justru sering menjadi tanda bahwa ia sedang menempuh jalan yang benar.

Di sekelilingnya, murid-murid berbisik-bisik menunjuk ke panggung.

Ada yang berdecak kagum, karena baru kali ini sekolah mengadakan upacara penghargaan dengan spanduk, meja panjang berlapis kain, dan barisan kursi untuk para pimpinan.

Sebagian menduga-duga besarnya hadiah yang akan turun ke tangan Intan; sebagian lagi hanya ingin menyaksikan sang juara satu se-kota itu bicara di depan semua orang.

Belum satu kalimat pun yang diucapkan, namun lapangan itu sudah terasa seperti panggung kehormatan yang selama tiga tahun tak pernah mereka bayangkan.

Kepala sekolah dan beberapa pimpinan lainnya naik ke panggung, dan Bu Retno mendesak Intan untuk menyiapkan pidato.

Barulah Intan sadar bahwa pidato itu ternyata sudah disiapkan sejak lama, dan ia agak terkejut.

Ia membaca naskah pidato itu dengan saksama sampai habis; wajahnya tidak kuasa menahan diri untuk berkedut.

Pidato ini terlalu kaku dan tidak masuk akal, membuatnya tampak sok dan tidak jujur; ia benar-benar tidak sampai hati membacakannya.

Kalau betul-betul ia naik ke panggung membacakan naskah seperti itu, ia pasti akan ditertawakan teman-temannya seumur hidupnya.

Memikirkan hal itu, Intan mengerahkan keberanian dan berkata: "Bu, bolehkah saya berpidato sendiri? Jangan membaca sesuai naskah ini."

Bu Retno ragu sesaat: "Kau bisa?" Waktunya hanya sebentar. Intan mengangguk dengan sangat keras, takut jangan-jangan Bu Retno tidak percaya kepadanya.

Melihat sikapnya yang pantang mundur, Bu Retno tidak memaksakan naskah itu.

Setelah namanya disebut dari panggung, Intan bergegas naik. Setelah menerima mikrofon dari tangan salah seorang panitia, ia berusaha menenangkan kegugupannya, melirik ke seluruh hadirin, dan menarik napas dalam-dalam.

"Di sini, pertama-tama saya ingin berterima kasih kepada kedua orang tua saya yang telah membesarkan saya, kepada kakak saya yang selalu mendukung saya, dan kepada seluruh pimpinan serta guru yang telah membina saya. Tanpa kalian semua, Intan Larasati tidak akan pernah berada di titik seperti hari ini."

Sesudah itu Intan menunduk dalam hormat kepada setiap pimpinan, lalu berbalik menunduk kepada para guru di hadapannya.

"Saya tidak punya banyak hal untuk dibicarakan di sini. Saya hanya ingin membagi sedikit pengalaman belajar dan satu pemahaman tentang masa depan. Menurut saya, setiap orang adalah individu yang mandiri, masing-masing dengan pikiran dan usahanya sendiri."

"Jalan hidup itu sangat panjang." Ada orang berkata, 'Saya memang tidak berbakat belajar, jadi tidak usah belajar.' "Tiga ratus enam puluh lima macam pekerjaan pun bisa dijalani, dan orang nomor satu pun tidak mesti lewat belajar." Benar, saya setuju dengan ucapan itu. Akan tetapi, menurut saya, belajar giat dan masuk universitas yang baik bisa memperluas wawasan; kelak kita akan berkenalan dengan orang-orang yang lebih berpikiran dan lebih cakap.

"Soal pekerjaan, itu urusan nanti." Umur manusia tidak panjang dan tidak pendek. Menurut saya, beberapa tahun ke depan ini penting sekali untuk belajar sungguh-sungguh, supaya kelak bisa keluar ke dunia yang lebih luas. Saya berharap teman-teman sekalian ikut belajar dengan giat, berjuang masuk universitas yang baik, dan memperluas wawasan masing-masing.

"Sekian, terima kasih atas perhatiannya."

Dari lapangan terdengar tepuk tangan yang meriah; banyak murid berteriak dan bersiul nyaring sebagai sorakan untuk Intan.

Para pimpinan sekolah ikut tersulut oleh kata-kata Intan.

Mereka berdiri dan mengucapkan beberapa patah kata penyemangat sambil memuji Intan, baru kemudian membiarkannya turun dari panggung.

Ketika Intan turun, di tangannya tergenggam selembar sertifikat besar dan sebuah amplop tebal.

Isi di dalamnya membuat darahnya berdesir: hadiah dari sekolah sebagai juara satu se-kota, sebesar lima juta rupiah.

Bagi keluarga yang baru saja menabung rupiah demi rupiah itu, angka ini terasa seperti hujan di tengah musim panas, dan dadanya hampir meledak karena euforia.

Ketika kembali ke barisan kelasnya, Bu Retno Wulan datang dari belakang, mengacungkan jempol, lalu berbisik pelan: "Pidato hari ini bagus sekali." Tadinya Ibu khawatir kau akan tampil ragu-ragu di depan umum; ternyata kau justru mengagetkan Ibu lagi. Terus giat belajar.

"Ibu menunggu saat melihatmu terbang keluar dari kota kecil ini menuju kehidupan yang gemilang."

Intan terharu sampai matanya memerah, lalu mengangguk dengan sangat keras.

Nadia langsung memeluknya dari belakang, terisak-isak: "Kita benar-benar tidak bisa lagi belajar maupun bermain bersama mulai sekarang!"

Intan menepuk pundaknya dan menghiburnya: "Tetapi kita tetap sahabat baik, bukan?"

Nadia mengangguk keras-keras, menyimpan air matanya, dan kedua sahabat itu saling berpandangan lalu tersenyum.

Intan membiarkan tangan Nadia menggenggam tangannya lebih lama, sementara di genggaman yang lain, amplop tebal itu masih terasa hangat. Janji yang baru saja mereka berdua tukar, dan hadiah yang akan dibawanya pulang untuk membeli keyakinan yang lebih besar daripada seuprit rumah yang mereka tempati.

1
Xlyzy
Ayah nya sampai bertanya sangking berubah nya sang anak
Xlyzy
itu dia miskin bukan jadi alasan kita ga bisa sukses
Mingyu gf😘
Ortunya peduli banget sama pendidikan anaknya😍
Mingyu gf😘
Bagus, di kesempatan kedua ini, kamu memang harus banyak berubah
Mingyu gf😘
Waduhh kamu manja juga ya, kalau aku udah melayang sapu kalau kayak gitu🤣
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bertekad maksud nya ya.. ayok intan, kamu bisa memperbaiki lagi hal yang menurut mu kurang di kehidupan sebelumnya.. /Determined//Determined//Determined/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
menghormati leluhur nya juga.. di bacain alfatihah kalo muslim mah, di do'a in! /Determined//Determined//Determined/
Kartika Candra Buwana: betul. ini sengaja ku ganti ke ajaran lain
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
🙄.. emak inget dulu mamak nya emak, nenek kalian ngejewer emak karena emak bilang nanti nanti terus akhir nya di jewer di arahin ke tempat cuci piring!!! emak nangis kejer, kan sakit.. 😑
Arni Arlinawati Pratiwi💃: 🙄... ga ada ya.. tokoh utama cerita nya tukang marahin author,🗿.. gak berfaedah banget, 🙄
total 2 replies
Prayy
kalau terus sembahyang gak ada gunanya kan kalau tidak di iringi dengan tindakan,,
Kartika Candra Buwana: betul sekali
total 1 replies
Prayy
ini kaya doa di anime itu kan ?
Kartika Candra Buwana: iya ada yg seperti itu
total 1 replies
Prayy
hahahah mampus di marahin di suruh apa yang di kerjakan apa
Kartika Candra Buwana
ya, rajin lah sembahyang
Kartika Candra Buwana
untung saja ramalannya baik
Kartika Candra Buwana
lebih baik pake masker
ginevra
Yap ....sekarang kamu harus lebih rajin lagi... seneng banget kan kalau bisa ikut sama ibu sembahyang
Myz Pena
wkwkkwkw dimana2 ibu gitu ya guys.. cerewet tapi bikin rindu ❤️❤️
Myz Pena
rumah tua atau rumah nenek,, adalah warisan kehangatan yang diturunkan ke anak cucunya yang nggak akan pernah pudar... selalu dirindukan setiap momentnya apalagi berkumpul di hari2 besar dan hari raya 🥹
ginevra
wkwkwk... ibu dimana2 gitu ya, kalau sekali marah bergetar bumi seisinya
Aquarius97 🕊️
Nah iya.. kemana vino Tan .. jelaskan 🙄
Kartika Candra Buwana: sibuk selingkuh tuh
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
walaupun bicaranya ceplas ceplos.. tapi mereka menghargai intan dan sangat mengerti .. sukaa macam ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!