"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
"Tidak ingin memeluk papamu?" tanya Xander.
"Tidak!"
"Kamu aneh sekali, Noah," ucap Xander lagi.
"Lalu aku harus bagaimana, Kek? Apa aku harus teriak-teriak kegirangan kesana-kemari? Berlari memeluk lututnya, lalu menangis bombay dan mencium pipinya begitu? Oh, no! Aku ini bukan anak kecil!" sungut Noah ketus seraya melipat kedua tangan mungilnya di depan dada.
Di seberang meja, Xander dan Naomi kompak menepuk jidat mereka sendiri. Sepasang kakek dan nenek buyut itu menggeleng tak habis pikir melihat tingkah cicit mereka yang sombongnya selangit.
"Ya ampun, Noah, kesombongan dan gengsimu itu benar-benar cetakan asli dari papamu," keluh Xander sambil mengusap keningnya yang mendadak pusing.
"Pokoknya. Kita harus tetap menjalankan rencana awal kita! Paman singa itu sudah membiarkan aku dan mama hidup susah selama tujuh tahun. Kita tidak boleh luluh begitu saja. Biar dia pusing tujuh keliling!" sela Noah dengan raut wajah super serius, menatap tajam Kakek dan Nenek buyutnya bergantian.
Naomi terkekeh pelan melihat tekad membara di mata bocah enam tahun itu.
"Jadi, kita tetap lanjutkan sandiwara di mana mamamu berperan sebagai istri kedua kakek Xander?"
"Tentu saja! Sandiwara ini kan baru saja dimulai. Buat Paman singa itu cemburu setengah mati!" tegas Noah dengan senyum liciknya yang menggemaskan.
Elena hanya bisa menghela napas pasrah. Firasatnya mengatakan rencana ini akan berakhir dengan sangat berbahaya, terutama bagi jantungnya.
*
*
Leon kembali ke meja makan dengan aura segelap mendung. Pria itu menatap piringnya dengan raut wajah lesu. Tangannya memegang garpu dan pisau, mengiris daging steak dengan gerakan kaku dan sama sekali tak berselera.
Diam-diam, keempat pasang mata terus melirik ke arah Leon, memantau pergerakan target operasi mereka.
Melihat ada sebutir nasi yang menempel di sudut bibir Xander, Elena tahu ini adalah momen emasnya. Ia menelan ludah, mengumpulkan keberanian, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah pria tua itu.
Tangan lentik Elena terulur lembut, mengusap sudut bibir Xander dengan ibu jarinya.
"Sayang, perhatikan makanmu. Belepotan begini, persis seperti anak kecil," ucap Elena dengan suara dibuat semanis madu.
Prang!
Pisau dan garpu di tangan Leon terjatuh membentur piring. Pria itu melotot di tempat duduknya. Rahangnya mengeras seketika, dan kedua tangannya terkepal sangat erat di atas meja hingga buku-bukunya memutih.
Mata tajam Leon langsung beralih menatap Naomi yang duduk tenang menyeruput tehnya.
"Nenek!" geram Leon dengan suara tertahan.
"Hmm."
"Kenapa Nenek diam saja melihat pemandangan menjijikkan ini? Nenek rela dimadu dengan wanita yang usianya bahkan lebih pantas menjadi cucu Nenek?!"
Naomi meletakkan cangkir tehnya dengan anggun. Ia memasang wajah sendu bak aktris peraih piala Oscar.
"Ya mau bagaimana lagi, Leon," ucap Naomi seraya melirik Noah.
"Lihatlah Noah. Dia mirip sekali dengan kakekmu waktu muda, bukan? Awalnya Nenek memang sangat marah dan ingin mengusir mereka. Tapi, Nenek kasihan pada bocah malang tak berdosa ini. Dia butuh figur seorang ayah. Tujuh tahun itu bukan waktu yang sebentar."
Mendengar namanya disebut, Noah langsung beraksi. Bocah jenius itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya bergetar kecil seolah sedang menahan tangis, padahal ia sedang mati-matian menahan tawa.
Leon mendengus kasar. Matanya menyipit menatap Noah.
"Cih! Pintar sekali bocah kecil ini bersandiwara! Mirip kakek Xander dari mananya?! Hidungnya, matanya, gaya sombongnya, itu semua jiplakan dariku! Aku ini ayah kandungnya, bukan Kakek Xander!" batin Leonard frustrasi.
Namun, Elena sepertinya lupa menginjak rem. Merasa rencananya berhasil memprovokasi Leon, wanita itu memutuskan untuk memberikan serangan lain.
Elena bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, dan dengan nekad, ia langsung duduk dengan manis di atas pangkuan Xander.
Xander sendiri sampai membelalakkan mata kaget, tak menyangka istri jadi-jadiannya akan seberani ini.
"Suamiku, mau kusuapi supnya?" tawar Elena genit, merangkulkan satu tangannya di leher Xander.
Brak!
Leon menggebrak meja dan berdiri dengan kasar. Kursinya sampai terjungkal ke belakang.
Kesabaran pria itu sudah resmi habis, hangus tak bersisa.
Tanpa mempedulikan teriakan kaget kakek dan neneknya, Leon melangkah lebar menghampiri Xander. Dalam satu gerakan cepat dan tak terbantahkan, Leon membopong paksa tubuh Elena dari pangkuan kakeknya, memanggul wanita itu di bahunya seperti membawa karung beras.
"Yak! Leon! Turunkan aku! Kamu gila, ya?!" jerit Elena meronta-ronta, memukuli punggung lebar Leon.
Sial! Sial! Kenapa jadi senjata makan tuan begini?! pikir Elena panik.
"Diam, Nenek Tiri! Kita punya urusan keluarga yang harus diselesaikan di kamar. Berdua!" desis Leon tajam.
Leon melangkah panjang menuju tangga, membawanya masuk ke kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Di meja makan, suasana hening seketika.
Noah, yang sejak tadi menikmati pertunjukan, mendadak kelabakan. Mulut kecilnya terbuka lebar. Padahal rencananya hanya ingin membuat ayahnya itu cemburu dan menderita, tapi kenapa malah dirinya yang sekarang cemburu luar biasa melihat ibu kesayangannya diculik oleh ayah kandungnya sendiri.
Noah segera turun dari kursinya, wajahnya merah padam. "Kek! Ini sudah keterlaluan! Dia menculik mama! Ayo kita dobrak pintunya!"
Xander justru tertawa terbahak-bahak sambil menyesap minumannya santai.
"Hahaha! Biarkan saja, Noah. Kakek rasa sebentar lagi kamu akan punya adik."
Langkah Noah terhenti mendadak. Matanya membulat sempurna. Otak jeniusnya langsung memproses kata adik.
"Adik? Bayi yang menangis terus? Yang merebut mainanku? Tunggu dulu, kalau ada adik bayi, pasti mama akan lebih sibuk mengurusnya. Kasih sayang mama untukku akan berkurang drastis! Mama akan menggendong bayi jelek itu dan melupakanku!" gumamnya dalam hati.
Raut wajah Noah berubah horor seketika. Ambisinya untuk memonopoli sang ibu terancam sirna.
"Tidak! Tidak boleh ada adik! Mama cuma milik Noah! Titik!" teriak bocah itu panik.
Tanpa mempedulikan tawa kakek dan nenek buyutnya, Noah berlari sekuat tenaga menaiki tangga menuju kamar Leon.
"Hei! Buka pintunya! Kembalikan Mama-kuuuu!"
ampun dh kocak parah/Facepalm/
noah dagang cu-pang/Facepalm//Facepalm/