Seorang CEO tampan dan mematikan, jatuh cinta dengan seorang desainer muda, mungkin itu kisah biasa tapi ini lain.. setiap rintangan mereka lalui bersama, terpisahkan dan bersama kembali, pertengkaran hingga perkelahian mereka hadapi.
Sampai suatu hari mereka dapat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alister Weis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perencanaan Kembali
Kabir memasuki kamar Shofia. Wanita itu sedang menatap langit langit sambil melambai lambaikan tangannya.
Itu kebiasaannya saat sedang bingung dan bersedih.
"Ada apa dengan langit langit itu?"
"Kabir... aku hanya ingin menggapainya.."
"Aku akan menemanimu menggapainya"
"Apa kamu tak malu memilikiku yang cacat ini?"
"Darl... aku bukan orang yang memikirkan omongan orang lain, yang terpenting aku bahagia ..."
"Kabir.. Rio..."
"Aku tahu... apa boleh aku cemburu?"
Kabir meraih tangan Shofia, dan membuatnya menjadi bantal sambil sesekali mengecupnya.
"Kenapa cemburu, aku menolaknya"
"Aku lelaki, aku akan cemburu saat wanitaku didekati oleh lelaki lain"
"Kabir..."
"Berjanjilah padaku, untuk tetap disisiku ya"
"Tentu, Kabir dimana ponselku?"
"Untuk apa?"
"Banyak pekerjaanku yang tertunda..."
"Jangan pikirkan masalah itu, aku bisa membiayai hidupmu!"
"Tapi, menjadi desainer ternama menjadi impianku, dan sekarang aku hampir sampai disana"
"Hah... baiklah, tunggu sebentar.. kamu butuh apa lagi?"
"Alat gambar"
"Tentu.. Ar akan membawakannya untukmu"
"Kenapa tak kamu?"
"Tugasku untuk menjagamu, oh iya... kamu belum makan, ayo makan dahulu"
"Aku tak-"
"Selagi kamu belum makan, tak ada pekerjaan yang akan sampai dikamu"
"Baiklah..."
"Kamu ingin apa?"
"Apa boleh? Tak memakan makanan dari rumah sakit?"
"Rio berkata kalau boleh memakan makanan dari luar rumah sakit, tapi jangan berlebihan"
"Aku ingin kebab dan susu"
"Baiklah"
Kabir segera merogoh sakunya dan membuat panggilan untuk Ar. Memesan makanan untuk Shofia dan dirinya sendiri serta alat alat yang dibutuhkan Shofia.
"Shofia"
"Ya.. ada apa?"
"Kita segera menikah, ya?"
"Tapi, aku-"
"Tak akan banyak orang yang hadir hanya keluargamu dan keluargaku saja, aku tahu kamu akan sedikit kurang nyaman ditengah tengah pesta yang meriah"
"Apa kamu yakin? Aku-"
"Kamu sempurna... kamu harus belajar untuk tetap bertahan.. aku akan menemanimu, apapun yang terjadi"
"Terima kasih, Kabir"
"Tentu..?"
Setelah pembicaraan itu, Kabir dan Shofia berbicara santai sambil menunggu Ar.
Tak berapa lama, Ar juga sampai dengan beberapa pengawal tambahan.
"Banyak sekali?"
"Yang saya bawa ini, adalah berkas berkas yang perlu dilihat oleh tuan, dan dua pengawal lainnya membawa alat gambar dan makanan serta perlengkapan tuan dan anda nyonya"
"Nyonya?"
"Kamu akan menjadi istriku, biasakan dengan panggilan itu"
"Kabir, itu berlebihan"
"Tidak... baiklah"
"Ar, taruh koper itu diruang istirahat... yang lain taruh serapi mungkin"
"Baik tuan"
Ar dan pengawal bawaannya benar benar terlatih. Dia merapikan segelanya dengan cepat dan tepat.
"Kalian boleh pergi"
"Baik tuan"
Kabir segera mendekat pada Shofia lagi, sambil membawa senampan makanan yang dipesan oleh Kabir.
"Banyak sekali makanan? Ini nasi apa?"
"Aku lupa namanya, yang pasti ini makanan favoritku, dulu saat aku kecil aunty Fatima pasti memasakkan nasi ini saat berkunjung "
"Siapa aunty Fatima?"
"Aunty Fatima itu anak dari kakek Arsya, adiknya kakek.. tapi dibesarkan oleh kakek"
"Kenapa?"
"Kakek Arsya meniggal saat aunty baru lahir"
"Kasihan sekali"
"Hemm... ayo makan"
"Apa enak nasi itu, aku ingin mencobanya"
"Coba saja.. Ar membelikan 2 porsi masing masing makanan"
Shofia segera menyendok nasi itu dan melahapnya. Seketika dia tersenyum dan menyendokkan lagi makanan itu.
"Ini enak, aku habiskan ya"
"Habiskan... kamu harus makan yang banyak"
"Hemmm"
Kabir tersenyum, Shofia terlihat bahagia hanya karena makanan enak. Kabir tak menyangka wanita ini begitu sederhana.
"Kabir..."
"Ya?"
"Kapan aku belajar berjalan?"
"Secepatnya... kamu harus sehat secara keseluruhan dulu"
"Apa aku tak akan merepotkanmu?"
"Merepotkanku?"
"Aku akan memakai kursi roda, apa tak masalah?"
"Tidak... aku akan mendorongmu kemanapun kamu mau pergi, bahkan aku akan menggendongmu"
"Kabir!!"
"Aku serius dengan itu... jadi jangan mengkhawatirkan apapun"
"Baiklah..."
"Shofia"
"Apa?"
"Apa gaun pernikahan kita masih ada?"
"Masih, diruang kerjaku"
"Kita segera menikah ya, setelah kamu keluae dari rumah sakit"
"Tapi, aku belum memberitahu kak Morgan"
"Tenang saja, aku akan memberitahunya nanti"
"Apa sudah kamu pikirkan lagi?"
"Sudah .. jangan banyak bertanya..."
"Baiklah..."
Setelah menyelesaikan acara makan mereka, Shofia segera mengerjakan desain desainnya.
Sedangkan Kabir mengecek laporan yang datang bahkan emailnya menumpuk.
Tanpa mereka sadari, orang tua Kabir dan saudara saudara Shofia datang.
Mereka semua terkejut dan mengetkan dahi.
Bahkan mereka heran, bagaimana bisa kekuatan cinta mereka begitu besar sedangkan mereka sibuk sendiri sendiri.
"Ehem!"
Luna dan Ellena yang tak tahan dengan keheningan ini segera berdehem bersamaan.
Seketika Shofia dan Kabir mendongak dan mendapati semua anggota keluarga bersedekap dan menatap garang kepada mereka berdua.
"Ada apa?"
"Kamu bertanya ada apa? Ya ampun, Kabir!!! Kamu menunggu orang sakit malah bekerja?"
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kamu hibur Shofia atau bagaimana, dan ya ampun Shofia, kenapa kamu juga bekerja? Keluarga Dominic dan keluarga Lee tak akan jatuh miskin dengan kamu tak bekerja"
"Mom! Biarkan saja shofia bekerja.. desain desainnya adalah hal yang dia inginkan dari dulu... jangan dihalangi"
"Tapi, Shofia belum sembuh!"
"Mommy, yang sakit kakiku bukan tanganku, kan?"
"Kalian!!"
"Lebih baik, mommy dan kak Luna mempersiapkan pernikahanku dengan Shofia"
"Kalian akan menikah? Kapan?"
"Iya, setelah Shofia keluar dari rumah sakit"
"Ya ampun, kenapa terburu buru?"
"Karena dulu sudah tertunda, sekarang harus cepat cepat..."
"Tapi, Shofia masih sakit, apa tak apa?"
"Tak apa, hanya sebatas kedua keluarga saja..."
"Baiklah"
"Jangan mengundang siapapun"
"Tapi, pernikahan kedua keluarga harus diumumkan"
"Aku tahu, setelah kembali ke New York baru akan adakan konverensi pers"
"Baiklah.. gaun kalian?"
"Ar akan mengambil gaun yang ada di Paris"
"Okay... oh iya, kami tadi saat kemari melihat Rio, dan akan menanyakan keadaan Shofia tapi tak jadi"
"Kenapa?"
"Dia sedang mendekati seorang perawat yang berpenampilan nerd, tapi sebenarnya wanita itu cantik"
Seketika, Shofia dan Kabir saling tatap dan berakhir dengan senyuman.
"Rio juga sudah cukup tua untuk tak segera menikah"
"Hanya selang satu tahun darimu"
"Tapi lebih tua bukan?"
"Apa hubungan kalian bertiga tak apa?"
"Baik baik saja, ada apa?"
"Tak apa, aku tadi melihat luka lebam dipipi kiri Rio"
"Oh... aku yang memukulnya"
"Kenapa? Kalian bertengkar?"
"Tidak, hanya menyadarkannya karena terlalu lama tak berkencan"
Leo melangkah kedepan dan menepuk pundak Kabir.
"Son... kalau kalian ada masalah, selesaikan cepat, sudah sama sama dewasa, pasti akan lebih mudah diselesaikan daripada adu otot, bukan?"
"Ya dad.. masalahnya sudah selesai, buktinya dia sudah berkencan dengan wanita"
"Baguslah"
"Bagaimana keadaan Zahra?"
"Apa tak memberitahumu, mereka bulan madu ke Italia"
"Italia?"
"Ya, besok Sean akan mengadakan rapat dengan pemegang saham di Jordan house"
"Apa tak apa membiarkan Zahra ikut Sean"
"Sesekali kamu harus percaya dengan yang dipilih adikmu, Kabir.. dan kamh juga harus cepat cepat membuat keputusan tentang masa depanmu"
Kabir tersenyum, rasanya ada yang hilang.
Gadis kecil dulu yang sering merengek padanya telah tumbuh dewasa dan sudah mengikuti sang suami.
********
lanjut Thor..
aku hampir lupa Weh..🤭🤭🤣🤣
mana gua tau, elu aja gak kasih tau...🙄🙄🙄
bahkan gua pun tak bs seperti mereka.., cantik..😑
lah ini, elu cowok dah🗿 brasa gmn gitu🤭🤭🤭
baru juga di komen, udh ad POV nya, ehehehehe😂😂🤭🤭🤭
jdi penasaran aku tuh, sama POV nya 🤭🤭🤭