NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Perpisahan dan Janji

Pagi menyingsing di Little Garden dengan kabut tipis yang menyelimuti hutan purba. Aku terbangun lebih awal dari yang lain—kebiasaan dari latihan intensif ku sejak mendapatkan Spider Fruit.

Aku berdiri di tepi pantai, menatap Going Merry yang berlabuh dengan tenang. Eternal Pose ke Alabasta sudah ada di tangan Nami. Kami akan berangkat pagi ini.

"Tidak bisa tidur?"

Aku menoleh dan melihat Zoro berjalan mendekat, tiga pedang masih tergantung di pinggangnya seperti biasa.

"Hanya... berpikir," jawabku sambil menatap kembali ke laut. "Tentang apa yang menunggu kami di Alabasta."

Zoro berdiri di sampingku, mengikuti tatapanku. "Kau takut?"

"Sedikit," jawabku jujur. "Crocodile bukan musuh biasa. Dia Shichibukai. Pengguna Buah Iblis Logia. Aku bahkan tidak tahu apakah kami bisa menyentuhnya, apalagi mengalahkannya."

Zoro terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Kau terlalu banyak berpikir, Kenji. Di Grand Line, kalau kau terlalu banyak berpikir tentang seberapa kuat musuh, kau akan lumpuh sebelum bertarung."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanyaku sambil menatapnya.

"Menjadi lebih kuat," jawab Zoro dengan sederhana. "Setiap hari, setiap pertarungan, setiap tantangan—gunakan semua itu untuk menjadi lebih kuat. Dan percaya pada nakama mu. Kita semua akan menjadi lebih kuat bersama."

Kata-katanya sederhana tapi mengena.

"Terima kasih, Zoro," kataku sambil tersenyum.

"Lagipula," Zoro menyeringai. "Kau sudah cukup kuat. Kemarin kau mengalahkan Mr. 3 dengan strategi yang bagus. Terus kembangkan itu. Kekuatan saja tidak cukup—kau butuh otak juga."

Sebelum aku bisa menjawab, suara teriakan Luffy terdengar dari hutan.

"OI! KENJI! ZORO! DORRY DAN BROGY MAU BICARA SESUATU!"

Kami berdua saling pandang dan berlari ke arah suara.

Di tengah hutan, Dorry dan Brogy berdiri dengan pose heroik—pedang dan kapak mereka ditancapkan ke tanah. Seluruh kru Topi Jerami sudah berkumpul di sana.

"Bocah-bocah," kata Dorry dengan suara serius—sangat berbeda dari tawa riangnya yang biasa. "Kalian akan berangkat ke Alabasta, benar?"

"Ya!" jawab Luffy dengan semangat. "Kami akan hajar Crocodile dan selamatkan negara Vivi!"

Brogy tersenyum. "Kalian berani. Sangat berani. Untuk melawan Shichibukai dengan kekuatan yang kalian miliki sekarang... itu hampir seperti bunuh diri."

Vivi menunduk dengan sedih, merasa bersalah karena menyeret kami ke dalam bahaya seperti ini.

"TAPI!" Dorry melanjutkan dengan tawa keras. "GEGYAGYAGYAGYA! Itulah yang membuat kalian menarik! Kalian punya warrior spirit yang sejati! Persis seperti warrior Elbaf!"

"Makanya," Brogy mengangkat kapaknya. "Sebagai ucapan terima kasih karena kalian menyelamatkan kami dari Baroque Works, dan sebagai tanda hormat untuk warrior spirit kalian... kami akan memberikan kalian sesuatu."

"Sesuatu?" Nami mengangkat alis.

Dorry dan Brogy saling pandang dan mengangguk. Mereka berdua mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi.

"Ini adalah berkah dari warrior Elbaf!" teriak Dorry.

"Agar kalian selamat dalam perjalanan kalian!" teriak Brogy.

Mereka berdua mengayunkan senjata mereka ke bawah dengan kekuatan penuh!

BOOM!

Tanah bergetar. Gelombang kejut menyebar. Dan tiba-tiba, dari tanah di depan kami, muncul sebuah peti kayu besar yang terkubur.

"Apa itu?" tanya Usopp dengan mata berbinar.

"Harta karun yang kami kumpulkan selama 100 tahun di pulau ini," jelas Dorry. "Emas, permata, artefak langka. Semuanya milik kalian sekarang."

"EHHH?!" Nami langsung berlari ke peti dengan mata berubah jadi simbol Berry. "HARTA KARUN! EMAS! KEKAYAAN!"

"Nami-swan sangat excited~" Sanji berkomentar dengan sweatdrop.

Tapi Luffy menggeleng. "Kami tidak bisa menerimanya."

Semuanya terkejut—terutama Nami yang langsung berhenti membuka peti.

"LUFFY?! APA YANG KAU BILANG?!" Nami berteriak.

"Dorry, Brogy," Luffy menatap kedua raksasa itu dengan serius. "Kalian sudah menyelamatkan kami. Kalian sudah bertarung untuk melindungi kami. Itu sudah lebih dari cukup. Kami tidak butuh harta karun."

Dorry dan Brogy terdiam, lalu tersenyum lebar.

"Kau benar-benar warrior sejati, Monkey D. Luffy," kata Dorry dengan hormat.

"Tapi tetap ambil sedikit," kata Brogy sambil tertawa. "Kalian butuh uang untuk persediaan perjalanan ke Alabasta. Anggap saja sebagai investasi untuk masa depan kalian!"

"Kalau begitu..." Luffy tersenyum. "Kami terima sedikit saja!"

"SEDIKIT YANG BANYAK, LUFFY!" Nami langsung mengambil kantong dan mulai memasukkan emas dan permata sebanyak mungkin. "INI KESEMPATAN LANGKA!"

Kami semua tertawa melihat Nami yang berubah jadi mode harta karun.

Satu jam kemudian, kami semua sudah bersiap di Going Merry. Persediaan sudah dimuat, harta karun—yang "sedikit" versi Nami ternyata cukup banyak—sudah disimpan dengan aman.

Dorry dan Brogy berdiri di pantai, melambaikan tangan raksasa mereka.

"Bocah-bocah!" teriak Dorry. "Satu hal terakhir!"

"Saat kalian keluar dari pulau ini," kata Brogy dengan serius. "Kalian akan melewati jalur sempit di antara dua tebing besar. Di jalur itu, ada monster laut raksasa yang selalu memangsa kapal-kapal yang lewat."

"Monster laut?" Usopp langsung pucat. "Se-seberapa besar?"

"Lebih besar dari kami," jawab Dorry dengan santai.

"LEBIH BESAR DARI RAKSASA?!" Usopp pingsan di tempat.

"Tapi jangan khawatir!" Brogy tersenyum. "Kami akan membuka jalan untuk kalian!"

"Membuka jalan?" tanyaku bingung.

Dorry dan Brogy berdiri bersebelahan, mengangkat senjata mereka.

"Ini adalah teknik terkuat kami!" teriak Dorry.

"Kombinasi dari dua warrior Elbaf!" teriak Brogy.

"HAKOKU!"

Mereka berdua mengayunkan senjata mereka bersamaan!

WHOOOOOOSHHHHH!

Dua gelombang kejut raksasa menyatu menjadi satu gelombang yang lebih besar—lebih kuat—lebih mengerikan!

Gelombang itu melesat ke depan, membelah lautan, memotong tebing, dan—

GROOOAAARRR!

Suara raungan monster terdengar dari kejauhan. Monster laut raksasa yang Brogy sebutkan muncul dari air—makhluk yang besarnya seperti gunung, dengan gigi tajam dan mata merah menyala.

Tapi Hakoku kombinasi Dorry dan Brogy lebih kuat!

WHAM!

Gelombang kejut menghantam monster laut itu dengan kekuatan yang luar biasa, melemparnya ratusan meter ke belakang, bahkan membelah tubuhnya!

Monster itu jatuh kembali ke laut dengan percikan air yang luar biasa.

Jalur keluar dari Little Garden sekarang terbuka.

"SUGOI!" Luffy berteriak dengan mata berbinar. "ITU KEREN SEKALI!"

"Itulah kekuatan warrior Elbaf," gumam Zoro dengan kagum. "Suatu hari nanti, aku ingin bisa mengeluarkan serangan sekuat itu."

Aku menatap gelombang kejut yang masih terlihat di kejauhan. Kekuatan itu... luar biasa. Bahkan dengan Spider Fruit, aku tidak yakin bisa mengeluarkan serangan sekuat itu.

"Aku masih sangat lemah," gumamku sambil mengepalkan tangan. "Aku harus lebih kuat. Jauh lebih kuat."

"DORRY! BROGY!" Luffy berteriak dari dek kapal. "TERIMA KASIH! SUATU HARI NANTI, AKU AKAN KEMBALI KE PULAU INI DAN KITA BERPESTA LAGI!"

"GEGYAGYAGYAGYA! KAMI TUNGGU!" Dorry tertawa.

"DAN SAAT ITU, BAWA SAKE YANG ENAK!" Brogy menambahkan.

"JANJI!" Luffy tersenyum lebar.

Going Merry mulai berlayar, meninggalkan Little Garden.

Kami semua berdiri di dek belakang, melambaikan tangan ke Dorry dan Brogy yang masih terlihat di pantai.

"SELAMAT TINGGAL!"

"SEMOGA KALIAN SELAMAT, BOCAH-BOCAH!"

"JADI BAJAK LAUT YANG HEBAT!"

Suara mereka perlahan menghilang seiring kapal menjauh.

Beberapa jam kemudian, kami sudah jauh dari Little Garden. Nami memeriksa Eternal Pose dengan serius.

"Menurut Eternal Pose ini, Alabasta masih sekitar satu minggu perjalanan dari sini," katanya. "Tapi kita harus melewati beberapa pulau kecil untuk mengisi persediaan."

"Satu minggu..." Vivi menggigit bibirnya dengan khawatir. "Semoga tidak terlambat..."

"Kita akan sampai tepat waktu," kata Luffy dengan yakin. "Aku janji."

Vivi tersenyum—meskipun masih ada kekhawatiran di matanya.

Aku berdiri di haluan kapal, merasakan angin laut di wajahku. Spider Sense ku berdering pelan—bukan bahaya, tapi lebih seperti... antisipasi.

Sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang besar.

"Kenji," suara Robin membuatku menoleh.

Dia berdiri di sampingku, buku di tangannya seperti biasa.

"Robin," aku menyapanya. "Ada yang bisa kubantu?"

"Aku hanya ingin berbicara," katanya sambil menutup bukunya. "Tentang Alabasta."

Aku langsung waspada. "Apa tentang Alabasta?"

Robin menatapku dengan tatapan serius. "Crocodile bukan musuh biasa, Kenji-kun. Dia Shichibukai, ya. Tapi lebih dari itu—dia sangat cerdas, sangat kejam, dan sangat berpengalaman. Dia sudah merencanakan pengambilalihan Alabasta selama bertahun-tahun. Setiap detail, setiap kemungkinan, semuanya sudah diperhitungkan."

"Kenapa kau memberitahuku ini?" tanyaku dengan curiga. "Kau... kau seharusnya di pihak Crocodile, kan?"

Robin tersenyum tipis—senyuman yang penuh dengan kesedihan. "Aku punya alasanku sendiri untuk bekerja dengan Crocodile. Tapi itu tidak berarti aku setuju dengan semua yang dia lakukan."

Dia menatap cakrawala. "Princess Vivi adalah orang yang baik. Rakyat Alabasta tidak bersalah. Mereka tidak pantas menderita karena ambisi Crocodile."

"Lalu kenapa kau tidak menghentikannya?" tanyaku. "Kenapa kau masih bekerja untuknya?"

"Karena..." Robin terdiam. "Karena aku tidak punya pilihan. Belum."

Aku menatapnya lama. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Sesuatu yang menyakitkan.

Tapi aku tidak memaksa. Aku tahu dari cerita aslinya bahwa Robin punya masa lalu yang kelam—masa lalu yang membuatnya tidak bisa mempercayai siapapun.

"Robin," kataku dengan lembut. "Suatu hari nanti, kalau kau siap... kau bisa menceritakan semuanya pada kami. Kru Topi Jerami tidak akan menghakimimu. Kami akan mendengarkan. Dan kami akan membantu."

Robin menatapku dengan mata terbelalak—seolah tidak percaya dengan kata-kataku.

"Kau... kau terlalu baik, Kenji-kun," bisiknya. "Di dunia ini, kebaikan seperti itu sering disalahgunakan."

"Mungkin," jawabku sambil tersenyum. "Tapi aku percaya pada nakama ku. Dan entah kenapa, aku merasa kau akan menjadi nakama kami suatu hari nanti."

Robin terdiam lama, lalu tersenyum—senyuman yang sedikit lebih tulus dari biasanya.

"Terima kasih, Kenji-kun."

Malam turun. Kami semua berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Sanji memasak sup seafood yang lezat.

"Besok kita akan singgah di pulau kecil untuk mengisi air bersih," kata Nami sambil memeriksa peta. "Pulau itu tidak berpenghuni, tapi ada sumber air alami yang bagus."

"Yosh! Aku mau eksplorasi!" Luffy langsung bersemangat.

"Tidak ada eksplorasi!" Nami menggebrak meja. "Kita hanya ngisi air dan langsung pergi! Kita tidak punya waktu untuk petualangan kecil-kecilan!"

"Ehhh? Pelit~" Luffy cemberut.

Aku tertawa melihat interaksi mereka. Ini adalah keseharian Kru Topi Jerami—kacau, berisik, tapi hangat.

Tapi di balik tawa dan canda, aku tahu kami semua merasakan hal yang sama.

Alabasta mendekat.

Crocodile menunggu.

Dan pertarungan terbesar kami akan segera dimulai.

"Kenji," Luffy tiba-tiba memanggilku. "Kau siap?"

Aku menatapnya. Mata Luffy—yang biasanya polos dan ceria—kali ini serius.

"Ya," jawabku dengan mantap. "Aku siap."

"Bagus!" Luffy tersenyum lebar lagi. "Karena kita akan menang! Aku, kau, Zoro, Sanji, Nami, Usopp, dan semua orang! Kita akan hajar Crocodile dan selamatkan Alabasta!"

"YOSH!" kami semua berteriak bersamaan.

Going Merry terus berlayar di bawah langit berbintang, membawa kami lebih dekat ke Alabasta.

Lebih dekat ke takdir.

Lebih dekat ke pertarungan yang akan mengubah segalanya.

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!