Demi menyelamatkan kembarannya dari pernikahan dengan pemimpin Yakuza yang paling ditakuti, Stella Rossi nekat menyamar menjadi Luna dan berjalan ke altar.
Takeo Akira, Kumicho berdarah dingin, memilih Luna karena mengira perempuan lembut itu paling mudah dikendalikan. Pernikahan ini hanyalah langkah pertama dari balas dendamnya pada keluarga Lombardi, dan begitu pewarisnya lahir, istrinya tak lagi berguna.
Tapi malam pertama membongkar penyamaran itu. Dan perempuan yang terbaring di ranjangnya sama sekali bukan bidak penurut yang dia bayangkan.
Satu dikurung dalam gelap. Satu bersumpah tak akan pernah menunduk.
Antara dendam yang membara dan debar yang tak mau padam, siapa yang sebenarnya sedang memerangkap siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Rahasia di Meja Makan
Stella.
Aku selesai membeli satu set lingerie. Kugesek kartu, kusimpan tas belanjaannya dengan senyum tipis, dan aku berjalan ke tempat parkir.
Misi hari ini sukses.
Sekarang keluargaku akan tahu persis apa yang harus dilakukan.
Sepanjang perjalanan pulang, jantungku berdegup kencang. Aku berusaha bersikap biasa, tapi di dalam, cemas melahapku. Pesan sudah terkirim. Langkah pertama sudah kuambil. Sekarang tinggal menunggu.
Begitu tiba di rumah, aku tidak langsung masuk. Aku turun dari mobil dan berjalan ke taman.
Angin menggoyang pelan bunga-bunga sakura, menebar beberapa kelopak di rumput yang terawat sempurna. Aku berdiam di sana beberapa menit, hanya bernapas. Kupejamkan mata dan kuhirup udara dalam-dalam, mencoba membujuk jantungku sendiri agar melambat.
"Pasti berhasil..." bisikku pada diriku sendiri.
Kuluruskan bahu dan akhirnya masuk rumah.
Para pegawai sedang menata meja makan siang. Semuanya sempurna, seperti biasa. Porselen, peralatan makan yang tersusun rapi, gelas-gelas berkilau.
Tapi satu detail menarik perhatianku.
Dua piring.
Aku mengernyit sedikit.
Takeo hampir tak pernah makan siang di rumah.
Sebelum sempat memikirkan penjelasan apa pun, kudengar deru mobil menyeberangi gerbang properti.
Perutku mengencang.
Dia datang.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan Takeo masuk ke rumah dengan kehadiran mengintimidasi yang sama seperti biasa. Jas hitamnya tampak dijahit khusus untuk tubuh tinggi dan kuat itu. Mata gelapnya langsung bertemu mataku.
Sesaat, kukira dia bisa melihat semua rahasiaku.
Jantungku berpacu.
Kuembuskan napas dalam, memaksakan senyum tenang, dan tetap diam di tempat, berdoa dia tidak menyadari bahwa, untuk pertama kalinya sejak tiba di Jepang, aku menyembunyikan sesuatu darinya.
Aku menghampirinya dan, sebelum sempat memalingkan pandangan, Takeo tersenyum padaku. Senyum samar, tapi cukup untuk melucuti siapa pun.
"Hari ini aku bisa pulang makan siang."
Suara beratnya menggema di aula saat dia mendekat.
"Bagaimana belanjamu?"
Jantungku berdebar.
Sesaat, aku takut dia tahu. Takut ada yang menemukan apa yang sebenarnya kulakukan di mal.
Tapi aku tak boleh menunjukkannya.
Kupaksa senyum terbaikku dan kuangkat tas yang masih kupegang.
"Aku cuma beli satu barang."
Matanya turun ke kemasan itu.
"Cuma itu?"
Aku mengangguk wajar.
"Kejutan untukmu."
Takeo menatapku beberapa detik. Detik-detik yang terlalu panjang.
Seolah dia mencoba membaca semua yang kusembunyikan di balik senyumku.
Merinding menjalari tulang punggungku, tapi aku tak memalingkan pandangan.
Lalu dia tersenyum miring, melingkarkan satu lengan di pinggangku, dan menarikku lembut mendekat.
"Bagus. Sekarang ayo makan siang denganku."
Aku mengangguk diam-diam dan berjalan di sampingnya menuju meja.
Dari luar, aku tampak sepenuhnya tenang.
Di dalam, jantungku berdetak begitu keras sampai aku yakin, kalau dia menyentuh dadaku, dia akan menemukan bahwa aku menyembunyikan jauh lebih banyak daripada sekadar belanjaan.
Kami duduk di meja dan para pegawai mulai menyajikan makan siang. Hening di antara kami tidak canggung, tapi hari ini rasa penasaranku lebih kuat.
Takeo menyuap suapan pertama sebelum berkata, dengan nada santai:
"Fasal berangkat hari ini..."
Kuangkat mata padanya.
"Kalian sudah lama berteman?"
Dia mengangguk kecil.
"Ya."
Sesaat, pandangannya menerawang ke masa lalu.
"Fasal satu-satunya teman yang pernah kupunya."
Jawaban itu mengejutkanku.
Aku selalu melihat pria-pria di sekelilingnya menunjukkan hormat, kesetiaan... bahkan takut. Tapi persahabatan?
Itu terasa lain.
Kumiringkan kepala, mengamati wajah seriusnya.
"Kukira pria sepertimu punya banyak teman."
Senyum tipis muncul di sudut bibir Takeo, tapi tak mencapai matanya.
"Pria di posisiku tidak punya teman, Stella. Hanya sekutu, bawahan, dan musuh. Teman sejati... adalah kemewahan yang nyaris tak mampu dimiliki siapa pun."
Dia mengambil gelas air dan minum.
"Fasal tumbuh bersamaku. Dia kenal sisi terburukku dan, meski begitu, tetap di sisiku. Itu lebih berharga daripada sumpah apa pun."
Sesaat, kulihat sesuatu yang langka pada pria itu.
Kesepian.
Sisa makan siang berlalu dalam ketenangan penuh.
Kami berbincang soal hal-hal tak penting sementara para pegawai membersihkan piring kosong dan menyajikan hidangan penutup. Untuk pertama kalinya setelah sekian hari, semuanya terasa anehnya normal.
Selesai makan, Takeo menyeka bibir dengan serbet dan melirik jam tangannya.
"Aku harus kembali bekerja."
Aku mengangguk diam-diam.
Dia mengulurkan tangan melintasi meja ke arahku.
Tanpa berpikir, kutaruh tanganku di atas tangannya.
Jari-jari Takeo menyelubungi jariku dengan lembut, membelai punggung tanganku pelan. Gerakan sederhana, tapi di luar dugaan penuh kasih.
"Nanti aku pulang."
Kutatap matanya yang gelap dan hanya tersenyum.
"Aku tunggu."
Dia meremas jariku sekali lagi sebelum melepaskannya.
Lalu dia berdiri, merapikan jas, dan berjalan ke pintu ruang makan. Sebelum keluar, dia melempar pandangan terakhir padaku.
"Jangan berbuat gila selagi aku pergi."
Aku tertawa pelan, pura-pura polos.
"Aku janji bersikap baik."
Senyum samar muncul di bibirnya sebelum dia menghilang di lorong.
Aku duduk di meja beberapa detik, memandangi pintu yang baru dia lewati.
Begitu yakin Takeo sudah meninggalkan rumah, senyum lenyap dari wajahku.
Makan siang usai, tapi beban dalam diriku tetap sama.
Aku menaiki tangga pelan-pelan.
Masuk kamar, menutup pintu, dan berjalan ke ranjang.
Aku bahkan tak repot berganti baju.
Aku duduk di tepi kasur, hanya melepas sepatu, lalu menjatuhkan diri di atas bantal-bantal empuk.
Kupejamkan mata.
Aku harus tidur sebentar.
Mungkin, beberapa jam saja, tidur akan membungkam cemas yang menyesakkan dadaku.
Dengan pikiran itu, kupeluk salah satu bantal, dan perlahan lelah mengalahkan perang di pikiranku. Dalam beberapa menit, aku tertidur lelap.