NovelToon NovelToon
Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.

Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13

***"

Langkah kaki Evelyn terasa amat berat saat menyusuri koridor lantai dua Gedung Fakultas Hukum yang ramai oleh lalu lalang mahasiswa. Hari pertama semester baru yang seharusnya membawa penyegaran justru diawali dengan hantaman kekesalan yang luar biasa.

Baru saja melangkah masuk melewati area pelataran parkir pagi tadi, mata jernih Lyn tak sengaja beradu dengan sosok wanita yang menjadi selingkuhan mantan kekasihnya—wanita yang ia lihat berciuman mesra di atas pesawat menuju Italia beberapa waktu lalu. Wanita itu berdiri membusungkan dada dengan tatapan meremehkan di dekat kantin, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Seketika, mood Lyn hancur berantakan. Rasa mual dan amarah menyatu di dalam dadanya.

"Duh, Clara ke mana sih?!" bisik Lyn kesal seraya berkali-kali menekan nomor telepon sahabatnya di layar ponsel.

Panggilan demi panggilan hanya berakhir di kotak suara. Clara sama sekali tidak menanggapi pesan singkat maupun panggilannya sejak pagi, membuat Lyn merasa sendirian mengatasi kejengkolan hatinya di tengah riuhnya suasana kampus.

Dengan langkah gontai dan perasaan tidak menentu, Lyn berjalan menuju Aula Utama Fakultas Hukum. Hari ini, seluruh mahasiswa wajib menghadiri seminar umum pembuka semester untuk mata kuliah Hukum Perdata dan Bisnis Internasional.

Aula berkapasitas lima ratus orang itu sudah dipadati oleh mahasiswa dari berbagai angkatan. Sinar lampu downlight menyinari panggung utama yang dihiasi podium kayu mahoni berukir logo universitas. Lyn memilih duduk di barisan depan—posisi favoritnya untuk fokus belajar—meski hatinya terus merutuki kekosongan kursi di sampingnya karena Clara tak kunjung muncul.

Tepat pukul sembilan pagi, suasana aula yang tadinya bising perlahan mendadak hening. Pembawa acara melangkah maju menuju podium dengan raut wajah yang amat terhormat.

"Selamat pagi, Mahasiswa Sekalian. Suatu kehormatan besar bagi universitas kita pagi ini, karena materi seminar pembuka akan disampaikan langsung oleh Dosen Tamu Istimewa—seorang tokoh bisnis global, anggota dewan pembina yayasan universitas kita, Tuan Wiliam."

DEG.

Darah di dalam tubuh Lyn seketika berhenti mengalir. Napasnya tertahan kaku di tenggorokan.

Dari balik pintu samping panggung, sesosok pria paruh baya bertubuh tinggi tegap melangkah masuk dengan anggun dan penuh percaya diri. Wiliam berdiri menjulang di atas panggung dalam balutan tuxedo tiga potong berwarna abu-abu gelap buatan penjahit ternama Eropa. Rambut perak kelabunya tersisir rapi, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, memancarkan aura old money, kemewahan, serta dominasi mutlak yang tak tertandingi.

Suara tepuk tangan riuh memenuhi seluruh sudut aula. Terutama dari barisan mahasiswi yang berbisik-bisik kagum melihat ketampanan matang dan wibawa pria paruh baya di atas panggung.

"Ya ampun... itu pembina yayasan kita? Ganteng banget!"

"Suaminya siapa sih itu? Kharismanya gila banget, matang sempurna!"

"Aura sugar daddy-nya bikin gagal fokus!"

Lyn meremas buku catatannya di atas pangkuan hingga kertasnya berkerut. Wajah cantiknya memerah padam, dan jantungnya berdegup gila-gilaan hingga dadanya terasa sesak. Bagaimana bisa Wiliam berada di sini?! Kenapa dia tidak memberi tahuku semalam?! batin Lyn menjerit panik.

Wiliam menyesuaikan letak mikrofon di podium. Mata sehitam jelaga milik pria paruh baya itu perlahan menyapu seluruh jajaran kursi di depannya. Saat pandangannya mendarat tepat pada sosok Lyn yang duduk kaku di barisan paling depan dengan gaun kasual sopan, bibir tipis Wiliam terangkat sangat tipis—sebuah sunggingan samar yang penuh arti.

"Selamat pagi, Mahasiswa Sekalian," suara berat, dalam, dan berwibawa milik Wiliam menggelegar tenang melalui pengeras suara, seketika membungkam seluruh ruangan.

Sepanjang pemaparan materi mengenai sengketa hukum bisnis internasional dan restrukturisasi perusahaan global, Wiliam menyampaikan setiap gagasan dengan keahlian kelas atas yang begitu berbobot. Nada suaranya yang tenang namun mengintimidasi membuat seluruh aula terhipnotis.

Namun bagi Lyn, setiap menit di aula itu terasa bagaikan siksaan manis yang mencekam. Matanya tak mampu menghindar dari tatapan tajam Wiliam yang secara konsisten menguncinya dari atas panggung. Setiap kali Wiliam memberikan penekanan pada kata 'kontrak', 'hak kepemilikan', atau 'kepatuhan mutlak', mata pria itu akan menatap lurus ke dalam jiwa Lyn, membuat bulu kuduk gadis 21 tahun itu berdiri tegak di bawah selimut pendingin ruangan.

Gugup, canggung, dan rasa takut akan ketahuan bercampur menjadi satu. Lyn harus berkali-kali menggigit bibir bawahnya dan menundukkan pandangan demi menyembunyikan rona merah yang membakar kedua pipinya.

Di sekelilingnya, puluhan mahasiswi berlomba-lomba mengacungkan tangan saat sesi tanya jawab dibuka, berusaha keras menarik perhatian sang pria berkuasa di atas panggung dengan pertanyaan-pertanyaan yang dibuat-buat.

"Tuan Wiliam, bagaimana strategi hukum terbaik jika salah satu pihak melanggar klausul rahasia dalam perjanjian bisnis?" tanya seorang mahasiswi cantik di barisan tengah dengan nada suara yang dimanis-maniskan.

Wiliam berdiri anggun di balik podium, menyandarkan sebelah tangannya di tepi meja seraya menatap seluruh mahasiswa. Tatapannya kemudian perlahan bergulir kembali pada Lyn yang berpura-pura sibuk mencatat.

"Jika salah satu pihak berani melanggar klausul rahasia..." ujar Wiliam dengan nada suara yang teramat berat dan dalam, dipenuhi makna ganda yang hanya bisa dipahami oleh Lyn. "...maka pihak pemegang hak penuh tidak akan segan-segan memberikan sanksi tegas dan mengikat orang tersebut lebih erat dalam kendalinya. Tidak ada kata melarikan diri dalam perjanjianku."

DEG.

Lyn menahan napasnya, meremas pulpennya makin erat. Kata-kata Wiliam barusan bukan sekadar jawaban akademis—itu adalah ancaman terselubung dan penegasan dominasi langsung untuk dirinya di depan lima ratus orang!

Begitu jam kuliah seminar dua jam itu akhirnya selesai dan riuh tepuk tangan penutup terdengar, Lyn tak membuang waktu. Ia dengan cepat memasukkan buku-bukunya ke dalam tas ransel kulit mewahnya, lalu melangkah setengah berlari keluar dari aula utama demi menghindari tatapan Wiliam yang masih berada di atas panggung dikerumuni oleh jajaran dekan.

Lyn menyusuri lorong menuju area taman kantin belakang gedung fakultas. Napasnya terengah-engah, dadanya masih berdebar kencang.

Saat melintasi area gazebo kantin yang teduh, mata Lyn mendadak menangkap sosok yang dicarinya sejak pagi.

Clara duduk santai di tengah deretan teman-teman mahasiswi lainnya, tertawa gelak gembira seraya menikmati mangkuk bakso dan es teh manis. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau beban apa pun.

Rasa jengkel dan kejengkelan yang menumpuk sejak pagi seketika meledak di dada Lyn. Ia melangkah lebar menghampiri meja tersebut.

"Clara!" panggil Lyn dengan nada suara yang ditekan kesal.

Clara mendongak, matanya berbinar ceria begitu melihat sahabatnya. "Eh! Lyn! Dari mana saja kamu? Sini gabung makan bakso! Enak banget nih!"

Lyn berdiri di samping meja, bersedekap dada seraya menatap Clara dengan pandangan tajam. "Dari mana saja aku? Dari aula utama, Clara! Aku meneleponmu puluhan kali sejak pagi, tapi kamu tidak mengangkatnya sama sekali! Ponselmu di mana sih?!"

Clara menyeringai canggung, merogoh tasnya dan memperlihatkan ponselnya yang menyala dalam mode silent. "Aduh, maaf banget, Lyn! Ponselku di-silent dari semalam, aku lupa nyalakan suaranya! Jangan marah dong..."

"Tahu tidak, mood-ku hari ini hancur berantakan dari pagi!" omel Lyn seraya mendudukkan diri di kursi samping Clara. "Tadi di parkiran aku bertemu wanita selingkuhan mantan brengsekku itu. Lalu di aula, aku sendirian duduk di barisan depan!"

Clara malah tertawa kecil, mengibaskan tangannya santai. "Ya ampun, abaikan saja wanita tidak jelas itu, Lyn! Soal seminar... aduh, maaf ya aku tidak ikut. Aku tahu kok seminar pembuka hari ini yang isi materi Papaku sendiri."

Lyn tersentak pelan, dahi berkerut. "Kamu... kamu tahu kalau ayahmu yang jadi dosen tamunya?"

"Tentu saja aku tahu!" jawab Clara cengengesan tanpa dosa seraya menyedot es tehnya. "Papa kan dewan pembina yayasan di sini. Tapi kamu tahu sendiri kan, Lyn... Papa itu kalau bicara soal bisnis atau hukum sukanya serius banget, dingin, dan kaku! Pasti materinya membosankan dan bikin mengantuk! Daripada aku tertidur di aula dan dimarahi Papa di depan umum, mending aku nongkrong di sini makan bakso bersama teman-teman."

Lyn melongo memandang sahabatnya. Membosankan?! batin Lyn menjerit. Ia yang duduk di barisan depan nyaris mati berdiri karena terus-terusan diintimidasi dan dikunci oleh tatapan posesif pria tua itu dari atas panggung!

"Kamu benar-benar ya, Clara..." desah Lyn geleng-geleng kepala, mengusap pelipisnya yang mendadak pening. "Papamu itu... dia berkarisma sekali di depan, tahu tidak?"

Clara terkekeh seraya merangkul bahu Lyn. "Iya, iya, Papa memang berkarisma kalau di depan orang lain. Tapi tetap saja dia Papa yang tegas dan seram bagiku. Sudah ah, jangan cemberut lagi! Sebagai gantinya, bakso dan es tehmu aku yang bayar deh hari ini!"

Lyn hanya bisa menghela napas pasrah, menyandarkan punggungnya pada kursi gazebo. Namun dari kejauhan, di balik jendela kaca lantai dua Gedung Dekanat yang menghadap langsung ke arah taman kantin, berdiri sesosok pria tegap berjas abu-abu gelap.

Wiliam berdiri memegangi cangkir kopinya, matanya yang sehitam jelaga menatap lurus dari lantai atas, mengunci sosok Lyn yang sedang duduk bersama putrinya di bawah sana. Sebuah senyuman dingin dan penuh rencana terukir tipis di bibir sang tuan.

Bersambung....

1
merry
tapi tetap aj wil Clara kudu tau klo kmu bukn Bpk ya,, Clara jg hrs tau cerita mslh tentang mama ya,, biar Clara gk salahin eve kn Clara tau siska mntn mu dan ingin rujuk dan eve sbgai penghalang Clara tdk akn trma tuh,, yg eve dcap pelakor lbh bgs si Clara kudu tau dia ank siapa bgmn cerita mmy dulu biar bs nerima eve
merry
agak bingung knp mntn lin bisa tau klo lin ada di vila y clra🤔🤔🤔trss bukn y mntn berangkat lbh dulu ke itali tp mlhnn ktmu lin di dlmn ✈️✈️✈️✈️
ollyooliver
orang gila..anak sendiri kek orng lain, anak orang lain dijadiin pemuas..malah gk peduli lagi sama perasaan lyn...lebih baik orng tau lyn itu tempat pembuangan p*ju ..hadeuwww
ollyooliver
termasuk claraa..wkwkwk. anak sendiri digituiin. gmn dengan anaknya lyn. dapur doang pake aturan. gitu amat ya punya ayah yg gila kekuasaan.
ollyooliver
lah tuh dokter..gunanya ape? masak?🙃
ollyooliver
lah..makanya rawat sendiri. janga lewat orng lain. katanya bos, ya kali gk punya kuasa buat menentuin mana yg prioritas dan bukan. clara sakit masih menyangkut nyawa. bisnis ditinggal sebentar gk akan buat bangkrut. aneh aja..seoramg boss . otak kosong. pasti maminya clara ninggalin karna william gila kerja.
ollyooliver
kasihan banget ya clara..anak sendiri dijadiin saingan. bapaknya emng gak punya rasa cinta bahkan pada Lyn sekalipun. yg ada hanya obsesi. pantas ditinggalkan
guest1053527528
lanjut thor
aristi
memang tangan William sepanjang apa kok tangannya sampe ke area sensitif lyn apa mejanya yg kecil TPI g mungkin kan orang William orang kaya masa mejanya cuma selebar pergelangan tangan William, udh gtu William sambil ngopi emg bdannya g mbungkuk biar sampe ke paha Lyn yg duduk diseberang William 🤔
ollyooliver
kalau lagi berdua, pake mas aja thor. trus kalau ada clara pake om, bukan Tuan. biar enak dibaca.
ollyooliver
asikk
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ikutan dag dig dug wey, takut bgt klo sampe ketahuan
ollyooliver
buanglah sampah pd tempatnya.



itu kata william🙂
ollyooliver
lanjut
sunshine wings
bagus storynya
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
guest1053527528
mantap thor
Siskasuryaningsih
wittt. wiittt, om tolelet hadir bos ku, 😄😄
Nindyaputri Pangestika
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!