Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: SANGKAR EMAS DAN PERJANJIAN
Mobil sedan hitam mewah itu berhenti di depan sebuah kediaman megah berarsitektur modern di kawasan elite Jakarta.
Arsen turun dari pintu belakang, lalu membungkuk untuk menggendong tubuh Clara yang masih tak sadarkan diri. Kondisi gadis itu sungguh memprihatinkan—pakaian seragam pelayan karaokenya terkoyak di bagian bahu, memperlihatkan luka goresan memerah akibat cengkeraman rentenir semalam. Tubuhnya dingin, lemas, dan bobotnya terlampau ringan untuk remaja seusianya.
Beberapa pelayan rumah berbaris rapi di dekat pintu utama, menundukkan kepala dalam-dalam. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Tuan Muda mereka. Rumor tentang kekejaman Arsen di rumah itu bukanlah isapan jempol semata.
"Bi Inah," panggil Arsen dingin tanpa menghentikan langkahnya.
Seorang wanita paruh baya bertubuh agak gempal buru-buru maju dengan tubuh gemetar. "I-iya, Tuan Muda?"
"Bawa dia ke kamar tamu di sebelah kamarku. Ganti pakaiannya dengan baju yang bersih dan bersihkan lukanya," perintah Arsen tegas. "Lalu panggil Dokter Hendra ke sini sekarang juga."
"Baik, Tuan Muda. Segera dilaksanakan."
Satu jam kemudian, Dokter Hendra—dokter pribadi keluarga Arsen—baru saja selesai memeriksa kondisi Clara di dalam kamar. Arsen berdiri menyandar di dekat jendela, memperhatikan gadis yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur empuk tersebut.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Arsen tanpa basa-basi.
Dokter Hendra menghela napas seraya merapikan stetoskopnya. "Kondisi fisiknya sangat rapuh, Tuan Muda. Dari hasil pemeriksaan awal, Nona ini mengalami anemia berat akibat kurang gizi yang berlangsung cukup lama. Tampaknya dia jarang makan dengan teratur. Selain itu, ada luka lecet di bahunya dan memar di kepala akibat benturan, tapi untungnya tidak ada cedera otak yang serius."
"Anemia berat?" gumam Arsen. Matanya menatap wajah Clara yang pucat bagai kertas.
"Benar. Dia butuh istirahat total, suplemen zat besi, dan asupan nutrisi yang cukup. Jika dibiarkan, fisiknya bisa terus menurun dan sering pingsan," jelas Dokter Hendra sebelum pamit mundur setelah memberikan resep obat.
Setelah dokter dan para pelayan keluar, ruangan itu kembali hening. Arsen melangkah mendekati tempat tidur. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Arsen merasakan gelombang ketenangan yang aneh mengalir di pikirannya saat berada di dekat gadis ini. Insomnia parah yang biasanya menyiksa kepalanya seolah sirna begitu saja.
Perlahan, mata Clara mulai terbuka. Aroma kayu cendana yang mahal dan dingin memenuhi indra penciumannya—bukan bau rumah sakit yang biasa ia bayangkan.
Atap ruangan berhiaskan lampu kristal mewah menyambut pandangannya. Clara mencoba mendudukkan tubuhnya yang masih lemas. Ia menyadari pakaian pelayannya yang sobek sudah berganti dengan gaun tidur berbahan sutra yang lembut dan bersih.
"Sudah bangun?"
Suara berat dan datar itu membuat Clara terperanjat. Di sudut ruangan, Arsen berdiri menatapnya dengan manik mata hitam pekat yang tajam.
"K-kamu siapa? Saya ada di mana?" cicit Clara ketakutan, refleks menarik selimut hingga menutupi dadanya.
"Arsen. Dan kamu ada di rumahku, di Jakarta," jawab Arsen tenang. Ia melangkah mendekat dan melempar selembar kertas ke atas kasur. "Rentenir yang mencengkerammu semalam sudah kubereskan. Utang ibumu sebesar lima puluh juta rupiah... lunas."
Clara terpaku menatap surat pelunasan utang yang dibubuhi stempel resmi itu. "K-kenapa kamu melakukan ini? Saya tidak punya uang untuk menggantinya..."
"Aku tidak butuh uangmu," potong Arsen, menatap Clara dari atas ke bawah. "Dokter bilang kamu menderita anemia berat karena kurang makan. Kamu tidak akan tahan hidup sendirian di luar sana. Sebagai gantinya, kamu akan bekerja padaku sebagai pelayan pribadiku."
"Pelayan pribadi?"
"Ya. Tugasmu simpel: mengurus kebutuhan pribadiku, jangan pernah membantah, dan jangan pernah menyentuh barang-barang di kamarku tanpa izin," tegas Arsen. "Jika kamu menolak, kamu boleh kembali ke kota asalmu dan diburu oleh pengutang lain."
Clara menelan ludah. Di tengah keterbatasan dan kerapuhan fisiknya, ia tahu ia tidak memiliki pilihan lain. Hidup sebatang kara dan dikejar utang bukanlah hal yang sanggup ia jalani lagi.
"B-baik... saya terima," jawab Clara pasrah.
Arsen menyunggingkan senyum tipis. "Pilihan yang pintar. Dan satu hal lagi... mulai besok kamu pindah ke sekolahku. Satu sekolah, dan satu kelas denganku."
Sebelum Clara sempat memproses kebingungannya, Arsen sudah berbalik melangkah keluar kamar. Di balik pintu yang tertutup, Arsen memejamkan mata sejenak, menikmati rasa tenang yang menyelimuti dadanya. Gadis penderita anemia itu kini sepenuhnya berada di dalam genggamannya.