Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.
Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — BULU MERAK
Bagi Farel Kurniawan, mendekati seseorang bukan sekadar soal tujuan. Ia selalu memperlakukan setiap orang — wanita maupun pria — dengan penghormatan yang layak. Bahkan ketika ada urusan di balik pertemuannya, ia tidak pernah membiarkan ketulusannya luntur. Memberi perhatian, mendengarkan, membuat seseorang merasa dilihat dan dihargai — baginya itu bukan taktik, melainkan cara ia hidup.
Namun kali ini berbeda. Ia belum pernah melihat Nyai Ratna Dipangkara. Ia belum tahu apakah ia akan tertarik padanya, apakah mereka akan sejalan, atau justru berhadapan. Sebelum tidur, ia merenungkan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka, bukan menyusun rencana rumit — itu bukan gayanya. Ia hanya butuh satu garis besar, dan sisanya akan mengalir sesuai keadaan.
Keesokan harinya, Farel menghabiskan waktu pagi di kediaman Rara — berlatih pedang, membetulkan sedikit gerakan Putri Kinanthi yang masih kaku, dan menasihati Joko Taruna yang terlalu terburu-buru. Setelah sarapan, ia berjalan menuju kawasan pusat perdagangan Kota Kediri, menuju sebuah bangunan yang berarsitektur anggun dengan ukiran burung merak berwarna keemasan di atas pintu gerbangnya — Perusahaan Dagang Bulu Merak.
Bangunan itu tidak seluas Perusahaan Dagang Sapi Emas yang pernah ia kunjungi, namun memancarkan kemewahan yang lebih halus, lebih berkelas. Di kawasan ini, Bulu Merak adalah nama yang disegani — menguasai jalur perdagangan kain halus, rempah langka, dan bahan-bahan alkimia berkualitas tinggi ke seluruh wilayah Kediri dan sekitarnya.
Langkah tersulit adalah bertemu langsung dengan pemiliknya. Farel tahu ia tidak akan diterima begitu saja. Tapi ia punya satu kartu yang tak ada salahnya dimainkan.
"Selamat datang di Perusahaan Dagang Bulu Merak. Bagaimana kami dapat membantu Anda hari ini?" sapa seorang gadis muda di meja resepsionis, sopan namun tegas.
"Saya ingin berbicara dengan pemilik perusahaan. Saya bermaksud menawarkan resep Pemadat Qi kepada Bulu Merak," ucap Farel tenang.
Mata gadis itu membelalak. Pil Pemadat Qi adalah salah satu produk andalan Menara Pusaka, resepnya dijaga sangat ketat dan menjadi sumber pendapatan terbesar organisasi itu. Menawarkannya begitu saja terdengar mustahil.
"T-tolong tunggu sebentar... saya akan memanggil seseorang yang lebih berwenang," gadis itu berkata gugup, lalu memandu Farel ke sebuah ruang tunggu yang dihiasi lukisan-lukisan pemandangan Gunung Kelud dan keramik buatan desa-desa di kaki gunung.
Sekitar setengah jam berlalu. Pintu terbuka dan seorang pemuda berjalan masuk — berpakaian rapi dengan jubah sutra berwarna biru tua, rambutnya tersisir rapi, namun di matanya terpancar kesombongan yang sulit disembunyikan.
"Halo, saya Dipo Dipangkara, manajer bagian pembelian..." Ia berhenti seketika saat melihat Farel. Alisnya terangkat tinggi. "Hmph! Apa-apaan ini? Apakah ini lelucon? Haruskah saya percaya seorang pemuda yang belum lama berjalan di bumi ini datang menawarkan sesuatu yang bahkan bangsawan pun sulit peroleh? Aku sudah menduga pelayan di depan tidak bisa dipercaya!"
Farel hanya tersenyum tipis, lalu menatap gadis pelayan yang berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi ketakutan.
"Pergilah beri tahu pemiliknya. Katakan ada seseorang yang membawa urusan penting yang mungkin tidak ingin ia lewatkan. Percayalah, ia akan berterima kasih padamu nanti," ucap Farel lembut namun meyakinkan.
Dipo tertawa sinis. "Pergi? Jangan bermimpi! Kau pikir aku akan membiarkanmu mengganggu Bibiku dengan sandiwara murahan ini? Penjaga! Masuk!"
Dua orang penjaga berbadan tegap muncul di pintu.
"Usir dia! Ajari dia sedikit sopan santun!" bentak Dipo.
Namun Farel tidak bergerak mundur selangkah pun. Ia berjalan justru maju ke arah Dipo, dengan langkah santai yang membuat pemuda itu terhenti karena terkejut.
'Aku tahu tipe sepertimu,' pikir Farel dalam hati. 'Percaya pada penampilan lebih daripada pada kebenaran yang ada di depan matamu.'
Satu tamparan terdengar — bukan tamparan yang keras hingga mematahkan rahang, namun cukup keras sehingga Dipo terpental beberapa langkah ke belakang dan jatuh terjerembap di atas karpet tebal. Ruangan itu seketika hening. Para penjaga membeku di tempat. Gadis pelayan menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak tak percaya.
"Kau... berani melakukanku?! Kalian apa yang berdiri terpaku?! Tangkap dia! Patahkan kakinya!" Dipo berteriak sambil memegangi pipinya yang memerah.
Keempat penjaga itu maju. Mereka berada di tingkat Pemurnian Qi — bagi orang biasa, kekuatan yang menakjubkan. Namun di mata Farel, mereka seperti anak-anak yang berlari dengan mata tertutup. Ia menunggu mereka mendekat, lalu bergerak — begitu cepat sehingga mereka bahkan tidak melihat bagaimana ia bergerak. Tangan kanannya menekan titik di bahu penjaga pertama, membuatnya terhuyung ke temannya sendiri. Langkah kakinya menggeser tubuhnya tepat di bawah ayunan tangan penjaga ketiga, sehingga pukulan itu mendarat di pipi rekannya sendiri.
"Apa yang kalian lakukan?! Bodoh! Semua bodoh! Serang dia, bukan saling memukul!" Dipo berteriak histeris sambil bangkit berdiri, wajahnya merah padam menahan malu dan amarah.
Namun semakin ia berteriak, semakin canggung gerak para penjaga itu. Farel tidak memukul mereka dengan keras — ia hanya mengarahkan kekuatan mereka sendiri kembali kepada mereka. Dalam hitungan menit, keempat penjaga itu mundur teratur, wajah mereka memar-memar, napas mereka terengah, tidak ada yang terluka parah tetapi cukup malu untuk tidak berani melangkah maju lagi.
"Siapa yang membuat keributan di rumahku?"
Suara itu tidak keras, namun terdengar begitu jelas, begitu berwibawa, sehingga seketika keheningan menyelimuti ruangan itu. Dipo langsung menelan ludah, menunduk dalam. Para penjaga menundukkan kepala, napas mereka tertahan.
Farel menoleh.
Di ambang pintu berdiri seorang wanita. Usianya sekitar pertengahan tiga puluh, namun pesonanya begitu memikat sehingga udara di ruangan itu terasa berubah. Ia mengenakan gaun berwarna biru kelabu yang jatuh anggun di tubuhnya yang jenjang — tidak terlalu terbuka, namun membiarkan siluet tubuhnya terlihat dengan lembut dan berkelas. Rambut hitamnya yang panjang bergelombang disanggul sebagian, menyisakan helai-helai yang jatuh lembut di lehernya yang ramping. Matanya berwarna cokelat keemasan, tajam namun hangat, seperti cahaya lilin yang memantul di permukaan giok. Di jemarinya yang lentik terdapat cincin sederhana berhias batu topaz, dan di telinganya tergantung anting-anting perak yang berkilau samar. Ia tidak memakai perhiasan berlebihan — ia tidak membutuhkannya. Kehadirannya sendiri sudah cukup untuk membuat ruangan itu terasa lebih terang.
"Bibi... aku... dia..." Dipo terbata-bata, tidak berani menatap matanya.
"Keluar," ucapnya singkat, namun ada ketegasan yang tak bisa dibantah di dalamnya. Dipo berlari keluar secepat mungkin, diiringi tatapan sinis dua orang pemuda lain yang berdiri agak jauh — kakak-kakaknya, yang jelas tidak terlalu bersimpati pada nasib adik bungsu mereka. Seorang pria paruh baya berdiri di belakang wanita itu, menatap Farel dengan penuh perhatian, seakan mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik senyum tenang pemuda di hadapannya.
Wanita itu — Nyai Ratna Dipangkara, Matriark Keluarga Dipangkara — mengalihkan pandangannya kepada Farel. Tatapannya mengamati dari ujung kepala hingga kaki, mencari sesuatu yang biasanya mudah ia temukan pada siapa pun yang ia temui selama puluhan tahun berdagang. Namun kali ini, ia tidak menemukan apa pun. Seperti menatap ke dalam sumur yang dalam — airnya jernih, tapi dasarnya tak terlihat.
"Maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan..." suaranya lembut, namun tetap menjaga jarak yang elegan. "Maukah Anda ikut saya ke ruang kerja? Tempat ini... terlalu berantakan untuk berbicara dengan tenang."
"Tentu, Nyai Ratna," jawab Farel sambil sedikit menunduk hormat. Saat ia menatap matanya, ada kilatan samar di matanya — bukan niat buruk, melainkan pengakuan halus bahwa pertemuan ini baru saja dimulai, dan keduanya tahu bahwa urusan ini jauh lebih besar daripada sekadar resep pil.
Nyai Ratna berbalik berjalan keluar, gaunnya bergerak dengan anggun, meninggalkan jejak wangi melati yang samar di udara. Farel mengikuti di belakangnya, menyadari satu hal yang jelas di dalam hatinya: ia belum sekadar berurusan dengan seorang pengusaha. Ia baru saja memasuki ranjang seorang wanita yang memegang kendali penuh atas dirinya dan semua orang di sekitarnya. Dan entah mengapa... ia justru semakin tertarik.
BERSAMBUNG...