NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13 - Makan Siang Untuk Pengacara

Safira tidak bisa menerima bantuan tanpa membalas.

Itu bukan soal gengsi.

Setidaknya, ia berkata begitu kepada Arga tiga kali sepanjang perjalanan pulang dari kantor Nadia.

"Aku ingin mengundang Bu Nadia makan," kata Safira.

Arga mengemudi dengan tenang. "Untuk apa?"

"Terima kasih."

"Kamu sudah membayar setengah konsultasi."

"Itu biaya profesional. Makan siang ini ucapan terima kasih."

"Nadia pengacara. Dia tidak akan kelaparan tanpa makan siang darimu."

Safira menatapnya. "Mas Arga."

"Iya?"

"Kalau kamu tidak mau ikut, aku ajak sendiri."

Arga langsung menoleh. "Saya tidak bilang tidak ikut."

"Wajahmu bilang keberatan."

"Wajah saya terbatas."

"Jangan pakai alasan itu terus."

Arga akhirnya tersenyum tipis. "Baik. Kita undang Nadia. Kamu mau makan di mana?"

Safira membuka aplikasi peta di ponsel. Ia memilih rumah makan Sunda yang bersih, harganya tidak terlalu mahal, dan punya ruangan kecil yang cukup tenang untuk bicara.

"Di sini saja."

Arga melihat sekilas. "Kamu yakin?"

"Kenapa? Terlalu murah?"

"Saya tidak berkata begitu."

"Tapi berpikir begitu?"

"Saya berpikir parkirnya sempit."

"Mobil kita bukan tank."

Arga terdiam.

Safira tersenyum menang.

Keesokan siangnya, Nadia datang dengan pakaian lebih santai. Ia tertawa ketika Safira menjelaskan bahwa makan siang itu bukan sogokan, bukan konsultasi lanjutan gratis, hanya rasa terima kasih.

"Mbak Safira, saya mengerti. Tapi lain kali jangan merasa harus membalas semua hal."

"Saya sedang belajar," jawab Safira jujur. "Tapi pelan-pelan."

Nadia mengangguk. "Pelan-pelan tidak apa-apa."

Arga duduk di sisi Safira, menuangkan teh tawar ke gelasnya tanpa diminta. Nadia melihat gerakan itu, lalu tersenyum kecil.

"Mas Arga terlihat lebih... domestik."

Arga menatapnya. "Bu Nadia."

"Apa? Saya cuma memuji."

Safira menoleh. "Memangnya biasanya Mas Arga seperti apa?"

Nadia berhenti sepersekian detik.

Arga menatapnya lebih datar.

Nadia mengambil ayam goreng. "Maksud saya, waktu kuliah dulu, Mas Arga ini pendiam. Jadi melihat dia menuangkan teh untuk istrinya terasa lucu."

"Kalian teman kuliah?"

"Kurang lebih," jawab Arga.

Nadia mengangkat alis, tetapi tidak membongkar apa pun.

Safira mencatat itu dalam hati.

Kurang lebih.

Jawaban Arga selalu punya pintu belakang.

Makan siang berlangsung hangat. Nadia memberi beberapa saran ringan soal kontrak desain. Safira mencatat di ponsel. Arga sesekali menambahkan pertanyaan yang terlalu tajam untuk orang yang katanya tidak begitu mengerti bisnis desain.

"Kalau klien membatalkan setelah fitting kedua, DP hangus seluruhnya atau sebagian?" tanya Arga.

Nadia menjawab, "Tergantung ditulis di kontrak."

"Kalau bahan sudah dipotong?"

"Harus ada klausul biaya produksi."

Safira menatap Arga. "Kamu serius sekali."

"Uangmu harus aman."

"Uang kita?" goda Nadia.

Safira langsung tersedak sambal.

Arga memberikan air.

Nadia tertawa kecil. "Maaf, saya tidak tahan."

Setelah makan, Safira memaksa membayar. Arga tidak merebut tagihan. Ia hanya menunggu sampai Safira selesai, lalu membawa tasnya saat mereka keluar.

Di parkiran, Nadia menahan Arga sebentar.

"Mas Arga, boleh bicara?"

Safira pura-pura sibuk melihat ponsel, tetapi jaraknya tidak terlalu jauh.

Nadia menurunkan suara. "Dia belum tahu?"

"Belum."

"Sampai kapan?"

Arga diam.

"Saya bukan mau ikut campur. Tapi perempuan itu punya luka soal dibohongi. Terlihat jelas."

"Saya tahu."

"Kalau tahu, jangan tunggu sampai dia mendengar dari orang lain."

Arga menatap Safira yang berdiri di dekat mobil, sedang membalas pesan pelanggan.

"Saya sedang mencari waktu."

"Waktu yang dicari terlalu lama biasanya berubah jadi bom."

Arga tidak menjawab.

Safira tidak mendengar semua, hanya potongan. Tapi kata `belum tahu` cukup untuk membuat benaknya bergerak.

Di mobil, ia bertanya, "Ada yang harus aku tahu?"

Arga menyalakan mesin. "Tentang apa?"

"Aku tidak tahu. Makanya tanya."

"Nadia hanya mengingatkan soal kontrak."

Safira menatapnya lama. "Kamu buruk sekali kalau bohong."

"Saya tidak bohong."

"Berarti menyembunyikan?"

Arga menoleh. Matanya bertemu matanya.

Untuk beberapa detik, Safira merasa jawaban penting berada di ujung lidahnya. Tapi ponsel Arga berdering. Layar mobil menampilkan nama `Bima`.

Arga menerima.

"Apa?"

Suara Bima terdengar panik meski samar. "Ga, Pak Hendra dari Singapura sudah di kantor. Dia bilang kalau kamu tidak ikut rapat sore ini, mereka minta jadwal ulang bulan depan. Semua direksi sudah kumpul."

Arga melirik Safira.

"Saya menuju..."

Ia berhenti.

Safira mendengar cukup banyak. Kantor. Singapura. Direksi.

Pekerja proyek biasa tidak ditunggu direksi.

Arga menutup panggilan. "Saya harus ke kantor sebentar."

"Kantor proyek?"

"Iya."

Safira mengangguk pelan. "Aku bisa turun di workshop."

"Saya antar."

"Tidak perlu kalau kamu buru-buru."

"Safa."

"Mas Arga, aku bukan anak kecil. Turunkan aku di depan mal, aku pesan ojek."

Arga tahu memaksa hanya akan membuat kecurigaan semakin besar. Ia akhirnya menepi di area aman.

Sebelum Safira turun, ia berkata, "Nanti malam kita bicara."

Safira menatapnya. "Tentang kantor proyekmu?"

"Tentang hal yang perlu kamu tahu."

Safira menggenggam tali tas.

"Baik."

Ia turun, menutup pintu, lalu berdiri di trotoar saat mobil Arga pergi.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam mengilap berhenti di depan gang seberang. Bima turun dari kursi penumpang dan masuk ke mobil Arga yang berhenti sebentar di ujung jalan. Ia membawa jas hitam yang dibungkus rapi.

Safira melihat semuanya.

Arga melepas kemeja santainya di dalam mobil, lalu memakai jas itu sebelum mobil melaju lagi.

Jantung Safira berdetak lebih cepat.

Ia tidak marah.

Belum.

Ia hanya merasa ada bagian besar dari hidup suaminya yang berdiri di balik tirai.

Dan tirai itu mulai bergerak.

Malamnya, Safira menunggu di ruang tamu. Jarum jam melewati pukul sembilan. Makan malam yang ia siapkan sudah dingin.

Pesan dari Arga masuk.

`Maaf. Rapat belum selesai. Jangan menunggu makan.`

Safira menatap pesan itu.

Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

`Aku tunggu. Kamu bilang kita bicara.`

Balasan Arga lama datang.

`Aku pulang secepatnya.`

Safira meletakkan ponsel.

Di jarinya, cincin `A & S` terasa ringan.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa cincin ringan pun bisa membawa pertanyaan yang berat.

Arga baru pulang pukul sebelas lewat.

Safira tidak tidur, tetapi ia juga tidak duduk di ruang tamu seperti orang menunggu pertengkaran. Ia berada di meja makan, membuka buku sketsa, mencoba menggambar outer batik namun garis pensilnya berkali-kali melenceng.

Arga berhenti di depan meja.

"Maaf."

Safira tidak mengangkat wajah. "Rapat selesai?"

"Selesai."

"Kamu sudah makan?"

"Belum."

Safira menutup buku sketsa. "Aku panaskan."

"Safa, kita bicara dulu."

"Kalau bicara sekarang, aku takut yang keluar hanya marah."

Arga diam.

Safira membawa lauk ke dapur, memanaskannya, lalu menaruh piring di depan Arga. Gerakannya rapi, tetapi tidak selembut biasanya.

"Makan."

Arga duduk. "Kamu marah."

"Iya."

"Karena saya terlambat?"

"Karena kamu menyuruhku menunggu jawaban, lalu membawa pulang lebih banyak pertanyaan."

Arga meletakkan sendok.

Safira menatapnya. "Aku tidak minta semua rahasiamu malam ini. Tapi aku minta kamu jangan membuatku merasa bodoh karena percaya."

Kalimat itu lebih pelan daripada bentakan, tetapi jauh lebih berat.

Arga mengangguk.

"Besok," katanya. "Saya jelaskan bagian yang bisa saya jelaskan tanpa membuatmu terseret ke urusan yang belum siap kamu hadapi."

Safira tertawa lirih. "Itu masih terdengar seperti kabut."

"Saya tahu."

"Setidaknya kamu sadar."

Malam itu mereka tidak menyelesaikan apa pun. Namun Safira melihat satu hal: Arga tidak marah karena dituntut. Ia tidak membalikkan kesalahan. Ia hanya terlihat seperti lelaki yang sadar waktunya menipis.

Ketika Arga selesai makan, ia membawa piring sendiri ke dapur. Safira tidak mencegah. Dari ruang makan, ia melihat lelaki itu mencuci piring dengan lengan kemeja digulung, gerakannya tetap rapi meski jelas kelelahan.

Pemandangan itu membuat marahnya tidak hilang, tetapi berubah bentuk.

Ia masih ingin jawaban.

Ia masih tidak suka ditunda.

Namun ia juga tidak bisa memungkiri bahwa laki-laki yang menyembunyikan banyak hal itu tetap pulang, tetap makan makanan dingin yang ia panaskan, tetap mencuci piringnya sendiri, dan tetap meminta maaf tanpa membuatnya merasa bersalah karena bertanya.

Safira membuka buku sketsanya lagi.

Garis pensilnya kali ini lebih lurus.

Mungkin besok mereka akan bertengkar.

Tapi malam ini, mereka masih berada di rumah yang sama.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!