Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Belas Menit Terakhir
Suara ketukan kuku tek... tek... tek... dari mikrofon tembaga Hartono memantul di dinding Master Server Room, menjelma menjadi gelombang akustik yang kasatmata. Udara bersuhu di bawah nol derajat Celsius di lantai sepuluh itu mendadak terdistorsi, membiaskan pendar merah dari monitor menjadi garis-garis lingkaran yang bergoyang liar.
Faris dan Maya terlempar mundur dua langkah. Gelombang tekanan udara itu membentur dada mereka bagaikan dinding semen tak berwujud, membuat napas mereka sesak dan lutut mereka bergetar hebat.
"Aghhh!" Maya meringis kesakitan, memegangi kedua earphone pelindung yang menempel di telinganya. Busa pelindung itu meleleh seketika akibat radiasi frekuensi tinggi.
Faris berlutut di atas ubin semen yang dingin, kedua tangannya mendekap erat tas modul Sigaik Begu. Di balik kain uis gara merah yang membungkusnya, piringan tembaga murni buatan Guru Tawa merespons serangan itu. Pendar hijau dari indikator LED modul berkedip-kedip cepat, memancarkan denyut frekuensi pembalik yang menahan gelombang tekanan Hartono agar tidak memecahkan gendang telinga Faris.
"Kalian tidak bisa menghentikan arus zaman dengan mainan tembaga tua itu!" teriak Hartono dari atas panggung kaca.
Hartono menekan tombol merah besar di konsol mikrofonnya.
BZZZZZZT!
Dari balik deretan rak server di sisi kiri dan kanan aula, enam sosok manusia melangkah keluar secara perlahan. Mereka bukan lagi pengikut biasa. Mereka adalah para eksekutif senior dan teknisi kepala Senjaya Telecom yang telah sepenuhnya menyerahkan jasad mereka kepada Jamiah Frekuensi Nol.
Mata mereka telah menghitam sepenuhnya, bukan lagi putih polos. Dari rongga hidung, telinga, dan sudut mata mereka, cairan tembaga cair mengalir perlahan, membeku di atas kulit wajah mereka bagaikan topeng logam yang mengerikan. Kabel-kabel serat optik tebal tertanam langsung ke tulang belakang dan pergelangan tangan mereka, menghubungkan tubuh biologis mereka dengan bus data utama gedung.
"Hancurkan modul itu!" perintah Hartono dengan dingin.
Keenam inang elit itu menerjang maju tanpa suara. Gerakan mereka begitu terkoordinasi, seperti satu pikiran yang menggerakkan enam jasad berbeda. Dua di antaranya mengincar Maya dengan memegang batang besi pemotong kabel, sementara empat sisanya melompat lurus mengepung Faris.
"Maya, jaga pintu pylon luar!" jerit Faris seraya berguling di atas ubin untuk menghindari tebasan besi salah satu inang.
"Faris, tidak! Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri!" balas Maya, mengayunkan kunci pas raksasa dan menghantam telak lutut inang pertama hingga persendian logamnya patah berderak.
"Waktu kita habis, Kak!" Faris berteriak dari balik deretan rak server. "Buka pintu pylon menara! Aku yang akan membawa modulnya ke atas puncak!"
Di atas panggung kaca, layar monitor raksasa berkilat memancarkan hitung mundur yang kian menyusut:
00:12:00 (MENUJU TRANSMISI MASSAL / PANGGULAN KONFERENSI 0000)
Dua belas menit tersisa.
Faris bangkit berdiri di lorong sempit antara dua rak server. Empat inang elit mengurungnya dari dua sisi, jari-jari mereka yang telah terbalut tembaga cair terangkat, siap merobek dada Faris untuk mengambil piringan Sigaik Begu.
Faris menatap keempat makhluk itu tanpa rasa takut lagi. Rasa sakit di lehernya, ketakutan yang menghantuinya sejak hari pertama di ruko Sutomo, kini meleleh menjadi amarah yang dingin.
"Kalian ingin darahku?" bisik Faris parau.
Ia menyambar ujung linggis besi di tangan kanannya, menggoreskan mata linggis itu ke telapak tangan kirinya yang sebelumnya telah dilukai Guru Tawa. Darah segar berwarna merah keunguan kembali mengucur deras. Faris tidak meneteskannya ke tanah—ia langsung mencengkeram erat sirkuit tembaga luar pada modul Sigaik Begu dengan telapak tangannya yang berdarah.
PSSSSSSSHHH!
Suplai darah langsung dari korban selamat pertama membuat modul Sigaik Begu meraung hebat!
Pendar hijau indikator LED berubah menjadi kilatan cahaya merah-emas yang menyilaukan. Gelombang anti-frequency dalam radius jarak dekat meledak secara omnidireksional dari tas yang dipegang Faris!
BOOM!
Keempat inang elit yang mengurung Faris tersungkur dan terlempar menghantam rak-rak server besi di sekeliling mereka. Sirkuit serat optik yang tertanam di tubuh mereka meledak serentak, membakar kulit dan memutuskan sambungan otak mereka dengan bus data gedung. Mereka menjerit histeris sebelum akhirnya terkulai kaku tak bergerak di atas ubin.
"Apa?!" Hartono membelalakkan matanya dari atas panggung kaca, wajah klimisnya untuk pertama kali menunjukkan guratan kepanikan murni.
Di sudut aula, Maya berhasil merobohkan inang terakhir yang menghalanginya. Dengan sisa tenaganya, Maya menghantamkan kunci pas raksasa ke tuas darurat pintu besi pylon luar gedung.
KLAK! BANG!
Pintu besi menuju tangga luar menara pemancar hempas terbuka kencang. Angin malam Kota Medan yang dingin dan kencang langsung menyapu masuk ke dalam Master Server Room, menerbangkan kertas-kertas arsip dan mendinginkan suhu ruangan yang memanas.
Di luar pintu itu, rangka besi menara pemancar Senjaya Telecom menjulang seratus meter lebih menembus kegelapan malam, puncaknya menghilang di dalam awan hitam yang memancarkan pendar merah.
"Faris, jalan!" jerit Maya seraya menahan tuas pintu.
Faris melompat melompati tubuh-tubuh inang yang bergeletakan, berlari melintasi panggung kaca. Saat melewati Hartono Senjaya, Faris menatap mata sang taipan media dengan dingin.
"Evolusimu berhenti di sini, Hartono," desis Faris.
Faris menerobos pintu pylon luar, menyergap anak tangga besi pertama menara pemancar, dan mulai memanjat ke atas dalam terpaan angin malam yang membekukan.
Di dalam aula, Hartono menyambar mikrofon tembaganya dengan tangan gemetar, menatap monitor yang kini menunjukkan angka kritis:
00:09:30