NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:469
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Pengadilan Merah Sumba

Cambuk rotan itu diletakkan di atas nampan perunggu di tengah Balai Agung, dan tidak ada yang bisa berpura-pura tidak melihatnya.

Panjangnya dua depa. Ujungnya dipilin tiga, dan setiap pilinan diikat dengan simpul kecil yang keras. Rotan itu sudah direndam dalam air garam sejak semalam, kata para abdi yang membawanya. Supaya lentur, dan supaya luka yang ditinggalkannya tidak cepat kering.

Dyah Ayu berdiri tiga langkah dari nampan itu. Ia mengenakan kemben sederhana berwarna cokelat tanah, tanpa perhiasan apa pun kecuali batu Tirta Rudira di lehernya. Rambutnya digelung tanpa tusuk konde.

Semalam ia tidak tidur. Ia duduk di serambi Srigading sampai fajar, dengan kalimat Arya yang terus berulang di kepalanya seperti gending yang tidak mau berhenti. Tidurlah, Le, sebentar lagi kau pulang.

Ia belum menceritakannya kepada siapa pun. Hari ini ada urusan lain yang harus diselesaikan lebih dulu.

***

Dewan Brahmana duduk di undakan ketiga. Tujuh lelaki berjubah putih dengan kepala gundul, dan di tengah mereka Brahmana Agung, memegang lontar kuno yang ujung-ujungnya menghitam. Di undakan kedua, Dewan Tujuh duduk berjajar dengan wajah kaku. Mahapatih Gajahwira, Rakryan Jayaprana, dan lima lainnya.

Di atas dampar kencana, Prabu Hayam Vira duduk dengan dagu bertumpu di kepalan tangan. Ia tidak mengenakan mahkota hari ini. Menurut adat, Raja yang hadir di sidang adat hadir sebagai saksi leluhur, tanpa tanda kekuasaan.

Rakryan Wiradipa berdiri di sisi kiri balai. Destarnya rapi, janggut putihnya tersisir. Ia membungkuk ke arah Dewan Brahmana dengan sikap seorang lelaki tua yang datang bukan untuk menang, melainkan untuk menjalankan kewajiban yang menyedihkan.

"Hamba tidak membenci perempuan ini," ucapnya. Suaranya lembut dan jernih, terdengar sampai ke barisan menteri paling belakang. "Hamba bahkan kagum padanya. Ia cerdas. Ia berani. Ia menyelamatkan nyawa Sinuwun di Hutan Kancana."

Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu mengendap.

"Tetapi adat tidak mengenal rasa kagum. Adat hanya mengenal apa yang terjadi di hadapan leluhur. Dan tiga malam lalu, di hadapan leluhur, busana pusaka dibakar, warna Permaisuri dipakai oleh selir, dan sembah kesembilan tidak pernah dilakukan." Ia menoleh ke arah nampan perunggu. "Empat puluh cambuk, atau kembali ke status tawanan. Hamba memohon Dewan memilih yang lebih ringan dari keduanya, demi rasa terima kasih kita atas jasanya di Hutan Kancana."

Beberapa menteri mengangguk pelan. Kalimat itu terdengar sangat murah hati.

Dyah Ayu tahu yang mana yang dianggap Wiradipa lebih ringan. Perempuan yang dicambuk empat puluh kali masih bisa kembali ke ranjang Raja. Perempuan yang dikembalikan menjadi tawanan tidak bisa.

***

Nyai Endang dipanggil lebih dulu.

Perias itu bersimpuh di depan undakan dengan tangan saling meremas di pangkuan. Suaranya bergetar, tetapi ia menceritakan semuanya tanpa melompati apa pun. Tentang bilik penyucian. Tentang pembantunya yang bernama Wening. Tentang bumbung bambu yang ditarik Selir Utama dari setagen gadis itu.

"Hamba tidak melihat Wening mengoleskan apa pun," akunya, menunduk. "Hamba sedang membelakangi rak. Tetapi hamba melihat bumbung itu. Dan hamba melihat wajah Wening ketika bumbung itu ditemukan."

"Wening sudah mati," potong Rakryan Wiradipa dengan halus. "Gadis yang tidak bisa lagi bersaksi. Siapa pun bisa mengisi sebuah bumbung bambu dengan apa saja, Nyai, lalu menyelipkannya ke setagen seorang dayang yang ketakutan. Bahkan seorang selir yang ingin punya alasan untuk membakar busana yang tidak ingin ia pakai."

Nyai Endang membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tidak punya jawaban untuk itu.

Nyi Sumirah dipanggil berikutnya. Perempuan tua itu berjalan sendiri ke depan undakan, menolak dituntun, dan bersimpuh dengan punggung yang jauh lebih tegak dari usianya.

"Tujuh sembah dilakukan sempurna," ucapnya tanpa ditanya. "Hamba menghitung setiap gerakannya. Hamba sudah menari Sanghyang di pendapa itu sembilan kali, dan hamba tahu kapan seorang penari terlambat dari gong." Ia mengangkat dagunya ke arah Brahmana Agung. "Dan sampur itu tidak pernah menyentuh lantai. Sinuwun sendiri yang menangkapnya."

"Setelah penarinya mengubah tarian suci menjadi tarian perang orang taklukan," balas Wiradipa.

"Leluhur Kagendra pun pernah menjadi orang taklukan, Rakryan, sebelum mereka menjadi leluhur." Nyi Sumirah tidak menoleh ke arahnya. "Hamba menari untuk mendiang Gusti Ratu Kusumawardhani selama sebelas tahun. Beliau pernah berkata, leluhur tidak peduli dengan langkah yang indah. Leluhur peduli dengan siapa yang tidak jatuh."

***

"Hamba mohon izin, Dewan yang terhormat."

Dyah Ayu melangkah maju. Dari lipatan kembennya, ia mengeluarkan bungkusan kecil daun pandan, sudah layu dan menguning di tepinya, diikat benang lawe.

"Rakryan Wiradipa benar. Wening sudah mati, dan bumbung bambu bisa diisi oleh siapa saja." Ia membuka bungkusan itu. Di atas daun pandan, sepotong kain beludru selebar dua jari. Hijau tua, dengan bekas prada emas di satu sisinya. "Tetapi kain ini dipotong dari lapisan dalam kemben pusaka Persembahan Sanghyang, sesaat sebelum hamba membakarnya. Nyai Endang menyaksikannya sendiri."

Nyai Endang mengangguk cepat dari tempatnya bersimpuh.

"Hamba tidak meminta Dewan percaya pada cerita hamba." Dyah Ayu menoleh ke arah abdi yang berdiri di dekat pintu. "Bawakan kendi air."

Abdi itu ragu, melirik ke arah dampar kencana. Hayam Vira mengangguk sekali.

Kendi itu diletakkan di depan Dyah Ayu. Ia menggulung lengan kanan kembennya sampai siku, memperlihatkan kulit lengan bawah yang bersih. Lalu ia mencelupkan tangan kirinya ke dalam kendi dan membasahi lengan kanannya. Air menetes ke lantai batu andesit.

"Ayu." Suara Hayam Vira terdengar dari atas dampar. Rendah dan tajam.

Ia tidak menoleh.

Dengan ujung jari tangan kirinya, ia menjepit potongan beludru itu dan menggosokkannya ke kulit lengannya yang basah. Dari pergelangan sampai ke siku. Tiga kali, perlahan, supaya semua orang di undakan bisa melihat.

Lalu ia meletakkan kain itu kembali ke atas daun pandan, dan mengangkat lengannya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang terjadi. Para menteri di barisan depan memanjangkan leher. Seseorang di barisan Dewan Brahmana berdeham.

Kemudian kulit di lengan Dyah Ayu mulai berubah.

Merah muda lebih dulu, seperti bekas tamparan. Lalu merah tua. Garis-garis tempat kain itu bergesek mulai menebal, membengkak, naik dari permukaan kulit dalam bentuk bilur-bilur yang mengilap. Di beberapa tempat, gelembung-gelembung kecil berisi cairan bening muncul satu demi satu, seperti embun yang tumbuh di atas daun.

Dyah Ayu tidak menggaruknya. Ia mengepalkan tangan kanannya di sisi tubuh dan berdiri diam, rahangnya terkunci rapat, sementara rasa panas menjalar dari lengannya ke bahu. Seperti ribuan semut api yang berbaris di bawah kulit.

Tabib Keraton, yang dipanggil sebagai saksi ahli, bangkit dari tempatnya di sisi balai. Ia mendekat, mengamati lengan itu tanpa menyentuhnya, lalu mengendus potongan kain di atas daun pandan.

"Getah rengas," ucapnya. Suaranya cukup keras untuk didengar seluruh Dewan. "Hamba sudah merawat para penebang kayu dari rawa pesisir yang terkena getah ini. Di kulit yang kering, ia tidur. Di kulit yang berkeringat, ia membakar." Ia menoleh ke arah undakan. "Penari yang mengenakan busana ini di dekat empat tungku dupa akan menggaruk dirinya sendiri sampai berdarah sebelum sembah kelima."

Di atas dampar kencana, Hayam Vira sudah tidak lagi menopang dagunya. Ia duduk tegak, dan tangannya mencengkeram lengan singgasana.

***

"Hamba tidak membantah bahwa busana itu beracun," ucap Rakryan Wiradipa setelah beberapa saat. Wajahnya tidak berubah, tetapi suaranya sedikit lebih cepat dari sebelumnya. "Hamba mengutuk siapa pun yang melakukannya. Tetapi itu tidak menghapus dakwaan. Adat tidak memberi pengecualian. Pusaka tetap terbakar. Merah sumba tetap dikenakan. Persembahan tetap tidak selesai."

"Kalau begitu, hamba mohon Dewan membaca adatnya sampai selesai."

Dyah Ayu menoleh ke arah tepi balai, tempat seorang lelaki tua bungkuk yang setengah buta duduk di atas tikar dengan setumpuk gulungan lontar di pangkuannya.

"Empu Wiradarma."

Penjaga Perpustakaan Lontar itu berdiri dengan bantuan tongkat bambunya. Ia berjalan ke depan undakan, berhenti di bawah Brahmana Agung, dan membungkuk.

"Gusti Brahmana Agung," ucapnya dengan suara serak. "Mata Gusti tidak lagi seperti dulu. Hamba tahu, karena mata hamba pun sama. Siapa yang membacakan lontar itu untuk Gusti tiga hari lalu?"

Brahmana Agung terdiam. Ia menoleh ke kirinya, ke arah seorang brahmana muda bertubuh kurus yang duduk paling ujung di barisan Dewan.

"Juru tulis kami. Dharmaja."

"Juru tulis yang dikirim ke candi dua tahun lalu atas rekomendasi Rakryan Wiradipa," ucap Empu Wiradarma pelan, tanpa menoleh ke arah Wiradipa. "Hamba memohon izin membaca lontar itu sendiri, Gusti. Dari tangan Gusti. Lembar yang sama."

Brahmana Agung menatap lontar di pangkuannya. Lalu, perlahan, ia menyerahkannya.

Empu Wiradarma membukanya di bawah cahaya yang masuk dari pintu besar. Ia mendekatkan wajahnya ke serat lontar sampai hidungnya hampir menyentuhnya. Jemarinya yang keriput menyusuri baris-baris aksara Kawi.

"Penari utama Persembahan Sanghyang adalah perempuan yang memegang Pusaka Rudira," ia membaca. "Ia yang membawa darah leluhur di lehernya, ia pula yang membawa sembah leluhur di kakinya." Ia berhenti. "Sampai di sini yang dibacakan tiga hari lalu."

Jarinya bergeser ke baris berikutnya. Baris yang ditulis dengan tinta yang sedikit lebih pudar, di bagian bawah lembar yang sama.

"Maka penari itu berbusana warna Sri Parameswari, merah sumba, sebab selama persembahan berlangsung ia duduk di kursi permaisuri di hadapan leluhur, siapa pun dirinya."

Bisik-bisik meledak di barisan menteri.

Empu Wiradarma membalik lembar lontar itu.

"Busana pusaka yang tercemar oleh tangan jahat, wajib dilebur dalam api dupa persembahan, agar kecemarannya tidak naik ke hadapan leluhur." Ia menurunkan lontar sedikit, menatap ke arah dampar kencana dengan matanya yang keruh. "Dan satu baris lagi, Sinuwun. Jika Prabu yang bertakhta naik sendiri ke atas pendapa sebelum gong terakhir, maka persembahan itu paripurna, sebab leluhur telah menerima sembah langsung dari keturunannya."

***

Tidak ada yang bersuara di Balai Agung.

Brahmana Agung menundukkan kepalanya yang gundul. Bahunya yang kurus naik-turun. Ketika ia mengangkat wajahnya lagi, ia tidak menatap Dyah Ayu. Ia menatap juru tulis muda di ujung barisan Dewan Brahmana, yang wajahnya kini sepucat jubahnya sendiri.

"Dakwaan pertama gugur," ucap lelaki tua itu. Suaranya bergetar, tetapi jelas. "Busana itu tercemar, dan dilebur sesuai adat. Dakwaan kedua gugur. Merah sumba diwajibkan bagi penari pemegang Pusaka Rudira. Dakwaan ketiga gugur. Persembahan paripurna oleh kehadiran Prabu di atas pendapa."

Ia menutup lontar itu.

"Selir Utama Dyah Ayu tidak bersalah di hadapan leluhur Kagendra. Dewan Brahmana memohon ampun kepadanya atas kelalaian kami membaca adat kami sendiri."

Rakryan Wiradipa tidak bergerak dari tempatnya. Ia berdiri dengan kedua tangan tersembunyi di lengan baju, dan wajahnya yang tenang kini terlihat seperti topeng kayu yang dicat terlalu tebal. Ia membungkuk sedikit ke arah Dewan Brahmana. Membungkuk ke arah Dampar Kencana.

Ia tidak membungkuk ke arah Dyah Ayu.

***

Hayam Vira sudah bangkit dari singgasana sebelum Brahmana Agung selesai bicara. Ia menuruni undakan dan berhenti di depan Dyah Ayu, lalu meraih lengan kanannya dan mengangkatnya ke arah cahaya. Bilur-bilur merah itu kini sudah setebal jari, dan gelembung-gelembung kecilnya mulai pecah.

"Kau bisa menggosokkannya ke kulit ayam," ucapnya dengan suara rendah. "Atau kulit kambing. Atau kulit Wiradipa."

"Ayam tidak meyakinkan siapa pun, Gusti."

Raja itu menatapnya dengan mata yang gelap dan berbahaya. Lalu ia menoleh ke arah Tabib Keraton. "Rawat lengannya. Sekarang."

Ia baru saja akan berbicara lagi ketika langkah tergesa-gesa terdengar dari pintu samping Balai Agung.

Lurah Lembu Peteng masuk tanpa menunggu dipanggil, dan wajahnya yang penuh bekas cacar sudah kehilangan warna. Ia tidak berlutut. Ia berjalan langsung ke sisi Raja dan berbisik ke telinganya.

Dyah Ayu melihat rahang Hayam Vira mengeras. Raja itu berbalik dan berjalan cepat ke arah pintu samping, tanpa menoleh ke Dewan. Dyah Ayu menyusulnya, dengan lengan yang masih membara.

Di serambi samping, di atas sebuah tandu bambu yang diletakkan tergesa di lantai, terbaring seorang lelaki kurus berkulit gelap. Kotak wayang kayunya tergeletak di sampingnya, tutupnya terbuka, dan beberapa wayang kulit berhamburan keluar. Kain lurik cokelatnya basah dan gelap di sisi kiri perut, dan seseorang sudah menekan gumpalan kain ke sana, tetapi gumpalan itu pun sudah basah.

Ki Sarpa membuka matanya yang sipit ketika bayangan Raja jatuh di wajahnya.

"Tuban," desisnya. Bibirnya kering dan pucat. "Teluk di antara Tuban dan Lasem. Lumbungnya ada, Sinuwun. Tujuh lumbung. Penuh beras. Dijaga orang-orang yang tidak bicara dengan logat pesisir."

Tangannya yang gemetar merogoh ke dalam kotak wayang, di bawah tumpukan wayang Rahwana dan Kumbakarna. Ia menarik keluar segulung lontar kecil yang ujungnya berlumur darah kering.

"Hamba mengambilnya dari bilik juru tulis Adipati, sebelum mereka menusuk hamba di tepi dermaga." Ia menyodorkannya ke atas, ke tangan Raja. "Tanda terima pembayaran. Untuk beras, untuk kapal, untuk tiga ribu tombak."

Hayam Vira membuka lontar itu. Dyah Ayu berdiri cukup dekat untuk melihat isinya dari balik bahunya.

Angka-angka. Nama Adipati Tuban. Dan di bagian bawah, tercetak di atas lilin merah yang sedikit retak, sebuah cap kecil yang pernah ia lihat terukir di gagang tombak para pengawal Sektor Selatan di Hutan Kancana.

Bunga teh berkelopak lima.

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!