Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28: Suara hati Moana
Malam kian melarut di kawasan perumahan elite itu. Angin malam yang dingin berhembus pelan, menerpa dedaunan pohon mangga di pekarangan rumah megah milik Yoga.
Setelah menghabiskan waktu sore hingga malam yang dipenuhi canda tawa dan kehangatan keluarga, keluarga almarhumah Ratna memutuskan untuk menginap.
Jarak Jakarta–Bandung yang cukup jauh serta rasa rindu yang masih membuncah pada cucu-cucu kesayangan menjadi alasan utama Kakek Subroto, Nenek Farida, dan Tante Sintia tidak mungkin kembali malam itu juga.
Mendengar keputusan tersebut, Ayu tidak menunda waktu sedikit pun. Meski badannya sudah amat lelah dan matanya terasa berat akibat tak tidur semalaman di rumah sakit, wanita muda itu dengan telaten menyiapkan segala kebutuhan agar keluarga almarhumah Ratna bisa bermalam dengan nyaman.
Ayu bersama Bibi Minah mengganti sprei kamar tamu utama di lantai bawah dengan kain katun Jepang yang halus dan harum untuk Kakek Subroto.
Di lantai atas, kamar Lea disiapkan sedemikian rupa agar Tante Sintia bisa tidur bersama keponakan kesayangannya.
Sementara Nenek Farida memilih untuk tidur di kamar Moana. Ia ingin melampiaskan rasa rindunya seraya memastikan kondisi bekas jahitan di kening cucu bungsunya itu tetap aman sepanjang malam.
Ayu memastikan setiap kamar dilengkapi dengan handuk bersih, selimut tebal ekstra, serta perlengkapan mandi lengkap. Bahkan di atas meja nakas masing-masing kamar, Ayu meletakkan secangkir air hangat dan aromaterapi lavender untuk membantu tidur nyenyak.
Namun, ketulusan dan usaha Ayu menyiapkan segalanya tetap disambut dengan dingin.
Ketika Ayu melangkah mendekati kamar tamu sambil membawa tumpukan selimut tebal tambahan, Sintia yang baru saja keluar dari kamar mandi menatapnya dengan pandangan menyipit penuh kecurigaan.
"Gak usah sok manis pakai nyiapin aromaterapi segala ya," cetus Sintia sinis, sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Papi sama Mami itu biasa tinggal di rumah yang jauh lebih mewah dari ini. Jadi gak usah berakting seolah kamu tuan rumah yang paling mengerti pelayanan."
Ayu menghentikan langkahnya, lalu menunduk sopan seraya mengulas senyum tipis yang sabar. "Saya hanya ingin memastikan Bapak, Ibu, dan Mbak Sintia istirahat dengan nyaman malam ini. Kalau ada yang kurang, silakan panggil saya atau Bibi Minah."
Lea yang berdiri di samping Sintia langsung melengos kasar. "Udah deh, Tante Sintia, gak usah diladeni. Mending kita masuk kamar aja. Mual aku liat mukanya yang sok polos dari tadi."
"Lea..." panggil Yoga yang baru saja muncul dari koridor, menatap anak perempuannya dengan raut tegang. "Jaga bicaramu. Ibu kamu sudah cape-cape menyiapkan kamar buat Tante Sintia."
"Dia bukan ibu aku, Pa!" bentak Lea tajam, lalu menarik tangan Sintia naik tangga menuju ke dalam kamarnya dan membanting pintu secara kasar.
BAM!
Yoga menghembuskan napas panjang yang sarat akan kekecewaan. Ia mendekati Ayu, dan mengambil alih tumpukan selimut dari tangan istrinya, lalu menggenggam jemari Ayu yang terasa amat dingin.
"Ayu... maafkan mereka ya, kamu sudah bekerja sangat keras hari ini," bisik Yoga.
Ayu mengusap lengan suaminya, seraya menyunggingkan senyuman paling teduh. "Tidak apa-apa, Mas. Mas masuk kamar duluan ya, saya mau memastikan kamar Moana sudah rapi sebelum Nenek Farida istirahat."
Di dalam kamar Moana yang didominasi warna merah muda dan hiasan bintang-bintang di langit-langit, suasana terasa begitu hangat dan tenang. Lampu tidur berbentuk bulan membiaskan cahaya kekuningan yang lembut.
Nenek Farida duduk bersandar di atas ranjang empuk bernuansa merah muda itu, sambil memangku Moana yang sudah mengenakan piyama katun bergambar beruang.
Anak kecil itu bersandar nyaman di dada neneknya, aroma minyak telon dan sampo bayi pun tercium harum dari tubuhnya.
Nenek Farida mengusap lembut perban putih yang masih melingkar kencang di kening kanan Moana. Hatinya teriris setiap kali melihat bekas luka itu.
"Cucu Nenek yang cantik... Keningnya masih terasa sakit, Nak?" tanya Nenek Farida selembut mungkin, seraya mengecup puncak kepala Moana.
Moana mendongak, lalu menggelengkan kepalanya pelan dengan mata bulatnya yang jernih. "Udah gak terlalu sakit, Nenek! Kan udah dikasih obat sama Ibu tadi sore."
Nenek Farida tertegun sejenak ketika sebutan 'Ibu' yang diucapkan Moana dengan begitu alami dan penuh pendar kasih sayang. Rasa penasaran yang membuncah sejak sore tadi akhirnya tak sanggup lagi ditahan oleh wanita tua itu.
Nenek Farida membetulkan posisi duduk Moana, lalu menatap lurus ke dalam mata cucu bungsunya itu.
"Moana..." panggil Nenek Farida. "Nenek mau tanya sesuatu sama Moana, tapi Moana jawab yang jujur ya?"
"Mau tanya apa, Nenek?" sahut Moana polos.
"Soal... Tante Ayu," bisik Nenek Farida ragu-ragu. "Tante Ayu itu... gimana sih sama Moana di rumah? Apa Tante Ayu suka marahin Moana? Atau Tante Ayu suka galak kalau Papa gak ada?"
Moana membelalakkan matanya yang bulat, lalu menggelengkan kepalanya rapat-rapat dengan raut wajah yang sangat serius.
"Enggak! Ibu Ayu gak pernah galak! Ibu Ayu baik bangeeeet sama Moana!" seru Moana penuh semangat, tangannya mengembang lebar di udara untuk menggambarkan rasa bahagianya.
Nenek Farida mengerutkan keningnya, karena agak terkejut mendengar respons polos yang begitu cepat dari cucunya. "Beneran, Nak? Tante Ayu gak pura-pura baik?"
"Beneran, Nenek!" cerita Moana riang, matanya berbinar-binar penuh dengan pendar kejujuran murni anak usia enam tahun. "Ibu Ayu itu pinter banget masak nasi goreng sama sup kesukaan Moana. Terus kalau malam-malam Moana takut ada hantu atau mimpi buruk, Ibu Ayu yang selalu datang ke kamar Moana... Ibu peluk Moana, nyanyiin lagu, terus ngajarin Moana doa sampai Moana bobo nyenyak lagi!"
Moana memegang jemari Nenek Farida, sembari menggoyangkannya dengan pelan. "Waktu kemarin di tempat wisata, Ibu Ayu nangis parah banget pas Moana jatuh, Nenek... Ibu Ayu memangku Moana, nyiumin Moana terus bilang 'maafin Ibu, maafin Ibu'... Di rumah sakit juga Ibu Ayu gak bobo semalaman. Ibu berlutut di samping kasur Moana sambil megangin tangan Moana terus!"
Nenek Farida membeku di tempatnya duduk. Setiap patah kata polos yang keluar dari mulut Moana menghantam benaknya bagaikan cermin jernih yang memperlihatkan kebenaran tanpa rekayasa. Tidak ada kebohongan, tidak ada manipulasi pada mata bulat anak kecil di hadapannya.
"Moana... sayang banget ya sama Ibu Ayu?" bisik Nenek Farida lirih, suaranya kini agak bergetar.
"Sayang bangeeeet!" sahut Moana tanpa ragu sedikit pun. "Ibu Ayu tuh lembut banget kayak Mama Ratna di foto... Moana seneng punya Ibu Ayu."
Pintu kamar mendadak terbuka pelan. Ayu melangkah masuk secara sangat sopan, sambil membawa segelas susu hangat dan secangkir teh herbal di atas nampan kecil.
"Maaf mengganggu, Ibu..." tutur Ayu sangat lembut, sambil menundukkan pandangannya. "Ini saya bawakan susu hangat untuk Moana dan teh herbal hangat untuk Ibu Farida, supaya tidur Ibu bisa lebih nyenyak malam ini."
Nenek Farida menatap Ayu dengan pandangan mata yang sangat berbeda dari sore tadi. Ada keraguan, rasa bersalah, dan pemikiran rumit yang mendadak berkecamuk di dalam hatinya.
Ia memperhatikan bagaimana Ayu mendekati ranjang dengan sangat telaten, membantu Moana meminum susunya sedikit demi sedikit, lalu mengusap dagu Moana dengan sapu tangan hingga bersih.
"Terima kasih ya, Ayu..." bisik Nenek Farida dengan suara pelan, sebuah sapaan halus pertama yang keluar dari mulut wanita tua itu tanpa nada sinis.
Ayu tertegun sejenak dan terkejut namun langsung mengulas senyum paling teduh. "Sama-sama, Ibu... Kalau begitu saya permisi ke kamar dulu. Selamat tidur, Ibu Farida, selamat tidur Putri Cantik Ibu..."
"Selamat tidur, Ibuuu!" balas Moana riang.
Ayu melangkah keluar kamar dan menutup pintu secara perlahan.
Di dalam kamar yang kembali hening, Nenek Farida menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Pandangannya menerawang jauh menatap langit-langit kamar.
Pikiran wanita tua itu berkecamuk hebat. Cerita tulus Moana dan tindakan nyata Ayu baru saja meruntuhkan narasi kejam yang dibangun oleh Sintia dan Lea sejak tadi sore.
"Kalau Ayu memang sebaik dan setulus itu sampai Moana begitu mencintainya..." gumam Nenek Farida liris pada dirinya sendiri. "Lalu kenapa... kenapa Kenzo dan Lea seperti sangat membenci dan tidak suka pada ibu tirinya itu? Kenapa mereka menggambarkan Ayu seperti monster di rumah ini?"
Bersambung...