Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 : Ledakan Surgawi
"Kapten! Gawat! Celaka tiga belas, Kapten!"
Bisikan panik yang diseret dengan napas ngos-ngosan itu memecah keheningan tenda komando Pasukan Zirah Emas. Seorang prajurit elit berlari masuk, wajahnya pucat pasi, nyaris menabrak meja peta tempat Jenderal Lei dan Kapten regu bayangan sedang berdiskusi.
"Tutup mulutmu! Jangan berteriak, bodoh!" desis Jenderal Lei marah. Ia buru-buru menarik kerah prajurit itu dan menyeretnya ke sudut tenda yang remang-remang. Matanya menyapu sekeliling dengan waspada. "Ada apa?! Apakah kalian sudah menemukan jejak Iblis Serigala itu?! Atau kau menemukan petunjuk soal Pangeran Rui?!"
"Bukan, Jenderal! Ini... ini jauh lebih buruk dari itu!" Prajurit itu menelan ludah, seluruh tubuhnya gemetar hebat hingga zirah rantainya bergemerincing pelan. "Pangeran Shen Yuan... eh, maksud saya, Tuan Muda Yuan... dia... dia baru saja kabur menembus Formasi Kubah Kura-kura Besi!"
Mata Jenderal Lei dan sang Kapten membelalak hingga nyaris copot dari rongganya.
"APA KATAMU?!" raung Kapten tertahan, mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan. "Bagaimana bisa bocah itu kabur?! Gerbang Utama dan seluruh jalur tikus sudah dijaga ketat oleh pasukan kita!"
"B-beliau menembus formasi pelindung surgawi itu dengan sangat mudah, Kapten! Darah kekaisarannya secara otomatis merespons pelindung itu dan membiarkannya lewat tanpa rintangan! Dan... dan dia tidak sendirian!" Prajurit itu mengusap keringat dinginnya yang membanjiri pelipis. "Tuan Muda Yuan membawa serta delapan gadis dari Asrama Selatan bersamanya! Mereka berjalan mengendap-endap dan nekat mencari Tuan Muda Shen Rui ke dalam Hutan Kematian!"
"Aduh, mampus kita semua!" Jenderal Lei memukul dahinya sendiri dengan keras, mendadak merasa usianya memendek sepuluh tahun dalam semalam. "Yang Mulia Raja menugaskan kita ke mari untuk mengamankan Pangeran Mahkota, tapi dia malah kabur membawa rombongan anak perempuan masuk ke sarang iblis paling berbahaya di benua ini?! Jika terjadi sesuatu yang melukai sehelai rambut pun di kepala Pangeran Yuan, Raja Tianyi pasti akan memenggal kepala kita semua dan menjadikannya hiasan gerbang istana!"
"Apa kita harus bunyikan terompet darurat militer dan kejar mereka sekarang juga, Jenderal?!" tanya Kapten panik, tangannya sudah meraih gagang pedang.
"Jangan bodoh! Jika kita mengerahkan pasukan besar dengan obor malam-malam begini, seluruh penghuni sekte akan curiga siapa sebenarnya Shen Yuan! Rahasia identitas Pangeran Mahkota bisa bocor ke telinga sekte hitam yang sedang berkeliaran di hutan!" Jenderal Lei menggertakkan giginya menahan amarah yang meledak-ledak. "Kapten, bawa regu bayangan elitmu sekarang juga. Bergerak dalam diam. Jangan gunakan formasi terbang, gunakan ilmu meringankan tubuh. Temukan calon Raja kita sebelum dia berubah menjadi pakan siluman rawa malam ini juga!"
Sementara para prajurit elit kekaisaran panik setengah mati memikirkan nasib leher mereka, di sisi lain tembok perguruan, tepatnya di ujung saluran pembuangan air yang bau dan berlumpur, tiga sosok merangkak keluar dengan napas tersengal-sengal.
Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi akhirnya berhasil keluar dari wilayah sekte. Namun, keadaan mereka luar biasa mengenaskan. Wajah mereka cemong penuh arang dan lumpur selokan, jubah sutra mahal kebanggaan mereka sobek-sobek tersangkut akar, dan bau badan mereka kini lebih mirip bangkai tikus basah yang direndam sebulan.
"Sialan... uhuk! Saluran air ini bau sekali, seperti bau kematian!" umpat Wang Jian sambil meludah ke tanah berulang kali, mengibas-ngibaskan jubahnya yang lengket. "Awas saja kau, Shen Yuan! Anak desa miskin! Akan kubalas semua penderitaan ini berkali-kali lipat saat aku melihatmu merangkak memohon ampun!"
"Cepat, Kak Wang! Jangan banyak bicara dulu, nanti kita kehilangan jejak mereka di hutan gelap ini," bisik Zhao Qi sambil meraba-raba jalan di tengah kegelapan, matanya menyipit menghindari ranting pohon cemara yang tajam.
Li Mo yang berjalan paling belakang terus menggerutu merutuki nasibnya. Tiba-tiba, langkah kakinya terasa aneh. Ada sesuatu yang basah, hangat, dan sangat empuk yang baru saja ia injak dengan sepatu bot kulitnya. Bunyinya terdengar *plesyek*.
"Cih, sial. Aku menginjak lumpur busuk lagi," keluh Li Mo sambil menggesek-gesekkan telapak sepatunya ke akar pohon yang menonjol. "Hutan ini benar-benar tidak elit. Tempat macam apa ini?!"
Zhao Qi mengendus udara di sekitarnya. Alisnya bertaut tajam. "Lumpur apa yang baunya menyengat begini? Baunya asam, sangat pesing hidung, dan... tunggu dulu. Kita sedang berada di jalur perlintasan kuda angkut sekte, kan?"
Zhao Qi menunduk, menyipitkan mata ke arah sepatu Li Mo yang diterangi sedikit cahaya rembulan yang menembus dahan. Sedetik kemudian, tawa Zhao Qi meledak sangat keras hingga burung hantu di atas mereka terbang ketakutan.
"HAHAHAHA! Ya Dewa! Li Mo! Itu bukan lumpur, bodoh! Itu tai kuda! Kau baru saja menginjak tumpukan kotoran kuda yang masih sangat hangat! HAHAHAHA!"
Wang Jian yang sedari tadi bersungut-sungut kesal ikut menoleh ke bawah. Melihat pemandangan itu, tawanya pun langsung menyembur keluar tanpa bisa ditahan sedikit pun. "HAHAHA! Ya ampun, Li Mo! Pantas saja dari tadi baumu lebih busuk dari selokan asrama! Kakimu sekarang berlapis tai kuda liar! Hahaha, sungguh cocok dengan wajah cemongmu yang seperti pengemis itu!"
Wajah Li Mo seketika memerah padam menahan rasa malu dan marah yang meledak-ledak. Urat-urat di pelipisnya menonjol liar. Ia melihat Wang Jian dan Zhao Qi yang memegang perut saking kerasnya menertawakan penderitaannya tanpa ampun.
"Oh, kalian menertawakanku, hah?!" geram Li Mo. Urat kesabarannya yang setipis rambut akhirnya putus. Tanpa pikir panjang dan mengabaikan sisa harga dirinya sebagai kultivator muda, ia membungkuk, meraup gundukan kotoran kuda yang masih menempel di sepatunya itu dengan tangan kosong, lalu melompat ke arah Wang Jian seperti macan kelaparan.
"Hei! Li Mo gila! Apa yang kau— PLUK!"
Tepat sasaran. Tangan Li Mo yang penuh kotoran itu mendarat mulus, mengusap lurus dari hidung hingga ke dahi Wang Jian dengan sangat merata.
Keheningan yang luar biasa mencekam melanda hutan itu selama dua detik. Wang Jian mematung kaku. Matanya melotot lebar nyaris keluar dari kelopaknya. Bau laknat yang luar biasa busuk itu kini berada tepat di bawah lubang hidungnya, bahkan sebagian nyaris masuk ke bibirnya.
"KAU... KAU MENGOLESKAN TAI KUDA KE WAJAHKU?!" jerit Wang Jian histeris, suaranya melengking tinggi.
"HAHAHA! Rasakan itu, Tuan Muda Arogan! Siapa yang pengemis sekarang?!" balas Li Mo penuh kepuasan dendam.
"SINI KAU, LI MO! MATI KAU DI TANGANKU HARI INI JUGA!" Wang Jian mengamuk buta. Ia menerjang Li Mo dan keduanya langsung bergulingan di atas tanah hutan berlumpur, saling menampar, memukul, menjambak, dan berusaha membalas mengoleskan sisa kotoran ke wajah satu sama lain dengan beringas.
Zhao Qi yang awalnya berusaha melerai malah ikut terkena tamparan berlumpur di pipinya, membuat ketiga tuan muda itu akhirnya bergulat seperti babi hutan gila di tengah kegelapan, melupakan sepenuhnya niat awal mereka membuntuti Shen Yuan.
Beberapa mil di depan mereka, rombongan Shen Yuan dan para gadis sedang beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon beringin bercabang lima yang rimbun. Lin Yue membentangkan sebuah peta perkamen tua yang berpendar diterangi dengan batu cahaya spiritual kecil milik Mei Lin.
"Menurut peta jalur pedagang gelap yang kudapatkan dari Bibi Pasar waktu itu, sarang Iblis Rawa itu berada tepat di pusat pedalaman Hutan Kematian," jelas Lin Yue sambil menunjuk titik merah di tengah peta tersebut. "Tapi masalahnya, jalur masuk utama ke sana dijaga sangat ketat oleh barisan siluman kelas menengah."
"Lalu bagaimana kita bisa masuk tanpa memicu alarm formasi mereka?" tanya Yuan, keningnya berkerut serius menimbang segala kemungkinan.
"Kita harus menyamar," usul Jia Li mantap, menepuk gagang pedangnya. "Kita bisa menggunakan jubah yang dilumuri getah pohon iblis untuk menyembunyikan aroma manusia kita. Selama kita tidak memancarkan energi murni sedikit pun, siluman penjaga akan mengira kita hanya bagian dari siluman pengembara biasa yang lewat."
"Ide itu masuk akal," gumam Yuan setuju. "Mulai titik ini, kita simpan seluruh kekuatan elemen kita. Jangan ada yang menggunakan *Qi* untuk hal remeh. Jika terpaksa bertarung melawan musuh kroco, gunakan murni ilmu kanuragan tangan kosong atau tebasan pedang fisik biasa. Kita harus menghemat setiap tetes tenaga cadangan untuk menyelamatkan Rui dari cengkeraman Raja Iblis itu nanti."
"Setuju! Kak Yuan tidak perlu khawatir, ilmu bela diri fisik kami para murid Asrama Selatan tidak bisa diremehkan begitu saja!" Su Yin mengepalkan tangannya dengan penuh semangat juang.
Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan langkah dan mencari pohon iblis, suara ranting patah dan gesekan semak belukar yang bergerak serempak terdengar jelas mengelilingi mereka.
Dari balik kegelapan hutan, muncul lima pria bertubuh kekar seperti beruang, dengan wajah dipenuhi bekas luka codet yang mengerikan. Mereka membawa golok tebal berkarat dan jaring berantai. Aura mereka sangat kasar, preman hutan sejati.
"Wah, wah, wah. Lihat apa yang Dewa Rezeki jatuhkan untuk kita malam ini," seringai pemimpin perampok berjanggut lebat, menjilat bibirnya yang kering menatap rombongan itu. "Satu pemuda tampan dan delapan gadis cantik yang mulus-mulus berkeliaran di hutan malam hari tanpa penjagaan. Ini namanya durian runtuh!"
"Serahkan semua kantong uang, perhiasan, senjata, dan bekal kalian sekarang juga!" teriak perampok bertubuh buncit sambil mengayunkan goloknya mengancam. "Dan tinggalkan gadis-gadis itu di sini! Kami akan menjual mereka dengan harga sangat tinggi di pasar budak bawah tanah ibu kota!"
Yuan melangkah maju dengan sangat tenang, tubuh tingginya menghalangi para gadis. Matanya menyorot sedingin es abadi. "Mundur, sebelum kalian kehilangan nyawa kalian di tempat ini."
"Hahaha! Memangnya kau siapa, Bocah Tengik?! Berani menantang kelompok Lima Harimau Penyamun?! Cincang dia!"
Kelima perampok itu melompat maju serentak bagai predator beringas, mengayunkan golok tebal mereka ke arah leher dan dada Yuan.
"Ingat pesanku!" teriak Yuan pada para gadis tanpa menoleh. "Jangan gunakan *Qi*! Simpan kekuatan kalian!"
Yuan memiringkan tubuhnya dengan sangat tenang, menghindari tebasan golok pertama dengan gerakan luwes bak tarian air. Ia melangkah setengah langkah ke depan, memutar pinggangnya mengumpulkan tenaga fisik murni, dan mendaratkan tendangan memutar yang luar biasa cepat tepat di ulu hati perampok berjanggut itu. *BAK!* Perampok itu terpental jauh hingga menabrak pohon cemara.
"Siapa bilang kami harus menggunakan *Qi* untuk menghajar sekumpulan pecundang kotor seperti kalian?!" seru Lin Yue nyaring. Gadis itu tidak mundur sedikit pun. Saat seorang perampok mencoba menangkap pundaknya dari samping, Lin Yue merendahkan tubuhnya dengan lincah, menangkap pergelangan tangan pria itu, memutar tubuhnya, lalu memelintir lengan preman itu dengan teknik bantingan keras hingga terdengar bunyi retakan tulang yang nyaring.
"ARGHHH! Lenganku!" jerit perampok itu kesakitan.
Mei Lin dan Su Yin langsung melesat maju, bergerak seirama seperti sepasang bangau. Mei Lin menggunakan sarung pedang kayunya murni sebagai tongkat pemukul, menangkis tebasan demi tebasan dengan presisi tinggi, sementara Su Yin melompat memanfaatkan punggung Mei Lin dan mendaratkan lututnya telak ke rahang musuh yang sedang lengah.
Pertarungan sembilan lawan lima itu meledak. Ini murni adu kelincahan fisik, ketangkasan, dan teknik bela diri kanuragan tingkat tinggi tanpa melibatkan ledakan energi spiritual sama sekali. Namun, preman-preman kasar yang hanya mengandalkan tenaga brutal itu jelas kalah telak di hadapan para kultivator muda yang sangat terlatih teknik dasarnya.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, napas kelima perampok itu sudah tersengal. Mereka mengerang kesakitan di tanah berlumpur dengan wajah memar keunguan, tulang iga retak, dan hidung mengucurkan darah segar.
"Ampun! Ampun, Tuan Pendekar! Ampun, Nona-nona cantik!" rintih pemimpin perampok berjanggut lebat yang baru saja menerima hantaman telapak tangan kedua dari Yuan tepat di dadanya. Ia bersujud ketakutan. "Kami buta tak mengenali Gunung Tai yang berdiri di hadapan kami!"
"Lari dari hadapanku, sekarang juga. Atau pedangku akan meminum darah kalian," desis Yuan dengan nada mematikan.
Namun, tepat ketika para perampok itu baru saja beringsut mundur untuk lari terbirit-birit, langit di atas mereka tiba-tiba berubah warna.
*DHUAAARRRRRRRRRRR!*
Sebuah suara ledakan sonik yang teramat sangat dahsyat membelah keheningan malam, hingga membuat telinga berdenging keras. Bumi seketika bergetar hebat layaknya gempa. Pohon-pohon raksasa di sekitar mereka berderak keras seakan akar-akar tuanya dipaksa tercabut dari tanah. Burung-burung gagak beterbangan panik menutupi wujud bulan sabit.
Dari arah pusat pedalaman Hutan Kematian tepat di lokasi koordinat gua Raja Iblis Rawa sebuah pilar cahaya merah keperakan yang luar biasa masif menembus awan-awan malam, menghancurkan kabut gelap menjadi serpihan cahaya yang menyilaukan mata.
Yuan mematung, membelalakkan matanya lebar-lebar. Angin yang berhembus seketika membeku, membawa sisa gelombang aura murni yang sangat familiar dan meresap ke aliran darahnya.
"Cahaya itu..." napas Yuan tertahan di tenggorokan, dadanya bergemuruh kencang antara ngeri dan harap. "Rui?!"