NovelToon NovelToon
PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / TKP
Popularitas:26.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.

Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penangkapan

Kesaksian yang diberikan Lisa sangat membantu penyidikan polisi. Wanita itu mengungkapkan kejadian malam tragedi tersebut.

Sepulang reuni, Bimo mengajak Lisa menghabiskan waktu di tempat lain. Sebenarnya Lisa tidak mau ikut, tetapi karena Bimo memaksa,

Lisa tidak punya pilihan. Mereka berhenti sebentar di dekat Kota Baru Parahyangan. Bimo menunggu beberapa temannya yang lain untuk diajak party.

Lisa memanfaatkan hal tersebut untuk pergi. Namun, Bimo berhasil menahannya. Lisa berusaha melepaskan pegangan tangannya. Pada saat itulah Arga muncul dan menyelamatkannya. Kemudian, Arga mengantarkan Lisa pulang ke rumah.

Bukan hanya itu, Lisa juga menceritakan sepak terjang Bimo selama di kampus. Pria itu sangat temperamental. Emosinya mudah meledak meski karena hal kecil.

Menurut informasi beberapa temannya, Bimo sempat menjalani konsultasi dengan psikolog untuk pengendalian amarahnya.

Kesaksian Lisa sangat membantu penyidikan. Selain itu, Lisa juga memberi tahu siapa saja korban kekerasan Bimo sebelumnya.

Setelah Nino dan Asep menemuinya, Lisa langsung mencari informasi tentang Bimo. Nama-nama korban kekerasan Bimo dia dapat dari salah satu seniornya.

“Terima kasih, Lisa. Keterangan Anda sangat membantu. Apa Anda bersedia jika dipanggil sebagai saksi di pengadilan?” tanya Nino.

“Saya bersedia, Pak,” jawab Lisa mantap. Anggap saja ini sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada Arga yang sudah menolongnya.

“Oh ya, Pak. Apa Arga sudah ditemukan?” tanya Lisa, yang sampai saat ini belum mengetahui bagaimana nasib Arga.

“Sudah. Kami menemukannya di vila milik keluarga Bimo.”

“Apa dia baik-baik aja?”

“Kami menemukannya dalam keadaan tidak bernyawa.”

Lisa sangat terkejut. Berjuta penyesalan langsung menghantam batinnya. Jika bukan karena menyelamatkannya, Arga pasti tidak akan mengalami nasib seperti itu. Lisa tak bisa menahan tangisnya.

“Ini salah saya. Karena saya, dia jadi seperti ini. Harusnya saya menolaknya waktu dia menawarkan diri untuk mengantar saya pulang. ini salah saya,” ujar Lisa sambil menangis.

“Ini adalah musibah, Lisa. Tidak ada yang tahu kapan musibah akan datang. Tapi saya yakin, Arga tidak menyesal sudah menyelamatkanmu. Apa yang terjadi kepadanya adalah takdir yang sudah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa.”

Kata-kata bijak Nino sedikit banyak membuat perasaan Lisa tenang. Wanita itu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya.

“Apa dia sudah dikuburkan?” tanya Lisa kemudian.

“Belum. Dokter forensik masih mengautopsinya. Jika sudah selesai, jenazahnya akan dikembalikan kepada keluarga.”

“Apa ada orang yang bisa saya hubungi? Saya ingin menghadiri pemakaman Arga. Saya memang tidak mengenalnya, tapi dia sudah membantu saya.”

Nino kemudian memberikan kartu nama Gilang kepada Lisa.

Setelah mengucapkan terima kasih, Lisa pun meninggalkan kantor Polda. Kesedihan masih menggelayuti hatinya.

Orang yang sudah menolongnya justru berakhir dengan kematian. Dia merutuki tindakan Bimo yang menghabisi nyawa seseorang dengan mudahnya.

“Aku harap kamu membusuk selamanya di penjara, Bimo,” gumam Lisa sambil berjalan.

Begitu mendapat laporan dari Lisa, Nino langsung bergerak cepat mendatangi korban kekerasan Bimo. Sebelumnya mereka memang sudah mendapatkan data para korban.

Namun, karena harus menangani penemuan jasad Arga dan interogasi, Nino belum sempat mendatangi korban.

Pria itu menghubungi Asep. Mereka akan mendatangi para korban secara terpisah agar tugas cepat selesai.

Ternyata, korban Bimo bukan hanya dua, melainkan lima. Setelah didatangi, mereka bersedia melakukan pelaporan ulang dan mau bersaksi di pengadilan nanti.

Selesai mendatangi para korban Bimo, Nino dan Asep langsung menuju Jakarta. Surat pencegahan untuk Bimo sudah keluar dan sudah diteruskan pula ke Direktorat Jenderal Imigrasi.

Berdasarkan penyelidikan Ahqam dan Eris, Bimo sudah berangkat ke Jakarta. Pria itu akan pergi ke Singapura.

Nino memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Mereka harus segera tiba di Bandara Soekarno Hatta. Untuk berjaga-jaga, mereka sudah berkoordinasi dengan Polsek setempat agar petugas bersiaga di bandara.

Hari sudah malam saat kendaraan yang membawa Bimo tiba di Bandara Soekarno Hatta. Dengan bantuan ayah dan pengacaranya, Bimo akan berangkat ke Singapura. Pria itu akan bersembunyi di sana untuk sementara waktu.

Bimo menurunkan topinya hingga wajahnya sulit untuk dilihat. Pria itu berjalan memasuki bandara dengan kepala tertunduk. Dia terpaksa mengambil jalan berputar saat melihat ada petugas kepolisian yang mengawasi lalu lalang pengunjung.

Sementara itu, di pelataran parkir bandara, mobil yang dikendarai Nino berhenti. Keduanya bergegas masuk ke dalam bandara. Asep memerintahkan Ahqam dan Eris berpencar mencari keberadaan Bimo.

Dalam waktu singkat, Ahqam berhasil menemukan keberadaan Bimo. Jin tersebut langsung melaporkannya kepada duo kancing cetet. Tanpa berlama-lama, Nino dan Asep bergegas menuju tempat Bimo berada.

Bimo baru saja keluar dari toilet. Pria itu tampak ketakutan saat melihat ada petugas polisi berjalan ke arahnya. Buru-buru dia pergi. Karena tidak melihat jalan, Bimo menabrak seseorang hingga barang-barangnya terjatuh.

“Heh! Punya mata nggak, lo?” sentak wanita itu.

“Maaf,” jawab Bimo cepat sambil pergi.

“Jangan pergi! Beresin barang gue!” perintah wanita itu.

“Manja banget. Beresin aja sendiri!” jawab Bimo.

“Dasar, anj*ng!” maki wanita itu sambil membereskan barang-barangnya.

Emosi Bimo terpancing mendengar makian wanita itu. Dia segera berbalik lalu menarik pakaian wanita itu hingga berdiri. “Lo panggil gue apa tadi, bangsat?!” tanya Bimo dengan mata melotot.

“Apaan sih, lo! Nggak jelas banget,” jawab wanita itu tak mau kalah.

Emosi Bimo tak tertahankan lagi. Dia mendorong wanita itu hingga terjatuh. Tidak berhenti sampai di sana, Bimo juga menendang wanita itu hingga menjerit. “Aaaaa!!”

Teriakan wanita itu menarik perhatian orang-orang di sekitar sana. Nino dan Asep, yang sudah berada di dekat sana, bergegas menuju sumber suara.

Melihat Nino dan Asep, Bimo langsung balik badan lalu berlari. Nino segera mengejar. Pria itu melompat dan berhasil menabrak Bimo hingga terjatuh. Dia langsung mengeluarkan borgol dan memborgol kedua tangan Bimo.

Banyak orang di sekitar sana banyak yang merekam aksi Nino. Terdengar bisik-bisik para wanita yang memuji aksi cepat Nino dan wajah tampannya.

Nino menarik Bimo hingga berdiri tegak, lalu membawanya keluar dari bandara. Bimo hanya bisa menunduk. Rencananya untuk kabur keluar negeri gagal total.

***

Setelah autopsi selesai, jasad Arga dikembalikan kepada pihak keluarga. Berhubung Arga sudah tidak memiliki keluarga, Pradipta berinisiatif menjadi wali Arga.

Saat hendak ke rumah sakit menjemput jenazah Arga, Pradipta meminta Gilang dan Giana pergi terlebih dahulu ke tempat Arga tinggal. Keduanya diminta mengurus persiapan pemakaman Arga dan berkoordinasi dengan ketua RT setempat.

Pradipta segera berangkat ke rumah sakit bersama Indri. Sepanjang perjalanan, Indri hanya membisu. Perasaannya tak karuan. Dia akan menjemput jenazah kekasihnya sendiri.

Sesampainya di rumah sakit, Nino, Asep, dan dokter Bagas sudah menunggu. Jenazah Arga sudah dimandikan dan dikafani. Karena pria itu sudah meninggal cukup lama, dokter Bagas menyarankan agar jenazah Arga segera dimakamkan.

Indri tak bisa menahan tangisnya melihat tubuh Arga yang terbujur kaku dan sudah dikafani. “Arga,” panggilnya pelan. Wanita itu terus mengikuti perawat yang sedang memasukkan jenazah Arga ke dalam ambulans.

Indri memutuskan menumpangi ambulans. Dia ingin memanfaatkan waktu untuk berada di dekat Arga sebelum pria itu dimakamkan.

***

RIP Arga

1
vania larasati
lanjut kak
Umma Ridwan
iiiiih kalo bener yang ngikutin Giana teh si Ruben, berarti yang gondal gandulnya segede uprit punya nya si Ruben donk 🤣🤣
semoga neng Giana baik baik aja 🙏
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kena sial dia 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
senasib🤣🤣
Ani
bisa iya bisa nggak sih tapi kok yo beneran diikuti 🤔🤔🤔🤔
Safitri Agus
kenapa lari gi, tendang aja biar kapok kan reflek itu ya pas terkejut 🤭
Safitri Agus
Oalah kasihan 🤭🤣
Safitri Agus
🤭🤣🤣🤣
Safitri Agus
bisa jadi
Safitri Agus
sadiz ya😱
tehNci
Dari motor trail ke sepeda BMX,..jauh bangettt seenggaknya motor bebek atau matic gitu, masih sama¹ motor😂😂😛😛😛
tehNci
Wuiiih keren banget. si Leya ini😍🤩
tehNci
kirain Kania...
tehNci
Kania bukan ya?
tehNci
Giana lagi cosplay jadi detektif😄
tehNci
Mau mengumpankan dirikah? Semoga hanya menyelidiki saja
tehNci
Dasar gila nih orang. Buang mayat manusia kayak buang kresek bekas gorengan aja
tehNci
Kalo sudah mati, arwahnya bisa jadi petunjuk buat Jungkook dan Prisa
Lina Suwanti
semoga yg meninggal bukan Anjani n arwah korban ketemu sm Prisa atau Jun Kok biar bisa jd petunjuk
Ria alia
Murah banget tuh rudal dikeluarin mulu 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!