Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.
SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.
Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.
Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20: Tulisan Ghaib
Air hangat dari shower sudah lama berhenti mengalir, hingga rasa dingin mulai menempel di kulitku. Aku berdiri sebentar di depan cermin kamar mandi yang sudah embunnya mulai menghilang.
Rambutku basah meneteskan air ke bahu. Gelang serabut di pergelangan tangan kanan masih terpasang erat. Aku tidak berani melepas setelah tahu kegunaannya.
“Gas, lo belum kelar?” suara Hendra terdengar dari luar.
“Iya, bentar lagi, Bang,” jawabku.
Aku mengusap rambut dengan handuk sebentar, lalu keluar. Di ruang tengah, Shinta sudah duduk sambil menyalakan laptop. Sedangkan Jefry sibuk dengan handphonenya.
“Oke, semua udah rapi ya,” kata Jefry setelah aku ikut duduk di sofa sambil membuka laptop.
Kami duduk mengitari meja kecil di ruang tengah. Suasana cukup tenang. Waktu menunjukkan pukul 19.03 malam.
Tak membuang waktu, aku membuka google document, memilih file bernama “Unit Kosong”, lalu mengkliknya.
“Gua mulai dengan cerita yang udah ditulis ya, biar enak supaya nggak ada yang kelewat nanti,” kataku.
Semua setuju, aku pun mulai bicara.
“Pemuda-pemudi baru lulus kuliah berangkat dari Jakarta datang ke Bandung untuk pitching ke investor, tiba-tiba mereka dipesankan apartemen berhantu. Dari gambar, memang mewah, bersih dan rapi, tapi ternyata lokasinya terbengkalai dan menyeramkan.”
Tiba-tiba Hendra memotong, “Pemuda-pemudi? Serius? Kan kita udah pada tua,” ia mengatakan hal itu sambil tertawa kecil.
Sebenarnya aku ingin membalas, tapi rupanya Jefry merespon lebih cepat. “Bro, mana ada yang mau kalo pemerannya orang tua kayak kita. Nggak usah disamain banget lah, Bro.”
“Iya, Bang. Lo ada-ada aja deh,” celetuk Shinta.
“Oke, oke, lanjut,” Hendra masih tidak bisa menghilangkan senyum dari bibirnya.
Mungkin ia sedang membayangkan, ketika karakter dirinya akan diperankan oleh anak muda. Hendra memang agak sedikit receh untuk beberapa momen.
“Gua lanjut ya,” kataku.
“Malam pertama, pemuda-pemudi itu terbangun jam 3 dini hari. Mereka diteror dengan suara aneh dan tetesan air kran.”
Tiba-tiba Hendra motong lagi. Ia mempertanyakan kalau satpam Dayat seharusnya dimasukkan ke dalam cerita.
Namun Jefry langsung menolak, “Nggak usah ah, satpam nggak jelas itu. Kesel gua sama dia.”
Shinta memberi pembelaan. Ia menilai kalau karakter satpam misterius seperti Dayat justru otentik. “Pasti bakal melekat di penonton, Bang.”
“Ya udah nanti lah, gua pikir-pikir dulu,” Jefry masih kekeh dengan pendapatnya.
“Lanjutin lagi, Gas.”
Aku pun melanjutkan, membahas tentang Shinta yang mendadak sakit demam aneh. Teror jam 3 dini hari masih berlanjut di hari-hari berikutnya.
Lalu penyakit itu juga menyerang Hendra dan Jefry.
“Terus gua secara nggak sengaja kenalan sama satpam Dayat. Di sini gua dapat info tentang asal mula kenapa apartemen ini terbengkalai, yaitu gara-gara wabah covid dan money laundry,” pungkasku.
“Nah kan! Satpam memang harus ada, sebagai sumber informasi,” sahut Shinta.
Jefry diam, seakan memberi isyarat agar aku melanjutkan ceritanya.
Aku pun memahaminya.
“Suatu malam, mereka baru pulang ke apartemen, tapi tiba-tiba lift rusak. Mereka terpaksa lewat tangga darurat. Setelah masuk, pintu terkunci, mereka terjebak. Lalu salah satunya kesurupan dan menghilang. Yang lain harus naik ke atas dengan berbagai teror.”
Semua mulai tegang menyimak ceritaku. Mungkin karena kejadian baru kami alami kemarin, jadi masih teringat dengan baik.
“Setibanya di lantai tujuh tangga darurat, mereka tiba-tiba dikasih vision, masuk ke alam ghaib yang memperlihatkan kejadian sebelum wabah covid menyerang di apartemen itu. Mereka menyaksikan kebiadaban para petinggi, menyabotase kematian para penghuni apartemen,” jelasku mulai terbata.
“Hah? Maksudnya gimana? Jangan jadi fiksi lah, kan ini based on true story!” Jefry meninggi karena mengira aku mengada-ada.
Tapi aku langsung menjelaskan, “Ini beneran, Bang. Tanya aja Hendra sama Shinta.”
Ia langsung menatap ke arah Shinta. Wajahnya kelihatan sangat heran. “Maksudnya gimana, Dek? Gua masih nggak ngerti,” ia bertanya heran.
Shinta pun tidak bisa memberikan penjelasan karena ia takut. Akhirnya Hendra yang menjelaskan.
“Itu rasanya seperti mimpi, Bang. Tapi kayak nyata banget dan kita bertiga ada di sana. Jadi nggak mungkin kalo itu cuma mimpi biasa,” jelasnya.
Tanpa sadar, jarum jam sudah menunjuk angka 10 malam.
Suasana di ruang tengah berubah. Bukan lagi tegang seperti tadi. Namun juga bukan santai, rasanya lebih seperti lelah. Energi kami menurun, pikiran mulai berat. Tubuh ingin istirahat, tapi hati belum tenang.
Jefry bersandar di sofa sambil menatap handphone. Jempol bergerak mengelilingi layar, tapi tatapannya kosong. Shinta masih di depan laptop, mengetik sesuatu dengan wajah serius. Aku sempat heran karena ia mengetik tanpa jeda, dalam hatiku, apa yang sedang ia tulis?
Mataku beralih ke Hendra yang sedang menonton televisi, mendengarkan informasi terbaru dari acara berita malam.
Aku kemudian memandangi tulisanku di layar laptop. Sudah cukup panjang. Mulai dari kami datang ke apartemen lusuh ini sampai teror-teror yang mengikuti kami setiap malam.
Namun ada satu hal membuatku terganggu. Sesuatu yang seharusnya sederhana.
“Pekerjaan karakter ini sebenarnya apa?”
Aku berpikir apakah masalah ini dibicarakan sekarang atau nanti saja, mengingat semua sudah merasa lelah. Tapi menurutku, tidak apa jika hanya membuka obrolan ke Jefry saja.
“Bang,” panggilku pelan karena ia berada tak jauh di sebelahku. “Ini kita belum nentuin apa profesi karakter deh. Masa iya kita tulis mereka ngurusin pembukaan restoran?”
Ia hanya menatapku sebentar, lalu membuang pandangan ke langit-langit.
Ketika ia hendak merespon, tiba-tiba saja terdengar suara mengejutkan.
“Arghhhh.. Hwaa..!!”
Shinta berteriak, tubuhnya kejang terhentak ke belakang menghantam sofa. Ia pingsan begitu saja.
“Dek?!”
Jefry spontan berdiri lalu duduk di sebelahnya. Merangkul dan berusaha untuk membangunkan. “Dek? Lo kenapa, Dek?”
“Bawa ke kamar aja, Bang,” kataku sambil meletakkan laptop yang berada di paha Shinta ke atas meja.
Dengan sigap, ia meraih tubuh Shinta menggunakan kedua tangan. Ia menggendong lalu membawanya ke dalam kamar. Jefry bisa melakukan tanpa kesulitan karena kebetulan ukuran tubuh Shinta memang kecil.
Aku dan Hendra ikut mengantar.
Tapi betapa terkejutnya aku saat kembali ke ruang tengah, berniat untuk membereskan meja yang sempat berantakan. Aku melihat layar laptop Shinta menampilkan sebuah tulisan panjang di notepad.
Dari awal kalimat, aku sudah bisa menyadari kalau ini bukan Shinta yang menulis. Aku tahu betul gaya tulisan Shinta tidaklah baku.
“Halo, Bagas, perkenalkan, nama saya Fang Yin atau kamu bisa panggil dengan nama Indonesiaku, Ratna,” bunyi awal tulisan.
Aku melihat ke pintu kamar utama, Hendra masih berdiri sambil bicara ke Jefry terkait kondisi Shinta.
Lalu aku melanjutkan baca tulisan tersebut.
“Pertama-tama, tolong rahasiakan ini, jangan beritahukan siapapun. Saya akan memberitahu semua informasi yang kamu butuhkan tentang apartemen Garden Citywalk.”
Di sini aku langsung berpikir. Melihat tulisan sangat panjang, aku tidak mungkin langsung membaca semuanya. Apalagi kalau ku lihat sekilas, isinya tidak sederhana.
Aku berinisiatif untuk menyalinnya, lalu membuka aplikasi whatsapp milik Shinta dan mengirim ke nomorku.
Dengan cepat, aku langsung menghapus dari riwayat percakapan, “Delete for me”.
Salah satu cara yang sering aku lakukan untuk menghindari konflik kecil dengan Delia saat aku memberi perhatian lebih kepada anak sulung perempuanku, Lavina. Bukan karena apa-apa, tapi Delia sering menyindir jika mengetahui aku mengirimkan pesan perhatian kepada Lavina. “Anak kesayangan,” katanya.
Saat ini Lavina sendiri sedang magang sebagai Engineer di kilang minyak salah satu perusahaan besar Indonesia.
Meski seorang perempuan, ia merupakan anak yang tangguh. Tapi mungkin cerita soal Lavina akan ku bahas lebih lanjut lain waktu.